
Damia tampak tersenyum, tertawa, dan memekik senang saat Angga mengayunkan ayunan tempatnya duduk. Itu membuat Angga pun ikut tersenyum.
Hingga akhirnya Damia meminta Angga untuk berhenti mengayun.
"Sudah cukup, Angga. Berhenti!" seru Damia meminta
"Baiklah," kata Angga yang langsung menghentikan laju ayunan yang diayunkan olehnya.
Damia masih mengeluarkan tawa yang tersisa dari keseruannya bermain ayunan.
"Kenapa hanya aku yang bermain? Kenapa kamu tidak ikut bermain juga?" tanya Damia
"Sudah cukup bagi aku melihatmu tertawa seperti ini. Aku sudah merasa senang," jawab Angga
"Ayo, duduk di sini. Kita bermain bersama," pinta Damia
Angga pun mengangguk. Pada akhirnya lelaki itu tidak bisa tidak menuruti permintaan sang kekasih untuk bermain ayunan bersama.
Angga pun akhirnya duduk di atas papan ayunan di samping Damia dan keduanya pun bermain bersama.
Damia dan Angga pun bermain ayunan bersama. Keduanya pun tertawa bersama merasakan keseruan dari bermain ayunan bersama. Hingga akhirnya keduanya pun berhenti berayun seiring lelah karena terus tertawa.
"Aku rasa kita sudah cukup bermain. Aku masih harus mengantar kamu pergi kerja ke rumah sakit," ucap Angga
"Benar juga. Baru kali ini aku bermain sampai lupa waktu. Padahal hanya bermain ayunan seperti ini," ujar Damia
"Bagaimana kalau kita makan dulu sebelum kamu bekerja?" tanya Angga
"Ya. Kebetulan aku memang belum makan malam," jawab Damia
"Kamu mau makan apa dan di mana?" tanya Angga
"Kita makan nasi goreng di pedagang kaki lima di sana saja," jawab Damia
"Baiklah. Ayo," kata Angga
Damia dan Angga pun bangkit beralih menuju ke pedagang kaki lima yang ada di dekat taman tersebut. Lalu, keduanya duduk di kursi penjual nasi goreng.
"Pak, pesan nasi gorengnya dua, ya," kata Angga
"Di sini menu nasi gorengnya lengkap, Mas. Mau pesan nasi goreng apa?"
"Kalau begitu, saya mau nasi goreng seafood spesial 1. Tidak pedas," ujar Damia
"Kalau saya, nasi goreng kambing 1. Yang pedas," pesan Angga
"Untuk minumnya mau pesan apa?"
"Es teh manis saja," jawab Damia
"Ya. Es teh manisnya 2," sahut Angga
"Oke. Mohon ditunggu, ya."
Damia dan Angga pun menunggu pesanan dibuat. Hingga akhirnya pesanan diantarkan.
"Ini pesanannya. Satu nasi goreng seafoof spesial dan satu nasi goreng kambing dengan 2 es teh manis."
"Terima kasih," ucap Damia dan Angga secara bersamaan.
"Selamat menikmati."
Penjual tersebut pun kembali beralih.
"Wah ... porsinya banyak juga. Kalau seperti ini, aku mungkin tidak akan merasa lapar sampai besok," ujar Damia
"Jangan hanya dilihat seperti itu. Ayo, makan ... " kata Angga
Damia hanya mengangguk. Damia dan Angga pun mulai makan malam bersama. Dengan suasana terang bulan di bawah langit berbintang dan angin malam yang menyejukkan.
"Bagaimana rasanya? Apa terasa enak?" tanya Angga
"Ya. Apa kamu mau mencobanya?" tanya balik Damia
Damia langsung menyendokkan satu sendok nasi goreng seafood spesial miliknya dan menyodorkannya pada Angga. Angga pun terperangah dan ada sedikit rona pada wajahnya. Lelaki itu mengerjapkan kedua matanya secara perlahan karena perlakuan manis dari sang kekasih.
"Nih ... ayo, buka mulut kamu dan cobalah," kata Damia sambil tersenyum.
"Benarkah, aku boleh mencobanya?" tanya Angga
"Tentu saja, boleh. Ini sudah aku sendokkan untuk kamu. Kamu hanya perlu membuka mulut," jawab Damia
Angga pun tersenyum senang, lalu lelaki itu pun membuka mulutnya dan Damia pun langsung menyuap sesendok nasi goreng seafood spesial ke dalam mulut Angga.
"Bagaimana rasanya menurut kamu? Enak atau tidak?" tanya Damia sambil tersenyum.
"Sangat lezat," jawab Angga
"Sepertinya kita tidak salah pilih tempat untuk makan," kata Damia
"Kalau begitu, kamu juga harus coba nasi goreng punya aku," ujar Angga yang langsung menyendok nasi goreng kambing miliknya dan menyodorkannya pada Damia
"Padahal tidak perlu juga tidak apa-apa," tolak Damia
"Harus adil dong. Kamu memberi satu untuk aku, aku juga akan memberi satu untuk kamu," kata Angga
"Baiklah," sahut Damia
Damia pun membuka mulutnya dan Angga pun langsung menyuapinya sesendok nasi goreng kambing miliknya.
"Bagaimana rasanya menurut kamu?" tanya Angga
"Sensasi rasanya memang berbeda dari nasi goreng seafood, tapi rasanya sama-sama enak," jawab Damia
..."Damia, benar. Kita tidak salah pilih tempat makan. Tidak tahu kalau makan di tempat lain, tapi makan di sini jadi buat kita saling menyuapi satu sama lain. Aku bahkan tidak berpikir kita akan melakukan ini. Tadi aku makan dari sendok Damia dan Damia makan dari sendok aku. Bukankah tandanya kita sudah bertukar cium? Aku senang sekali!" batin Angga...
"Apa rasa pedasnya sangat terasa? Aku lupa kalau nasi goreng punya aku pedas, padahal punya kamu tidak," ujar Angga
"Rasa pedasnya pas kok. Tidak terlalu pedas juga," kata Damia
"Damia, sebenarnya apa alasan kamu saat tidak makan makanan yang terasa pedas?" tanya Angga
"Selain tidak ingin makan sesuatu secara berlebihan, termasuk makanan pedas. Aku menganggapnya seperti ini ... makanan yang terasa pedas akan meningkatkan hawa panas pada tubuh dan karena hal ini terkadang membuat badan jadi terasa berat alias malas bergerak. Sedangkan saat ini saja kita sedang makan nasi goreng yang juga termasuk makanan yang menyebabkan hawa panas tubuh meningkat. Maka asumsinya, rasa malas akan meningkat dua kali lipat," jelas Damia
"Ini hanya asumsi aku saja, sih ... " sambung Damia
"Padahal kamu bukan tipe orang yang malas," kata Angga
"Setiap orang memang berbeda. Aku hanya ingin berjaga-jaga untuk menstabilkan daya produktivitas kerja diri sendiri saja," sahut Damia
"Kamu sampai berpikir sedetail itu. Hebat ... keren sekali!" seru Angga
Damia hanya tersenyum. Suster cantik itu pun melanjutkan aktivitas makannya bersama Angga.
Usai makan dan membayar, keduanya pun beralih untuk masuk ke dalam mobil. Kini sudah saatnya untuk Angga mengantar Damia bekerja ke rumah sakit.
Angga menghela nafas pelan. Lelaki itu sedikit tidak rela jika harus berpisah dari sang kekasih yang akan bekerja.
"Aku turun duluan, ya," kata Damia usai melirik ke arah jam yang ada di pergelangan tangannya.
Angga langsung tersadar dan menyusul sang kekasih yang sudah lebih dulu beranjak ke luar dari dalam mobil miliknya.
"Damia, tunggu!" seru Angga memanggil dan menghampiri sang kekasih hati.
"Aku tidak langsung masuk kok. Aku akan menunggu sampai kamu pergi dulu," kata Damia
"Kalau aku tidak pergi, apa kamu juga akan tetap di sini? Ah, maaf ... aku hanya bercanda," ujar Angga
"Lalu, kalau seperti itu ... apa kamu mau kita terus berlama-lama di halaman parkir rumah sakit dan menganggap ini sebagai kencan?" tanya Damia yang menanggapi candaan dari Angga.
"Sepertinya rencana seperti itu juga tidak buruk," jawab Angga sambil terkekeh kecil.
"Sebenarnya ada yang ingin aku katakan sama kamu," sambung Angga
"Ya. Ada apa?" tanya Damia
"Sepertinya besok aku tidak bisa mengantar kamu pergi bekerja. Jadwal kuliah besok sangat padat," jelas Angga
"Ya ampun ... aku kira apa. Tidak apa-apa, Angga. Besok atau lusa juga tidak usah mengantar aku, kamu istirahat saja di rumah. Aku bisa berangkat kerja naik motor sendiri atau dengan ojek atau taksi online," ujar Damia
"Aku juga tidak mau kamu berpikir kalau aku menganggap kamu seperti supir yang selalu mengantar aku pergi setiap hari," sambung Damia
"Mungkin memang lebih bagus kalau aku jadi supir kamu saja. Supaya bisa bersama dan mengantar kamu kapan saja," kata Angga
"Jangan berlebihan, deh ... " sahut Damia
Lagi-lagi Angga terkekeh kecil karena candaan yang dilontarkan olehnya.
"Padahal tadi kita masih bersama dan saling tertawa, tapi sudah mau pisah saja. Rasanya agak tidak rela," ujar Angga
"Aku ini kekanak-kanakkan, ya? Padahal aku tidak boleh seperti ini supaya kamu terus menyukai aku," sambung Angga
"Tidak apa-apa kok. Aku memang kurang suka sifat yang kekanak-kanakan, tapi aku lebih suka dengan orang yang berkata jujur dengan isi hatinya dan mengeluarkan uneg-unegnya. Terkadang itu memang diperlukan," ucap Damia sambil tersenyum.
"Damia, aku mau ... apa boleh aku memeluk kamu?" tanya Angga
"Sebenarnya aku juga mau dipeluk sama kamu," jawab Damia
Mendengar itu, Angga langsung memeluk tubuh Damia tanpa ragu. Suster cantik itu pun merengkuh pelan tubuh sang kekasih dengan kedua tangannya.
"Malam ini, rasanya ... aku senang sekali!" seru Angga
"Tapi, jangan terlalu lama, ya. Aku lupa kalau kita sedang ada di tempat umum. Aku jadi malu. Lagi pula, aku harus bekerja sebentar lagi," ujar Damia
Keduanya seperti sedang lupa dengan dunia yang sesungguhnya dan sibuk terhanyut dalam dunia mereka berdua pribadi. Serasa dunia hanya milik berdua.
Menyadari hal itu, Angga pun langsung melepas pelukannya dengan sang kekasih secara perlahan dan tidak terburu-buru. Seolah masih enggan untuk berpisah.
"Setelah ini rasanya aku jadi semangat untuk bekerja. Aku sangat senang. Terima kasih sudah mau mengantar aku pergi bekerja lagi malam ini," ucap Damia
"Sama-sama," balas Angga
"Ya sudah, kamu pulang dan istirahatlah di rumah. Hati-hati di jalan," ujar Damia
"Kalau begitu, aku pergi, ya ... " pamit Angga
Damia hanya mengangguk sambil tersenyum. Suster cantik itu pun melambaikan satu tangannya saat melihat sang kekasih masuk ke dalam mobil.
Setelah memastikan mobil milik sang kekasih telah pergi, Damia pun berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
Saat itu, diam-diam seseorang tampak menahan amarah dengan tangan terkepal erat melihat adegan perpisahan antara Damia dan Angga yang terlihat mesra.
Itu adalah Dokter Raffa. Dokter tampan itu hendak menemui Damia setelah Angga pergi. Namun, lelaki itu mengurungkan niatnya karena tidak ingin jika dirinya sampai lepas kendali dan emosi sampai marah-marah seperti sebelumnya. Karena hal itu hanya akan mempermalukan dirinya sendiri dan Damia yang sebenarnya masih dicintai olehnya. Namun, ia masih berencana untuk menemui mantan kekasihnya itu lain kali.
Pada akhirnya, Dokter Raffa berlalu pergi begitu saja dari sana.
Seperti biasa, Damia sibuk melakukan pekerjaannya. Hingga saat telah menyelesaikan tugasnya di pagi hari, suster cantik itu memilih untuk langsung pulang ke rumah. Karena tidak ada janji, ia pun memilih untuk makan dan istirahat di rumah.
Saat berada seorang diri di rumah, Damia lebih dulu makan sebelum beralih untuk istirahat di dalam kamar. Setelah itu, sebelum istirahat, suster cantik itu lebih dulu memeriksa ponsel miliknya. Setelah memastikan tidak ada pesan atau panggilan masuk, ia pun menyegerakan istirahatnya.
Bahkan usai istirahat di siang hari pun saat memeriksa ponsel miliknya, Damia tidak menemukan notifikasi penting di sana. Suster cantik itu tidak terlalu banyak berpikir. Mungkin semua sedang sibuk, termasuk dengan sang kekasih.
Damia pun memilih untuk tidak ambil pusing dan melanjutkan aktivitasnya di rumah.
Perpustakaan di suatu Universitas.
Angga sedang mencari bahan untuk mengerjakan tugas kelompoknya di dalam perpustakaan kampus bersama teman kelompoknya. Sayangnya yang bisa mencari bahan dan mengerjakan tugas bersamanya hari ini hanya satu orang, sedangkan 3 orang anggota kelompok lainnya mangkir dengan alasan punya urusan penting lainnya hingga tidak bisa mengerjakan tugas bersama hari ini.
..."Pasti yang lain hanya alasan saja punya urusan penting lain. Padahal mereka tidak mau repot mengerjakan tugas. Menyebalkan sekali!" batin Angga...
"Angga, kita hanya menemukan sedikot buku untuk bahan tugas kali ini. Bagaimana kalau kita rangkum dulu seperlunya, baru kita cari bahan lain di tempat lain?" tanyanya, teman anggota kelompok.
"Baiklah," jawab Angga dengan singkat.
Angga dan temannya itu pun mencari meja kosong untuk merangkum tugas.
Angga berusaha fokus, meski sebenarnya terasa canggung saat hanya mengerjakan tugas berdua dengan teman perempuannya. Apa lagi jika teman perempuannya itu adalah Rena, alias mantan pacarnya sendiri.
..."Rasanya sangat canggung karena hanya mengerjakan tugas berdua sama Rena seperti ini," batin Angga...
Apa lagi Rena sering kali tampak mencuri pandang ke arahnya. Meski begitu, Angga terus fokus menulis rangkuman agar bisa cepat selesai dan terbebas dari suasana canggung itu.
Hingga akhirnya, Angga menyelesaikan rangkuman tugasnya.
"Aku sudah selesai merangkum. Maaf, tapi aku harus segera pulang," kata Angga
"Kamu sudah selesai? Mau langsung pulang?" tanya Rena
Angga tidak memberikan jawaban dan langsung merapikan dan memasukkan barang dan alat tulisnya ke dalam tas.
"Angga, apa kamu mau terus menghindari aku seperti ini? Sebenarnya, kenapa? Apa alasan kamu?" tanya Rena
"Aku menghindari kamu? Tidak kok. Mungkin itu hanya perasaan kamu saja," jawab Angga
"Apa benar ini hanya perasaan aku saja? Apa hanya aku yang merasa penasaran sama kondisi kamu? Meski pun sedang hilang ingatan, aku sudah sempat bilang kalau kita pernah pacaran. Apa kamu tidak ingin bertanya apa pun soal kita dulu? Padahal aku sampai tidak fokus merangkum karena mata dan pikiran aku hanya fokus tertuju ke kamu. Ya, memang ... Dari dulu kamu hanya fokus pada tugas dan Damia saja. Kenapa hanya aku yang seperti ini?" batin Rena
"Kalau begitu, biar aku saja yang simpan rangkuman punya kamu. Biar nanti aku yang kabari kamu kalau mau nugas bareng lagi atau biar aku yang urus tugas sisanya sama yang lain," ujar Rena
"Oke. Kalau begitu, ini bukunya. Tolong jangan sampai bukunya hilang, soalnya aku masih butuh," kata Angga
"Ya. Akan aku simpan baik-baik," sahut Rena
Angga pun menyerahkan buku miliknya pada Rena dan mantan kekasihnya itu menerima buku tersebut.
.
Bersambung.