Bougenville of Love

Bougenville of Love
88 - Mengintip.



Usai makan bersama, keluarga Angga berniat untuk pulang lebih dulu.


"Angga, Damia, Mama dan Papa pulang dulu, ya," ucap Mama Yuli


"Aku juga mau pulang saja. Kalian berdua tidak perlu terburu-buru untuk pulang, nikmati saja waktu berduaan dulu. Angga, kamu jaga Damia yang benar. Harus baik-baik sama pacar kamu," ujar Linda


"Ya, Kak. Kalau soal itu, aku juga mengerti kok," kata Angga


"Hati-hati di jalan, Tante, Om, Kak Linda ... " pesan Damia


"Ya. Kalau begitu, kami pulang dulu, ya," ujar Papa Nassar


"Damia, kalau Angga macam-macam sama kamu, bilang saja. Nanti biar aku beri dia pelajaran," ucap Linda


"Aku tidak akan seperti itu kok," kata Angga


Damia hanya tersenyum kecil.


Setelah berpamitan, Mama Yuli, Papa Nassar, dan Linda pun beranjak pergi dari Universitas tersebut untuk pulang menuju ke rumah.


"Kita akan melakukan apa lagi di sini?" tanya Damia


"Apa kamu mau berkeliling di kampus ini sama aku?" tanya balik Angga memberi saran.


"Memangnya boleh? Kan, aku bukan mahasiswi di sini, lagi pula hari ini hanya ada acara wisuda," ujar Damia


"Boleh kok. Karena saat acara wisuda para kerabat dan keluarga mahasiswa/i boleh masuk, jadi hari ini bisa dibilang kampus dibuka untuk umum. Hitung-gitung promosi sama orang luar juga. Ayo, aku temani kamu berkeliling," ucap Angga


Angga langsung menggenggam tangan Damia dan membawa sang kekasih untuk berkeliling.


"Untuk apa promosi sama aku? Aku juga tidak akan kuliah di sini," ujar Damia saat berjalan untuk berkeliling bersama sang kekasih.


"Memangnya kamu tidak ada niat mau lanjut pendidikan? Karena kamu sudah bekerja, kamu bisa bayar kuliah pakai uang kamu sendiri dan tidak perlu lagi minta biaya kuliah sama orangtua, kan?" tanya Angga


"Setelah punya pekerjaan, sudah jadi sangat sibuk dengan pekerjaan. Aku rasa itu sudah cukup dan lebih baik uang hasil kerjanya dipakai untuk kebutuhan yang lebih penting ke depannya," jawab Damia


"Ya, seperti ini juga sudah bagus ... " kata Angga


Angga membawa Damia menuju ke halaman belakang gedung kampusnya. Di sana lebih sepi dan pemandangannya juga terlihat bagus, jadi keduanya bisa berjalan-jalan dengan santai tanpa harus khawatir akan ada yang mengganggu.


Awalnya berpikir seperti itu. Namun, ternyata ada orang lain yang mengunjungi tempat itu. Itu adalah pasangan kekasih lainnya yang juga berkeliling di sana.


Melihat pasangan lain yang dikenalinya, Angga langsung mengajak Damia untuk segera bersembunyi. Keduanya pun bersembunyi dengan berjongkok di balik tanaman semak berbunga.


"Kenapa kita harus bersembunyi di sini seperti ini?" tanya Damia


"Stt ... pelan sedikit bicaranya. Ada orang lain di sini,"kata Angga


"Justru karena ada orang lain di sini, harusnya kita pergi saja ke tempat lain. Kenapa malah jadi bersembunyi?" tanya Damia


"Memangnya kamu tidak penasaran dengan apa yang sedang mereka berdua lakukan di sini?" tanya balik Angga


"Tidak. Ayo, kita pergi saja dari sini," jawab Damia


"Jangan pergi dulu. Temani aku sebentar, kaki aku kesemutan, nih ... " kata Angga beralasan.


Saat Damia hendak bangkit untuk beralih pergi dari sana, Angga pun menahannya agar tidak beranjak sedikit pun atau pergi dari sana.


Damia pun hanya bisa menuruti permintaan sang kekasih dan seolah dikalahkan oleh permintaan lelaki tampan itu. Akhirnya, Damia pun ikut menyimak dan mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh sepasang kekasih yang juga ada di sana. Damia mengenal perempuan dari dua insan itu. Dia adalah Rena dan lelaki yang menemaninya sudah pasti adalah kekasihnya. Yang Angga tahu bernama Arya.


Sebenarnya, Damia tidak mengerti kenapa dirinya harus ada di sana. Bersembunyi seperti sedang mengintip seolah dirinya adalah orang mesum yang mengintip orang yang tak berbusana, meski orang lain yang juga ada di sana tidak melakukan tindakan berlebihan apa pun.


"Sekali lagi, selamat atas kelulusan kamu, Rena ... " ucap Arya


"Terima kasih dan sudah cukup bilang selamatnya. Apa kamu tahu? Kita ini sudah seperti dus orang yang lagi maaf-maafan saat lebaran saja," ujar Rena


"Ini karena aku ikut merasa senang dan bangga dengan kamu yang sudah lulus kuliah," kata Arya


"Aku hanya baru lulus dan perjalanan aku ke depannya masih sangat panjang. Apa tidak ada yang mau kamu katakan selain ucapan selamat untuk aku?" tanya Rena


"Sebenarnya memang ada yang mau aku bicarakan sama kamu," jawab Arya


"Apa itu, Arya?" tanya Rena


"Aku tahu perjalanan kamu ke depannya masih sangat panjang, termasuk tentang hubungan kita. Sudah cukup lama sejak awal kita saling kenal dan aku ingin terus bersama kamu sampai akhir. Aku pikir kamu juga tahu seperti apa perasaan aku untuk kamu, jadi apa kamu mau terus menjalaninya sama aku? Sampai akhirnya kita menikah dan menjadi suami istri nanti bahkan sampai akhir hidup ini," ungkap Arya yang lalu mengeluarkan sebuah kotak dari saku pakaiannya.


Arya membuka kotak berukuran kecil itu hingga menunjukkan sebuah benda berbentuk lingkaran kecil di dalamnya. Itu adalah sebuah cincin. Rena seketika terperangah saat melihat apa yang Arya tunjukkan padanya.


"Ini ... kamu-" Perkataan Rena terputus karena ia bahkan menutup mulutnya karena tak sanggup berkata-kata.


"Ya, cincin ini untuk kamu dan aku sedang melamar kamu. Meski kita tidak langsung menikah, apa kamu mau terus bersama aku menjalani hubungan kita ini?" tanya Arya


"Ya, Arya. Aku mau," jawab Rena


Arya pun mengambil cincin di dalam kotak dan meraih tangan Rena untuk menyematkan cincin tersebut pada jari manis Rena.


"Aku mencintai kamu, Rena," ungkap Arya


"Terima kasih, Arya. Aku juga cinta sama kamu," ucap Rena


Arya pun langsung menarik Rena ke dalam pelukannya dan Rena pun membalas pelukan Arya.


"Rena dilamar sama pacarnya. Sekarang status mereka bertunangan," gumam Angga


Setelah itu, Rena dan Arya pun beranjak pergi dari sana.


Damia menghela nafas pelan.


"Mereka berdua sudah pergi. Ayo, kita pergi juga dari sini. Tidak mungkin kita terus menerus bersembunyi sambil berjongkok di sini seperti ini," kata Damia yang langsung beranjak bangkit.


Angga pun segera mengikuti sang kekasih berdiri. Damia pun menatap Angga tak biasa.


"Kenapa?" tanya Angga yang menyadari sang kekasih yang menatapnya secara tak biasa. Sebenarnya, lelaki itu merasa senang.


"Kaki kamu tidak kesemutan dan yang tadi itu hanya alasan. Kalau tadi kaki kamu kesemutan harusnya sekarang kaki kamu sedang kram karena terlalu lama berjongkok dan tidak bisa berdiri. Kamu baik-baik saja," ujar Damia


"Maaf, Sayang ... " kata Angga sambil terkekeh kecil.


"Kamu ini seperti anak kecil saja," kata Damia yang langsung mengalihkan pandangan ke arah lain.


Damia mengalihkan pandangan karena merasa malu dan sedikit canggung saat mendengar Angga memanggilnya dengan sebutan Sayang. Namun, sepertinya Angga jadi salah paham karena sang kekasih yang pemalu.


Angga menjadi salah paham dan memikirkan banyak hal secara berlebihan.


Angga langsung menggenggam tangan Damia untuk mengajaknya beralih pergi ke tempat lain sambil berusaha menepis pikiran negatifnya.


"Apa ada tempat khusus yang mau kamu lihat?" tanya Angga


"Aku akan membawa kamu ke mana pun yang kamu mau," sambung Angga


"Aku mau ke perpustakaan untuk melihat-lihat," jawab Damia


"Karena ada acara wisuda hari ini perpustakaan ditutup untuk mencegah buku hilang karena banyaknya orang yang berkunjung. Maaf, ya, aku tidak bisa membawa kamu ke sana," ucap Angga


"Ya sudah, tidak apa-apa. Kalau begitu, kita jalan-jalan di sini seperti ini saja," ujar Damia sambil tersenyum.


..."Mungkin aku hanya berpikir berlebihan. Damia tidak mungkin marah sama aku, kan? Lebih tidak mungkin lagi kalau Damia meninggalkan aku," batin Angga...


Saat keduanya sedang berjalan-jalan santai menikmati waktu berdua, terlihat ada tempat duduk tak jauh dari sana.


"Di sini juga ada tempat duduk, rupanya .... " gumam Damia


"Ayo, kita duduk dan istirahat dulu sebentar," kata Angga


Angga pun membawa Damia untuk duduk di tempat duduk yang ada di sana.


"Kamu pasti lelah," kata Angga


"Sedikit. Dan mungkin karena habis makan, makanya aku jadi merasa agak mengantuk," sahut Damia


"Kalau begitu, bersandarlah saja ... seperti ini," ujar Angga yang langsung menarik kepala Damia secara perlahan agar bisa bersandar pada bahunya.


Tangan keduanya bahkan masih saling bertautan. Kini suasana pun seolah mendukung kemesraan antara keduanya.


"Kamu tidak takut, kan, meski di sini tempat yang sepi?" tanya Angga


"Kenapa harus takut?" tanya balik Damia


"Sebenarnya dulunya halaman belakang kampus ini dulunya juga cukup ramai, tapi sejak ada rumor tak menyenangkan tempat ini jadi sepi," jelas Angga


"Pasti rumor tak menyenangkan itu adalah kalau tempat ini berhantu karena pernah ada yang melakukan percobaan bunuh diri atau semacamnya, kan?" tanya Damia


"Tebakan kamu benar. Apa kamu tidak takut juga?" tanya balik Angga


"Aku tidak takut dengan romor yang tidak pasti atau bahkan dengan sesuatu yang tidak terlihat. Aku ini bekerja di rumah sakit, tempat rumor menyeramkan banyak terjadi. Bisa dibilang aku cukup terbiasa dan di sana bahkan lebih menyeramkan," ungkap Damia


"Saat awal magang dulu, aku pernah ditugaskan untuk menjaga apotek khusus yang letaknya sangat dekat dengan ruang jenazah bahkan pernah suatu ketika aku berjaga di sana sampai malam. Terkadang sesuatu yang menyeramkan malah terjadi karena firasat atau ketakutan yang datang dari diri sendiri," sambung Damia


"Rupanya, kamu punya mental yang sangat kuat. Pasti kamu sudah sering membuat rasa takut kamu," ujar Angga


..."Tapi, apa bahkan kamu tidak takut sama aku? Di tempat yang sepi seperti ini ... aku juga hanya seorang lelaki biasa. Atau, apa kamu sudah percaya sama aku? Kalau memang benar, aku merasa senang, sih ... " batin Angga...


"Kalau kamu juga mau tidur, pejamkan saja mata kamu. Setidaknya sebentar," ujar Angga


"Kalau aku tidur, apa kamu tidak merasa takut? Bukannya kamu jadi sendirian kalau aku tidur?" tanya Damia


"Aku yang memberi tahu kamu soal adanya rumor tidak menyenangkan itu, tentu saja aku tidak takut. Lagi pula, meski kamu tidur, aku tidak jadi sendirian karena kita tetap berdua. Bersama kamu, di mana pun terasa jadi sangat menyenangkan," jawab Angga


Damia hanya terkekeh kecil.


"Damia, apa kamu mau aku lamar seperti yang dilakukan Arya pada Rena tadi? Apa kamu akan menerima kalau aku melakukannya?" tanya Angga


"Jangan melakukannya kalau kamu hanya ingin mengikuti apa yang orang lain lakukan," jawab Damia


"Apa kamu cinta sama aku?" tanya Angga


"Tentu saja, aku mencintai kamu. Kamu jangan berpikir terlalu berlebihan," jawab Damia


"Lalu, apa kamu tidak mau punya hubungan serius sama aku seperti pasangan lain?" tanya Angga


"Aku tidak akan mau pacaran sama kamu kalau tidak mau punya hubungan yang serius. Kita masih punya banyak waktu untuk melangkah ke tahap yang selanjutnya, lagi pula kita pacaran bahkan belum sampai genap satu tahun," jelas Damia


..."Kita memang belum genap satu tahun pacaran, tapi kita sudah mengenal lebih lama dari itu, meski aku masih belum mengingatnya sama sekali. Jadi, apa masalahnya ada pada ingatan aku? Kalau aku bisa mengingat semua tentang kita di masa lalu lagi, apa kamu akan menerima lamaran aku saat itu juga?" batin Angga...


Damia yang merasa mengantuk pun mulai memejamkan matanya secara perlahan. Suster cantik itu merasa nyaman bersandar pada bahu sang kekasih.


"Angga, kamu bisa dan baru boleh melamar aku jika kamu sudah mengingat masa lalu kita. Sebaliknya, jika saat kamu mengingat kembali semuanya dan ingin kita putus saat itu juga, maka aku akan menerima apa pun keputusan kamu. Namun, kamu tidak perlu memaksakan diri untuk mengingat kembali dengan cepat atau kamu yang akan menderita. Kamu hanya perlu tahu kalau aku akan selalu mendikung dan menemani kamu," ucap Damia


Damia bicara dengan suara yang sangat rendah dan nafasnya mulai berhembus secara teratur. Rupanya, suster cantik itu tertidur. Namun, Angga masih belum menyadari itu.


"Aku tidak mengerti. Kenapa kamu selalu berpikir kita akan putus saat aku mengingat semua tentang kita lagi? Memangnya apa yang sudah terjadi di masa lalu?" tanya Angga


Karena tak kunjung mendengar jawaban, Angga pun menoleh ke arah samping tepat terlihat wajah sang kekasih. Saat itulah Angga baru sadar kalau Damia tertidur.


..."Kamu selalu mengatakan soal putus saat membahas ingatan masa lalu. Apa masalahnya? Apa kamu pernah melakukan kesalahan hingga seolah kamu merasa bersalah dan takut? Apa kesalahan kamu itu adalah yang tidak bisa dimaafkan? Aku tidak mungkin tidak memaafkan kamu," batin Angga...


Angga tersenyum saat memerhatikan wajah sang kekasih yang tetap terlihat sangat cantik meski sedang tertidur. Terus seperti itu hingga Damia kembali membuka kedua matanya.


Damia mengerjapkan kedua matanya secara perlahan sambil sesekali menguceknya.


"Maaf, aku ketiduran. Kenapa kamu tidak langsung bangunkan aku saja? Berapa lama aku tertidur?" tanya Damia


"Tidak apa-apa kok. Aku tidak tega membangunkan kamu saat kamu belum lama tertidur. Kamu baru tertidur selama 15 menit sejak awal menutup mata. Itu hanya waktu yang sebentar," jawab Angga


"Bagaimana pun juga aku tidak boleh terus tidur di sini," kata Damia


"Kalau begitu, ayo kita pulang saja. Aku akan mengantar kamu sampai rumah. Kebetulan aku bawa mobil sendiri," ujar Angga


Damia pun mengangguk tanda setuju. Angga lebih dulu beranjak bangkit dan Damia ikut berdiri setelahnya.


"Apa kamu masih mengantuk? Madih bisa jalan sendiri? Apa mau aku gendong sampai ke dalam mobil?" tanya Angga


"Jangan bercanda, deh. Aku masih bisa jalan sendiri kok," jawab Damia


Angga hanya terkekeh kecil. Lalu, keduanya pun beranjak pergi bersama untuk pulang.


.


Bersambung.