
Setelah Damia masuk ke dalam mobil milik sang kekasih, mobil tersebut pun melaju.
Untung saja Damia sudah lenih dulu berjalan menjauh dari rumahnya saat menjumpai dan masuk ke dalam mobil sang kekasih, sehingga sang kekasih tidak berniat untuk mampir ke rumahnya untuk berjumpa dengan kedua orangtuanya.
Jujur saja, Damia masih belum siap memperkenalkan sang kekasih pada kedua orangtuanya. Suatu saat suster cantik itu pasti akan melakukannya, tapi tidak dalam waktu dekat ini.
"Bukannya kita sudah janji untuk bertemu di gerbang kompleks? Kenapa kamu masuk ke dalam?" tanya Damia
"Penjaga membuka gerbangnya untuk aku, jadi aku masuk saja," jawab Angga
"Sepertinya Pak Amin menyukai kamu," kata Damia
"Aku memang beruntung. Jadi, kali ini kita mau ke mana dulu sebelum kamu berangkat kerja?" tanya Angga
"Memangnya kamu masih belum memutuskan?" tanya balik Damia
"Sepertinya kali ini lebih baik kamu yang memilih tempatnya," jawab Angga
"Baiklah. Kalau begitu, sepertinya asik kalau kita bermain ayunan sambil mengobrol. Apa kamu tahu tempat seperti itu?" tanya Damia
"Memangnya di kompleks perumahan kamu tidak ada taman yang seperti itu?" tanya balik Angga
"Kalau taman memang ada, tapi di sana tidak ada ayunannya. Hanya taman biasa," jawab Damia
"Baiklah. Ayo, kita cari tempat yang seperti kamu inginkan," kata Angga
Angga pun mencari tempat yang bagus seperti keinginan Damia. Hingga akhirnya mobil milik lelaki itu berhenti di dekat sebuah taman bermain anak-anak.
"Kita sudah sampai. Ayo, kita turun," kata Angga
Damia dan Angga pun beranjak ke luar dari dalam mobil.
"Kamu memilih tempat yang bagus, Angga. Selain ada taman tempat bermain, di sini juga banyak penjual dagangan kaki lima," ucap Damia
Meski di sana adalah taman tempat anak-anak bermain, karena hari sudah malam, maka tidak ada lagi anak-anak yang bermain di sana. Biar pun begitu, di sana tetap ramai dengan penjual dagangan kaki lima karena taman tersebut masih sering dikunjungi para remaja atau bahkan pasangan orang dewasa yang singgah untuk istirahat atau bersantai sejenak di sana.
"Ada banyak yang berjualan di sini. Apa kamu mau beli sesuatu?" tanya Angga
"Hmm ... aku mau beli es potong," jawab Damia
"Baiklah. Ayo, kita beli!" seru Angga
Damia dan Angga pun beranjak untuk membeli es potong lebih dulu.
"Pak, beli es potongnya dua," kata Angga
"Mau beli rasa apa, Mas, Mba?"
"Rasa stoberi, satu ... " jawab Damia
"Sama rasa cokelat, satu ... " pinta Angga
Penjual tersebut pun membuatkan es krim potong seperti yang dipesan. Memotong es krim dan diberikan stik yang ditusukkan pada es krim rasa stoberi dan coklat. Lalu, memberikan es krim yang telah dipesan itu pada Damia dan Angga.
"Terima kasih," ucap Damia
"Ini uangnya, Pak. Kembaliannya ambil saja," kata Angga
"Terima kasih banyak, Mas."
"Sama-sama, Pak," balas Angga
Setelah memberikan uang sejumlah Rp.50.000,- untuk membayar 2 potong es krim pada sang penjual, Angga pun mengajak Damia untuk beralih menuju taman yang di sana.
Di taman tersebut, Damia langsung duduk di atas papan ayunan yang ada di sana.
"Ayo, kamu juga duduk di sini. Kita habiskan dulu es krimnya," kata Damia sambil menepuk-nepuk papan ayunan yang ada tepat di sampingnya dengan tangan kosongnya yang tidak sedang memegang es krim.
"Es krimnya enak, ya ... " sambung Damia sekadar untuk berbasa-basi.
Angga hanya mengangguk, lalu lelaki itu pun duduk di atas papan ayunan di samping Damia.
"Katanya, kamu mau kita mengobrol di sini. Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Angga
"Aku merasa bingung mau mulai cerita dari mana, tapi kalau kamu bertanya, maka aku akan menjawab semuanya," ujar Damia
"Sungguh, kamu akan menjawab semua pertanyaan aku?" tanya Angga
Damia hanya mengangguk sambil tersenyum sebagai ganti jawaban atas pertanyaan dari sang kekasih barusan.
Sebenarnya dua sejoli itu mengharapkan hal yang tak jauh berbeda. Angga ingin mendengar Damia menceritakan tentang Dokter Raffa, sedangkan Damia ingin memberikan penjelasan tentang sang mantan kekasih pada Angga.
Angga memang ibgin bertanya tentang banyak hal pada suster cantik itu, tapi untuk saat ini lelaki itu lebih penasaran tentang masa lalu sang kekasih dengan dokter tampan yang kemarin bertemu dengannya di rumah sakit.
Sambil terus memakan es krim potong, Damia dan Angga saling berbincang tentang hal yang ingin dibicarakan dan yang ingin didengar oleh satu sama lain.
"Mantan pacar kamu namanya, Raffa, kan? Kenapa dia menghampiri kamu dengan marah-marah seperti kemarin?" tanya Angga
"Yang paling tahu alasan pastinya hanya Raffa sendiri, tapi sepertinya dia tidak terima melihat aku dekat dengan kamu," jawab Damia
"Sebagian banyak pertanyaan kamu memang benar, tapi tidak semuanya benar. Sebenarnya aku dan Raffa baru putus 2 hari sebelum kita pacaran, alias sehari sebelum kamu bilang suka sama aku. Saat itu aku pergi dari rumah kamu dari siang dan datang ke rumah sakit saat malam hari, saat itu aku putus sama Raffa," ungkap Damia
"Aku ingat saat itu. Kamu kembali dan mengatakan kalau kamu merasa lelah, pasti sebenarnya kamu merasa sedih karena baru putus," ucap Angga
"Itu hanya berlangsung tidak lama. Sekarang aku sudah baik-baik saja," kata Damia sambil tersenyum.
"Kalau kalian berdua baru putus beberapa hari yang lalu, kenapa kamu malah bilang kalau kalian berdua sudah putus sejak 3 bulan yang lalu? Tidak, tunggu ... kalau kamu merasa sulit untuk menjawab, biar aku ganti pertanyaannya. Sebenarnya apa alasan kalian berdua bisa putus?" tanya Angga
Damia tidak langsung menjawab. Suster cantik itu lebih dulu memakan dan menghabiskan es krim potong yang tingga tersisa satu gigitan saja sambil tampak berpikir untuk merangkai kata-kata sebagai jawabannya untuk pertanyaan dari Angga tadi.
..."Sepertinya aku sudah salah bertanya. Pertanyaan mana pun kalau tentang masa lalu yang menyedihkan, terutama tentang mantan pacar, pasti akan sulit untuk dijawab. Apa aku sudah terlalu memaksa Damia untuk menjawab pertanyaan yang sulit baginya? Tapi, aku benar-benar merasa penasaran," batin Angga...
Damia pun menghela nafas pelan sebelum memutuskan untuk menjawab pertanyaan dari Angga.
"Itu ... aku yang memutuskan untuk menganggap kalau kami berdua putus sejak 3 bulan yang lalu, aku yang bilang seperti itu. Ini ada hubungannya dengan alasan kami berdua jadi putus. Raffa selingkuh sama suster yang kemarin kamu lihat itu. Selama ini aku tahu hubungan mereka berdua, hanya saja aku menutup mata atas kenyataan itu sambil berharap kalau Raffa hanya khilaf sesaat," jelas Damia
"Aku membiarkannya sambil berharap dia akan kembali sadar dan menyudahi hubungan tak wajarnya sama suster itu. Tapi, semakin aku abaikan, semakin aku merasa lelah karena hubungan mereka malah semakin dekat. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk mengalah dan mundur serta mengakhiri hubungan kami. Tapi, itu dulu. Harapan itu sudah lama hilang bahkan saat aku masih mempertahankan hubungan kami berdua hingga akhirnya sudah tidak ada lagi yang tersisa di antara kami berdua," sambung Damia
Angga mendengarkan penjelasan Damia dengan seksama. Lelaki itu sangat serius karena meski yang sedang dibicarakan adalah tentang mantan kekasih dari kekasih hatinya, itu juga menyangkut tentang hubungan dirinya dengan gadis pujaan hati.
..."Aku merasa lega saat mendengar kalau sudah tidak ada apa-apa lagi antara kamu dan dia, tapi apa benar begitu? Lalu, bagaimana dengan perasaan kamu untuk aku?" batin Angga...
Mendadak, Angga menjadi kurang percaya diri, hatinya terasa sakit. Namun, lelaki itu harus fokus pada cerita dan perasaan dari sang kekasih saat ini.
"Aku tidak mengerti. Kenapa kamu memutuskan seperti itu? Maksud aku, kenapa kamu tidak biarkan orang tahu kalau kalian berdua baru putus? Biar semua orang tahu kalau saat dia masih pacaran sama kamu, dia sudah selingkuh sama orang lain," ujar Angga yang merasa bingung.
"Aku merasa ... tidak ingin mereka terluka. Aku rasa biarkan aku saja yang terluka karena diselingkuhi dan putus sama Raffa saat itu. Aku tidak mau mereka berdua, terutama pacar barunya merasa tersakiti karena jadi olok-olok kalau dia jadi seorang selingkuhan. Perempuan itu juga pasti sudah terluka karena menjadi selingkuhan, tapi dia telah menanggungnya hanya karena cinta. Karena meski mereka berdua bersalah, tapi cinta adalsh perasaan yang murni dan tulus yang tidak pernah salah. Aku rasa biarkan saja seperti itu," ucap Damia
"Tapi, yang seperti mereka adalah wujud cinta yang egois. Sudah jelas kalau itu salah," kata Angga
"Ya, mungkin memang akulah yang bodoh. Harusnya aku langsung melabrak saat mereka selingkuh dan minta agar mereka putus agar hubungan kami bisa bertahan. Tidak, seharusnya sejak awal aku tidak menerima saat dijodohkan sama Raffa. Tapi, biarkan saja semua itu menjadi pelajaran dan pengalaman bagi aku," sahut Damia
"Kamu tidak bodoh, Damia. Kamu hanya terlalu baik," ucap Angga
"Tapi, kata orang ... terlalu baik sama saja dengan bodoh," kata Damia
"Jangan dengarkan kata mereka. Mereka yang bilang seperti itu adalah orang yang tidak mengerti dan tidak tahu ada kebaikan di dunia ini serta hanya bisa melihat adanya sisi jahat dunia. Padahal tidak selalu seperti itu," ujar Angga
"Kamu hanya memginginkan hasil yang baik, tapi hasilnya tidak sesuai ekspetasi. Itulah yang terjadi," sambung Angga
Damia pun tersenyum senang saat mendengar perkataan Angga. Rupanya, lelaki itu mengerti dirinya. Meski sebenarnya, Angga pun merasa gelisah akan perasaan Damia untuknya dan seperti apa kedudukannya di hati suster cantik itu.
"Sudah berapa lama dan sejauh apa hubungan kamu dan mantan pacar kamu itu?" tanya Angga
"Aku tidak begitu ingat sudah berapa lama, tapi kami sudah sempat bertunangan. Jika dihitung sejak awal, sudah lebih dari 3 tahun. Mungkin 5 tahun. Kami sudah dijodohkan sejak aku masih SMA," jawab Angga
"Selama ini bagaimana perasaan kamu ke dia? Lalu, apa arti diri aku bagi kamu?" tanya Angga
"Kamu ini bicara apa?! Sudah pasti, kamu adalah pacar aku. Orang yang aku suka adalah kamu. Bahkan sejak aku masih pacaran sama Raffa, sepertinya aku tidak punya perasaan khusus untuk dia selain hanya rasa hormat dan segan terhadap kakak, senior, dan atasan atau rekan kerja. Itu saja dan tidak ada yang lebih," ungkap Damia
Damia mengatakan semua itu tetap dengan wajah datar yang biasa. Meski begitu, Angga malah tersenyum karena sangat senang.
..."Masih hanya sebatas suka, ya? Tapi, tidak apa-apa. Untuk saat ini, itu sudah cukup. Toh, masih banyak waktu untuk mengembangkan perasaan Damia untuk aku. Dengar kata suka saja, aku sudah merasa sesenang ini. Tapi, aku tidak boleh terlalu menunjukkan perasaan senang ini karena Damia masih sedang bercerita tentang kesedihannya yang dulu. Rasanya aku juga ingin bertanya kisah kita di masa lalu, tapi sepertinya waktunya kurang tepat. Untuk saat ini biarkan Damia bercerita tentang mantan pacarnya dulu. Sebagai pacarnya, aku harus bisa jadi pendengar yang baik," batin Angga...
Angga berdeham singkat untuk menetralkan raut wajahnya dan meredam rasa sukanya agar tidak terlalu tampak.
"Lalu, siapa pacar baru, selingkuhan mantan pacar kamu itu? Apa kamu mengenal dia?" tanya Angga
"Kenal. Dia adalah suster Lisa. Meski masih muda, dia adalah kepala perawat yang bekerja di bangsal yang sama dengan aku. Aku sudah menganggap dia seperti kakak aku sendiri," jawab Damia
"Ya ampun ... tega sekali mereka berdua berselingkuh di belakang kamu sampai kamu mengetahui itu dengan jelas. Padahal setidaknya dulu, mereka adalah orang yang sama-sama dekat dengan kamu," ujar Angga
"Pasti selama ini tidak mudah bagi kamu menghabiskan waktu dengan dikhianati oleh 2 orang yang dekat sama kamu," sambung Angga
Damia hanya tersenyum kecil.
Saat itu, Angga bangkit berdiri.
"Kamu mau ke mana?" tanya Damia
"Aku akan di sini bersama kamu. Tidak akan pergi ke mana-mana," jawab Angga
Angga beralih berdiri di belakang ayunan yang diduduki oleh Damia dan mulai menggerakkan ayunan tersebut secara perlahan. Mendorong dan menariknya.
"Kenapa pacar aku ini baik sekali, sih? Rupanya, aku tidak salah pilih pacar," ujar Angga menyanjung sang kekasih.
"Aku bukan orang baik. Aku sempat berpikir kalau aku sama saja dengan Raffa. Saat kami baru putus, aku malah sudah pacaran lagi secepat ini. Bukannya aku menyesal pacaran sama kamu, tapi aku merasa sulit saat itu," ucap Damia
"Namun, setidaknya saat aku merasa sulit, ada kamu yang selalu bisa menghibur aku dari samping. Aku merasa beruntung," sambung Damia
"Jangan samakan diri kamu dengan mantan pacar kamu itu. Kalian itu berbeda. Karena kesulitan itu sudah berlalu, sekarang waktunya kita bersenang-senang!" seru Angga
Angga pun mulai mengayun ayunan yang diduduki oleh sang kekasih dengan lebih kencang. Damia pun memekik senang saat merasakan sensasi berayun dengan menyenangkan.
.
Bersambung.