Bougenville of Love

Bougenville of Love
42 - Makanan Khas Daerah.



Meski menolak dan mengatakan bahwa dirinya payah dalam berolahraga, Damia tampak merasa senang saat diajarkan bermain bola basket oleh Angga hingga berhasil melakukan teknik dasar dalam beberapa kali percobaan.


"Ini terasa melelahkan dan aku tetap saja payah dalam berolahraga," kata Damia


"Itu karena kamu tidak terbiasa melakukan olahraga yang seperti ini, tapi kamu termasuk pemula yang hebat setelah hanya beberapa kali mencoba dan kamu terlihat senang," ujar Angga


"Ini karena kamu mengajarkan aku dengan baik. Terima kasih. Aku memang merasa senang," ucap Damia


"Ya, sama-sama. Kita istirahat dulu saja. Ayo, kita makan," kata Angga


"Baiklah. Ayo," sahut Damia


Damia dan Angga pun beralih menuju area Lenggang Jakarta, yaitu tempat makan di sekitar wilayah Monas.


"Damia, kamu mau makan apa?" tanya Angga


"Terserah saja. Kamu yang pilih," jawab Damia


Angga pun mengangguk dan langsung menggenggam tangan Damia untuk masuk ke salah satu tempat makan yang ada.


Angga juga mempersilakan Damia untuk duduk di kursi yang telah dicarikan olehnya. Lalu, lelaki itu pun duduk di seberang tempat duduk suster cantik yang memisahkan keduanya dengan meja yang berada di tengah.


"Bu, nasi 2, ayam bakar taliwang 2, dan pelecing kangkungnya satu saja, ya ... " pesan Angga


"Di sini ... tempat makan khas Lombok, ya? Itu daerah kampung halaman orangtua kamu, kan?" tanya Damia


"Tepat sekali. Dulu aku sudah pernah cerita tentang daerah asal mama dan papa sama kamu, ya?" tanya balik Angga


Damia hanya mengangguk sebagai pembenaran atas pertanyaan dari Angga.


"Ayam taliwang dan pelecing kangkung itu termasuk makanan khas Lombok favorit aku," ucap Angga


"Apa bedanya ayam taliwang sama masakan ayam olahan biasa? Lalu, bedanya pelecing kangkung sama cah kangkung biasa?" tanya Damia


"Makanan khas Lombok itu yang bikin beda dari cita rasa dan bumbunya. Rata-rata kebanyakan makanan khas Lombok itu selalu disiram perasan jeruk nipis dan pasti rasanya pedas karena selalu ada sambalnya," jelas Angga


"Tunggu, sebelumnya kamu beli kerak telor dengan sedikit pedas ... apa karena kamu tidak bisa makan pedas? Apa aku salah memilih tempat makan?" tanya Angga melanjutkan.


"Tidak masalah kok. Aku bisa makan semuanya. Memang biasanya aku selalu membatasi makanan pedas, tapi bukan karena tidak bisa makan pedas. Aku hanya tidak ingin makan sesuatu dengan berlebihan karena apa yang berlebjhan itu tidak baik bagi kesehatan," jawab Damia


"Apa kita batalkan pesanannya dan pindah tempat makan saja?" tanya Angga


"Kita makan di sini saja, tidak apa-apa kok. Pesanannya juga pasti sudah hampir selesai dibuat," jawab Damia


"Maaf, ya ... harusnya aku memastikan dan bertanya lebih dulu," ujar Angga


"Kan, memang aku yang minta kamu menentukan tempat makannya," sahut Damia


"Padahal dibatalkan juga tidak apa-apa. Makanan yang sudah jadi bisa aku minta dibungkus untuk aku bawa pulang dan kita bisa makan di tempat lain," kata Angga


"Tidak apa-apa, Angga. Lihat, tuh ... makanannya sudah jadi dan siap diantar," sahut Damia


Benar saja. Tak lama kemudian Ibu pemilik tempat makan tersebut mengantarkan pesanan ke meja makan.


"Untuk minumannya mau pesan apa?"


"Benar juga. Kita belum sempat pesan minuman. Kalau begitu, saya pesan aur jeruk hangat satu. Kamu mau pesan minuman apa, Angga?" tanya Damia


"Es teh manis satu," jawab Angga


"Untuk minumannya, mohon tunggu sebentar."


Ibu pemilik tempat makan pun beralih untuk membuatkan minuman dan kemudian kembali untuk mengantarkan dua minuman yang telah dipesan oleh Damia dan Angga.


"Selamat menikmati." Setelah itu, ibu pemilik tempat makan itu berlalu pergi dari sana.


"Ayo, makan!" seru Damia


"Jangan makan semua sambalnya kalau kamu merasa itu terlalu banyak," kata Angga


"Aku mengerti, tapi jangan berpikir untuk mengambil sambal dari piring aku meski aku tidak menghabiskannya. Kamu tidak boleh makan sambal secara berlebihan," ujar Damia


"Lain kali banyak-banyaklah cerita tentang diri kamu sendiri supaya aku bisa mengingatnya dengan baik," pinta Angga


"Ya, aku akan menceritakan semuanya, tapi aku juga lebih suka saat kamu menceritakan tentang diri kamu dengan senang," kata Damia


"Apa bagusnya kalau aku tidak bisa ingat apa pun tentang kamu?" tanya Angga


"Aku akan menceritakannya dan kamu akan mengingatnya. Itu sudah cukup. Kenapa kamu malah memusingkan yang tidak bisa kamu ingat? Lebih baik kamu fokus dengan apa yang membuat kamu merasa senang saja," ujar Damia


Angga hanya mengangguk. Lelaki itu dan Damia pun mulai makan hidangan yang telah dipesan.


"Ayam taliwang ini bisa disajikan digoreng atau dibakar. Kali ini aku pesan yang ayam bakar." Angga kembali membahas tentang makanan khas daerah kampung halaman orangtuanya. Lelaki itu ingin mengikuti perkataan Damia untuk hanya membahas kesenangan yang sedang berlangsung.


"Mana senyumnya? Kenapa kamu tidak tersenyum lagi saat bercerita seperti sebelumnya?" tanya Damia


"Aku tidak bisa tersenyum saat makan makanan pedas. Yang ada aku malah akan menangis saat berusaha tersenyum karena merasa pedas," jawab Angga


"Jangan menangis. Kalau itu terjadi, maka aku yang akan menghapus air mata kamu," ujar Damia


"Perkataan yang kamu katakan itu harusnya aku sebagai lelaki yang mengucapkannya," kata Angga


"Sekarang sudah zaman apa? Lelaki dan perempuan sama saja. Tidak masalah siapa pun yang mengatakannya," sahut Damia


Keduanya pun terus makan.


..."Rupanya, Damia juga bisa berkata-kata manis. Lalu, bukankah perkataan tadi itu juga termasuk pernyataan cinta? Aku tidak salah, kan? Damia pasti mencintai aku sama seperti aku mencintai dia," batin Angga...


"Masih banyak makanan kas daerah Lombok yang tentu saja terasa enak. Aku bisa memberi tahu sama kamu satu per satu. Akan lebih bagus lagi kalau kamu bisa datang ke Lombok secara langsung. Lain kali kamu bisa pergi bersama aku ke sana," ucap Angga


Mendengar ucapan lelaki itu membuat Damia hampir tersedak. Kalau saja suster cantik itu tidak bisa mengontrol diri, ia pasti sudah terbatuk-batuk sekarang.


Damia pun langsung mengambil minuman untuk melancarkan tenggorokannya yang agak tercekat. Karena tidak ada air putih, suster cantik itu hanya bisa langsung minum air jeruk hangat miliknya.


..."Apa kamu sadar dengan maksud dari ucapan yang barusan kamu katakan, Angga? Itu seolah terdengar seperti kamu mengajak aku pergi bersama ke kampung halaman orangtua kamu untuk melakukan pertemun keluarga di sana. Kamu sudah seperti sedang melamar aku saja! Aku tidak berniat untuk salah paham dengan maksud kamu agar aku bisa melihat keindahan dan merasakan wusata kuliner di Lombok secara langsung. Tapi, tetap saja ... kalau aku tidak paham dengan maksud ucapan kamu, aku bisa jadi salah paham. Tolonglah jangan mengucapkan kata-kata yang ambigu," batin Damia...


"Maksud kamu, aku pergi ke kota Lombok? Untuk apa?" tanya Damia


"Di sana sangat jauh. Mungkin akan sangat sulit bagi aku untuk bisa pergi ke sana," sambung Damia


"Kenapa tidak bisa? Pasti akan ada kesempatan untuk kamu bisa pergi ke sana. Aku bisa memperlihatkan pemandangan yang indah dan memperkenalkan makanan khas yang enak di sana," ujar Angga


"Ya, pasti akan sangat indah dan menyenangkan. Dari yang aku tahu, keindahan kota Lombok tidak kalah dari indahnya kota Bali," kata Damia


"Itu tepat sekali. Kalau kamu punya kesempatan, apa kamu mau pergi ke sana?" tanya Angga


"Tentu saja. Kamu harus mengingat perkataan kamu sendiri. Aku akan menagihnya nanti. Jika saatnya tiba, kita harus pergi bersama," ujar Angga


..."Karena jika saat itu tiba, kita pasti sudah menjadi satu keluarga. Aku sangat menantikannya," batin Angga...


Damia dan Angga pun terus melanjutkan makan bersama. Setelah selesai makan dan melakukan pembayaran, keduanya pun beranjak pergi dari tempat makan tersebut.


Sebelum makan, sudah memasuki waktu senja dan kini langit sudah menjadi gelap.


"Saat malam hari, Monas terlihat sangat indah," kata Damia sambil tersenyum.


"Benar. Saat pergi bersama kamu ke sini, aku sedikit khawatir kunjungan ke tugu Monas sudah ditutup karena memang tutup di sore hari dan tiket yang kita beli pun hanya tinggal tersisa sedikit tiket-tiket terakhir," ujar Angga


"Tapi, nyatanya kita masih bisa masuk dan berkat kamu aku jadi bisa melihst keindahan di malam hari ini," sahut Damia


"Damia, bagaimana kalau sebelum pulang, kita jalan-jalan dulu sebentar untuk melancarkan pencernaan sambil berfoto-foto?" tanya Angga


"Baiklah. Terserah kamu saja," jawab Damia


Damia dan Angga pun berjalan kembali menuju halaman Monumen Nasional untuk sekadar berfoto-foto. Keduanya seolah tidak ingin ketinggalan untuk mengabadikan momen dan keindahan saat bersama sambil melihat gemerlap cahaya pada tugu Monumen Nasional saat malam hari yang tampak begitu cantik.


Merasa cukup berfoto ria, Damia dan Angga pun beranjak untuk kembali pulang. Tentu saja, Angga akan mengantar Damia pulang kembali ke rumah dengan selamat.


"Damia, apa kamu besok sudah kembali bekerja lagi? Kapan kamu pergi bekerja?" tanya Angga saat berada di perjalanan di dalam mobil bersama Damia.


"Ya. Besok aku masuk kerja shift malam," jawab Damia


"Berarti kamu akan menginap di rumah sakit sampai pagi? Jam berapa kamu kerja?" tanya Angga


"Aku masuk jam 9 malam. Berangkat jam 8 lewat 20 menit dari rumah dan akan pulang jam 7 lewat 30 pagi," ungkap Damia


"Bagaimana kalau besok aku akan jemput kamu di rumah untuk mengantar kamu kerja?" tanya Angga


"Tapi, itu sudah malam. Lebih baik kamu istirahat di rumah," jawab Damia


"Tidak apa-apa. Kalau di jam segitu, aku masih bisa," kata Angga


"Kalau aku menolak dan melarang kamu, kamu pasti aksn bersikeras. Tidak jauh beda dengan tadi saat kamu datang ke rumah. Terserah kamu saja. Yang pasti kamu harus selalu hati-hati," ujar Damia


"Baiklah. Besok aku pasti akan menjemput kamu untuk mengantar bekerja. Aku tidak akan telat," sahut Angga


Mobil milik Angga terus melaju hingga akhirnya sampai di depan rumah Damia setelah melewati gerbang masuk yang dibukakan oleh penjaga. Lelaki itu pun menghentikan laju mobil miliknya.


"Kita sudah sampai," kata Angga


Damia hanya mengangguk dan segera beranjak ke luar dari mobil milik sang kekasih. Angga pun ikut ke luar dari dalam mobilnya dan menghampiri suster cantik pujaan hatinya itu.


"Aku tidak akan mengganggu kamu sampai aku menjemput kamu untuk mengantar kerja besok malam. Jadi, kamu harus istirahat dengan baik. Jangan hanya bisa mengingatkan aku saja," ucap Angga


"Ya, aku mengerti. Kamu hati-hati di jalan. Jangan ngebut saat menyetir mobil," kata Damia


"Benar, sudah malam. Aku harus pulang. Aku pamit, ya," sahut Angga


"Angga, terima kasih untuk hari ini," ucap Damia


"Tidak masalah. Aku juga senang selama bisa bersama kamu tadi," kata Angga


Damia dan Angga pun saling melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Hingga akhirnya Angga masuk ke dalam mobilnya yang lalu melaju berputar ke luar dari kompleks perumahan tersebut untuk kembali pulang.


Tak lama kemudian, Damia melihat sang ayah kembali pulang dengan mengendarai motor matic.


"Ayah, sudah pulang ... " sambut Damia


"Iya, Damia. Kamu habis pergi, ya? Baru pulang juga?" tanya sang ayah. Ayah Dodi.


"Iya, Ayah. Tadi aku pergi sama teman dan baru pulang," jawab Damia


"Tadi Ayah lihat ada mobil ke luar dari sini? Apa mobil tadi punya teman kamu itu?" tanya Ayah Dodi.


"Iya. Tadi aku diantar pulang sampai ke rumah sama teman," jawab Damia


"Ayo, masuk ke rumah, Ayah. Jangan duduk di atas motor terus," sambung Damia sebelum sang ayah bertanya lebih banyak lagi.


"Oke, oke ... " sahut Ayah Dodi


Ayah Dodi pun beranjak turun dari atas motor dan berjalan masuk ke dalam rumah bersama Damia.


"Ayah sama Damia, sudah pulang ... " sambut Ibu Rita


"Iya, Bu. Tadi papasan sama Damia di luar rumah," kata Ayah Dodi


"Ayo, Ayah mandi dulu. Setelah itu kita makan," ujar Ibu Rita


"Aku tidak makan, ya, Bu, Ayah. Tadi sudah makan di luar sama teman. Ibu dan Ayah makan berdua saja. Nanti piring kotornya biar aku yang cuci. Aku mau masuk ke dalam kamar dulu," ucap Damia


"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Kamu pasti merasa lelah karena baru pulang setelah pergi tadi," kata Ibu Rita


Damia hanya mengangguk. Suster cantik itu pun beralih dari sana untuk menuju ke kamarnya dan masuk ke dalamnya.


Setelah merasa cukup istirahat di dalam kamar, Damia kembali ke luar untuk mencuci piring seperti yang telah dikatakan olehnya sebelumnya. Namun, nyatanya sang ibu terlihat sedang mencuci piring di dapur.


"Ibu, sudah selesai makan sama Ayah tadi? Kenapa tidak istirahat saja? Biar aku yang cuci piringnya," ujar Damia


"Tidak apa-apa. Tangan Ibu sudah terlanjur basah, nih. Kamu saja yang lanjut istirahat. Kalau tidak, kamu temani Ayah mengobrol saja. Katanya ada yang mau Ayah bicarakan sama kamu," ucap Ibu Rita


"Nanti saja, deh ... aku mau bantu Ibu cuci piring dulu," kata Damia


"Biar Ibu sendiri saja yang cuci piringnya. Kamu temui Ayah saja," sahut Ibu Rita


"Ibu yakin, tidak mau aku bantu cuci piringnya?" tanya Damia


"Iya, tidak usah ... " jawab Ibu Rita


"Ya sudah. Aku tinggal dulu, ya, Bu ... " kata Damia


Ibu Rita hanya mengangguk. Lalu, Damia pun menghampiri sang ayah sang sedang menonton televisi sambil mencari saluran berita.


"Damia, sinj ... duduk sama Ayah," pinta Ayah Dodi


Damia mengangguk dan menghampiri sang ayah untuk duduk di samping pria itu.


.


Bersambung.