
Damia yang terus menunggu di meja kasir. Akhirnya pelayan toko datang membawakan setelan pakaian yang dipilih oleh Damia dan Angga sebelumnya. Tak lama setelah itu, Angga pun kembali dari toilet dan langsung menghampiri Damia di dekat meja kasir.
Melihat Angga berjalan mendekat, Damia menyambut sang kekasih dengan senyuman.
"Aku tidak lama, kan?" tanya Angga
"Tidak kok. Baju yang kita pilih juga baru dibawa untuk cek harga," jawab Damia
"Oh, baguslah, kalau begitu ... " kata Angga
Saat Damia terlihat memerhatikan ke arah meja kasir, Angga langsung merangkul bahu sang kekasih agar perhatian suster cantik itu tertuju pada dirinya seorang.
"Damia, setelah ini kita mau ke mana? Mau beli apa lagi?" tanya Angga
"Sudah cukup beli-belinya, tidak usah belanja lagi. Kita ke tempat lain saja," jawab Damia
"Memangnya kamu mau kita pergi ke mana?" tanya Angga
"Bukannya kamu yang menentukan? Aku ikut kamu saja," jawab Damia
"Sepertinya aku sudah punya rencana," kata Angga
"Hmm ... aku menantikannya," sahut Damia
"Ini belanjaannya, Kak. Totalnya Rp.xxx.000,-"
Pelayan toko pun menyerahkan barang belanjaan dan menyebutkan total biaya pembayaran. Saat Damia hendak mengambil paper bag yang berisi barang belanjaan, Angga langsung mendahuluinya meraih paper bag tersebut.
"Biar aku saja yang bawa," kata Angga
"Saya bayar pakai kartu kredit. Bisa, kan?" tanya Angga pada staf kasir.
"Bisa, Kak. Mohon ditunggu sebentar."
Angga pun memberikan kartu ATM miliknya untuk melakukan transaksi pembayaran. Hingga akhirnya staf kasir mengembalikkan kartu ATM pada Angga.
"Pembayaran sukses, Kak. Terima kasih dan datang lagi, ya."
"Terima kasih," ucap Angga
"Ayo, Damia ... " Angga pun langsung menggenggam tangan Damia dan membawa sang kekasih beranjak pergi dari toko pakaian tersebut.
"Angga, tas belanjanya biar aku saja yang bawa," ucap Damia
"Tidak usah, biar aku saja. Tangan kamu hanya perlu ... seperti ini saja aku," kata Angga yang menaikkan salah satu tangannya yang bertaut erat dengan satu tangan Damia.
"Belanjaannya juga tidak berat, kenapa kamu melarang aku membawanya? Itu juga bukan barang yang membahayakan," ujar Damia
..."Ini memang bukan barang yang berbahaya, tapi akan bahaya kalau kamu melihat gaun yang aku beli secara diam-diam untuk kamu. Meski aku masih bisa beralasan, rasanya tidak afdol jika aku ingin memberikan gaun ini sebagai kejutan untuk kamu malah ketahuan lebih dulu," batin Angga...
"Beli baju sudah, lalu mau beli apa lagi? Tas, sepatu, aksesoris, jam tangan, atau topi?" tanya Angga
"Hari ini aku senang, kamu ajak aku pergi jalan-jalan, tapi kamu tidak perlu berlebihan. Kamu tidak perlu lagi membelikan sesuatu yang tidak diperlukan, cukup beli baju saja," ujar Damia
"Tapi, masih banyak barang couple yang belum kita beli," kata Angga
"Memangnya sangat wajib untuk kita memakai barang couple supaya orang-orang tahu kalau kita pacaran? Atau saat orang-orang tidak melihat kita pakai barang couple berarti kita tidak pacaran? Padahal kita yang pacaran, apa penilaian orang lain itu penting?" tanya Damia
"Tidak, sih ... " jawab Angga
"Ya sudah ... kalau begitu, kita tidak perlu terlalu pamer kalau kita ini sebenarnya pacaran. Toh, meski kita tidak pakai barang couple pun kita tetap pacaran. Lagi pula, meski ingin beli pun tidak perlu membeli semua sekaligus hari ini," ujar Damia
"Iya, deh ... aku ikut kata kamu saja," kata Angga
"Meski begitu, rencana tetap harus berjalan. Aku mau bawa kamu ke suatu tempat. Kamu ikut aku saja," sambung Angga
Angga pun membawa Damia pergi ke suatu tempat di dalam mall tersebut.
Sesampainya di tempat tujuan, Damia merasa heran dengan sang kekasih yang mengajaknya untuk ke sana. Terlebih lagi, Damia merasa bingung dan tak menyangka. Angga mengajaknya ke SPA Salon.
"Angga, kamu ajak aku ke sini untuk apa?" tanya Damia
"Untuk memanjakan dan meremajakan diri, tapi tentu saja kamu masih sangat muda dan cantik. Setidaknya di sini kamu bisa merasa santai setelah merasa lelah karena terus menerus bekerja berhari-hari," jawab Angga
"Ayo, masuk ... " sambung Angga yang melangkah masuk ke dalam SPA Salon di depannya bersama sang kekasih.
"Apa kamu sudah sering ke sini?" tanya Damia
"Ya, lumayan ... tapi, kamu jangan salah paham dulu. Aku ke sini karena diajak sama kak Linda yang minta ditemani. Terkadang aku datang sekeluarga ke sini," jelas Angga
Damia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
Saat itu pemilik tempat usaha itu datang menghampiri dan menyambut kedatangan pelanggan sepasang kekasih.
"Selamat datang!"
"Eh, Mas Angga ... tidak datang sama kakak atau keluarganya? Datang sama siapa kali ini? Pacarnya, ya?" tanya pemilik salon.
"Iya, Madam. Saya datang sama pacar ke sini," jawab Angga
"Baru kali ini Mas Angga bawa pacar ke sini. Pacarnya cantik banget. Ayo, sini ... duduk dulu," ujarnya, Madam Merry.
Damia dan Angga pun dipersilakan untuk duduk di sofa pelanggan yang khusus sebelum memesan layanan.
"Mau pesan apa untuk camilan dan minumnya?" tanya Madam Merry
"Kami berdua belum lama ini baru habis makan," kata Damia
"Camilan dan minumnya nanti saja, Madam. Kalau ingin, kami akan langsung pesan," ujar Angga
"Saya rasa tidak perlu sampai yang seperti itu," jawab Damia
"Pacar saya ini orangnya pemalu, jadi Madam rekomendasikan saja layanan untuk pacar saya. Jangan yang terlalu berlebihan karena pacar saya tidak suka. Yang penting bisa bikin pacar saya jadi fresh," ucap Angga
"Oke, Madam mengerti. Ayo, cantik ... ikut Madam. Sini," kata Madam Merry
"Angga, kenapa kamu diam saja? Masa hanya aku, kamu juga ikut dong ... " ujar Damia
"Sepertinya pacar Mas Angga tidak mau jauh-jauh. Ayo, Mas Angga, juga ikut ... sini," ajak Madam Merry
Angga pun bangkit mengikuti Damia dan Madam Merry dari belakang.
"Pacar saya memang tidak bisa jauh sebentar saja, langsung tindu ... " kata Angga
"Lengket banget dong," sahut Madam Merry
Damia pun hanya bisa tersemyum tipis sambil menahan rasa malunya.
Damia pun diminta untuk duduk di kursi layanan SPA Salon tersebut. Melihat Angga sudah lebih dulu duduk di kursi yang tepat berada di sampingnya, Damia pun tidak ragu lagi.
"Kakak cantik, namanya siapa?" tanya Madam Merry
"Nama saya, Damia, Tante ... " jawab Damia
"Panggil Madam saja, seperti Mas pacarnya," kata Madam Merry
"Iya, maaf, Madam ... " sahut Damia
"Kalau kita mulai dari keramas, ya, Kak. Lalu, nanti di-creambath sambil manicure-pedicure dan pakai masker wajah. Kakaknya santai saja, nanti juga akan diberi pijatan supaya lebih relaks," ujar Madam Merry
"Mas Angga, juga disamakan saja sama layanan Kak Mia, ya ... " sambung Madam Merry
"Untuk saya tidak perlu mani-pedi," kata Angga
"Oke. Tidak masalah," sahut Madam Merry
Madam Merry pun mulai pelayanan pada Damia, sedangkan Angga dilayani oleh pekerja SPA Salon tersebut. Keduanya mulai dari keramas rambut.
"Kakak cantik, sehari-harinya sibuk apa?" tanya Madam Merry
"Saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit," jawab Damia
"Oh, merawat orang sakit. Pantas saja jadi kekurangan waktu untuk merawat diri, ya? Pasti sering ada di ruangan ber-AC, kan? Madam lihat rambut dan kulitnya sedikit kering," ujar Madam Merry
"Padahal saya sudah sering pakai pelembab," kata Damia
"Ya, hanya sedikit kering saja. Kalau tidak pakai pelembab mungkin akan lebih parah dari ini, tapi ini masih termasuk bagus kok," ucap Madam Merry
"Setelah ini harus creambath yang teratur, ya. Supaya rambutnya tidak rusak atau bahkan sampai mati," sambung Madam Merry
"Padahal menurut saya Damia sangat cantik tanpa cela," sahut Angga
"Tentu saja, Mas Angga bilang seperti itu. Yang hatuh cinta bisa membutakan mata," kata Madam Merry
"Madam, juga setuju kalau Damia cantik. Itu artinya penilaian saya tidak salah, kan?" tanya Angga
"Iya, untuk yang satu itu memang tidak salah ... " jawab Madam Merry
Angga pun tersenyum bangga, sedangkan Damia pun tersenyum menahan malu.
Perawatan pun dilanjutkan dengan creambath sambil memakai masker wajah dan manicure-pedicure.
Perawatan Angga telah berakhir usai creambath rambut.
"Jadi, Mas Angga sama Kakak Cantik mau camilan dan minuman apa?" tanya Madam Merry
"Kalau begitu, saya pesan jus stoberi," jawab Damia
"Saya jus melon saja. Camilannya terserah Madam saja," sahut Angga
"Oke. Ditunggu sebentar, ya ... " kata Madam Merry
"Tolong dilanjutkan," sambung Madam Merry pada karyawan salonnya.
Madam Merry pun beralih untuk menyiapkan camilan dan minuman untuk Damia dan Angga.
Setelah camilan dan minuman disuguhkan. Sering kali Angga menyuapi camilan dan membantu sang kekasih untuk minum jus karena sulit untuk Damia melakukannya sendiri saat sedang melakukan perawatan manicure-pedicure.
"Sudah cukup, Angga. Terima kasih," ucap Damia
"Kalau mau lagi, tinggal bilang saja. Aku tahu kamu kesulitan karena sedang perawatan mani-pedi," ujar Angga
"Aku mengerti," kata Damia
"Mas Angga, perhatian banget sama pacarnya. So sweet," sahut karyawan salon tersebut
"Tolong jangan terlalu akrab, kita tidak kenal. Saya takut pacar saya jadi cemburu," ucap Angga dengan maksud bergurau belaka.
"Maaf, maaf ...."
"Apa aku bilang seperti itu? Kamu jangan berlebihan sambil bawa-bawa aku sebagai alasan dong," ujar Damia
Para karyawan salon pun terkekeh pelan mendengar debat kecil antara Damia dan Angga yang malah terkesan romantis.
.
Bersambung.