Bougenville of Love

Bougenville of Love
12 - Cerita Masa Lalu.



Damia melihat ke arah jemari tangannya yang terluka. Bukannya meringis karena sakit, suster cantik itu malah menghela nafas pelan. Lagi-lagi ia terluka.


"Sepertinya aku sangat ceroboh hari ini," gumam Damia


..."Mulai dari ceroboh membiarkan Angga berenang saat dia sedang sakit dan bukannya menemani untuk menjaganya, aku malah meninggalkan dia sampai akhurnya dia tenggelam. Lalu, aku terluka karena tidak hati-hati menginjak pecahan beling dan sekarang terulang lagi. Aku tidak hati-hati hingga kena luka gores saat membersihkan pecahan beling," batin Damia...


Meski merutuki dirinya yang ceroboh, Damia tidak hanya diam. Suster cantik itu melanjutkan bersih-bersih di sana.


Usai membersihkan pecahan beling di lantai area kolam renang, Damia lanjut membersihkan jejak noda darah yang berkucuran di lantai karena telapak kakinya yang tadi terluka. Lalu, suster cantik itu membersihkan dan mengobati jemari tangannya yang terluka akibat tergores pecahan beling. Barulah setelah itu, ia kembi menemui Angga di kamarnya untuk memastikan lelaki itu sudah meminum obatnya atau belum.


Tok-tok-tok.


Damia terlebih dulu mengetuk pintu kamar Angga sebelum masuk ke dalamnya.


"Permisi. Angga, aku masuk, ya," ujar Damia


"Ya, Damia. Masuk saja," kata Angga


Damia pun masuk ke dalam kamar Angga yang pintunya memang sudah sedikit terbuka itu. Dilihatnya, tampak Angga yang seperti sedang bersiap untuk tidur.


"Apa kamu sudah mau tidur? Apa aku meninggalkan kamu terlalu lama? Apa kamu sudah minum obatnya atau belum?" tanya Damia


"Tidak, aku masih setia menunggu kamu. Aku juga sudah minum obatnya," jawab Angga


"Benarkah itu?" tanya Damia


"Ya. Aku tidak berbohong padamu. Sungguh," ungkap Angga


Damia tersenyum tipis. Baginya, jawaban Angga terdengar ambigu. Jika saja yang mendengar adalah orang tak mengerti, maka akan mudah membuat orang jadi salah paham. Karena itu terdengar seperti lelaki yang sedang meyakinkan pacar cantiknya bahwa dirinya akan selalu setia untuk menunggu agar keduanya bisa menikah dan tidak akan berselingkuh. Suster cantik itu pun terduduk di tepi ranjang.


"Bagaimana perasaanmu? Apa sudah lebih baik? Atau masih ada yang terasa sakit?" tanya Damia


"Semua berkat kamu, aku jadi sudah lebih baik," jawab Angga


"Syukurlah, kalau begitu. Tapi, kamu sering-seringlah beri kabar pada Tante Yuli. Tante pasti masih saja merasa khawatir dan memikirkan tentang kamu. Perasaannya akan jadi lega jika tahu kamu baik-baik saja," ujar Damia


"Bagaimana dengan kamu? Apa kamu juga merasa khawatir denganku? Apa perasaan kamu juga menjadi lega setelah tahu dan melihat aku baik-baik saja?" tanya Angga


"Tentu saja. Melihat kamu berada di dalam bahaya dan merasa kesakitan, aku jadi tidak bisa tinggal diam saja. Aku harus menolong kamu dan itu juga sudah menjadi bagian dari tugas dan kewajiban serta tanggung jawab aku," ungkap Damia


Angga meringis di dalam hati. Hatinya seakan tercubit. Bukan fisiknya, melainkan hatinya terasa menyelekit.


..."Begitu, rupanya. Tentu saja, kamu seperti itu. Damia, kamu sungguh sulit untuk ditembus. Seolah ada tembok penghalang besar hingga aku tidak bisa menjangkau dirimu. Seperti ... kamu selalu saja membangun pagar pembatas dengan aku. Padahal katanya kita adalah teman. Perasan kamu terhadap aku hanya sebatas tanggung jawab pada pasien atau mungkin hanya rasa kemanusiaan," batin Angga...


Baru saja ingin bertanya tentang masa lalu, tanpa sengaja Angga malah melihat jemari tangan Damia yang tertempel plester. Jika saja lelaki itu tidak ingat untuk bersikap sopan pasti ia sudah menarik tangan suster cantik itu karena merasa khawatir. Yang bisa dilakukan olehnya pun hanya menunjuk ke arah jemari tangan cantik milik suster yang berada di sisinya itu.


"Jari tangan kamu itu kenapa? Sepertinya tadi tidak seperti itu? Apa kamu terluka lagi?" tanya Angga


"Ya, ini terluka saat aku membersihkan piring dan gelas yang pecah di dekat kolam renang tadi. Aku hanya kurang hati-hati," jelas Damia


"Aku harus membersihkan kekacauan tadi agar tidak jadi bahaya untuk orang lain. Tapi, bagaimana pun juga aku harus mementingkan tugasku untuk memerhatikan keadaan kamu lebih dulu. Jadi aku baru membersihkan itu tadi, tapi aku malah terluka," sambung Damia


"Lagi pula, kenapa kamu mengerjakan sesuatu yang bukan tugas kamu? Lihatlah, kamu jadi terluka lagi, kan?" tanya Angga


"Hanya luka kecil kok, ini tidak masalah. Memastikan tidak ada bahaya juga adalah tanggung jawab aku," jawab Damia


"Harusnya kamu tidak usah melakukannya. Harusnya mama tidak membiarkan para pekerja di rumah untuk cuti," kata Angga


Angga mendengus pelan. Lelaki itu jadi tidak bisa merasa kesal setelah melihat Damia yang tertawa.


..."Bisa-bisanya kamu masih saja tertawa saat aku merasa khawatir. Tapi, syukurlah kalau kamu tidak apa-apa. Untung saja itu hanya luka kecil," batin Angga ...


Saat Damia tersenyum, Angga juga ikut tersenyum.


"Lalu, bagaimana dengan janji kamu tadi? Bukankah katanya kamu ingin bercerita?" tanya Angga


"Benar. Aku datang untuk itu selain ingin memastikan kamu sudah minum obat atau belum. Tapi, kamu harus janji untuk jangan memaksa mengingat kembali setelah aku bercerita. Mengingat sesuatu dengan paksa itu tidak baik dan akan berbahaya untuk kamu saat ini," jelas Damia


"Baiklah. Aku mengerti," kata Angga


"Jadi, apa yang kamu ingin tahu?" tanya Damia yang sudah menyiapkan diri untuk bercerita.


"Sudah berapa lama kita berteman?" tanya Angga


"Itu ... aku tidak bisa beri tahu secara pasti karena setelah kita sering bertemu selama satu tahun pada tiga tahun yang lalu, kita sudah tidak pernah bertemu lagi," ungkap Damia


"Kenapa seperti itu?" tanya Angga


"Sepertinya saat itu kamu sedang sibuk kuliah dan aku sedang sibuk mempersiapkan diri untuk belajar menjadi perawat. Kita sama-sama sibuk," jawab Damia


"Kalau begitu, kita tidak bertemu sudah selama dua tahun?" tanya Angga


Damia hanya mengangguk membenarkan pertanyaan dari Angga tanpa membuka suara.


"Lalu, kenapa selama ini aku tidak punya nomor HP kamu? Aku baru punya nomor HP kamu saat aku memintanya untuk mengirim foto kamu yang aku ambil dengan HP aku. Apa selama berteman kita tidak pernah bertukar nomor HP?" tanya Angga yang merasa bingung.


"Kita bertukar nomor HP kok saat itu, tapi mungkin kamu menghapus nomor HP aku dari HP kamu. Aku juga tidak tahu, soal itu hanya kamu yang tahu. Mungkin karena kamu punya pacar yang pencemburu, makanya dia minta nomor HP aku dihapus dari HP kamu dan kamu menuruti itu," jawab Damia dengan bumbu dustanya.


"Damia, aku sedang serius bertanya karena ingin tahu," kata Angga


"Maaf, tapi untuk yang satu ini kamu harus menjawab pertanyaan kamu sendiri dengan cara mengingat kembali memori kamu yang hilang," ujar Damia


"Seolah itu jadi misteri saja," sahut Angga


Damia memang sengaja tidak menceritakan semuanya sekaligus pada Angga. Biar lelaki itu dapat rangsangan halus untuk mengingat kembali bukannya malah terpaksa jadi ingat karena rasa sakit hati dari kenyataan bahwa dirinyalah yang memaksa ingin putus hubungan pertemanan karena Angga jatuh cinta padanya yang sudah memiliki pacar.


Memang egois sekali alasan Damia untuk putus hubungan pertemanan dengan Angga saat itu. Padahal memiliki perasaan cinta pada seseorang bukanlah suatu kesalahan. Damia menyadari itu dan kini suster cantik itu merasa sangat bersalah.


Angga yang duduk bersandar pada dipan ranjang kini merubah posisinya menjadi berbaring. Mungkin karena merasa sudah pegal.


"Bagaimana ceritanya kita bisa saling bertemu? Bagaimana dengan saat pertemuan pertama kita?" tanya Angga


"Tiga tahun yang lalu, kita bertemu di sebuah restoran. Kamu sedang bersama teman-temanmu dan aku sedang bersama anak-anak dari panti sosial. Saat aku hendak pergi dari restoran itu, kamu datang menghampiri aku sambil memberikan dompet milikku yang hampir saja tertinggal. Saat itu kita bertemu dan saling berkenalan," ungkap Damia


"Aku tidak menyangka kalau itu hanya sebuah cerita yang sangat klasik," ucap Angga


"Memang benar. Lalu, Angga ... kamu sudah tidur?" tanya Damia


Suasana hening. Angga bergeming dengan kedua mata terpejam. Damia pun hanya bisa tersenyum.


.


Bersambung.