
Usai berfoto di photobox, Damia dan Angga beranjak untuk mencari tempat makan siang. Keduanya makan di tempat makan ayam geprek.
"Damia, kamu mau makan yang level berapa?" tanya Angga
"Aku mau yang level 2 saja," jawab Damia
"Oke, tunggu di sini biar aku pesan makanannya dulu ... " kata Angga
Damia hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.
Sambil menunggu Angga yang sedang memesan makanan, Damia kembali memerhatikan selembar foto hasil dari photobox sebelumnya.
Damia dan Angga sepakat menyimpan masing-masing selembar foto. Yang terdapat 4 foto yang berbeda pada masing-masing lembar foto.
Damia tersenyum saat memerhatikan lembar foto miliknya. Menghabiskan waktu berdua dengan Angga merupakan momen bahagia baginya meski hanya melakukan hal remeh sekali pun.
..."Rasanya sangat menyenangkan saat menghabiskan waktu bersama Angga. Tidak ada kekhawatiran atau keraguan sedikit pun. Padahal tidak biasanya alu suka bermain seperti ini. Bahkan saat aku bersama Raffa dulu, rasanya tidak pernah seperti ini. Sepertinya aku benar-benar meyukai Angga hingga apa pun yang aku lakukan saat bersama dia pasti terasa menyenangkan," batin Damia...
Saat Angga kembali dengan membawa makanan yang telah dipesan, Damia pun menyimpan lembar hasil photobox ke dalam tas yang dibawa olehnya.
"Kamu sedang apa, Damia? Kenapa malah bengong? Apa kamu sudah lapar?" tanya Angga
"Aku tidak bengong kok, tapi aku memang sudah tidak sabar ingin makan," jawab Damia
"Kalau begitu, ini pesanan kamu tadi. Lalu, untuk minumannya akan diantar sebentar lagi," ujarvAngga
Angga pun memberikan salah satu paket ayam geprek level 2 pada Damia, lalu lelaki itu ikut duduk untuk makan bersama sang kekasih.
Tak butuh waktu lama, ada seorang pelayan yang datang untuk mengantarkan pesanan minuman.
"Permisi. Mas, tadi yang minumannya belum, kan? Ini minumannya."
"Terima kasih," ucap Damia dan Angga secara bersamaan.
"Sama-sama. Silakan menikmati."
Pelayan tersebut pun beralih pergi dari sana. Lalu, Damia dan Angga pun mulai melahap menu makan siang bersama.
Keduanya makan siang sambil mengobrol bersama.
"Damia, sekali lagi selamat atas resminya kamu bekerja di rumah sakit," ucap Angga
"Sebelumnya kamu sudah pernah beri aku ucapan selamat di telepon, itu pun sudah cukup. Dan terima kasih atas ucapannya," ucap Damia
"Bagaimana pun juga lebih afdol jika mengucapkan secara langsung seperti sekarang. Tapi, aku tidak mengerti ... bukannya kamu langsung bekerja setelah lulus sekolah? Bukannya itu berarti kamu sudah lama bekerja? Kenapa status kerja kamu sebelumnya masih magang?" tanya Angga
"Setelah lulus sekolah, awalnya aku tidak langsung bekerja di rumah sakit. Saat masih sekolah, aku pernah praktek kerja lapangan di Puskesmas hingga akhirnya aku bekerja di sana setelah lulus, tapi belum terlalu lama aku resmi bekerja di sana pernah ada pengurangan pekerja saat terjadi pandemi," jelas Damia
"Kalau mereka merasa kasihan sama perawat baru, kenapa perawat yang sudah lama malah diabaikan? Apa mereka tidak merasa kasihan juga? Lalu, apa kamu menerima keputusan itu begitu saja?" tanya Angga
"Aku rasa mereka juga tidak punya pilihan lain dan keputusan itu pun diambil setelah melakukan banyak pertimbangan. Kalau dipikir-pikir, tidak banyak tempat kerja yang mau mempekerjakan orang yang tidak punya pengalaman kerja, makanya mereka mempertahankan perawat baru karena kasihan," jelas Damia
"Perawat lama diberhentikan karena berpikir pasti masih bisa mencari pekerjaan di tempat lain karena sudah punya cukup pengalaman. Saat itu, aku juga tidak punya pilihan lain. Aku menerima keputusan itu dan tidak boleh larut dalam perasaan kecewa karena aku masih harus mencari pekerjaan baru di tempat lain," sambung Damia
"Aku mau ikut merasa kesal pun percuma karena itu sudah berlalu dan untungnya sekarang kamu sudah punya pekerjaan di tempat yang lebih baik," kata Angga
Damia pun tersenyum mendengar respon sang kekasih atas kisah pengalaman pekerjaannya di masa lalu.
"Ya ... setelah berhenti kerja, Raffa beri tahu aku kalau ada lowongan kerja di rumah sakit tempat dia bekerja, mungkin karena saat itu adalah masa pandemi, jadi banyak memerlukan tenaga pekerja medis. Saat itu Raffa tidak tahu kalau aku sudah berhenti bekerja di Puskesmas dan aku diam-diam melamar kerja ke rumah sakit. Namun, karena waktu pengalaman kerja aku jadi pekerja resmi masih tidak banyak, aku diterima sebagai perawat magang di rumah sakit," ungkap Damia
"Saat itu aku melamar kerja diam-diam tanpa sepengetahuan Raffa karena ingin bekerja tanpa bantuan orang dalam, tapi setelah kami bertemu di rumah sakit dan banyak yang tahu kalau kami adalah tunangan, masih saja banyak yang bilang aku bisa masuk kerja karena backing-an. Maaf, ya, aku jadi membahas orang lain saat kita sedang berdua seperti ini," sambung Damia
"Raffa itu mantan pacar kamu. Dia bukan orang lain dan pernah ada dalam bagian dari kisah hidup kamu. Aku memang sedikit merasa cemburu saat kamu membahas soal dia, tapi aku juga mengerti kalau itu sudah berlalu. Jadi, kamu tidak perlu merasa tidak enak sama aku," ujar Angga
"Saat Raffa tahu kalau kamu juga bekerja di tempat kerjanya, itu pasti jadi kejutan yamg membuat dia senang. Tapi, kamu pasti sempat kesulitan karena orang-orang menganggap kamu bisa masuk kerja karena ada backing-an dari Raffa," sambung Angga
"Ya, di tempat kerja mana pun pasti punya kesulitan masing-masing yang berbeda," kata Damia
"Lalu, bagaimana saat kamu rjadi perawat resmi di rumah sakit?" tanya Angga
"Tidak ada yang istimewa. Aku hanya dapat surat pemberitahuan dari kepala perawat dan kartu identitas baru sebagai pekerja tetap dari atasan," jawab Damia
"Lalu, teman-teman kerja aku pada heboh minta ditraktir saat terima gaji nanti," sambung Damia
"Minta ditraktir itu sudah seperti ritual wajib banyak orang," kata Angga
Damia dan Angga pun sama-sama terkekeh kecil.
"Lalu, bagaimana progres skripsi yang sedang kamu kerjakan, Angga?" tanya Damia
"Jangan ditanya ... tentu saja, tidak mudah, tapi aku juga dapat bimbingan dari dosen penanggung-jawab dengan baik," jawab Angga
"Kamu tidak perlu khawatir memikirkan soal aku karena aku pasti bisa mengerjakannya dengan baik dan lulus dengan cepat. Kamu hanya perlu doakan aku dan datang saat acara wisuda kelulusan aku nanti," sambung Angga
"Baiklah, aku mengerti dan akan aku ingat. Lalu, aku pasti mendoakan kamu. Semoga semuanya lancar," kata Damia
Damia dan Angga pun melanjutkan makan siang bersama. Usai makan, tentu saja harus membayar.
Setelah dari tempat makan, Damia dan Angga pun melanjutkan berkeliling dalam mall bersama.
.
Bersambung.