
Angga yang telah usai melakukan perawatan pun beralih dari kursi tempat perawatan dan menunggu di kursi tunggu yang berupa sofa yang pertama kali diduduki sebelum melakukan perawatan.
Sementara, Damia sudah tidak lagi merasa canggung pada para karyawan salon meski ditinggal pergi oleh sang kekasih. Damia tampak merasa nyaman dan menikmati layanan perawatan yang sedang dilakukan untuknya.
Sejak awal perawatan rambut hingga kini sedang perawatan kuku tangan, tak bisa dipungkiri bahwa Damia merasa rileks.
"Kakak cantik, apa mau coba pakai layanan nail art? Atau mungkin tempel kuku palsu atau kuteks?" tanya Madam Merry
"Saya rasa itu tidak cocok untuk saya yang bekerja setiap hari. Jadi, saya rasa tidak perlu," jawab Damia
"Oke, bisa dimengerti. Kalau begitu, ayo kita lihat hasil creambath dan rapikan rambutnya. Ujung rambutnya yang kering akan Madam potong supaya mencegah kerusakan rambut, ya, Kakak cantik," ujar Madam Merry
Damia hanya mengangguk patuh tanda setuju dengan saran pemilik salon kecantikan itu.
Saat memotong ujung rambut, Damia sudah bisa duduk tegak sambil menatap pantulan bayangan dirinya di dalam cermin besar yang ada tepat di hadapannya. Suster cantik itu tersenyum, tak menyangka dirinya akan melakukan perawatan yang bisa dibilang dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gadis perawat itu sungguh merasa dirinya kembali segar setelah beraktivitas.
..."Baru kali ini aku melakukan perawatan di salon, biasanya kalau pergi ke salon paling hanya potong rambut. Itu pun di salon biasa. Rasanya sangat menyenangkan dan menyegarkan," batin Damia...
Madam Merry pun merapikan tampilan rambut Damia usai dipotong.
"Sekarang sudah selesai. Bagaimana, apa hasilnya bisa buat Kakak cantik merasa puas?" tanya Madam Merry
"Luar biasa, Madam. Saya merasa seperti disulap menjadi baru. Terima kasih," jawab Damia
"Tapi, sepertinya masih ada yang kurang. Kakak cantik sudah merasa puas, tapi Madam belum. Masih belum waktunya bilang terima kasih," ujar Madam Merry
"Bukannya kata Madam, semuanya sudah selesai?" tanya Damia
"Tadi memang iya, tapi wajah Kakak cantik terlalu polos. Bagaimana kalau Madam kasih sedikit make-up?" tanya balik Madam Merry yang memberi saran.
"Tapi, saya jarang pakai make- up. Bahkan saat datang ke sini saja saya tidak memakai make-up apa pun," jawab Damia
"Sedikit saja, ya, Kakak cantik? Tangan Madam sudah gatal, nih. Biar kita berdua sama-sama merasa puas dan senang karena mendapat dan memberi pelayanan yang baik. Madam hanya akan mengaplikasikan make-up natural," ujar Madam Merry
"Baik. Terserah, Madam, saja, kalau begitu ... " sahut Damia
"Oke, Madam mulai, ya ... " kata Madam Merry
Damia hanya mengangguk kecil. Madam Merry pun langsung mengeluarkan kotak make-up. Kotak riasan berukuran besar yang biasa digunakan untuk merias wajah artis terkenal.
Damia masih saja seolah merasa takjub saat melihat kotak rias seperti itu meski sudah sering melihatnya dan tak menyangka dirinya akan menggunakan kotak riasan itu untuk merias wajahnya meski kotak riasan beserta isi di dalamnya bukan miliknya.
Langkah-langkah memberi riasan natural pada wajah adalah dimulai dari mengaplikasikan mosturizer setelah mematikan wajah bersih, memakai foundation, gunakan bedak yang sesuai dengan jenis dan warna kulit, pakai eyeshadow dengan warna natural, tambahkan blush on dengan warna pink muda pada pipi dengan sapuan tipis, dan pilih serta gunakan lipstik dengan warna natural pada bibir.
"Sekarang baru selesai!" seru Madam Merry
"Terima kasih, Madam," ucap Damia sambil tersenyum puas.
"Mas pacarnya pasti pangling saat melihat Kakak cantik nanti," kata Madam Merry
"Madam, bisa saja ... " sahut Damia
Usai dirias, Damia pun bangkit berdiri.
"Ayo, Madam antar temui Mas Angga. Madam mau lihat reaksi Mas Angga saat lihat Kakak cantik sebentar lagi," kata Madam Merry
Damia hanya menurut patuh dan membiarkan Madam Merry menemaninya untuk menemui sang kekasih.
Saat ditemui, Angga tampak masih asik membaca majalah sambil makan camilan dan meminum jus yang sebelumnya telah dipesan.
"Mas Angga, lihat apa, sih, sampai serius banget seperti itu? Apa sedang lihat gadis cantik di majalah itu? Apa yang di sini kalah cantiknya sama yang di situ?" tanya Madam Merry yang memberi interupsi pada Angga yang sedang asik membuka lembaran majalah satu per satu.
Angga pun langsung mengalihkan pandangan matanya dari halaman majalah dan mencari sosok dari sumber suara yang didengar dan dikenal olehnya. Satu kesan yang tampak adalah lelaki itu terkesima. Angga pun langsung bangkit berdiri dari posisi duduknya.
"Angga, maaf ... aku buat kamu menunggu lama, ya?" tanya Damia
"Tidak kok. Aku juga lagi santai sambil duduk di sini," jawab Angga
"Bagaimana, Mas Angga? Kak Mia lebih cantik dari pada gadis yang ada di dalam majalah itu, kan?" tanya Madam Merry
"Kertas itu tidak bisa dibandingkan sama pacar saya, tapi Damia tidak terlihat berbeda atau berubah sama sekali. Pacar saya tetap sangat cantik seperti biasanya," jawab Angga
"Benar, kan ... tidak ada yang berbeda dari sebelumnya?" tanya Damia
"Benar. Seperti yang aku bilang barusan, kamu tetap sangat cantik," ungkap Angga
Pujian yang terkesan sangat biasa, tapi mampu membuat Damia tersenyum bahagia saat mendengarnya. Bukan karena pujian tersebut, melainkan karena sang kekasih yang mengucapkannya.
"Hoho ... respon yang sangat bagus dan menarik," kata Madam Merry
"Terima kasih untuk hari ini, Madam," ucap Angga
Setelah itu, Angga pun membayar biaya perawatan.
"Itu ... lihat nanti, deh, Madam. Soalnya pacar saya ini orang sibuk," kata Angga
Madam Merry pun hanya mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Pokoknya kalau ada waktu, harus datang lagi ke sini. Semoga hari ini menyenangkan untuk kalian berdua," ujar Madam Merry
"Terima kasih banyak, Madam ... " ucap Damia
"Terima kasih kembali," balas Madam Merry
Damia dan Angga pun beranjak pergi dari sana.
"Bagaimana rasanya setelah melakukan perawatan sama Madam Merry tadi?" tanya Angga
"Sangat menyenangkan. Meski sebutannya sama, tapi kali ini berbeda dari cara perawatan yang aku lakukan terhadap pasien rumah sakit dan juga berbeda dari teknik relaksasi yang pernah aku ajarkan ke kamu," ungkap Damia
"Semua karena kamu mengajak aku ke sini. Terima kasih, Angga," sambung Damia
"Sama-sama," sahut Angga
"Omong-omong, kamu lumayan dekat sama Madam, ya? Sampai Madam mau melayani kita langsung dan mengabaikan pelanggan lain?" tanya Damia
"Itu karena Madam Merry lebih dulu dekat sama kak Linda, aku jadi ikut terbawa dekat. Selain itu, Madam Merry memang orang yang baik," jelas Angga
Seperti pasangan yang memadu kasih lainnya, kini Damia dan Angga sudah kembali menautkan kedua tangan masing-masing menjadi satu dengan erat.
"Kali ini kita mau ke mana lagi?" tanya Angga
"Sebenarnya aku kepikiran mau ke toko buku untuk beli buku baru," jawab Damia
"Apa ada buku khusus yang mau kamu beli?" tanya Angga
"Tidak ada rencana khusus. Aku hanya ingin mengoleksi buku baru," jawab Damia
"Oke, deh ... kebetulan aku juga mungkin bisa cari buku baru lainnya untuk tambahan bahan skripsi kali ini," ujar Angga
"Kalau begitu, ayo kita langsung ke toko buku ... " sambung Angga
Dari SPA Salon, Damia pun beralih menuju ke toko buku.
Saat di dalam toko buku, Damia dan Angga terpecah untuk melihat-lihat buku incaran masing-masing yang berbeda.
"Angga, kamu mau lihat yang di sini saja? Kalau begitu, aku mau lihat buku yang di sana dulu, ya ... " ujar Damia
"Ya, aku di sini saja. Kalau sudah selesai dan dapat bukunya, kamu cari aku di sini lagi," kata Angga
Damia beranjak ke bilik rak buku yang berbeda, meninggalkan Angga yang juga sedang melihat-lihat buku di sana.
Setelah mendapat buku pilihannya dan telah membayar buku tersebut untuk dibeli, Damia pun kembali menghampiri Angga di tempat semula.
"Angga, aku sudah dapat bukunya. Kalau kamu, sudah atau belum?" tanya Damia
"Aku masih belum menemukan yang benar-benar cocok. Apa kamu mau membeli buku yang kamu pilih tadi?" tanya balik Angga usai menjawab.
"Ya, aku sudah membelinya. Maksudnya sudah aku bayar tadi, sebelum kembali ke sini," jawab Damia sambil memberlihatkan paper bag berisi dua buku pilihan yang dibawa dan telah dibeli olehnya.
"Lho, kenapa tidak bilang sama aku supaya aku yang bayar?" tanya Angga
"Tidak perlu, aku masih bisa bayar sendiri. Lagi pula, buku ini untuk tambahan koleksi pribadi aku, jadi harus aku beli pakai uang sendiri," jawab Damia
"Hari ini kamu juga sudah banyak traktir aku. Nonton, makan, belanja, nyalon. Aku malah mau ganti setengah dari pengeluaran kamu hari ini. Karena kita berdua, jadi pengeluaran pun harus dibagi dua," sambung Damia
"Ya sudah, untuk buku itu biar kamu yang beli sendiri, tapi untuk ysng sebelumnya biar aku yang traktir dan kamu tidak perlu ganti uangnya karena dari pun aku memang niat mau traktir kamu," ujar Angga
"Jangan begitu dong. Kan, aku jadi tidak enak sama kamu. Kamu pasti sudah mengeluarkan banyak uang untuk aku hari ini," kata Damia
"Tidak apa-apa, bukan masalah kok. Memang aku yang mau," sahut Angga
Saat itu tiba-tiba saja, ponsel di dalam tas milik Damia berbunyi menandakan adanya telepon masuk.
"Sebentar, ada telepon masuk. Aku terima telepon dulu, ya," kata Damia
Angga hanya mengangguk kecil.
Damia pun beralih menjauh. Karena toko buku tersebut, selain tempat untuk membeli buku, cukup banyak juga yang membaca buku di sana. Suster cantik itu tidak ingin menghancurkan ketentraman di sana.
Saat Damia beralih untuk menerima telepon, Angga pun mendapat buku yang dicari dan langsung membayarnya untuk dibeli dan dibawa pulang. Lalu, lelaki itu pun menunggu sampai sang kekasih usai menerima telepon.
.
Bersambung.