Bougenville of Love

Bougenville of Love
53 - Kesalahan yang Bodoh.



Karena sudah selesai disuapi oleh sang kekasih, Angga semakin tidak rela untuk berpisah.


"Meski sudah selesai makan, kamu jangan langsung tidur lagi, ya. Harus tunggu sambjl duduk setidaknya 30 menit sampai 1 jam," ujar Damia


"Ya, aku mengerti. Lalu, apa kamu sudah mau langsung pulang? Kamu juga sudah memastikan keadaan aku, kan?" tanya Angga


"Hmm ... sebenarnya aku masih mau mengobrol dulu sebentar lagi sama kamu," jawab Damia


..."Padahal aku sendiri yang ingin Damia cepat dan banyak istirahat, tapi aku sendiri yang tidak mau cepat-cepat berpisah sama dia karena ingin terus bersama dia. Aku ini payah sekali ... dasar, plin-plan!" batin Angga yang merutuki dirinya sendiri yang bucin terhadap sang kekasih....


"Kalau begitu, sini ... duduk di dekat aku sambil bersandar. Supaya lebih nyaman," ujar Angga


Angga pun menggeser posisi duduknya di ranjang agar Damia bisa berpindah untuk duduk tepat di sampingnya.


Saat itu, Damia pun menuruti keinginan sang kekasih dan langsung berpindah untuk duduk di samping lelaki yang kini sedang demam itu.


Padahal Angga sudah mencari posisi duduk paling nyaman agar Damia bisa bersandar padanya. Namun, suster cantik itu malah memilih untuk hanya bersandar pada head board.


"Bagaimana, apa kamu sudah merasa nyaman duduknya?" tanya Angga


Damia hanya mengangguk sambil tersenyum.


..."Jangan sedih, Angga. Damia itu bukan tipe perempuan yang suka manja sama pacarnya dan bukan tidak peka. Justru karena Damia orangnya peka, jadi dia tidak mau memberatkan kamu yang sedang sakit dengan bersandar sama kamu. Damia itu tipe orang yang pengertian, perhatian, dan peduli. Sudah cukup Damia mau duduk tepat di samping kamu. Kamu tidak boleh berharap yang lebih," batin Angga...


"Jadj, bagaimana dengan kuliah kamu? Apa memang benar tugasnya sangat banyak sampai kamu jadi sibuk dan telat makan?" tanya Damia


"Sebenarnya, tidak juga, sih ... mungkin memang hanya karena aku sudah sempat lama tidak masuk kuliah sebelumnya, jadi aku sering merasa kewalahan sama tugas kuliah. Seperti harus beradaptasi ulang, apa lagi sebelumnya aku belum banyak mengingat tentang masa kuliah sebelumnya," jawab Angga


"Lalu, apa kamu pernah merasa kesulitan saat kuliah? Apa salit kepala kepala kamu pernah kambuh karena berusaha mengingat atau saat teringat dengan sesuatu?" tanya Damia


"Aku memang sering teringat kejadian yang lalu saat berada di kampus, tapi tidak sampai merasa sakit kepala yang parah. Paling cuma merasa sedikit pusing sebentar," jawab Angga


"Apa kamu yakin hanya sebatas itu? Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari aku, kan?" tanya Damia


"Ceritakan saja semuanya sama aku. Dengan jujur dan tanpa ada yang disembunyikan," sambung Damia meminta.


Angga terdiam sejenak. Lelaki itu tampak sedang berpikir, apa dirinya harus bercerita atau tidak?


"Sebenarnya, awalnya aku memang ... semua berjalan dengan baik, tapi belakangan ini aku jadi merasa kesulitan," ujar Angga


"Kenapa? Apa yang buat kamu merasa kesulitan? Apa itu tentang tugas kuliah kamu atau karena ingatan kamu?" tanya Damia


"Padahal semuanya berjalan lancar dan aku baik-baik saja saat bisa kembali mengingat tentang masa-masa kuliah yang sudah lalu dan masalahnya terjadi saat aku mulai mengingat kembali tentang Rena," jawab Angga


"Itu terjadi akhir-akhir ini. Yang kamu tahu dia adalah teman kuliah aku ternyata adalah mantan pacar aku yang mengabaikan aku karena lebih dulu merasa terabaikan sama aku. Bisa dibilang dia memutuskan hubungan pacarannya sama aku karena dia tahu kalau aku tidak pernah sama sekali punya perasaan untuk dia," sambung Angga


Damia yang mendengarkan sang kekasih bercerita dapat menebak garis besar yang sebenarnya terjadi.


..."Apa itu ... penyebabnya karena aku?" batin Damia yang seketika langsung terdiam....


Damia langsung menyentuh keningnya sambil sedikit memihat pangkal hidungnya. Itu adalah tanda saat dirinya merasa ada yang salah, entah karena pikirannya, kondisinya, ataau situasi yang sedang dialami olehnya.


"Ada apa, Damia? Apa kamu merasa pusing atau kurang enak badan?" tanya Angga


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Hanya sedang mencerna cerita kamu saja," jawab Damia


"Ini adalah masalah aku. Aku menceritakannya karena kamu yang bertanya. Kamu tidak perlu memikirkannya terlalu jauh," ucap Angga


"Kalau aku tidak bertanya, apa kamu tidak akan bercerita sama aku?" tanya Damia


"Karena sepertinya kamu juga tipe yang seperti itu. Kamu hanya akan diam kecuali orang bertanya sama kamu tentang sesuatu, karena kamu tipe orang yang tidak ingin menjadi beban orang lain dengan permasalahan kamu," jawab Angga


"Itu memang benar, aku adalah tipe orang yang seperti itu. Tapi, sudah jadi tugas aku juga untuk membantu kamu ke luar dari masalah ini," ujar Damia


"Peran apa dan sebagai siapa kamu membantu aku?" tanya Angga


"Sudah pasti sebagai diriku sendiri, Damia. Yaitu, pacar sekaligus perawat kamu," jawab Damia


Mendengar jawaban dari sang kekasih, Angga merasa sangat senang. Damia telah menganggap dirinya sebagai pacar, bukan hanya sebagai pasien.


"Jadi, lanjutkan saja cerita kamu," pinta Damia


"Cerita aku hanya sampai di situ. Tidak ada apa pun lagi," kata Angga


"Aku bisa menarik kesimpulan kalau aku pacaran sama Rena tanpa dasar perasaan apa pun dan karena tidak tahan dengan aku yang seperti itu jadi Rena memilih untuk putus sama aku. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa setuju saat Rena mengajak aku untuk berpacaran dan memang dulu Rena selalu membujuk aku untuk jadi pacar dia. Dia sendiri juga sempat bilang kalau di hati aku sudah ada perempuan lain. Mungkin saat itu, aku hanya menganggap dia sebagai pelarian," sambung Angga


"Begitu, rupanya ... " gumam Damia


Damia kembali terdiam dan Angga menyadari hal itu.


..."Kenapa respon Damia hanya diam? Apa dia menganggap aku bukan lelaki baik karena telah menjadikan perempuan lain sebagai pelarian? Apa Damia mengira kalau dia juga aku jadikan pelarian sama seperti Rena? Kalau memang benar seperti itu, berarti ini gawat!" batin Angga...


"Itu semua memang salah aku. Aku yang bodoh karena pacaran sama seseorang padahal aku tidak punya perasaan apa pun untuk dia. Tapi, Damia ... itu hanya masa lalu. Aku tidak akan menjadikan kamu sebagai pelarian sama seperti Rena. Aku benar-benar suka dan cinta sama kamu," ucap Angga dengan jujur.


Damia pun tersenyum tipis dan menatap ke arah Angga yang tepat ada di sampingnya.


"Aku tidak akan salah paham kok, tenang saja. Lagi pula, itu hanya masa lalu kamu sama perempuan lain. Aku tahu itu tidak ada hubungannya sama aku," ucap Damia


"Syukurlah, kalau kamu bisa mengerti," kata Angga


"Yang aku sendiri tidak mengerti bahkan sampai sempat merasa frustasi adalah aku yakin kalau sudah mengingat semua yang aku lupakan, tapi kenapa aku tidak bisa mengingat sedikit pun tentang kamu? Saat aku berusaha untuk bisa mengingat tentang kamu, semua ingatan aku yang sudah kembali aku ingat malah terus berputar di dalam otak aku sampai membuat kepala aku terasa sangat sakit," sambung Angga


"Jadi, ini masalah kamu yang sebenarnya? Karena masalah ini kamu sampai jadi sakit, kan?" tanya Damia


"Iya, benar. Maaf karena aku berusaha menyembunyikannya dari kamu. Aku hanya tak habis pikir, kenapa ingatan aku tentang kamu malah adalah yang paling sulit untuk aku ingat? Aku sampai sempat merasa ragu, apa benar dulu kita pernah berteman? Sangat konyol, kan?" tanya balik Angga usai menjawab.


"Benar, dulu kita berteman. Kamu hanya belum mengingatnya. Tidak perlu terlalu dipikirkan. Aku sudah sering bilang sebelumnya, jangan memaksakan diri untuk mengingat masa lalu, nanti malah berdampak buruk sama diri kamu sendiri. Sekarang ucapan aku terbukti dan kamu jadi sakit," jawab Damia


"Iya, aku tahu salah ... maaf karena tidak mengingat ucapan kamu dengan baik," kata Angga


Ssat itu, Angga berusaha meraih tangan Damia untuk digenggam. Namun, suster cantik itu malah menepis dan menghindar dari tangan Angga dengan cepat. Itu membuat Angga merasa terkejut dan bingung. Lelaki itu sampai mengira dirinya telah berbuat kesalahan.


"Maaf, aku hanya sedikit terkejut karena suhu tubuh kamu yang sedang tinggi," kata Damia


"Padahal demam aku sudah turun," batin Angga


"Sepertinya aku terlalu berlebihan. Padahal memang aku yang salah," batin Damia


"Tapi, Angga ... pasti kamu merasa aneh tentang hal itu, kan? Soal ingatan tentang aku yang sulit kamu dapatkan lagi," ujar Damia


"Iya, benar. Aku memang merasa aneh dan bingung. Akhirnya kamu mengerti juga," kata Angga


"Aku memang mengerti. Lalu, apa kamu pernah dengar, kalau ingatan yang sulit untuk diingat kembali adalah ingatan yang paling menyakitkan bagi seseorang? Makanya kamu sampai amnesia, karena kamu memblokir ingatan tentang aku sebagai pertahanan diri karena ingatan itu sangat menyakitkan bagi kamu," ucap Damia


"Aku memang pernah mendengar hal yang seperti itu, tapi itu tidak mungkin," sahut Angga


"Tidak ada yang tidak mungkin. Bagaimana kalau memang aku pernah melakukan kesalahan yang bodoh sama kamu?" tanya Damia yang mulai menundukkan kepalanya.


"Selama ini ingatan tentang kamu adalah hal-hal yang menyenangkan. Kalau pun ada, itu hanya sebatas rasa canggung saat kita baru bertemu lagi," jawab Angga


"Itu adalah ingatan kamu yang baru, bukan ingatan kamu yang dulu. Bagaimana kalau yang aku bilang itu benar? Apa rasa suka kamu ke aku akan hilang dan kamu akan benci sama aku?" tanya Damia lagi.


"Selama ini aku tahu semuanya, tapi aku seolah menutupinya dari kamu. Apa kamu tidak merasa kalau aku malah menyembunyikannya dari kamu karena aku memang telah berbuat kesalahan besar sama kamu?" tanya Damia melanjutkan.


"Aku yakin kalau kamu tidak seperti itu. Sudah, tidak usah bahas soal itu lagi. Bagaimana pun juga perasaan aku ke kamu tidak akan berubah atau pun hilang, apa lagi jadi benci sama kamu," jawab Angga


"Mungkin selama ini kamu terlalu merasa puas dengan keadaan kamu yang sekarang dan mungkin memang kamu perlu berusaha keras untuk mengingat masa lalu kamu itu. Karena terkadang seseorang perlu ke luar dari zona aman dan nyamannya agar bisa berkembang dengan lebih baik, tapi kalau kamu memang ingin mencoba cara seperti ini, maka kamu harus bisa mempersiapkan diri dengan baik dengan segala kemungkinan yang akan terjadi, termasuk dengan kemungkinan terburuk. Jangan sampai saat kenyataan tidak sesuai dengan ekspetasi, kamu malah jadi nge-drop," ucap Damia


"Aku tidak ingin kita bahas soal ini lagi. Anggap saja kita tidak pernah membahasnya. Aku tidak ingin dengan pikiran seperti ini, hubungan yang baru kita mulai ini malah jadi memburuk. Lupakan saja. Kalau memang hal yang tidak bisa aku ingat adalah hal yang menyakitkan, lebih baik aku memang tidak perlu mengingatnya lagi. Karena aku tidak ingin hal-hal yang menyenangkan saat ini jadi rusak atau hilang hanya karena hal tidak penting yang sudah berlalu," ujar Angga


"Mana bisa seperti itu? Tapi, kalau kamu memang tidak ingin membahas soal ini untuk sementara waktu, tidak apa-apa. Apa kamu yakin ingin menganggap kita tidak pernah membahas hal ini? Atau kamu ingin aku menceritakan semuanya tentang masa lalu kita supaya semuanya menjadi jelas?" tanya Damia


"Tidak mau. Kalau pun aku mau tahu, setidaknya tidak untuk saat ini," jawab Angga


"Baiklah. Kalau begitu, anggap saja tadi aku bicara melindur karena merasa lelah," ujar Damia


..."Ya, seperti ini lebih baik dan sudah cukup bagus. Aku yakin dengan kebahagian aku yang sekarang bersama Damia, itu sudah cukup dan aku tidak perlu mengingat lagi hal yang telah lama berlalu, tapi Damia sudah mau pergi saja. Aku masih tidak rela," batin Angga...


"Benar juga. Kamu sudah harus pulang untuk istirahat," kata Angga


Damia hanya mengangguk kecil. Suster cantik itu pun bangkit berdiri dari posisi duduknya di samping sang kekasih.


"Kalau begitu, aku pamit mau pulang. Kalau tidak ada urusan lain, besok aku akan datang lagi. Kalau tidak, aku akan datang lusa saat libur bekerja," ujar Damia


"Benar, ya?" tanya Angga sambil menarik tangan Damia agar mendekat padanya.


Alhasil, wajah Damia berhenti dengan jarak yang sangat dekat dengan wajah Angga karena lelaki itu menarik tangannya.


"Akan aku usahakan, tapi aku tidak bisa berjanji," jawab Damia


Saking dekat jarak antara keduanya, kalau saja bukan karena Damia menahan gerak tubuhnya, mungkin saja saat ini bibir keduanya sudah saling bertabrakan.


..."Aduh ... rasanya aku sangat ingin mencium Damia. Harus tahan diri, Angga. Apa karena aku sedang sakit makanya jadi menginginkan hal yang macam-macam?" batin Angga yang merasakan gejolak api asmara yang membara....


"Semoga cepat pulih, Angga. Maaf bukannya aku menghibur kamu, tapi aku malah menambah beban pikiran kamu dengan menceritakan hal setengah-setengah," ucap Damia


"Aku sudah bilang tidak mau membahas itu lagi dan menganggap tidak pernah membahasnya. Lebih baik kamu cepat pulang saja supaya bisa beristirahat," kata Angga


Damia pun tersenyum dan bergerak memeluk tubuh Angga. Angga pun tersenyum karena merasa senang.


.


Bersambung.