
Kini Damia dan Alina sedang makan siang bersama Angga dan para dokter muda.
"Omong-omong, sepertinya sudah cukup lama sejak kalian menjalani program profesi di rumah sakit ini. Kapan masa koas kalian berakhir?" tanya Damia
"Sebentar lagi juga akan selesai. Mungkin sampai akhir bulan ini," jawab Rena
"Setelah program profesi berakhir, kalian akan mengadakan acara wisuda sekali lagi, kan?" tanya Damia
"Ya. Lebih tepatnya lagi kami akan mendeklarasikan sumpah dokter di acara wisuda kedua nanti," jawab Tio
"Ya, maksud aku juga itu ... " kata Damia
"Kamu juga datang lagi saat acara wisuda kedua nanti, ya, Damia. Tapi, kamu tidak perlu memaksakan diri seperti acara wisuda sebelumnya," ucap Angga
"Ya, aku mengerti dan aku akan datang," sahut Damia
"Memangnya saat acara wisuda sebelumnya, Damia kenapa?" tanya Beno
"Saat itu Damia baru pulang kerja pagi setelah masuk shift kerja malam dan datang tanpa istirahat lebih dulu," jawab Angga
"Ya, aku ingat saat itu Damia terburu-buru pulang dari rumah sakit begitu waktunya pulang tiba," sahut Alina
"Kalau bisa, saat acara wisuda sumpah dokter nanti, Suster Alina ikut datang juga dong ... " pinta Joshua
"Kalau aku tidak ada urusan lagi saat hari acara, aku usahakan untuk ikut datang," ujar Alina
"Aku tidak punya niat apa-apa san cuma mau nanya mewakili Joshua. Suster Alina, sudah punya pacar belum?" tanya Beno
"Alina sudah punya tunangan," jawab Damia
"Haha ... lo tak punya kesempatan lagi, Jo," ledek Tio
"Yang ada di pikiran lo cuma cewek terus," sindir Rena
"Kenapa, sih, mau cari pacar saja sulit sekali? Semua cewek cantik sudah ada yang punya. Kalau begini, rencana gua buat cepat menikah bakal gagal total," ujar Joshua
"Sabar, ya, Jo ... jodoh tak akan ke mana kok," sahut Damia
"Kamu tidak usah hibur dia, Damia. Biarkan saja dia," kata Angga
Mereka pun tertawa bersama.
"Omong-omong, soal pacar dan rencana menikah ... bukannya dokter rumah sakit ini ada yang sudah sebarin undangan pernikahannya, ya? Kalau tidak salah, nama dokternya Raffa, kan? Nama calon pengantin wanitanya siapa, ya?" tanya Tio
"Pasangannya adalah kepala perawat dari bangsal rawat kami. Namanya Lisa," jawab Alina
"Berarti kalian berdua sudah lebih dulu tahu soal kabar ini dong?" tanya Beno
"Ya, kami berdua sudah dapat undangannya juga ... " jawab Damia
"Kenapa kamu tidak bilang sama aku, Damia?" tanya Angga
"Aku baru dapat undangannya hari ini sebelum istirahat tadi. Niatnya, aku baru mau cerita sama kamu saat pulang kerja supaya bisa sekalian menunjukkan undangannya juga," jelas Damia
"Memangnya kalian belum dapat undangannya?" tanya Alina
"Tidak tahu memang belum atau memang kami tidak dapat. Mungkin kami tidak diundang karena hanya dokter koas," jawab Joshua
"Sepertinya Angga pernah cerita kalau dokter Raffa itu mantan pacarnya Damia. Apa benar?" tanya Rena
"Ya, itu memang benar," jawab Alina secepat kilat.
"Angga pernah cerita seperti itu?" tanya Damia
"Ya, kami juga pernah dapat bimbingan saat ikut bertugas sama dokter Raffa. Aku ingat saat itu raut wajah Angga terlihat tidak baik. Saat ditanya, Angga cerita soal itu," jelas Tio
"Damia, bagaimana saat kamu dapat undangan pernikahan si mantan pacar? Yang kasih undangan itu suster Lisa atau dokter Raffa?" tanya Rena
"Aku biasa saja karena sebelumnya memang aku sudah pernah diberi tahu soal rencana pernikahan mereka berdua bahkan dokter Raffa juga sudah sempat minta aku untuk hadir di acara pernikahan mereka berdua. Yang kasih undangan itu suster Lisa, mungkin supaya lebih mudah karena kami bertugas di bangsal rawat yang sama," jawab Damia
"Dokter Raffa itu mantan pacar kamu dan dia juga yang minta kamu untuk hadir di acara pernikahannya, tapi bukan dia yang kasih undangannya untuk kamu. Dia itu tidak gantle-man atau tidak tahu malu?" tanya Rena
"Sepertinya yang kedua, tidak ... aku salah. Maksud aku kedua-duanya," jawab Alina
"Kamu benar sekali, Alina ... " sahut Rena
Damia tersenyum melihat kecocokan dua gadis selain dirinya itu. Alina dan Rena, yang satu adalah temannya dan yang satu lagi adalah teman kekasihnya.
Kedua gadis itu sama-sama suka bicara nyinyir. Namun, tidak seperti Alina, Rena tidak cerewet. Seolah sikap nyinyir Rena mirip dengan Alina dan sikap pendiamnya mirip dengan Damia.
Rena tidak suka dengan lelaki yang menyakiti hati perempuan. Itulah alasan gadis itu sempat tidak suka dengan Angga setelah putus. Namun, itu tidak berlangsung lama karena bagaimana pun juga dirinya sadar bahwa bukan sepenuhnya salah Angga saat dirinya sakit hati begitu tahu Angga lebih mencintai gadis lajn saat masih pacaran dengannya. Karena dari awal Rena-lah yang memaksa Angga untuk berpacaran dengannya.
Setelah makan siang berakhir, Damia dan Alina pun kembali menuju ke bangsal rawat untuk bekerja. Sedangkan, Angga dan teman-temannya kembali dengan tugas program profesi mereka.
Saat waktunya pulang bekerja, Damia pulang bersama sang kekasoh seperti sebelumnya. Seperti biasa, Angga akan mengantar sang kekasih sampai ke rumah dan langsung berpamitan untuk pulang ke rumahnya setelah itu.
•••
Hari ini adalah acara wisuda Angga yang kedua untuk mendeklarasikan sumpah dokter. Hari ini Damia bangun di pagi hari dan langsung bersiap untuk pergi menghadiri acara wisuda kedua sang kekasih.
Untung saja dalam minggu ini, Damia sedang berada pada jadwal shift siang saat bekerja. Hingga suster cantik itu pulang saat malam hari dan masuk kerja di siang hari. Jadi, pagi hari ini Damia memiliki waktu luang untuk menghadiri acara wisuda kedua sang kekasih.
Usai mandi, Damia lanjut bersiap dengan memakai gaun seukuran di bawah lutut dengan warna broken white ditambah hiasan rambut berupa jepitan dengan warna yang senada usai menata rambut. Lalu, suster cantik itu juga tidak lupa menambahkan riasan natural pada wajahnya.
Karena hari ini adalah acara wisuda pengucapan sumpah dokter, Damia merasa cocok memakai sesuatu dengan warna putih pada hari ini. Namun, gadis perawat itu akan memakai sepatu dan membawa tas berwarna hitam.
Usai bersiap, Damia bergegas ke luar dari kamarnya. Niatnya ingin membantu sang ibu, namun ternyata sarapan pagi sudah selesai disiapkan dan ditata di atas meja.
"Sarapannya sudah siap, ya, Bu? Maaf, ya, aku jadi tidak ikut membantu Ibu. Harusnya tadi aku bantu Ibu masak dulu di dapur, baru setelah itu siap-siap," ujar Damia
"Tidak apa-apa. Ibu juga tahu kalau kamu merasa lelah karena pulang malam semalam, jadi tidak masalah meski sesekali kamu tidak ikut memasak seperti ini. Lagi pula, jumlah orang di rumah kita tidak banyak, jadi Ibu tidak akan merasa lelah meski memasak sendiri," ucap Ibu Rita
"Harusnya aku tidak lupa membantu Ibu," gumam Damia
"Namanya juga mau pergi ke acara pacar, wajar saja kalau sesekali lupa sesuatu karena merasa terlalu antusias," kata Ibu Rita
"Ibu, bisa saja ... " sahut Damia yang malu-malu.
Saat itu Ayah Dodi pun muncul.
"Damia, kamu sudah rapi dan cantik saja. Memangnya kamu mau pergi ke mana? Bukannya hari ini kamu masuk kerja shift siang?" tanya Ayah Dodi
"Bukannya Damia sudah bilang dari semalam kalau hari ini mau ada acara? Masa Ayah lupa?" tanya balik Ibu Rita
"Ayah ingat, hari ini kamu mau datang ke acara sumpah dokter pacar kamu, ya?" tanya Ayah Dodi lagi
"Ya, Ayah. Tapi, sebelum itu, ayo kita sarapan dulu ... " jawab Damia
Damia pun memulai pagi dengan sarapan bersama kedua orangtuanya.
Usai sarapan bersama, ketiganya bersiap untuk pergi. Ayah Dodi akan berangkat kerja dan Damia akan pergi menghadiri acara wisuda sumpah dokter sang kekasih. Hanya Ibu Rita saja yang sedikit santai dan bisa bersih-bersih rumah lebih dulu karena waktu kerjanya sedikit lebih siang dari pada suami atau putrinya.
"Damia, nanti tolong sampaikan selamat untuk Angga," pinta Ayah Dodi
"Bilang juga maaf karena Ibu dan Ayah tidak bisa ikut hadir. Sebagai gantinya lain kali undang Angga untuk makan bersama lagi di rumah sekalian sama keluarganya juga," ujar Ibu Rita
"Iya, Bu, Ayah ... nanti aku sampaikan sama Angga," kata Damia
"Kamu mau pergi naik apa, Damia? Apa mau Ayah antar sampai kampusnya pacar kamu?" tanya Ayah Dodi
"Tidak usah, Ayah, nanti aku pesan taksi online saja. Takutnya nanti Ayah malah terlambat sampai ke kantor," jawab Damia
"Ya sudah. Kalau begitu, Ayah berangkat kerja dulu," ujar Ayah Dodi
"Ya. Hati-hati di jalan, Ayah ... " pesan Damia dan Ibu Rita secara bersamaan.
Ayah Dodi pun berangkat kerja dengan menaiki motor.
"Damia, apa kamu tidak mau langsung berangkat juga?" tanya Ibu Rita
"Ya, Bu. Ini aku mau pesan taksinya dulu," jawab Damia
Damia pun mengotak-atik ponsel miliknya untuk memesan taksi online. Hingga pengemudi taksi berhasil didapat barulah suster cantik itu akan bersiap untuk pergi.
"Taksinya sudah dapat nih, Bu. Aku pergi dulu, ya, mau jalan dulu sampai ke depan gerbang kompleks supaya lebih mudah," ujar Damia
"Ya sudah, kamu hati-hati, ya ... " pesan Ibu Rita
Damia hanya mengangguk, lalu suster cantik itu pun beranjak ke luar dari rumah dan berjalan menuju gerbang kompleks perumahannya. Tak lama menunggu setelah sampai di depan gerbang kompleks, taksi online pesanannya pun datang menjemput.
Damia pun masuk ke dalam mobil taksi online tersebut.
"Kita pergi sesuai yang ada aplikasi ya, Pak," kata Damia
Mobil taksi online pun mulai melaju di jalanan besar untuk menuju ke Universitas A.
Di jalan, Damia lebih dulu mampir ke toko bunga untuk membeli sebuket bunga untuk diberikan pada Angga seperti saat acara wisuda sebelumnya.
"Pak, kita mampir dulu ke toko bunga di depan sana, ya. Nanti ongkosnya saya kasih lebih," pinta Damia
Supir taksi online itu hanya mengangguk dan langsung menepikan mobilnya saat melihat toko bunga yang dimaksud. Damia pun beranjak ke luar dari mobil taksi tersebut dan kembali naik setelah membeli sebuket bunga di toko bunga tersebut. Lalu, mobil taksi online tersebut pun kembali melaju menuju ke tempat tujuan.
Begitu sampai di Universitas A, Damia langsung beranjak turun dari dalam mobil taksi online tersebut. Seperti yang dikatakan sebelumnya, Damia memberi lebih pada ongkos taksi saat membayar.
"Terima kasih, Pak," ucap Damia saat melangkah turun dari mobil setelah membayar ongkos taksi.
Damia terus memancarkan senyum indahnya. Kali ini suster cantik itu tidak perlu merasa panik atau tergesa-gesa karena dirinya tidak datang terlambat.
Begitu masuk area Universitas, Damia langsung menuju lapangan besar tempat acara wisuda berlangsung seperti sebelumnya. Baru saja mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas untuk memberi tahu dirinya sudah sampai pada sang kekasih melalui panggilan telepon, namun rupanya namanya telah diseru oleh sang kekasih.
"Damia!" serunya memanggil.
Mendengar namanya disebut, Damia langsung mencari sumber suara dan melihat sosok sang kekasih di sana. Keduanya pun saling menghampiri satu sama lain.
"Kali ini aku tidak terlambat, kan?" tanya Damia
"Tidak, acaranya juga belum dimulai kok," jawab Angga
"Ini aku bawakan bunga untuk kamu," kata Damia sambil memberikan buket bunga pada sang kekasih.
"Aku jadi merepotkan kamu, padahal acaranya belum dimulai dan sumpah dokternya juga belum diucap," ujar Angga sambil menerima buket bunga dari sang kekasih.
"Tidak apa-apa. Lagi pula dengan kamu yang ada di sini hari ini tandanya juga pasti akan mengucapkan sumpah itu. Jadi, sekalian saja ... " kata Damia
"Terima kasih, ya," ucap Angga
"Sama-sama," balas Damia
"Kamu tidak memaksakan diri untuk datang kali ini, kan?" tanya Angga
"Tidak kok. Aku kira kamu sudah tahu jadwal kerja aku. Minggu ini aku masuk kerja shift siang. Pulang kerja saat malam dan berangkat siang. Jadi, pagi ini adalah waktu luang dan aku juga sudah cukup istirahat sejak semalam," jelas Damia
"Ya, aku tahu. Aku hanya ingin lebih memastikan," kata Angga
"Omong-omong, di mana teman-teman kamu?" tanya Damia
"Mereka masih siap-siap dan kumpul dengan keluarga," jawab Angga
"Kamu juga kumpul saja sama keluarga aku, mereka ada di sana. Ayo, aku antar ... sepertinya acaranya sudah akan dimulai," sambung Angga
Angga pun mengantar Damia untuk bergabung dan menemui keluarganya. Setelah itu, Angga beranjak pergi untuk mengikuti acara pengucapan sumpah dokter hari ini. Lelaki itu kembali memberikan buket bunga pada sang kekasih untuk sekedar dititipkan selama acara berlangsung.
"Damia, ini tunangan aku. Kalian baru bertemu hari ini, kan? Kali ini dia ikut datang, namanya Alvian," ujar Linda yang memperkenalkan tunangannya pada Damia
"Salam kenal, Damia ... " sapanya, tunangan Linda. Alvian.
"Halo, salam kenal juga, Kak. Senang bisa bertemu hari ini," balas Damia
Setelah itu Damia pun menyaksikan acara yang telah dimulai bersama keluarga sang kekasih. Suster cantik itu terus memerhatikan sang kekasih dari jauh.
Hari ini peserta acara atau mahasiswa/i yang hadir tidak sebanyak acara wisuda sebelumnya. Karena jika sebelumnya adalah acara kelulusan seluruh fakultas hingga banyak peserta yang hadir, maka jika hari ini yang hadir hanya fakultas kedokteran. Namun, tetap saja acara berlangsung lama karena para mahasiswa/i yang hadir hari ini akan mengucap sumpah dokter. Meski pengucapan sumpah dilakukan secaea berkelompok tetap saja akan memakan waktu lama.
Saat Angga berada di depan untuk mengucapkan sumpah dokter, lelaki itu bersama kelompoknya, yaitu, Beno, Joshua, Tio, dan Rena.
Mereka berlima mengucapkan sumpah dokter secara bersamaan.
Pengucapan sumpah dokter memang dilakukan secara berkelompok dengan jumlah mahasiwa/i 4 sampai 5 orang supaya bisa lebih menghemat sedikit waktu.
Sumpah Dokter juga bisa disebut Hippocratic Oath. Dengan lafal sumpah seperti berikut;
Demi Tuhan saya bersumpah, bahwa:
Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan.
Saya akan menjalankan tugas dengan cara yang terhormat dan bersusila sesuai dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter.
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur profesi kedokteran.
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena keprofesian saya.
Saya tidak akan menggunakan pengetahuan saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan perikemanusiaan, sekalipun diancam.
Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai saat pembuahan.
Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien, dengan memperhatikan kepentingan masyarakat.
Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, gender, politik, kedudukan sosial dan jenis penyakit dalam menunaikan kewajiban terhadap pasien.
Saya akan memberi kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya.
Saya akan perlakukan teman sejawat saya seperti saudara kandung.
Saya akan menaati dan mengamalkan Kode Etik Kedokteran Indonesia.
Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.
Setelah mengucapkan sumpah/janji dan resmi menjadi seorang dokter baru, para dokter baru tidak lupa menunjukan rasa terima kasih mereka kepada orang tua masing-masing. Momen ini diisi dengan pemberian bunga pada orang tua dan diikuti dengan pemasangan snelli atau jas dokter oleh para orang tua.
Saat itu Damia tersenyum karena merasa bangga pada sang kekasih.
.
Bersambung.