Bougenville of Love

Bougenville of Love
81 - Sapu Tangan Pasangan.



Damia menjauh dan mencari tempat yang sesuai untuk menerima telepon. Damia mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas dan melihat nama kontak yang meneleponnya pada layar benda persegi pipih tersebut. Di sana tertulis -Ayah- yang muncul.


"Ada apa ayah menelepon, ya?" gumam Damia yang langsung menggeser tombol berwarna hijau pada layar ponsel dan merima telepon dari sang ayah.


"Halo, ayah. Ada apa?"


"Halo, Damia. Kata ibu, kamu pergi ke luar sama Angga, ya?"


"Ya, ayah. Aku sedang sama Angga sekarang."


"Kapan kamu pulang? Apa bisa pulang lebih cepat?"


"Mungkin tidak akan lama lagi. Aku bisa pulang sebentar lagi. Memangnya ada apa, ayah? Apa ayah juga sudah pulang kerja?"


"Ya, hari ini ayah pulang dari kerja lebih cepat dan sekarang sudah di rumah. Akan ada urusan keluarga, ayah harap kamu bisa cepat pulang. Setidaknya kamu pulang sebelum waktu makan malam."


"Ya, ayah, aku bisa. Aku akan pulang sebelum makan malam. Aku usahakan cepat pulang ke rumah."


"Ayah hanya mau bilang itu saja. Tidak perlu terlalu terburu-buru juga dan hati-hati saat pulang nanti."


"Ya, ayah. Aku mengerti."


"Ya, sudah dulu. Kalau begitu, ayah matikan teleponnya, ya."


"Iya, ayah."


Tut!


Sambungan telepon pun diputus dari seberang telepon.


..."Urusan keluarga ... kira-kira ada apa, ya? Kenapa ayah tidak langsung bilang apa urusannya saat telepon tadi?" batin Damia bertanya-tanya....


Usai Damia menerima telepon dari sang ayah, Angga pun mencari dan menghampirinya.


"Damia, apa kamu sudah selesai menerima telepon? Siapa yamg tadi menelepon kamu?" tanya Angga


"Ya, sudah. Tadi ayah yang menelepon aku," jawab Damia


"Ayah kamu bilang apa?" tanya Angga


"Ayah minta aku, kalau bisa ... pulang lebih cepat. Setidaknya sebelum waktu makan malam aku sudah ada di rumah. Katanya, mau ada urusan keluarga. Ayah hanya bilang seperti itu, tapi tidak bilang ada urusan apa," jelas Damia


"Apa kamu juga sudah menemukan buku yang kamu cari, Angga?" tanya Damia melanjutkan.


"Sudah, aku juga sudah membeli bukunya seperti kamu," jawab Angga


"Sayang sekali. Seharusnya aku bisa membayar buku yang kamu beli karena kamu juga sidah banyak menraktir aku. Berapa buku yang kamu beli barusan? Biar aku yang beli dan ganti uang kamu," ujar Damia


"Tidak usah. Ini buku untuk aku sendiri mengerjakan tugas penting, jadi harus aku sendiri yang membeli dan membayarnya," kata Angga


"Bukannya kamu diminta untuk cepat pulang? Kalau begitu, ayo kita pulang saja. Aku akan mengantar kamu pulang sampai rumah," sambung Angga


"Apa tidak masalah kalau aku langsung pulang sekarang? Masih ada waktu sampai sebelum makan malam. Apa kamu masih ada sesuatu yang mau kamu beli? Aku akan menemani kamu untuk membelinya sebelum pulang," ujar Damia


"Sebenarnya, memang masih ada sesuatu yang mau aku beli," sahut Angga


"Ya sudah, ayo aku temani kamu membelinya ... " kata Damia


Damia dan Angga pun beralih ke tujuan lain. Keduanya saling menautkan sebelah tangan menjadi satu dan kini lebih erat dari pada sebelumnya. Seolah ingin puas-puas bergenggaman sebelum akhirnya kembali berpisah nanti.


Angga mampir ke sebuah toko bersama Damia. Lelaki itu melihat pajangan sapu tangan untuk dibeli.


"Jadi, kamu mau beli sapu tangan?" tanya Damia


"Ya, selagi aku ingat, sebelumnya aku terus lupa saat ingin beli. Banyak sapu tangan punya aku yang sudah dipakai sangat lama dan terlihat kusam, ada juga yang hilang entah ke mana ... " jelas Angga


"Oke, akan aku pilihkan satu. Kamu mau beli berapa?" tanya Damia


"Beli 2 saja," jawab Angga


"Kamu juga belilah satu yang sama dengan aku," sambung Angga


"Yang bintang untuk aku dan yang matahari untuk kamu," kata Angga


"Baiklah, aku juga sudah memilihkan satu untuk kamu," sahut Damia


"Pilih satu lagi, deh ... " Akhirnya Angga memilih satu sapu tangan lainnya.


"Kali ini aku saja yang bayar," kata Damia saat hendak membayar.


Saat Damia sedang mencari dompet di dalam tas miliknya, Angga sudah lebih dulu mengeluarkan kartu ATM miliknya untuk melakukan transaksi pembayaran.


"Tidak usah ... simpan saja uang kamu. Biar aku yang bayar," ujar Angga


"Totalnya 4 buah, ya, Kak? Ada sapu tangan pasangan juga ...."


Angga hanya mengangguk kecil.


"Ini barangnya, Kak. Terima kasih."


"Sama-sama," sahut Angga


"Angga, padahal aku ingin ... biar aku saja yang bayar," sebal Damia


"Sebagai gantinya lain kali aku akan biarkan kamu menraktir aku lebih banyak," kata Angga


"Terserah kamu sajalah," sahut Damia


"Jangan marah ... " bujuk Angga


"Tidak kok. Apa masih ada yang mau kamu beli selain ini?" tanya Damia sambil tersenyun kecil.


"Aku ingin beli camilan. Saat mengerjakan skripsi di rumah terkadang aku butuh camilan sebagai teman pengganjal perut," ungkap Angga


Damia dan Angga pun beranjak menuju supermarket.


"Kalau kamu mau beli sesuatu juga, pilih saja. Biar aku yang bayar. Kamu traktir aku di lain hari saja," ujar Angga


"Ya, ya, aku mengerti ... " kata Damia


"Kamu tidak marah, kan?" tanya Angga


"Aku tidak marah kok. Tenang saja," jawab Damia


Damia dan Angga pun mulai berbelanja beberapa camilan dan di masukkan ke dalam keranjang dorong.


"Buah juga ... stok buah di rumah sudah tinggal sedikit," kata Angga yang cukup banyak memasukkan jenis buah ke dalam troli, bahkan buah yang telah dibungkus menjadi parsel sekali pun.


"Banyak juga yang kita beli," kata Damia


Saat di meja kasir, Damia meminta staf kasir untuk memisah antara belanjaan miliknya dan milik sang kekasih. Namun, tetap Angga yang membayar semua belanjaan tersebut.


Usai dari supermarket, Damia dan Angga pun beralih dan bersiap untuk pulang.


"Maaf, kalau aku harus cepat pulang. Aku mengerti kalau kamu kecewa," kata Damia


"Tidak apa-apa kok. Ayah kamu sudah sampai menelepon dan minta kamu untuk cepat pulang, urusan yang ayah kamu bilang pasti sangat penting sampai tidak bisa bilang langsung saat di telepon sebelumnya. Makanya, kamu harus cepat pulang. Aku sudah cukup puas pergi sama kamu hari ini kok," ucap Angga


"Ayo, kita cepat pulang. Ayah kanu pasti sudah menunggu kamu di rumah," sambung Angga


"Kamu setir mobil pelan-pelan saja. Ayah juga berpesan untuk hati-hati saat pulang," ujar Damia


"Aku mengerti," sahut Angga


Kini keduanya sudah berada di dalam mobil hendak pulang. Angga pun mulai melajukan mobilnya untuk ke luar dari area parkir mall dan lelaki itu akan mengantar sang kekasih pulang hingga ke rumah dengan aman dan selamat.


.


Bersambung.