
Begitu ke luar dari ruang loker, Damia langsung menyibukkan diri dengan tugas yang ada sebelum akhirnya tiba waktu untuk pulang. Damia bekerja seolah tidak ingin dan tidak bisa diganggu yang artinya suster cantik itu sedang merasa marah, kesal, atau kecewa. Saat ada rekan kerjanya yang bicara atau bertanya tentang pekerjaan, Damia hanya memberi respon seadanya. Wajahnya pun tampak tidak sebaik biasanya, meski masih tetap berusaha untuk tersenyum saat bertatap wajah dengan para pasien dan walinya.
Damia benar-benar tidak menyangka kalau ada rekan kerjanya yang tidak memiliki rasa peduli bahkan sampai mengabaikan seseorang yang butuh bantuan dan pertolongan. Namun, bisa-bisanya mereka berasumsi yang tidak-tidak tentang orang yang diabaikan tersebut.
"Damia, sebenarnya apa yang terjadi? Kok sampai baju kamu juga terlihat kotor seperti ini? Cerita sama aku dong," ujar Alina
"Ceritanya lain kali saja," kata Damia
"Kenapa tidak cerita sekarang saja?" tanya Alina
"Sekarang aku lagi kerja, sebentar lagi kita juga akan pulang, jadi besok saja ceritanya," jawab Damia
"Kamu marah, ya, Damia?" tanya Alina
"Entahlah," jawab Damia dengan singkat dan cepat.
"Damia benar-benar marah ... " gumam Alina yang langsung berhenti mengekori sahabatnya itu.
Alina cukup memahami sifat sahabatnya yang satu ini, jika mood-nya sedang buruk, Damia akan memilih untuk menyibukkan diri dengan bekerja dengan gerakan cepat hingga tidak ada yang bisa mengganggunya. Alina pun menyerah, rasa penasarannya kalah dari gerakan cepat Damia yang bekerja saat tidak ingin diganggu karena mood-nya yang sedang kacau.
Lalu, saat waktunya untuk pulang, Damia juga akan bergerak cepat untuk pulang dengan terburu-buru usai menyelesaikan pekerjaannya atau justru sebaliknya. Damia akan menunggu rekan kerja satu shift dengannya pulang seluruhnya, baru dirinya akan beranjak pulang dengan santai. Karena meski mood-nya sedang jelek, Damia masih peduli dengan orang lain yang ingin pulang kerja dengan cepat hingga ia memilih mengalah untuk ke luar dari bangsal rawat di urutan paling akhir. Sama seperti saat ini.
Damia membiarkan semua rekan kerja satu shift dengannya lebih dulu bersiap untuk pulang di dalam ruang loker hingga mereka meninggalkan bangsal rawat. Barulah Damia akan masuk ke dalam ruang loker dan bersiap untuk pulang.
"Damia, apa kamu yakin tidak mau cerita sama aku sekarang? Kalau kamu cerita, perasaan kamu juga bisa lebih lega, kan?" tanya Alina yang masih berusaha untuk membujuk Damia agar bercerita padanya karena dirinya pun merasa penasaran dengan apa yang telah terjadi.
"Lain kali saja ceritanya. Sekarang aku lelah, ingin cepat pulang dan istirahat. Maaf, ya, Al ... " jawab Damia
"Tidak apa-apa. Mungkin hanya aku yang terlalu mendesak kamu karena merasa penasaran. Aku hanya mau supaya kamu merasa sedikit lega setelah bercerita," ucap Alina
"Aku mengerti kalau kamu peduli sama masalah aku," kata Damia
"Tapi, kamu tidak marah sama aku juga, kan, Damia?" tanya Alina
"Tidak kok," jawab Damia
"Ya sudah. Kalau begitu, bagaimana kalau kita pulang bareng?" tanya Alina
"Maaf, Al, kali ini aku mau pulang sama Angga. Tadi sudah sempat janjian soalnya," jawab Damia
"Oh, mau ketemu sang kekasih hati pelipur lara, toh ... " kata Alina
"Kalau begitu, aku mau ikut sampai tempat parkir. Kita ke luar sama-sama, ya ... " sambung Alina
Usai bersiap untuk pulang, Damia dan Alina pun beranjak bersama ke luar dari bangsal rawat. Kedua suster cabtik itu berjalan bersama ke luar dari rumah sakit hingga menuju ke tempat parkir.
---
Angga telah menyelesaikan tugas program profesinya hari ini dan bersiap pulang bersama para temannya. Lelaki itu tampak berjalan ke luar dari rumah sakit sambil melihat sekeliling karena mungkin saja akan melihat atau berpapasan dengan sang kekasih yang juga pulang kerja pada jam yang sama.
Hingga di tempat parkir, Angga berhebti tanpa memasuki lokasi parkiran tersebut.
"Angga, kok lo malah berhenti dan diam di sini? Sudah waktunya pulang, ayo cepat ...."
"Gue mau tunggu Damia dulu di sini. Tadi sudah janji mau pulang bareng," kata Angga
"Mau pulang bareng pacar, toh. Ya sudah, kami semua pulang duluan, ya."
"Sip, hati-hati di jalan, semua ... " pesan Angga
"Yoilah."
Angga pun menunggu sambil memegangi ponsel miliknya. Jika sudah lama menunggu, sang kekasih tak kunjung terlihat, lelaki itu berniat untuk menelepon kekasih tercintanya.
Saat itu, terlihat Angga sudah menunggu sang kekasih sambil berdiri di depan tempat parkir yang memisahkan antara tempat parkir motor di sebelah kanan dan tempat parkir mobil di sebelah kiri.
Angga melambaikan tangannya saat melihat sang kekasih berjalan ke luar dari rumah sakit bersama seseorang gadis yang mungkin adalah rekan kerjanya. Angga baru menyadari bahwa yang menemani sang kekasih adalah Suster Alina yang merupakan sahabat sang kekasih di tempat kerja.
"Kamu sudah menunggu, ya, Angga? Maaf, ya, kalau lama ... " ujar Damia
"Tidak kok. Aku juga belum lama ke luar. Ini, Suster Alina, ya? Terima kasih sudah mau menemani Damia," ucap Angga
"Sudah pasti. Saat kamu berpisah sama Damia di tempat kerja, kami berdua justru tidak dapat dipisahkan. Jadi, jangan iri, ya ... " kata Alina
"Itu mungkin agak sulit karena saya maunya pun terus bersama Damia," sahut Angga
"Saat ini suasana hati Damia agak kurang bagus, kamu harus baik-baik sama my bestie. Kalau besok, aku dengar mood-nya makin jelek, awas saja kamu ... " ujar Alina
"Apa, sih, Al? Tidak perlu bicara seperti itu juga kali," sahut Damia
"Sudah, ah ... aku tidak mau ganggu kalian pacaran lagi. Aku pulang duluan, ya," kata Alina
"Hati-hati di jalan, Al ... " pesan Damia
Alina pun mengangguk dan beranjak menuju tempat parkir motor tak jauh dari sana.
"Kita pulang sekarang, kan, Angga?" tanya Damia
"Ya, ayo ... " jawab Angga
Damia dan Angga pun beranjak mencari mobil di tempat parkir dan masuk ke dalamnya. Begitu keduanya berada di dalam mobil, Angga pun menghidupkan mesin dan mengendarai mobil miliknya ke luar dari tempat parkir begitu juga dari area rumah sakit setelah membayar biaya parkir di sana.
Angga melajukan mobil miliknya menuju ke rumah Damia untuk mengantar sang kekasih lebih dulu sampai ke rumahnya.
"Apa yang terjadi? Bukannya tadi kamu masih baik-baik saja? Kenapa tadi Alina bilang kalau suasana hati kamu sedsng tidak bagus?" tanya Angga
"Apa benar hanya karena itu?" tanya Angga
Angga menyadari kalau Damia sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Karena meski tak jarang sang kekasih tak menatapnya saat bicara, biasanya kekasih cantiknya itu hanya menatap lurus ke depan, tidak sampai mengalihkan pandangan ke arah lain seperti saat ini.
Damia menatap ke arah luar jendela kaca mobil tanpa menjawab pertanyaan sang kekasih.
"Cerita dong sama aku. Kan, aku juga mau tahu apa saja yang kamu alami hari ini ... " pinta Angga
"Aku hanya sedang merasa agak kesal," kata Damia
"Memangnya karena ada masalah apa?" tanya Angga
"Aku tidak menyangka, ternyata ada dua rekan kerja aku yang melihat kita di belakang gedung rumah sakit tadi dan salah satu dari mereka malah mengira kalau kita sedang berbuat yang tidak baik di tempat yang sepi," jelas Damia
"Padahal saat itu kamu sedang menolong aku yang kesulitan bernafas. Mungkin mereka berdua melihat saat kamu sedang beri aku nafas buatan, makanya bisa salah paham seperti itu," ujar Angga
"Satu lainnya juga langsung tahu kalau aku sedang beri kamu pertolongan pertama, tapi meski menyadari hal itu mereka malah pergi dan mengabaikan orang yang butuh bantuan. Bahkan aku sampai bilang, kalau memang benar kita melakukan hal kotor, kenapa mereka tidak mencegah kita, tapi malah hanya membiarkannya saja? Aku sampai merasa bingung, sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran mereka sampai mereka bersikap abai seperti itu? Bisa-bisanya mereka seperti itu. Bagaimana kalau ternyata yang mereka abaikan adalah orang yang sekarat?" oceh Damia bertanya-tanya.
"Jadi, kamu merasa kesal karena hal ini? Apa tadi kamu sempat bertengkar sama rekan kerja kamu itu?" tanya Angga
"Kami hanya sedikit berdebat saja. Kenapa kamu malah terlihat senang seperti itu? Apa kamu suka sama cerita aku?" tanya balik Damia saat melirik sekilas ke arah sang kekasih yang duduk dan berada tepat di sampingnya.
"Bukan seperti itu. Aku hanya merasa senang bisa mendengar kamu bercerita tentang keluh kesah seperti ini karena biasanya kamu selalu menyimpan cerita kamu sendiri," jawab Angga
"Apa ceritanya masih bersambung?" tanya Angga melanjutkan.
"Salah satu dari mereka bahkan sampai menpertanyakan sesuatu sama aku. Dia seolah meragukan kemampuan kamu ke depannya hanya karena melihat kamu yang kesulitan bernafas seperti tadi," ungkap Damia
"Lalu, apa yang kamu katakan sama dia?" tanya Angga
"Aku bilang, kalau dia tidak perlu merasa khawatir karena kamu pasti sudah dan akan melakukan tes lagi karena memang seperti itulah syarat sebelum menjadi seorang dokter," jawab Damia
"Terima kasih karena kamu sudah membela aku di depan rekan kerja kamu itu," ucap Angga
"Tapi, Angga ... kamu benar-benar baik-baik saja, kan? Tidak ada masalah dengan kondisi kamu yang aku tidak tahu, kan? Apa kamu sudah berhenti konsultasi sama dokter? Apa kamu tidak berniat untuk konsultasi setidaknya sekali lagi untuk meyakinkan kalau kondisi kamu sudah benar-benar baik-baik saja?" tanya Damia
"Bukannya aku sedang meragukan kamu, aku hanya merasa khawatir ... " sambung Damia
"Aku mengerti, tapi seperti yang kamu tahu dan lihat kalau aku baik-baik saja. Seperti kata kamu juga, aku sudah pernah melakukan tes dan hasilnya baik, lalu nantinya aku juga akan melakukan tes lagi dan aku sangat percaya diri kalau hasilnya nanti pun akan baik dan aku akan lulus," ujar Angga
"Kondisi hari ini hanya karena sisa ingatan aku yang hilang kembali secara tiba-tiba. Aku tidak merasakan sesuatu atau sakit apa pun lagi. Bahkan rasanya sangat melegakan sampai rasanya seperti melayang karena aku sangat senang dan dalam kondisi yang terbaik," sambung Angga
"Kamu ada-ada saja. Masa menyamakannya seolah melayang? Hati-hati nanti tidak bisa mendarat lagi," canda Damia
"Makanya, kamu harus pegang tangan aku dan nenarik aku turun supaya aku tidak melayang terlalu jauh dan supaya aku tidak jauh-jauh dari kamu," kata Angga
Angga pun mengulurkan satu tangannya, meminta sang kekasih untuk mengenggam tangannya itu. Damia pun tersenyum dan langsung meraih tangan lelaki itu untuk digenggam olehnya.
"Kalau seperti ini, aku pasti akan aman dan pasti baik-baik saja," kata Angga
"Syukurlah, kalau kamu memang baik-baik saja. Kalau suatu saat kamu merasakan sesuatu atau mau konsultasi ke dokter lagi, bilang saja sama aku. Aku akan menemani kamu," ucap Damia
"Ya, saat itu terjadi, aku akan langsung bilang sama kamu ... " kata Angga
Setelah mengantar Damia sampai rumah, Angga pun langsung berpamitan untuk pulang karena tidak ingin mengganggu waktu istirahat sang kekasih, apa lagi saat sang kekasih hanya seorang diri di rumah. Lelaki itu tidak ingin menimbulkan gosip negatif untuk sang pujaan hati.
•••
Hari ini, Damia bekerja di rumah sakit seperti biasa. Saat hendak meninggalkan bangsal untuk makan siang pada waktu istirahat, Suster Lisa menghampirinya dan suster lainnya untuk membagikan sesuatu.
"Damia, saya minta maaf untuk masalah sebelumnya. Saya harap kamu tidak menaruhnya di dalam hati dan tetap bersedia untuk hadir," ucap Suster Lisa sambil memberikan undangan pernikahannya pada Damia.
"Saya juga sudah lupa soal itu kok. Selamat, ya, Suster Lisa. Saya akan datang saat acara nanti," ujar Damia
"Semuanya juga jangan lupa datang, ya ... " kata Suster Lisa yang membagikan undangan permikahannya pada para suster lainnya.
"Kami pasti datang."
Setelah membagikan kartu undangan pernikahan, Suster Lisa pergi meninggalkan bangsal rawat lebih dulu. Mungkin karena ingin membagikan undangan pada rekan kerja rumah sakit lainnya atau menemui calon suaminya.
"Acara pernikahannya masih lebih dari 3 bulan lagi. Apa maksudnya suster Lisa membagikan undangan dari sekarang saat masih jauh hari? Apa dia mau pamer?" tanya Alina sambil mendumel.
"Jangan berpikir negatif seperti itu," kata Damia
"Lalu, buat apa dia minta maaf soal masalah sebelumnya sekarang? Bukannya sudah terlambat? Kejadiannya sudah lama, tapi kenapa dia baru minta maaf?" tanya Alina sambil menggerutu.
"Sudahlah. Yang sudah berlalu tidak perlu diungkit lagi," ujar Damia
"Kamu terlalu baik sampai mudah memaafkan orang seperti itu. Aku yang mendengar cerita kamu aat itu saja masih merasa kesal," ucap Alina
"Biarkan sajalah, Al. Merasa kesal terus juga percuma, sia-sia saja. Hanya buang-buang tenaga," sahut Damia
Semua suster pun menyimpan kartu undangan dari Suster Lisa, mereka pun membubarkan diri untuk istirahat makan siang.
Seperti sebelumnya kali ini Damia pun memiliki kesempatan untuk makan siang bersama sang kekasih dan teman-temannya.
Kali ini, Alina ikut Damia untuk makan siang bersama para dokter muda. Namun, mungkin karena masih merasa canggung, Alina lebih sering diam sambil menyantap makanan.
.
Bersambung.