
Tersenyum bersama, keduanya tampak enggan untuk berpisah.
"Jadi, kita pisah di sini, ya? Kamu sudah mau pergi, kan?" tanya Angga
"Ya, karena aku tidak mungkin mengganggu kamu. Apa kamu tidak rela?" tanya Damia balik usai menjawab.
"Ya, rasanya tidak ingin kamu pergi. Rasanya ingin menahan kamu untuk tetap bersama aku, tapi aku tahu itu tidak bisa," ungkap Angga
"Aku juga sama," sahut Damia
..."Apa aku tidak salah dengar? Damia juga tidak mau pisah sama seperti aku? Itu artinya cinta Damia untuk aku sudah semakin besar? Ya, tentu saja cinta aku untuk dia jauh lebih besar," batin Angga sambil tersenyum....
"Angga, aku mau peluk ... apa boleh?" tanya Damia
Mendengar pertanyaan sekaligus keinginan sang kekasih nembuat Angga tidak menyangka. Meski begitu, lelaki itu langsung merentangkan kedua tangan selebar-lebarnya. Siap untuk memerima pelukan dari suster cantik di hadapannya.
Mendapat perlakuan seolah diberi izin oleh sang kekasih, Damia pun tersenyum dan langsung berhambur ke dalam pelukan Angga. Keduanya saling memeluk dengan erat dan penuh kasih sayang.
..."Aku tidak sedang bermimpi, kan? Kali ini, Damia yang lebih dulu minta peluk sama aku! Tentu saja, aku tidak menolak. Nikmat mana lagi yang kau dustakan? Aku sangat senang!" batin Angga...
"Sebenarnya, beberapa hari ini aku merasa sangat mudah lelah. Aku harap dengan ini aku dapat memulihkan tenaga yang hilang dan juga bisa menambah semangat untuk kamu. Apa aku salah?" tanya Damia
"Tidak kok, kamu sepenuhnya benar. Aku pastikan semangat aku bertambah hingga penuh bahkan berlebih. Fix, kamu mood booster aku," jawab Angga
Tak berlangsung lama, Damia pun melepaskan pelukannya dari Angga.
..."Sangat disayangkan, hanya sebentar sekali ... " batin Angga...
Saat Damia tersenyum, Angga pun ikut tersenyum.
"Kalau begitu, kamu harus rajin ... semangat kuliahnya," ujar Damia
Angga hanya mengangguk kecil sambil tersenyum.
"Benar juga. Sebentar lagi aku akan menyusun skripsi. Doakan aku supaya bisa lulus tahun ini juga," pinta Angga
"Wah ... kalau begitu, aku semakin tidak boleh sering-sering mengganggu kamu," ujar Damia
"Apanya yang mengganggu? Sudah aku bilang, kamu itu mood booster untuk aku," sahut Angga
"Kalau kamu sebentar lagi waktunya menyusun skripsi, apa sakit kamu kemarin itu karena kelelahan setelah mengejar target untuk menyelesaikan tugas yang sempat tertunda?" tanya Damia
"Sepertinya memang benar seperti itu," jawab Angga
"Ya ampun, Angga ... harusnya kamu jangan memforsir dan memaksakan diri," kata Damia
"Ya, mau bagaimana lagi? Aku ingin langsung lulus tepat pada waktunya," ujar Angga
"Lalu, jika aku benar-benar lulus, aku harap kamu bisa datang ke acara wisuda aku nanti," sambung Angga
"Baiklah, akan aku usahakan. Kamu hanya perlu beri tahu aku kapan acaranya diadakan," kata Damia
"Itu sudah pasti!" seru Angga
"Ya sudah. Kalau begitu, kamu masuklah ... aku akan pergi," ujar Damia
"Aku akan masuk setelah melihat kamu pergi," kata Angga
"Baiklah. Aku pergi, ya ... " pamit Damia
"Hmm ... hati-hati di jalan, ya," pesan Angga
Damia pun mengangguk dan beralih menaiki motor miliknya. Suster cantik itu melambaikan tangannya saat melihat Angga lebih dulu melambaikan tangan. Setelah menyalakan mesin motor miliknya, Damia pun mulai pergi menjauh.
..."Padahal kamu jadi lebih sering merasa lelah, tapi kamu tetap saja masih menjenguk aku sambil membawakan makanan bahkan mengantar aku pergi kuliah dan memberi aku semangat. Siapa lagi yang bisa jadi mood booster aku selain kamu? Aku tidak pernah berhenti merasa bahagia karena kamu, Damia ... " batin Angga...
Setelah memastikan Damia telah menghilang dari pandangan, Angga pun berjalan masuk ke dalam area kampusnya sambil terus membawa paper bag pemberian sang kekasih yang berisi bekal makanan untuknya.
Angga langsung berjalan masuk ke dalam kelas untuk mulai bersiap dan berlatih sebelum harus mempresentasikan tugas di depan kelas dan di hadapan semua teman mahasiswa/i di dalam kelasnya.
"Wah, Angga ... apa yang lo bawa? Apa itu bingkisan?" tanya Beno
"Jangan ganggu, jangan pegang!" seru Angga dengan tegas.
"Pelit amat, sih, lo ... cuma mau lihat isinya sebentar doang. Wah, makanan ... bagi dong,"pinta Joshua
"Ini punya gue, garis keras! Tidak ada yang boleh minta. Kalau mau makan beli saja sendiri!" seru Angga
"Makanan apa, sih, sampai lo jaga sebegitunya? Atau bukan apa, tapi dari siapa? Itu makanan dari pacar lo, kan?" tanya Tio
"Kepo lo ... yang penting ini punya gue!" seru Angga dengan ketus.
"Apa sebenarnya itu dari Damia? Apa Angga dan Damia sudah pacaran?" batin Rena
Angga pun mencari tempat duduk dan memilih duduk di kursi di dekat dinding dan menaruh paper bag di dekat dinding agar tidak ada yang mengganggu gugatnya.
"Tak biasanya lo pilih tempat duduk di dekat dinding. Pasti karena mau taruh bekal makanan lo di dekat dinding supaya tak diganggu orang, kan?" tanya Joshua
"Sepertinya benar-benar spesial, nih ... " kata Beno
"Sudah, jangan mengganggu Angga lagi," kata Rena
"Ya, kalau pada ganggu nanti pilih yang lain saja buat ganti gue presentasi tugas," sahut Angga
"Jangan seperti itu dong, Angga. Kita sudah mempercayakan semuanya sama kamu," kata Tio
"Lagi pula, kenapa kalian hanya bisa memberi tanggung jawab dan beban tugas sama Angga, sih? Selalu saja Angga yang jadi korban ... padahal Angga baru saja balik dari cuti lagi kemarin. Omong-omong, bagaimana keadaan kamu Angga?" tanya Rena
"Tidak apa-apa, Ren. Aku sudah baik-baik saja. Biar aku saja yang presentasi nanti. Kalau tidak ada yang mau presentasi, nanti nilai aku juga yang jadi korban," jawab Angga
"Ya sudah. Kalau begitu, nanti aku akan bantu kamu presentasi," ujar Rena
"Gua juga akan bantu," sahut Tio
"Gue dan Joshua juga takkan diam saja, tapi ketuanya tetap Angga," kata Beno
"Betul. Kalau begitu, masalah selesai," ujar Joshua
Tak lama kemudian, nata kuliah pertama pun dimulai dan itu adalah jawad mata kuliah dosen yang memberi tugas kelompok kali ini.
Satu per satu kelompok mahasiswa/i pun mulai mempresentasikan tugas masing-masing, termasuk kelompok Angga dan kawan-kawan. Akhirnya tugas beserta presentasi pun terselesaikan.
"Nah, setelah ini kita tinggal fokus untuk tugas menyusun skripsi masing-masing. Kita harus rajin kalau mau lulus tepat waktu," ujar Angga
"Siap, Pak ketua!" seru Beno, Joshua, dan Tio secara serempak.
Dalam kelompok tugas yang sama dengan Angga kali ini, ada Beno yang pintar tapi ceroboh, Joshua yang pintar tapi malas, dan Tio yang pintar tapi kurang percaya diri. Hanya Rena yang pintar dan cantik karena ia satu-satunya perempuan yang menjadi anggota kelompok. Sedangkan, Angga adalah yang pintar, rajin, dan tampan. Sungguh paket komplit.
Saat waktunya istirahat, Angga pun segera ke luar dari dalam kelas untuk mencari tempat nyaman dan tenang untuk makan. Setelah menemukan tempat yang sesuai, Angga pun membuka paper bag pemberian dari sang kekasih yang berisi bekal makanan untuknya.
Isi paper bag tersebut ada 2 kotak makan dan 2 botol air. Satu kotak makan berisi sup ayam, dan kotak makan lainnya berisi nasi putih dengan lauk potongan telor rebus, potongan kentang goreng, dan potongan tomat segar. Lalu, satu botol berisi teh madu dan botol lainya berisi air putih biasa.
"Paket lengkap, nih ... " gumam Angga
Angga pun lebih dulu memotret tampilan menu bekal makanannya yang rencananya akan dikirim pada sang kekasih sebagai laporan dengan gambar sebelum dan sesudah bekal tersebut dimakan dan diminum.
---
Saat sedang bersama sang ibu setelah mengerjakan aktivitas rumahan, Damia mendengar ada suara yang berasal dari ponsel miliknya pertanda adanya pesan masuk.
Damia pun merogoh saku pakaiannya untuk mengeluarkan ponsel miliknya untuk membuka dan membaca pesan yang baru saja masuk.
From: Angga.
Aku sudah menghabiskan bekal makanannya. Rasanya luar biasa! Aku suka! Hanya tersisa sedikit teh madu dan air putihnya. Aku merasa puas dan kenyang. Terima kasih, Damia.
Tak lupa juga ada dua gambar yang diikut-sertakan. Yaitu gambar saat makanan dan minuman yang kondisinya masih utuh, serta gambar saat dua kotak makan yang kondisinya telah kosong dan dus botol air yang isinya tersisa sedikit saja.
Damia tersenyum saat melihat pesan tersebut. Suster cantik itu pun langsung mengetik dan mengirim pesan balasan.
^^^To: Angga.^^^
^^^Syukurlah, kalau kamu suka. Lain kali kalau kamu mau makan masakan aku lagi, tinggal bilang saja. Lalu, semangat untuk mulai rencana susun skripsinya dan jangan terlalu memforsir atau memaksakan diri lagi. Lakukan saja dengan santai dan perlahan-lahan. Kamu pasti bisa!^^^
Sang ibu yang juga ada di sana memperhatikan wajah putri semata wayangnya yang tampak tersenyum dengan cerah dan bahagia.
"Kenapa lihat HP sambil senyum-senyum seperti itu? Ada kabar baik apa, nih? Ada kabar dari teman kamu itu, ya? Bagaimana dengan kondisinya?" tanya Ibu Rita
"Iya, Bu. Ada pesan dari teman. Dia sudah lumayan pulih dan baik-baik saja. Hari ini dia juga sudah mulai masuk kuliah lagi setelah sempat jatuh sakit. Tadi aku juga yang mengantar dia berangkat kuliah, lalu setelah itu aku baru pulang ke rumah," jelas Damia
"Syukurlah, kalau begitu. Malam ini kita mau makan malam sama ayah di luar, loh. Kamu ingat, kan?" tanya Ibu Rita
"Iya, ingat kok, Bu kita tinggal tunggu sampai pulang," jawab Damia
Setelah Ayah Dodi pulang dan sampai di rumah, ayah beristirahat sebentar dan mulai membersihkan diri untuk bersiap sebelum pergi makan di luar bersama sang istri dan putri cantiknya. Damia dan Ibu Rita pun ikut bersiap dan berganti pakaian.
"Sudah selesai dan siap untuk pergi?" tanya Ayah Dodi
"Sudah siap, Ayah," jawab Ibu Rita
"Kita pergi bertiga dengan apa, Ayah? Naik motor?" tanya Damia
"Tidak dong. Kita pesan mobil, taksi online saja. Motornya tinggal saja di rumah. Sesekali tidak apa-apa kok," jawab Ayah Dodi
"Sayang sekali. Padahal aku mau lihat romantisnya Ayah dan Ibu naik motor berdua dan aku tinggal mengikuti dari belakang pakai motor lain. Kebetulan kita memang punya dua motor," ujar Damia
"Yang seperti itu malah jadi repot. Lebih baik kita pergi bersamaan dengan satu kendaraan yang sama," kata Ibu Rita
"Ibu, benar. Ayo, kita tunggu di luar. Tadi Ayah sudah pesan taksinya dan mobilnya sedang dalam perjalanan, hampir sampai," ucap Ayah Dodi
"Baiklah, ayo ... " kata Damia
Damia bersama ibu dan ayah pun beranjak ke luar dari rumah dan menunggu hingga pesanan mobil taksi online datang menjemput.
Saat mobil tiba, ketiganya pun langsung menaikinya dan mobil pun mulai melaju menuju ke lokasi tujuan.
Lokasi tujuan adalah sebuah restoran. Saat tiba di restoran yang dituju dan setelah membayar biaya perjalanan, ketiganya pun beranjak ke luar dari dalam mobil. Dan berjalan masuk ke dalam restoran.
Begitu masuk ke dalam restoran, ketiganya pun mencari tempat yang kosong untuk duduk. Setelah duduk dan memesan makanan, Damia pun makan malam bersama ibu dan ayahnya.
"Bagaimana? Menyenangkan, kan? Sudah lama kita tidak makan bersama di luar seperti ini, ya?" tanya Ayah Dodi
"Ya, ini seperti yang aku harapkan dan inginkan. Sangat menyenangkan," jawab Damia
Ketiganya saling menikmati waktu makan malam bersama sambil sesekali mengobrol ringan dan bersenda gurau.
Namun, Ibu Rita dan Ayah Dodi tampak berpikir dan merasa ragu ingin bertanya soal hubungan asmara sang putri. Sedangkan, Damia tampak bersiap untuk menjelaskan masalah hubungan asmaranya.
Sebenarnya, ibu, ayah, dan anak ini mengetahui dan menyadari akar maksud dan tujuan berkumpul di tempat yamg menyenangkan itu. Yaitu, karena ketiganya berencana ingin membahas yang mungkin dan memang kurang menyenangkan. Karena itu ketiganya sedang mencari dan menunggu momen dan suasana hati yang pas untuk memulai pembicaraan dengan topik yang berat kali ini.
Usai makan menu pokok, ketiganya memesan dan memakan hidangan penutup yang manis sebagai makanan pencuci mulut.
Ketiganya pun menjadi hening sesaat.
"Damia, bagaimana kabar teman yang kamu jenguk karena sakit itu?" tanya Ayah Dodi
"Dia sudah cukup pulih, Ayah. Dia juga sudah mulai kembali kuliah hari ini," jawab Damia
"Teman kamu itu masih kuliah, rupanya. Dia kuliah di fakultas apa? Apa usianya lebih muda dari pada kamu?" tanya Ibu Rita
"Usianya justru lebih tua satu tahun dari aku, Bu. Cuma karena aku memang langsung kerja setelah lulus dari SMK, sudah pasti berbeda sama dia yang melanjutkan belajar ke tahap kuliah. Aku juga tidak tahu dia kuliah fakultas apa. Aku tidak pernah bertanya lebih jauh," jelas Damia
Ketiganya kembali terdiam. Suasana pun menjadi terasa tegang dan canggung.
"Damia, jadi bagaimana hubungan kamu sama Raffa? Yang kata kamu sempat bertengkar kemarin, apa sudah baikan? Apa masalah kalian berdua sudah selesai?" tanya Ayah Dodi dengan sangat berhati-hati.
Damia tampak terdiam sejenak sambil menghela nafas pelan untuk mempersiapkan diri dan jawaban yang akan diberikan olehnya.
"Masalahnya sudah selesai kok, Ayah. Sebenarnya itu sudah cukup lama dan saat itu hubungan kami juga selesai," jawab Damia
Mendengar jawaban dari sang anak, Ibu Rita dan Ayah Dodi seolah tidak terkejut.
"Apa maksudnya itu, Damia?" tanya Ibu Rita
"Maaf, Ibu, Ayah ... Hubungan di antara kami berdua sudah berakhir," jawab Damia
Namun, tetap saja pasangan suami istri itu tidak menyangka.
.
Bersambung.