Bougenville of Love

Bougenville of Love
84 - Adik Raffa dan Calon Kakak Ipar.



Tak ingin para tamu menjadi canggung, Damia dan sang ibu pun bergegas membawakan minuman usai membuatnya di dapur. Ibu Rita juga membawakan dan menyuguhkan camilan dari bingkisan yang dibawakan oleh Raffa yang ternyata berisi bolu kukus pandan kesukaan Damia.


Benar saja, saat Damia dan Ibu Rita menuju ke ruang tamu, baik para tamu dan Ayah Dodi masih saling berdiam diri dalam keheningan dan kecanggungan terhadap satu sama lain.


"Lho, kok masih pada bengong? Kenapa diam saja?" tanya Ibu Rita


"Mungkin karena di atas mejanya masih kosong, ya? Nah ... kalau begitu, selamat menikmati," ujar Damia


"Ini juga kue bolunya langsung disuguhkan. Tidak apa-apa, kan, Raffa?" tanya Ibu Rita


"Iya, Tante. Tidak masalah," jawab Raffa


"Terima kasih," ucap Om Herman dan Tante Risma secara bersamaan saat dihidangkan camilan dan minuman di atas meja untuk mereka.


Sungguh perpaduan yang tidak biasa, suguhan camilan yang merupakan favorit Damia dan minuman teh madu yang merupakan kesukaan Tante Risma alias Mama dari Raffa.


Untuk menghilangkan kecanggungan dan ketegangan yang tak kasat mata, para tamu itu mulai menyeruput minuman yang telah dihidangkan. Seketika saja, Tante Risma tidak menyangka bahwa Damia masih saja hafal dan peduli dengan apa yang menjadi kesukaannya. Mengetahui permasalahan sang anak dan gadis cantik nan baik hati itu, Tante Risma menjadi merasa bersalah dan tak enak hati.


"Sebenarnya maksud kami meminta untuk bertemu dan datang ke sini adalah ingin membahas masalah yang terjadi antara Raffa dan Damia," ungkap Om Herman


"Menurut saya, baik Damia dan Raffa sama-sama sudah dewasa. Mereka berdua sudah bisa mengambil dan memilih keputusan yang baik dan tepat, jadi biarkan saja mereka yang menyelesaikan masalah mereka sendiri," ujar Ayah Dodi


"Sebelumnya saya minta maaf karena sudah mengambil keputusan tanpa memberi tahu Tante dan Om, tapi sekali lagi saya minta maaf karena saya tidak bisa mengubah keputusan itu," ucap Damia


Usai sang putri bicara, Ibu Rita yang berada di samping anak gadisnya itu langsung merangkul dan merengkuh Damia dalam pelukannya. Seolah Ibu Rita sedang menenangkan diri sang putri yang telah disakiti hatinya. Padahal kenyataannya adalah Ibu Rita sedang sangat berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri dengan dalih memeluk sang putri karena dirinya sedang menahan emosi untuk tidak berkata tajam terhadap tamu yang harusnya dihormati.


Ibu Rita sudah menahan dan membungkam mulutnya sendiri untuk tidak berkata, "Damia, kamu tidak salah. Untuk apa kamu minta maaf? Harusnya di sini ada seseorang yang lebih sadar dan tahu diri untuk lebih dulu meminta maaf sama kamu." Namun, Ibu Rita urung nengatakan kata-kata pedas yang mampu menyinggung hati itu.


"Untuk apa kamu bilang maaf, Damia? Kamu tidak salah. Om justru sangat kaget saat Raffa berkata ingin menikah, tapi bukan kamu perempuan yang ingin dinikahinya. Justru kami yang harusnya minta maaf. Kami di sini minta maaf sebesar-besarnya dengan tulus," ujar Om Herman


"Benar. Setelah tahu cerita yang sebenarnya dari Raffa kami jadi merasa tidak enak hati," kata Tante Risma


"Aku yang harusnya minta maaf sama kamu, Damia. Maafkan aku," ucap Raffa


"Semua yang terjadi juga bukan benar-benar salah kamu, Raffa. Maaf, Tante, Om ... sebenarnya sampai akhir hubungan kami pun saya tidak punya perasaan sama Raffa," ujar Damia


"Sebenarnya itu pun mungkin salah kami. Dari awal bertemu Damia dulu, kami sudah sangat suka sama Damia. Sampai kami sangat ingin bahkan sampai terus meminta Pak Dodi dan Bu Rita untuk menjodohkan kamu dengan Raffa, apa lagi ternyata saat itu Raffa juga suka sama kamu. Mungkin keinginan kami sangat memberatkan hingga terkesan memaksa, baik pada Damia atau Pak Dodi dan Bu Rita. Hingga kami merasa sangat senang saat Damia menerima perjodohan ini tanpa tahu atau peduli sama perasaan kamu," ucap Om Herman


"Dari semua yang pernah Raffa lakukan, kami sebagai orangtua mohon maaf atas kesalahan yang dilakukan oleh anak kami. Dengan maaf yang sebesar-besarnya, kami harap Damia dan Pak Dodi juga Bu Rita bisa memaafkan Raffa," ujar Tante Risma


"Terlepas dari apa yang terjadi, saya tidak akan mempermasalahkannya dan biarkan saja semua itu berlalu," kata Damia


"Karena Damia sudah bilang seperti itu, kami sebagai orangtuanya pun tidak akan mempermasalahkan hal ini," ujar Ayah Dodi


Ibu Rita pun hanya mengangguk kecil. Sejak awal Ibu Rita sangat berusaha untuk bersabar.


"Terima kasih sudah mau menerima kesalahan dan memaafkan kami, terutama anak kami. Meski perjodohan antara Raffa dan Damia sudah batal dan pertungangan mereka juga sudah putus, kami harap hubungan pertemanan dan rasa persaudaraan antara kita tetap terjalin," ucap Om Herman


"Tentu saja. Masalah sudah jelas dan diselesaikan dengan baik. Tidak akan ada permusuhan antara kita," kata Ayah Dodi


"Terima kasih, Damia, Om, Tante ... terima kasih banyak karena sudah mau memaafkan saya," ucap Raffa


Damia hanya mengangguk kecil sambil tersenyum, begitu juga dengan Ayah Dodi dan Ibu Rita.


"Sebenarnya hanya itu yang ingin kami bicarakan. Setelah semuanya selesai dan jelas, kami rasa sudah cukup. Karena itu sudah waktunya untuk kami pamit," ucap Om Herman


"Kenapa buru-buru sekali, Om? Minumannya belum habis, kuenya juga masih ada," ujar Damia


"Kami sudah harus pulang. Kami tidak akan mengganggu waktu istirahat Damia, dan Pak Dodi, juga Bu Rita lagi ... " kata Tante Risma


"Sekali lagi saya minta maaf atas kesalahan saya dan juga karena sudah mengganggu waktu istirahat Damia, Om, dan Tante. Lalu, juga terima kasih banyak karena sudah memaafkan saya serta waktunya malam ini," ucap Raffa


Raffa dan kedua orangtuanya pun bangkit dari duduk, bersiap, dan berpamitan untuk pulang.


"Jika sudah waktunya, aku harap kamu bersedia hadir di pernikahan aku, Damia. Lalu, hari ini kamu terlihat cantik seperti biasa, tapi aku jarang lihat kamu berdandan seperti hari ini. Aku senang melihatnya," ujar Raffa


"Ya, karena aku habis menemui seseorang sebelum kamu juga Tante dan Om datang," kata Damia


"Begitu, rupanya ... " sahut Raffa


"Aku kira Damia berdandan tak seperti biasanya karena tahu aku mau datang, aku sudah sangat senang, rupanya aku hanya kege'eran karena Damia berdandan bukan karena aku. Yang habis ditemuinya pasti pacar barunya," batin Raffa


Setelah para tamu berpamitan, mereka pun beranjak pergi dari rumah Damia.


"Raffa itu apa-apaan, sih ... sudah menyakiti hati kamu dengan berselingkuh, tapi masih saja berharap kamu mau hadir di acara pernikahan dia. Seperti tidak tahu malu," dumel Ibu Rita


"Sudah begitu, dia masih mengira kamu dandan cantik untuk dia! Percaya diri sekali dia! Lagi pula, bisa-bisanya dia tahu kalau kamu merias wajah. Kalau dia tidak bilang seperti itu, Ibu dan Ayah saja tidak sadar kalau kamu pakai riasan," sambung Ibu Rita


"Lagi pula, kenapa kamu malah merias wajah saat dia mau datang, Damia? Kok tidak seperti biasanya?" tanya Ibu Rita melanjutkan.


"Sejak aku pulang setelah pergi sama Angga sampai sebelum Raffa datang, aku hanya menghapus keringat tanpa mengurang atau menambahkan riasan wajah. Aku pikir ingin menghapus riasan ini nanti saja. Aku juga tidak menyangka kalau Raffa akan sadar padahal hanya riasan tipis," sambung Damia


"Sudahlah, Bu ... tidak usah sewot sampai marah-marah seperti itu. Padahal saat tadi ada tamu, Ibu diam saja," ujar Ayah Dodi


"Sebenarnya Ibu merasa kesal, tapi Ibu menahannya ... " kata Ibu Rita


..."Aku bahkan tidak menyangka kalau Raffa menyadari riasan wajah aku, padahal Ibu dan Ayah saja tidak sadar sampai sebelum dia mengatakannya. Padahal ini hanya riasan natural yang tipis," batin Damia...


..."Hari ini mereka datang untuk minta maaf sedemikian rupa, ekspresi tante Risma saat minta maaf tadi juga agak berlebihan. Pasti karena memikirkan adik Raffa, Verra. Mereka ingin aku memaafkan kesalahan Raffa yang berselingkuh agar tidak akan ada karma yang terjadi pada Verra, agar Verra tidak mengalami diselingkuhi oleh pacar atau tunangannya suatu saat nanti." Damia melanjutkan berkata-kata dalam hati....


•••


Beberapa bulan kemudian.


Adik Raffa, Verra, akhirnya pulang dari kuliahnya di luar kota saat liburan. Bertepatan dengan hari pulangnya adalah hari pertemuan keluarga antara Raffa dan perempuan yang ingin menikah dengannya.


Verra merasa sangat senang. Gadis itu segera bersiap sebelum kedatangan tamu, yaitu calon istri sang kakak.


Sebelumnya Raffa dan kedua orangtua sudah pernah melakukan pertemuan keluarga di rumah calon istri, alias rumah Lisa. Kini berganti, saatnya Lisa sekeluarga datang ke rumah Raffa.


Begitu tamu datang, Verra yang masih bersiap di dalam kamar pun bergegas ke luar dari dalam kamarnya.


"Akhirnya, Kak Damia, datang juga ... aku senang sekali!" seru Verra dengan hebohnya.


Verra langsung tercengang saat melihat tidak ada sosok yang namanya disebut olehnya. Rupanya, adik perempuan Raffa itu tidak tahu kalau sang kakak sudah putus dan bukan ingin menikah dengan Damia, melainkan dengan perempuan lain yang bahkan tidak dikenal olehnya dan belum pernah melihat wajahnya sama sekali.


"Ups ... maaf," kata Verra seolah menyesali kehebohannya yang tidak tepat.


Saat itu Raffa pun menarik sang adik untuk sedikit menjauh, sedangkan sang mama dan papa menyambut kedatangan para tamu.


"Verra, kamu itu kalau berucap pelan sedikit dong. Gadis itu harus tahu sopan santun," tegur Raffa


"Ya, maaf, Kak. Lagi pula, siapa yang datang? Katanya, mau ada pertemuan dua keluarga? Kok bukan kak Damia yang datang? Om Dodi dan tante Rita juga tidak ada?" tanya Verra, adik Raffa.


"Tidak ada yang aku kenal dari tamu yang aku lihat barusan. Atau ... jangan bilang, Kak Raffa bukan mau menikah sama kak Damia? Kok bisa? Lalu, Kak Raffa mau menikah sama siapa?" tanya Verra lagi.


"Kakak dan kak Damia sudah putus. Setelah ini kamu juga akan tahu siapa calon kakak ipar kamu," jawab Raffa


"Putus ... kok bisa, sejak kapan? Kok aku tidak tahu? Kenapa tidak ada yang beri tahu aku?" tanya Verra


"Sudahlah, Verra. Jangan mengacau. Lebih baik kamu ikut temui tamu yang datang dan cukup diam saja," ujar Raffa


"Tapi, Kak ... aku bahkan tidak tahu siapa calon istri Kakak. Terlebih lagi, aku belum bilang kalau aku setuju Kakak mau menikah sama perempuan lain selain dengan kak Damia," kata Verra


Tidak ingin merasa pusing dengan celoteh sang adik yang mengajukan protes, Raffa pun langsung menarik Verra untuk ikut menemui para tamu.


Vera mendengus kesal saat dirinya ditarik paksa oleh sang kakak untuk menemui para tamu yang datang yang bahkan tidak dikenali olehnya. Karena tidak ada yang dikenal olehnya, Verra pun hanya diam bak patung yang terduduk dengan tenang. Raut wajahnya pun sangat datar.


"Aku dengar dengan jelas kalau adiknya Raffa tadi menyebut nama Damia. Apa Raffa tidak bilang sama adiknya kalau dia sudah putus sama Damia danau menikah sama aku. Terlebih lagi, sepertinya adiknya Raffa tidak suka sama aku. Sepertinya juga akan sulit untuk mendapatkan rasa suka adiknya itu," batin Lisa


Setelah kedua pihak keluarga banyak bicara, akhirnya ada waktu serta kesempatan untuk Raffa hanya bersama Lisa di halaman belakang rumah.


"Lisa, tolong maafkan dan maklumi sifat adik aku, ya. Kamu tidak marah, kan?" tanya Raffa


"Raff, kamu masih belum bilsng kalau kamu sudah putus sama Damia dan mau menikah sama aku ke adik kamu, ya? Kenapa?" tanya balik Lisa


"Maaf, Lis. Selama ini Verra kuliah di luar kota, tidak ada kesempatan untuk beri tahu dia karena aku dan mama papa tidak mau mengganggu kuliah adik aku. Verra memang sedang libur dari kuliahnya, tapi dia bilang akan pulang minggu depan. Aku tidak tahu kalau dia akan pulang hari ini. Hari ini semuanya terasa mendadak bagi aku dan adik aku," jelas Raffa


Setelah dibujuk, akhirnya Lisa mau dan bisa menerima alasan dari Raffa. Lalu, Raffa pun memanggil Verra untuk berkenalan langsung dengan Lisa secara tatap muka.


"Halo, aku Lisa, pacarnya Raffa. Kamu adiknya Raffa, kan? Salam kenal," sapa Lisa


"Halo, Kak. Nama aku Verra. Salam kenal ... " sahut Verra masih dengan ekspresi wajah datar.


"Sepertinya benar-benar akan sulit untuk mendapatkan rasa suka dari adiknya Raffa," batin Lisa


"Sepertinya Verra sangat tidak menyukai Lisa. Ini akan sangat sulit," batin Raffa


"Aku sangat tidak suka sama pacar baru Kak Raffa. Aku tidak kenal dia. Sebenarnya kenapa Kak Raffa bisa putus sama kak Damia, sih? Padahal aku sudah sangat senang saat pulang dan saat mama bilang mau ada keluarga calon kakak ipar yang datang. Percuma dan sia-sia saja aku sudah merasa senang duluan kalau ternyata yang datang dan yang akan menikah sama Kak Raffa bukan kak Damia. Apa sih yang dilihat dan disuka Kak Raffa dari pacar barunya? Padahal menurut aku masih lebih baik dan lebih cantik kak Damia. Padahal aku sudah sangat akrab dan cocok sama kak Damia. Kak Raffa juga lebih cocok sama kak Damia. Pokoknya kak Damia itu calon kakak ipar idaman nomor satu," batin Verra


Mereka pun saling mengobrol, Lisa bahkan mengajak ketiga adiknya untuk mengobrol bersama. Tentu saja, suasana yang ada masih terasa canggung. Terutama dengan Verra yang bersikap acuh tak acuh seolah sangat memperlihatkan rasa tidak sukanya terhadap calon kakak ipar dan para saudaranya.


.


Bersambung.