
Sejak dalam perjalanan pulang hingga sampai ke rumah, Damia terus memikirkan rencana untuk melakukan perayaan kecil-kecilan dengan kedua orangtua dalam rangka dirinya yang sudah menjadi suster resmi di rumah sakit tempatnya bekerja magang sebelumnya.
Bahkan saat Damia mengerjakan aktivitas di dalam rumah, tak jarang suster cantik itu melamun karena bingung hendak memutuskan. Ia hanya ingin melakukan acara kumpul sederhana dengan keluarga.
Setelah masak, makan, serta bersih-bersih, Damia mengeluarkan ponsel miliknya yang berdering karena panggilan yang masuk. Itu adalah panggilan dari sang kekasih.
Dengan gerakan menaruh sapu yang habis dipakainya, Damia menerima panggilan telepon dengan satu tangan lainnya.
"Halo."
"Halo, Damia."
"Ya, ada apa, Angga?"
"Aku menelepon kamu seperti ini mengganggu tidak?"
"Tidak kok. Kebetulan aku lagi santai setelah pulang kerja."
"Memangnya kamu sedang apa? Sudah makan atau belum?"
"Sudah kok. Aku sudah makan dan baru selesai bersih-bersih rumah. Kalau kamu sendiri sedang apa?"
"Aku sedang memikirkan kamu karena rindu."
"Aku bertanya dengan serius. Jawabnya jangan gombal."
"Aku juga jawab dengan serius kok. Aku yang sedang merasa bingung di tengah kebingungan jadi tidak bisa melakukan hal lain selain memikirkan kamu. Lalu, aku lihat-lihat foto kamu yang ada di album HP dan profil kontak kamu. Awalnya aku bingung dan ragu, antara mau menelepon kamu atau tidak. Akhirnya malah tidak sengaja kepencet tombol telepon dan hasilnya aku merasa senang karena bisa dengar suara kamu."
"Tidak bisa melakukan hal lain selain memikirkan aku dan tidak sengaja kepencet tombol telepon berarti kamu tidak punya pilihan lain atau itu hanya pilihan terakhir dan sebenarnya kamu tidak niat untuk melakukannya, begitu?"
"Tidak, bukan seperti itu. Maksudnya aku sudah dari awal memikirkan kamu, tapi karena kita tidak bisa bertemu, aku hanya bisa menyibukkan diri. Saat kesibukkan itu tidak juga bisa mengalihkan pikiran tentang kamu akhirnya aku pilih untuk lihat-lihat foto kamu dan meski tidak ingin mengganggu kamu, aku malah jadi tidak tahan lagi untuk menelepon kamu. Jangan salah paham, kamu jangan marah, ya. Kok kamu diam saja?"
"Aku tidak marah kok. Aku hanya diam karena aku mendengar dan menunggu sampai kamu selesai bicara."
"Dari nada suara bicara kamu, sepertinya kamu sedang merasa senang. Apa ada kabar baik?"
"Ada kamu yang menelepon aku, tentu saja aku merasa senang. Lalu, memang ada kabar baik, tapi bagaimana kamu bisa tahu? Apa sebenarnya kamu itu seorang peramal?"
"Kalau itu kamu, sepertinya aku bisa menebaknya dengan baik karena kita sehati. Ayo, katakan ... apa kabar baik itu?"
"Apa kamu tidak bisa menebaknya lagi? Ayo, coba tebak!"
"Kali ini aku menyerah ... aku tidak bisa selalu menebak apa yang sebenarnya terjadi."
"Sebenarnya aku tidak lagi menjadi perawat magang dan sudah resmi menjadi pekerja tetap di rumah sakit."
"Wah ... selamat, ya! Saat bertemu nanti, ayo kita rayakan bersama!"
"Sebenarnya aku juga sedang memikirkan rencana untuk buat perayaan kecil sama ibu dan ayah. Apa lebih baik kita makan malam bersama di luar lagi atau melakukan hal lain, ya?"
"Kalau soal itu kamu bisa memutuskan menurut kamu yang terbaik saja dan maaf aku tidak bisa ikut dalam perayaan kamu sama orangtua kamu."
"Ya, tidak apa-apa kalau kamu memang tidak bisa. Aku juga todak bisa memaksa."
"Sebagai gantinya, kamu mau aku hadiahkan apa saat kita bertemu nanti?"
"Saat bertemu nanti, kita harus melakukan banyak hal."
"Baiklah. Yang penting kita bertemu saja dulu nanti. Hmm ... sepertinya aku sudah punya ide untuk mengadakan acara sederhana sama ibu dan ayah. Aku ingin kami makan-makan di rumah saja, tapi sebelum itu aku harus belanja beberapa bahan makanan dulu."
"Berarti kamu harus pergi, ya? Ya sudah ... kalau begitu, kamu tutup saja teleponnya."
"Maaf, ya, Angga. Aku tutup teleponnya."
"Ya, tidak apa-apa. Sampai jumpa nanti."
"Sampai jumpa ... "
Tut!
Sambungan telepon pun terputus.
..."Harusnya tadi aku sarankan saja Damia untuk makan malam lagi sama orangtuanya di luar dan aku bilang akan ikut makan malamnya supaya bisa lebih cepat bertemu Damia meski sebentar. Ini karena aku belum siap untuk bertemu sama calon mertua lagi karena sebelumnya hanya kebetulan. Harusnya aku bisa lebih berani. Ya sudahlah, sudah terlanjur terjadi juga. Dengan seperti ini kali ini aku harus nempersiapkan diri karena siapa tahu di lain kesempatan nanti aku akan bertemu sama calon mertua lagi. Saat itu aku tidak boleh bersikap memalukan," batin Angga...
"Sayang sekali Angga tidak bisa ikut. Padahal tadinya aku ingin ajak dia untuk ikut makan malam bersama ibu dan ayah juga. Ya sudahlah, sudah aku putuskan untuk makan bersama ibu dan ayah di rumah seperti biasa saja, tapi untuk kali ini aku ingin buat masakan favorit keluarga dan sebelum itu aku harus pergi belanja dulu," gumam Damia
Setelah itu, Damia pun bersiap pergi ke luar untuk membeli bahan masakan.
Sebelum pergi, Damia lebih dulu mengetik dan mengirim pesan untuk sang ibu.
^^^To: Ibu.^^^
^^^Bu, aku sudah pulang, tapi aku ingin ke luar sebentar. Jika saat ibu pulang, aku tidak ada di rumah jangan khawatir. Akan aku usahakan untuk pulang cepat. Lalu, kali ini aku sudah siapkan makanan untuk ibu di meja makan. Silakan menikmati meski hanya sederhana.^^^
Saat Ibu Rita pulang, rumah masih kosong. Untung saja Ibu Rita sudah membaca pesan yang dikirim oleh sang putri sebelumnya hingga tak perlu lagi merasa khawatir.
Saat berjalan masuk ke dalam rumah dan memeriksa meja makan, benar saja sudah ada hidangan makanan yang ditutupi oleh tudung saji di sana.
"Punya anak baik sekali. Padahal dirinya sendiri pasti merasa lelah setelah pulang kerja, tapi masih saja ingat untuk masak untuk ibunya makan. Sebenarnya untuk apa dia ke luar rumah dan bukannya istirahat?" gumam Ibu Rita
"Lho, ada amplop ... ada cap rumah sakit tempat Damia kerja juga? Isinya apa, ya? Kan, belum waktunya terima gaji," batin Ibu Rita
Rupanya, Damia meninggalkan amplop surat pemberitahuan rumah sakit yang sebelumnya diberikan oleh suster Lisa di atas meja makan. Ibu Rita pun meraih amplop tersebut dan membuka serta melihat isinya.
"Rupanya, isinya surat ... " gumam Ibu Rita yang lalu langsung membaca isi surat tersebut.
Saat Ibu Rita sedang membaca isi surat tersebut, Damia pun pulang dan masuk ke dalam rumah.
"Ibu, sudah pulang ... " kata Damia
"Iya, baru saja pulang," sahut Ibu Rita
Damia pun meletakkan barang belanjaannya.
.
Bersambung.