
Karena mendapat telepon saat sedang makan, Damia pun lebih dulu menelan makanan yang ada di dalam mulutnya agar tidak tersedak saat bicara dalam telepon.
Dengan hati senang, Damia pun menjawab telepon masuk dari sang kekasih. Namun, suster cantik itu merasa terkejut saat terdengar suara dari seorang perempuan yang berada di seberang telepon dengannya. Namun, karena mengetahui siapa pemilik suara tersebut, Damia pun tidak berpikir banyak secara negatif.
"Halo."
"Halo. Ini kak Linda, ya? Maaf, saya kira Angga yang menelepon saya. Ada apa, kak?"
"Ternyata kamu tahu kalau ini aku, ya. Ini aku memang menelepon kamu dati HP punya Angga, tadi saat sedang memeriksa HP Angga, ada pesan masuk dari kamu, jadi tidak sengaja aku buka dan juga tidak sengaja kepencet opsi panggilan dan langsung kamu angkat saat terhubung. Maaf, ya."
"Tidak apa-apa, kak."
"Maaf, ya, kalau Angga tidak langsung membalas pesan dari kamu. Sepertinya setelah mengirim pesan untuk kamu, dia langsung ketiduran. Sebenarnya, Angga sedang sakit."
"Angga sedang sakit? Ya ampun, saya tidak tahu. Angga sakit apa, kak?"
"Angga sedang demam, suhu tubuhnya sampai lebih dari 38 derajat celcius. Mungkin karena dia merasa lelah dengan tugas yang menumpuk dan jadi telat makan."
"Begitu, rupanya. Kalau begitu, saya akan datang untuk menjenguk Angga nanti, tapi mungkin tidak bisa cepat."
"Kalau kamu memang mau datang untuk menjenguk Angga, silakan saja. Tapi, sepertinya aku tidak bisa memberi tahu Angga kalau kamu mau datang, karena aku tidak tega membangunkan dia yang sedang tidur."
"Ya, kak, tidak apa-apa. Biarkan saja Angga istirahat. Tidak perlu mengganggu istirahatnya karena kabar sepele dari saya seperti ini. Nanti saya juga hanya akan menjenguknya sebentar agar tidak mengganggu waktu istirahatnya."
"Ok."
"Kalau begitu, maaf ... saya tutup teleponnya, ya, kak."
"Ya, aku yang harusnya bilang naaf karena tidak sengaja menelepon kamu dan mengganggu waktu istirahat kamu. Padahal kamu baru pulang kerja dari rumah sakit, kan?"
"Tidak apa-apa, kak. Terima kasih karena sudah beri tahu saya kabar tentang Angga."
"Ya, sama-sama."
Tut!
Sambungan telepon pun berakhir.
Damia jadi merasa cemas setelah mendengar kabar kalau sang kekasih sedang sakit. Suster cantik itu merasa khawatir akan terjadi sesuatu pada sang kekasih. Ia pun mempercepat makannya agar juga bisa cepat pergi untuk menjenguk sang kekasih yang sedang sakit.
Linda pun menaruh kembali ponsel milik sang adik di atas meja sofa.
"Untungnya Angga tidak terbangun saat aku sedang teleponan sama Damia. Kalau tidak pasti dia mengomel parah," gumam Linda sambil melirik ke arah sang adik yang tertidur dengan lelap.
"Angga sudah mengeluarkan keringat. Sepertinya demamnya sudah mulai turun," gumam Linda
Linda pun kembali mengambil termometer untuk memeriksa suhu tubuh sang adik.
"Suhunya jadi 37,8 derajat celcius. Sudah turun dari yang awal, tapi masih panas," gumam Linda usai kembali memeriksa suhu tubuh sang adik sambil menyentuh kening adik lelakinya itu.
Angga pun merasa terusik saat merasakan sentuhan sang kakak pada keningnya. Namun, lelaki itu malah menggumamkan nama sang kekasih.
"Damia ... " lirih Angga menyebut nama sang kekasih di dalam tidurnya.
"Eh, mengigau dia ... malah sebut nama Damia pula. Ini Kakak kamu, tahu ... " gumam Linda
Secara perlahan, Angga pun membuka kedua matanya dan mengerjapkannya sesekali.
"Kak Linda ... " panggil Angga
"Angga, lebih baik kamu pindah dan tidur di dalam kamar saja supaya bisa lebih nyaman," ucap Linda
"Hmm ... iya, Kak," sahut Angga
Angga pun bergerak bangkit dari posisi rebahnya untuk segera beranjak pindah menuju ke dalam kamar. Melihat sang adik yang tampak merasa lemas untuk menggerakkan tubuh, Linda pun bergerak membantu sang adik.
"Sini, biar Kakak bantu ... " kata Linda
"Tidak apa-apa, Kak. Aku bisa sendiri kok," sahut Angga
Angga pun beralih menuju ke dalam kamarnya. Lelaki itu berjalan seorang sendiri karena merasa bisa tanpa bantuan.
"Ya sudah. Kalau begitu, pastikan kamu membuka mata saat berjalan supaya tidak menabrak dinding atau tembok," ujar Linda sambil menyindir sang adik yang menolak bantuan darinya.
"Iya, Kak Linda-ku yang bawel," sahut Angga yang balik meledek sang kakak.
Saat itu Mama Yuli yang sedang libur bekerja di hari Minggu pun muncul.
"Ya ampun, Angga ... kamu sakit? Bagaimana keadaan kamu?" tanya Mama Yuli yang melihat sang putra ditempeli plester kompres di dahinya.
"Tidak apa-apa kok, Ma. Aku cuma lagi agak demam. Setelah istirahat juga akan sembuh," jawab Angga
"Apa kamu yakin? Tidak mau cek ke dokter saja?" tanya Mama Yuli
"Tidak perlu, Ma. Aku yakin. Tadi aku sudah minum obat dan panasnya juga sudah mulai turun," jawab Angga
"Iya, Ma. Tadi aku yang sudah pastikan sendiri kalau Angga minum obat dan memang panasnya sudah mulai turun," ujar Linda
"Jangan panik dan terburu-buru untuk pergi ke dokter. Kita tunggu saja dulu, kalau setelah panasnya turun malah naik lagi, baru kita pergi antar Angga untuk cek ke dokter," sambung Linda
"Benar kata Kak Linda, Ma. Aku nau istirahat dulu saja," kata Angga
"Ya sudah ... kamu istirahat baik-baik, ya," pesan Mama Yuli
Angga hanya mengangguk pelan dan beralih pindah ke dalam kamarnya. Namun, lelaki itu lupa membawa ponsel miliknya yang ditaruh di atas meja sofa. Sedangkan, Mama Yuli beralih mengerjakan urusan rumah yang terabaikan selama sibuk bekerja di kantor.
"Angga sudah pindah ke dalam kamar, tapi aku belum beri tahu kalau Damia mau datang untuk menjenguk dia. Apa biar saja jadi kejutan untuk dia? Karena aku tahu dia pacaran sama Damia dan dia pasti merasa senang setelah ketemu pacarnya nanti," gumam Linda
"Tapi, apa sebenarnya keputusan aku sudah tepat untuk tidak melarang mereka berdua pacaran? Kali ini Angga jadi sakit bukan karena ada masalah dengan masa lalunya sama Damia, kan? Biar aku pantau saja dulu, deh ... sekalian lihat saat Damia datang nanti ... apa Angga akan menunjukkan perubahan yang baik atau sebaliknya. Lagi pula, kalau soal hubungan mereka berdua, biarlah mereka yang menjalaninya yang merasakan sendiri. Toh, keduanya juga sudah dewasa, pasti bisa menilai baik dan buruk dalam suatu hubungan," batin Linda
Linda pun kembali melanjutkan menonton televisi tanpa Angga. Ia mengganti channel TV untuk mencari acara yang lebih seru.
Setelah selesai makan, bukannya beralih untuk istirahat, Damia malah menuju ke dapur untuk berkutat di sana. Suster cantik itu tampak sedang memasak bubur.
..."Selain suka rasa yang kuat dari cita rasa pedas, Aku tidak tahu Angga lebih suka manis atau gurih. Jadi karena tidak mungkin aku buat bubur dengan rasa pedas, aku akan buat bubur dengan rasa manis dan gurih. Semoga saat memakannya nanti, Angga akan suka," batin Damia...
Kali ini, Damia membuat bubur nasi ayam, jagung, dan ati ayam. Itu adalah perpaduan yang sempurna. Bubur nasi yang akan terasa lembut dengan campuran rasa manis dari jagung dan gurih dari suwiran daging ayam dan potongan hati ayam. Tanpa penyedap rasa dan hanya diberi tambahan garam secukupnya.
Hidangan yang baik untuk kesehatan. Nasi yang kaya akan karbohidrat sebagai penambah energi, ayam yang mengandung protein, jagung yang merupakan sayuran yang kaya akan serat, dan hati ayam yang mengandung zat besi yang baik untuk menambah darah, hingga garam yang mengandung natrium dan mineral. Komposisi yang saling melengkapi.
"Damja, kenapa kamu tidak istirahat kok malah masak di sini? Apa kamu tidak merasa lelah setelah pulang kerja?" tanya Ibu Rita
"Tidak apa-apa, Bu. Ada teman aku yang sedang sakit, jadi aku buatkan bubur karena mau menjenguknya," jawab Damia
"Berarti setelah ini kamu sudah langsung mau pergi lagi? Kamu belum istirahat, loh ... nanti kamu yang niatnya mau jenguk teman yang sakit, setelahnya malah kamu yang sakit karena kurang istirahat," ujar Ibu Rita yang merasa khawatir pada anak semata wayangnya.
"Semoga saja tidak, Bu. Aku sudah terlanjur bilang mau datang ke rumahnya untuk menjenguk, tidak enak kalau ditunda terlalu lama. Aku bisa istirahat setelah menjenguk teman aku nanti. Lagi pula, malam ini hari terakhir aku kerja di minggu ini. Besok aku libur, jadi bisa istirahat lebih banyak," ucap Damia
"Terserah kamu saja. Yang penting kamu harus bisa mengatur waktu istirahat kamu sendiri," kata Ibu Rita
"Iya, Bu. Omong-omong, Ibu mau apa di dapur? Mau buat sesuatu? Apa mau aku saja yang sekalian buatkan?" tanya Damia
"Tidak usah. Biar Ibu saja, kamu lanjutkan saja buat buburnya. Ibu cuma mau bikin kopi buat ayah kamu," jawab Ibu Rita
"Ingat, ya ... cuma boleh secangkir kopi sehari, teh juga sama. Kalau mau minuman berasa, lain kali coba buat air jeruk peras hangat saja. Kalau terasa asam bisa tambahkan gula atau buat air lemon campur madu. Rasanya akan enak dan baik untuk kesehatan," ujar Damia sambil mengingatkan dan memberi saran.
"Iya-iya, kamu juga harus ingat sama kesehatan diri sendiri. Jangan bisanya hanya mengingatkan orang lain saja," sahut Ibu Rita
"Ibu dan ayah bukan orang lain," kata Damia
"Kamu juga bukan orang lain, tapi anak Ibu dan ayah. Jadi, jangan sampai sakit padahal bekerja sebagai seorang perawat. Meski perawat juga seorang manusia yang juga bisa sakit, tapi juga harus bisa menjaga kesehatan diri sendiri," pesan Ibu Rita
"Iya, Bu. Aku mengerti," sahut Damia
Usai membuatkan secangkir kopi untuk sang suami, Ibu Rita pun beranjak pergi meninggalkan Damia seorang diri di dapur. Tinggallah seorang suster cantik yang masih memasak bubur untuk sang kekasih.
Setelah bubur beserta topping penyedapnya matang, Damia langsung memasukkan bubur buatannya ke dalam kotak makan. Tanpa ditutup dengan sempurna, Damia membiarkan kotak makan tersebut sedikit terbuka agar bubur di dalam kotak makan tidak menjadi sangat panas saat benar-benar dikemas nanti.
Lalu, suster cantik itu pun beralih untuk bersiap dan berganti pakaian sebelum pergi menjenguk sang kekasih setelah ini.
Setelah selesai bersiap, Damia kembali menuju ke dapur untuk mengemas kotak makan berisi bubur buatannya. Lalu, suster cantik itu beranjak untuk berpamitan sebelum pergi.
"Ibu, Ayah, aku izin pamit mau pergi," ucap Damia
"Sudah mau pergi saja, bukannya kamu belum lama baru pulang kerja? Apa kamu tidak mau istirahat dulu di rumah?" tanya Ayah Dodi
"Ibu juga sudah bilang seperti itu tadi, tapi katanya Damia mau jenguk temannya yang lagi sakit," ungkap Ibu Rita
"Iya, Ayah. Aku merasa tidak enak karena sudah terlanjur bilang mau datang ke rumahnya untuk menjenguk. Nanti aku bisa istirahat setelah pulang dari jenguk teman," ujar Damia
"Kalau begitu, apa mau Ayah antar ke rumah teman kamu?" tanya Ayah Dodi
"Tidak usah. Ayah istirahat saja di rumah. Biar aku pergi bawa motor sendiri saja," jawab Damia
"Ya sudah. Kalau begitu, hati-hati di jalan," ujar Ayah Dodi berpesan.
"Jangan terlalu lama perginya. Ingat, kamu harus istirahat," pesan Ibu Rita
"Iya, Ibu, Ayah ... aku pergi dulu, ya," pamit Damia
Usai berpamitan, Damia pun beranjak ke luar dan langsung menaiki motor miliknya. Setelah menyalakan mesin dan memakai helm, Damia pun mulai melajukan motor miliknya untuk pergi.
Di dalam perjalanan, Damia menyempatkan diri untuk mampir membeli buah. Lalu, kembali melaju pergi.
Lalu, setelah kembali melakukan perjalanan, Damia pun tiba di rumah sang kekasih. Suster cantik itu seolah kembali karena sempat bekerja di sana dalam beberapa waktu sebelumnya.
Melihat ada seseorang yang datang dengan menggunakan motor, sang supir yang merangkap sebagai penjaga rumah itu pun menghampiri Damia yang baru pertama kali dijumpainya.
"Maaf, ada perlu apa?" Tanyanya, Pak Dani.
"Maaf, Pak, permisi ... saya temannya Angga. Mau menjenguk Angga yang katanya sedang sakit," jawab Damia
"Temannya Den Angga, rupanya. Kalau begitu, masuk saja, Neng. Motornya juga taruh di dalam saja," ujar Pak Dani
"Permisi, Pak ... " kata Damia
"Silakan," sahut Pak Dani
Setelah dipersilakan masuk, Damia pun melajukan motornya untuk masuk melewati pagar rumah dan menghentikan motornya di samping salah satu mobil di sana.
Lalu, Damia pun beranjak turun dari atas motornya setelah mematikan mesin dan menjulurkan standar motornya.
Setelah berjalan sedikit, Damia melihat pintu masuk rumah yang sudah terbuka. Meski begitu, suster cantik itu tetap mengetuk pintu tersebut.
Saat itu Linda langsung berjalan mendekat untuk menyambut kedatangan Damia setelah mendengar suara ketukan pintu.
Sedari tadi Linda memang menunggu di ruang tengah untuk melihat akankah Damia datang untuk menjenguk sang adik seperti yang dikatakan dalam telepon sebelumnya. Rupanya, Damia benar-benar datang dan menepati ucapannya.
"Permisi, Kak Linda ... selamat pagi," sapa Damia
"Damia, kamu benar-benar datang rupanya. Aduh, pakai repot-repot bawa bawaan segala. Ayo, masuk ... " ujar Linda
"Ini, aku hanya bawa sedikit kok. Bagaimana keadaan Angga, Kak?" tanya Damia yang melangkah dan berjalan masuk ditemani oleh Linda.
"Angga masih istirahat di dalam kamarnya. Panasnya sudah agak turun, tapi belum sepenuhnya kembali normal," jawab Linda
"Lalu, bagaimana kabar tante Yuli dan Om Nassar?" tanya Damia
"Mama papa baik-baik saja. Setelah sibuk bekerja setiap hari, mama tetap sibuk mengurus pekerjaan rumah dan papa masih sedang baca koran," jelas Linda
"Maaf, aku sampai lupa. Kak Linda, apa kabar?" tanya Damia
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Hanya Angga yang sedang sakit," jawab Linda
"Kamu tahu letak kamar Angga di mana, kan? Kamu masuk saja dulu ke dalamnya. Aku mau ke toilet dulu sebentar," sambung Linda
"Tapi, Kak-"
"Tidak apa-apa kok. Masuk saja," kata Linda yang sudah lebih dulu berlalu pergi meninggalkan Damia.
Damia hanya bisa menghela nafas pelan. Suster cantik itu pun berjalan mendekat ke arah kamar sang kekasih, lalu mengetuk pintu kamar tersebut sebelum masuk.
Kriiett~
Pintu pun dibuka secara perlahan oleh Damia.
.
Bersambung.