Bougenville of Love

Bougenville of Love
39 - Memeriksa Pasien.



Setelah selesai bersiap dan tiba waktunya untuk bekerja, Damia pun pergi meninggalkan rumah untuk berangkat menuju ke rumah sakit.


Telah tiba di rumah sakit dengan menaiki taksi inline yang dipesan olehnya, Damia pun memasuki rumah sakit sambil menggenggam ponsel miliknya.


"Aku lupa, belum kasih kabar ke ibu dan ayah," gumam Damia yang menghentikan langkahnya.


Tanpa harus beranjak untuk mencari tempat duduk, Damia mengetik pesan teks sambil terus berdiri.


Suster cantik itu mengetik kalimat serupa untuk dikirimkan pada nomor ponsel sang ibu dan ayah secara bergantian. Isi pesan darinya tak jauh dari memberi kabar bahwa dirinya sudah kembali pulang ke rumah dan juga kembali bekerja di rumah sakit serta memberi tahu jika dirinya akan pulang malam.


..."Aku kirim pesan ke dia juga, deh ... " batin Damia sambil tersenyum saat dirinya membayangkan seseorang di dalam benaknya....


Tak lupa, Damia juga mengetik pesan untuk seorang lainnya lagi.


^^^To: Angga.^^^


^^^Karena hari ini adalah jadwal shift sore, aku memutuskan untuk langsung kembali bekerja di rumah sakit lagi. Aku sengaja memberi kabar karena jika kamu menghubungi aku, tapi tidak kunjung mendapat balasan itu artinya aku sedang sibuk mengurus pasien. Tidak perlu khawatirkan aku karena aku selalu baik-baik saja. Semangat kuliahnya. Jangan lupa makan dan istirahat yang benar.^^^


Pesan telah dikirim dengan sangat jelas. Namun, sayangnya tidak ada embel-embel panggilan sayang atau emotikon hati. Seperti itulah Damia yang merupakan gadis yang to the point.


Setelah semua pesan berhasil terkirim, Damia pun melanjutkan langkahnya menuju ke bangsal perawatan rumah sakit tempatnya bekerja merawat pasien.


Sampai di bangsal, Damia lebih dulu menyempatkan mengecek ponsel miliknya.


..."Rupanya masih belum dibaca. Mungkin kuliahnya masih sedang berlangsung," batin Damia...


Damia pun menyetel mode getar pada ponsel miliknya yang lalu disimpan ke dalam saku seragam perawatnya.


Saat Damia beralih hendak memeriksa keadaan pasien bangsal, suster cantik itu bertemu dengan kepala suster muda yang terkejut saat melihatnya sudah kembali bekerja di rumah sakit.


Menunjukkan sikap sopan santunnya pada rekan kerja yang lebih senior dari dirinya, Damia pun menyapa sambil tersenyum meski terasa canggung.


"Selamat siang, Suster Lisa!" seru Damia menyapa.


"Selamat siang, Suster Damia ... " balas Suster Lisa dengan perasaan canggung pula.


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Sus. Mau periksa pasien dulu," ujar Damia


"Ya. Silakan," kata Lisa


"Hmm ... tunggu dulu, Suster Damia," sambung Lisa


"Ya, ada apa, Suster Lisa? Apa ada yang perlu saya bantu atau ada masalah mungkin?" tanya Damia


"Tidak ada kok, tapi bagaimana kabar pasien yang meminta kamu bantu rawat di rumahnya?" tanya balik Lisa


"Keadaan pasien sudah berangsur membaik. Dia juga sudah kembali dengan aktivitas berkuliahnya karena ingatannya sudah mulai pulih secara perlahan dan bertahap. Karena itu pihak keluarga merasa perawatan di rumah sudah cukup hingga saya bisa kembali bekerja di rumah sakit," jelas Damia


"Sejak kapan kamu berhenti merawat pasien di rumahnya?" tanya Lisa


"Hari ini. Baru saja tadi pagi saya ke luar dari rumahnya," jawab Damia


"Hari ini kamu baru selesai merawat pasien di rumahnya, tapi kamu sudah kembali kerja di rumah sakit seperti biasa? Apa kamu tidak berpikir mau mengajukan cuti? Bukankah setelah meraawat pasien di rumahnya diperbolehkan mengambil cuti beberapa hari atau bahkan seminggu?" tanya Lisa


"Setahu saya pengajuan cuti setelah merawat pasien di rumahnya diperbolehkan jika perawatan rumahan berlangsung selama minimal 3 bulan, tapi saya hanya merawat pasien di rumahnya selama tidak sampai sebulan, jadi saya memutuskan untuk langsung bekerja di rumah sakit lagi. Jika saya butuh istirahat, kebetulan adalah jadwal saya libur. Lagi pula saya merasa harus melakukan sesuatu, makanya saya kembali bekerja seperti biasa," ungkap Damia


"Kalau begitu, saya mulai periksa pasien dulu, Sus. Siang ini belum ada yang bergilir periksa pasien, kan?" tanya Damia


"Ya, belum ada. Dokter juga belum datang buat periksa pasien ke bangsal sini. Jadi, kalau nanti ada dokter untuk jadwal periksa pasien, tolong kamu yang temani dokternya keliling bangsal, ya. Soalnya mau ada perlu setelah ini," jawab Lisa


"Baik. Saya mengerti," kata Damia


Suster Lisa berlalu lebih dulu dan Damia pun masuk ke dalam ruang loker para perawat dan mengambil alat pemeriksaan. Seperti termometer dan tensimeter.


Pemeriksaan yang dilakukan oleh perawat memang berbeda dengan saat dokter melakukan pemeriksaan.


Sebelum dokter melakukan pemeriksaan pada setiap bangsal, biasanya perawat akan lebih dulu memeriksa suhu dan mengukur tensi darah agar saat dokter datang untuk memeriksa hanya akan melakukan peninjauan lanjut. Seperti memeriksa denyut jantung atau menanyakan seputar keluhan yang dialami pada setiap pasien. Atau juga meninjau hasil pemeriksaan laboratorium atau lainnya, seperti hasil tes darah, tes urine, rontgen, CT Scan, dan/atau MRI. Agar bisa langsung menimbang atau menentukan tindakan lebih lanjut pada suatu atau setiap pasien.


"Damia, kamu sudah balik lagi ke rumah sakit? Memangnya pasien yang butuh perawatan di rumah itu sudah sembuh?" tanya Suster Alina, rekan sesama suster.


"Pasien sudah mulai kembali pulih hingga merasa tidak lagi memerlukan perawat pendamping, tapi masih harus cek konsultasi dengan dokter," jawab Damia


"Begitu, rupanya. Kamu mau periksa pasien, ya? Aku juga sama," ujar Alina


"Ayo, kita mulai ... " kata Damia


Damia dan Alina mengamvbil masing-masing satu alat pengukur suhu dan alat pengukur tensi. Lalu, keduanya mulai melakukan pemeriksaan secara terpisah. Damia mulai dari bangsal paling awal dan Alina mulai dari bangsal paling akhir.


Kedua suster itu memasuki satu per satu bangsal untuk memeriksa pasien.


"Permisi. Selamat siang. Maaf mengganggu. Saya akan melakukan pemeriksaan awal rutin pada pasien," ucap Damia


Damia pun mulai melakukan pemeriksaan sederhana itu.


"Suhu tubuhnya normal, ya ... 36,6 derajat. Tapi, tensinya agak rendah. Harap perbanyak minum air putih dan nanti akan diberikan vitamin untuk diminum. Harap tunggu, ya," ujar Damia


"Kalau tensi rendah itu baiknya makan apa, Sus?" tanya wali pasien yang menemani di dalam ruang rawat.


"Kacang-kacangan, telur, daging, dan susu. Juga beberapa buah, seperti pepaya, lemon, jeruk, semangka, anggur, dan lain-lain," ungkap Damia


Setelah memeriksa satu pasien, Damia terus melakukan pemeriksaan pada pasien lain berikutnya.


Damia ke luar dari salah satu ruang rawat setelah selesai melakukan pemeriksaan pada pasien terakhir bagiannya. Saat itu suster cantik itu melihat tulisan yang tertera pada pintu luar salah satu ruang rawat. Itu adalah ruang Bougenville nomor 8.


..."Aku ingat, Angga pernah dirawat inap di ruangan ini. Aku memang khawatir saat dia sakit, tapi aku senang bisa melihat dan bertemu dengannya lagi. Dan sejak saat itu kami kembali dekat meski sempat merasa canggung," batin Damia sambil tersenyum....


Damia terhanyut dalam lamunan saat memikirkan Angga hingga akhirnya suster cantik itu tersadar saat seorang dokter datang untuk melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap pasien.


"Selamat siang, Dokter. Mau melakukan pemeriksaan pasien? Apa kita mulai sekarang?" tanya Damia


"Ya," jawab Dokter


Dokter lebih dulu memakai masker dan menggunakan hand sanitizer yang ada di dinding lorong bangsal sebagai penghilang bakteri sebelum masuk untuk melakukan pemeriksaan ke dalam satu per satu ruang rawat.


Damia bersama Alina menemani Dokter melakukan pemeriksaan guna peninjauan lanjutan terhadap setiap pasien dengan sabar. Hingga akhirnya pemeriksaan yang dilakukan oleh Dokter pun telah usai dan Dokter pun berpamitan meninggalkan bangsal.


.


Bersambung.