
Ayah Dodi kembali mematikan televisi meski belum sempat menonton. Sang ayah lebih memilih untuk nengobrol dengan putrinya dengan nyaman.
"Kata ibu, ada yang ingin Ayah bicarakan? Ada apa, Ayah?" tanya Damia
"Bagaimana dengan pekerjaan kamu? Apa selama ini selalu sibuk? Anak Ayah pasti setiap hari merasa lelah, ya?" tanya balik Ayah Dodi
"Kerjaan selalu lancar kok, Ayah. Tidak ada pekerjaan yang tidak membuat lelah. Tidak ada yang berbeda dengan yang setiap hari dilakukan. Merawat pasien," jawab Damia
"Apa di rumah sakit, kamu masih suka bertemu sama Raffa?" tanya Ayah Dodi
"Masih, tapi tidak sering. Raffa lebih sering sibuk sama tugasnya sebagai dokter dan aku pun sama. Karena aku hanya seorang suster dan tempat kami bekerja berbeda meski berada di satu rumah sakit yang sama, kami jadi hanya sesekali bertemu," jelas Damia
"Lalu, bagaimana sama hubungan kalian? Masih baik-baik saja, kan?" tanya Ayah Dodi
"Hubungan kami baik-baik saja sekaligus tidak. Sepertinya ... " jawab Damia
"Apa maksudnya itu?" tanya Ayah Dodi
"Aku berusaha supaya hubungan kami baik-baik saja, tapi sebenarnya tidak seperti itu. Hubungan kami sedang kurang baik," ungkap Damia yang masih berusaha menutupi kenyataan.
"Ada apa? Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Ayah Dodi
"Ya, ada sedikit masalah," jawab Damia
"Apa kamu tidak mau cerita sama Ayah?" tanya Ayah Dodi
"Ini rumit, Ayah ... " jawab Damia
"Ya sudah, tidak apa-apa. Kalau kamu merasa masih bisa mengatasi sendiri, silakan kamu cari cara yang menurut kamu paling baik. Kalau memang terasa sulit dan lelah, kamu bisa mengalah. Karena apa pun itu, keputusan dan pilihan tetap berada di tangan kamu. Jangan sampai suatu masalah membebani diri kamu sendiri," ujar Ayah Dodi
Damia pun mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau Ayah, bagaimana dengan proyek yang sempat Ayah ceritakan? Apa sudah selesai? Apa itu sulit?" tanya Damia
"Sudah hampir selesai, tinggal sedikit saja lagi. Para staf bekerja sama mencari cara untuk bisa menyelesaikannya dengan baik, meski sulit. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tenang saja," jawab Ayah Dodi
"Seperti yang Ayah katakan barusan, aku juga sama. Aku akan berusaha menyelesaikan masalah aku dengan baik. Meski ini adalah masalah pribadi yang harus aku atasi sendiri, aku juga pasti bisa menyelesaikannya. Jadi, tidak perlu khawatirkan aku," ujar Damia
"Ya, Ayah percaya. Selama ini, anak Ayah selalu bisa memilih antara yang baik dan tidak. Pasti selalu seperti itu," kata Ayah Dodi
"Ayah, kapan kita bisa jalan-jalan sekeluarga lagi seperti dulu? Aku rindu ingin menghabiskan waktu bersama Ayah dan ibu," rengek Damia
"Sekarang kita sama-sama sibuk. Mungkin nanti, ya, Sayang ... " sahut Ayah Dodi
"Setidaknya lain kali, ayo kita sempatkan waktu untuk makan bersama di luar rumah," ajak Damia
"Oke, lain kali kita saling atur jadwal masing-masing," kata Ayah Dodi
Damia pun tersenyum.
..."Aku memang sudah mengalah, Ayah. Aku memilih mundur karena aku merasa tidak cocok dengan Raffa. Maaf karena belum bisa cerita yang sebenarnya ke Ayah dan ibu," batin Damia...
Ayah Dodi pun kembali menyalakan televisi yang belum sempat ditonton.
"Sekarang kamu temani Ayah nonton, ya," pinta Ayah Dodi
"Oke, Ayah!" seru Damia
Saat itu Ibu Rita pun datang sambil membawakan camilan dan minuman.
"Kalau nonton TV enaknya sambil nyemil celap-celup, nih!" seru Ibu Rita
"Wah ... pas sekali. Lagi ingun ngunyah nih mulut," sahut Ayah Dodi
"Ibu dan Ayah, hanya boleh minum teh manis satu kali sehari, ya. Boleh, deh ... maksimal dua kali, tapi gulanya jangan terlalu banyak. Minum kopi juga seperti itu. Kalau minum teh, tidak boleh minum kopi. Atau boleh sekali minum teh dan sekali minum kopi di waktu yang berbeda. Gula dan kafein itu tidak bagus dikonsumsi berlebihan," pesan Damia saat melihat teh manis hangt yang dibawakan oleh sang ibu.
"Siap, deh, Neng Suster ... " sahut Ibu Rita
"Emang beda kalau punya anak seorang perawat," kata Ayah Dodi
"Kalau ada waktu, Ibu dan Ayah juga harus cek-up kesehatan di rumah sakit," ujar Damia
"Iya-iya, pokoknya mah Ibu dan Ayah patuh saja sama kata Suster Damia," kata Ibu Rita
Ketiganya pun menghabiskan waktu menonton televisi bersama sambil sesekali mengobrol menanggapi isi tontonan yang sedang disaksikan bersama.
•••
Keesokan harinya.
Damia sudah lebih dulu terbangun di pagi hari untuk menyiapkan sarapan untuk keluarga, membantu sang ibu.
Saat sang ayah muncul untuk sarapan, Damia sedang menghidangkan menu sarapan di atas meja.
"Ayah, ayo sini ... sarapannya sudah siap!" seru Damia
"Wah ... apa hari ini, Damia yang masak?" tanya Ayah Dodi
"Aku cuma bantu Ibu kok," jawab Damia
"Bohong, tidak seperti itu, Ayah. Justru Ibu yang bantu Damia masak," ujar Ibu Rita
"Aku dan Ibu saling bantu. Sebenarnya saat Ibu datang, aku masih belum melakukan apa-apa, jadi aku pikir Ibu yang lebih banyak melakukan ini dan itu saat memasak tadi," ucap Damia
"Berarti Damia bangun lebih pagi dong?" tanya Ayah Dodi
"Iya, Ayah. Kan, kita sama-sama sibuk, jadi setidaknya kita bisa punya waktu untuk sarapan bersama seperti ini. Mulai dari hari ini sampai satu minggu ke depan aku akan masuk kerja shift malam dan pulang pagi. Jadi, di minggu ini hanya hari ini aku bisa sarapan bersama Ibu dan Ayah," jelas Damia
Damia pun mulai sarapan bersama Ibu Rita dan Ayah Dodi.
"Damia, karena kamu sedang ada masalah sama Raffa, apa perlu Ayah telepon dan bicara sama dia supaya kalian berdua bisa lebih cepat baikan?" tanya Ayah Dodi
"Semalam katanya, Ayah percaya sama aku. Tidak perlu telepon dia. Nanti hanya buat dia berpikir kalau aku hanya anak manja yang suka mengadu dan meminta orangtua untuk mengatasi masalah juga tidak bisa mengatasi masalah sendiri. Biar aku saja yang menyelesaikan masalah kali ini sendiri," jawab Damia
"Memangnya selama ini Raffa selalu berpikir seperti itu tentang kamu?" tanya Ayah Dodi
"Tidak ada yang tahu jalan pikir seseorang selain orang itu sendiri, Ayah," jawab Damia
..."Buktinya saja Raffa selingkuh karena merasa aku kurang perhatian sama dia. Padahal semua karena memang kita sama-sama sibuk. Lagi pula aku dan Raffa sudah putus, jadi aku rasa tidak perlu lagi mengganggu dia," batin Damia...
"Damia, memangnya kamu sedang ada masalah apa sama Raffa?" tanya Ibu Rita
"Hanya masalah kecil, Bu," jawab Damia
"Semalam Damia juga belum mau cerita sama Ayah," kata Ayah Dodi
"Ya, setiap suatu hubungan pasti memang ada saja masalahnya, tapi jangan dibiarkan terus menerus begitu saja karena takutnya masalah akan jadi bertambah besar. Selesaikan saja masalahnya baik-baik dan jangan terburu-buru mengambil keputusan secara gegabah," ucap Ibu Rita
Damia hanya mengangguk pelan sambil menyendok makanan ke dalam mulutnya.
..."Benar kata Ibu. Aku sudah pernah membiarkan masalah Raffa yang selingkuh begitu saja dengan berharap bahwa Raffa hanya khilaf sesaat, tapi kondisi itu terus terjadi hingga akhirnya aku menyelesaikan masalah dengan cara mengakhiri hubungan kami. Aku rasa ini bukan keputusan yang terburu-buru dan gegabah karena aku sudah lama menutup mata saat mengetahui perselingkuhan Raffa. Memang aku yang salah sudah membiarkannya begitu saja, tapi itu sudah berlalu dan aku pun sudah punya pacar baru setelah putus dari Raffa," batin Damia...
Usai sarapan bersama, Ayah Dodi pun berangkat pergi bekerja. Sedangkan Ibu Rita berangkat kerja sedikit lebih siang, sementara Damia terus berada di rumah sepanjang hari.
Setelah makan malam, Damia pun bersiap untuk berangkat bekerja.
Saat sedang bersiap di dalam, karena teringat kalau Angga akan menjemput untuk mengantarnya pergi bekerja ke rumah sakit, Damia pun berinisiatif untuk mengirim pesan.
^^^To: Angga.^^^
^^^Angga, aku sedang bersiap untuk berangkat bekerja.^^^
Setelah pesan berhasil terkirim, rupanya langsung ada telepon masuk dan itu adalah telepon masuk dari Angga.
Damia pun langsung mengangkat telepon dari sang kekasih hati.
"Halo."
"Halo, Damia. Aku tidak mengganggu kamu yang sedang bersiap, kan?"
"Tidak kok. Omong-omong, kamu jadi datang untuk mengantar aku pergi bekerja ke rumah sakit tidak? Kalau tidak juga tidak apa-apa. Aku bisa berangkat kerja sendiri."
"Jadi kok. Ini aku sedang di jalan. Aku menelepon kamu untuk beri tahu kalau kamu jangan pergi kerja dulu sebelum aku datang jemput kamu."
"Oke, tapi tolong ... lain kali jangan biasakan menelepon saat sedang berkendara. Itu tidak baik. Lalu, karena kamu sudah di jalan ... nanti kamu berhenti di luar gerbang kompleks saja. Karena biasanya kalau malam hari, kalau bukan kendaraan penghuni kompleks, tidak diperbolehkan masuk."
"Kalau begitu, nanti aku tunggu di luar gerbang kompleks. Nanti aku hubungi kamu lagi."
"Ya, karena kamu sudah beri tahu aku kalau kamu akan datang, lebih baik kamu tutup saja teleponnya dan fokus saja berkendara."
"Ya sudah, kamu saja yang tutup teleponnya, Damia."
"Hati-hati di jalan."
Tut!
Telepon diputus oleh Damia setelah menyampaikan pesan singkat.
Usai bersiap, Damia langsung pamit untuk berangkat pergi bekerja.
"Ibu, Ayah, aku berangkat kerja dulu," kata Damia
"Damia, kamu sudah mau berangkat kerja? Apa mau Ayah antar?" tanya Ayah Dodi
"Tidak perlu, Ayah. Aku sendiri saja. Nanti katanya ada teman yang mau mengantar aku bekerja. Dia menunggu aku di gerbang kompleks," jawab Damia
"Apa itu teman yang kemarin pergi jalan-jalan sama kamu, Damia?" tanya Ibu Rita
"Iya, Bu. Kalau begitu, aku pamit dulu," jawab Damia yang langsung berpamitan.
"Hati-hati di jalan, ya," pesan Ibu Rita dan Ayah Dodi secara bersamaan.
Damia pun beranjak pergi ke luar dari rumah. Meski Angga belum mengabari kalau lelaki itu sudah sampai di gerbang kompleks, Damia berinisiatif untuk lebih dulu pergi ke gerbang kompleks dan menunggu sang kekasih di sana.
"Apa Ibu tahu siapa teman yang dimaksud Damia itu?" tanya Ayah Dodi
"Ibu tidak tahu, Ayah. Ibu hanya sempat melihat kalau teman Damia itu lelaki," jawab Ibu Rita
Tiba di gerbang kompleks, Damia menunggu kedatangan Angga di sana.
"Neng Damia, mau berangkat kerja, ya? Masuk shift malam, ya, Neng? Tidak diantar naik mobil sama pacarnya?" tanya penjaga gerbang kompleks.
"Iya, Pak Amin. Saya juga lagi menunggu Angga datang untuk antar saya pergi kerja," jawab Damia
"Perhatian sekali pacarnya, Neng. Sudah berapa lama pacarannya?" tanyanya
"Masih belum lama, Pak," jawab Damia
"Itu, pacarnya Neng Damia sepertinya datang," katanya saat melihat mobil yang pernah melintas datang untuk mengantar Damia pulang ke rumahnya.
"Kalau begitu, saya berangkat kerja dulu, ya, Pak. Permisi ... " ujar Damia
"Ya, hati-hati di jalan, Neng."
Damia pun menghampiri mobil yang berhenti tak jauh darinya itu dan membuka pintu mobil untuk masuk ke dalamnya.
"Selamat malam, Damia!" seru Angga menyapa.
"Selamat malam juga," balas Damia
"Apa kita langsung berangkat sekarang saja?" tanya Angga
"Ya. Kamu ingat jalan menuju ke rumah sakitnya, kan?" tanya balik Damia
"Ingat kok. Kalau begitu, bersiap dan pakai sabuk pengamannya," jawab Angga
Setelah memastikan Damia memakai sabuk pengaman, Angga pun mulai melajukan mobil miliknya menuju ke rumah sakit tempat sang kekasih bekerja sekaligus tempat dirinya sempat dirawat.
"Besok, apa mau aku jemput saat kamu pulang kerja?" tanya Angga
"Tidak perlu. Terkadang kalau sibuk, jam pulang kerja aku jadi diundur. Lagi pula, kan, kamu harus kuliah," jawab Damia
Setelah terus melaju, Angga pun menghentikan laju mobil miliknya di halaman parkir dalam rumah sakit.
Damia pun beranjak turun dari mobil dan Angga pun ikut beranjak ke luar dari dalam mobil untuk menghampiri sang kekasih.
"Padahal kamu tidak perlu masuk ke dalam, sayang kalau harus bayar parkir padahal kamu langsung pergi lagi setelah masuk. Kan, aku bisa jalan masuk sendiri," ujar Damia
"Tidak apa-apa. Kan, sebelumnya kamu sudah berjalan dari rumah ke gerbang kompleks, kali ini biar aku mengantar kamu sampai depan rumah sakit supaya kamu tidak terlalu banyak berjalan dan merasa lelah. Kalau hanya bayar parkir aku masih bisa," ucap Angga
"Ya sudah, setelah ini kamu langsung pulang ke rumah dan istirahat. Jangan mampir ke mana-mana lagi. Besok tidak perlu jemput aku, kuliah saja yang benar," kata Damia
"Kamu juga yang semangat kerjanya. Jangan lupa makan. Kalau begitu, aku pulang dulu," ujar Angga
Saat itu, ada yang melihat Damia dan Angga dari kejauhan dengan tatap mata tidak suka.
Lelaki berjas dokter itu tampak menahan amarah sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Raff, kamu kenapa berhenti? Apa yang kamu lihat?" tanyanya, seorang gadis berseragam perawat.
Tidak mendapat jawaban, seorang suster itu pun mengikuti arah pandang sang dokter yang merupakan kekasihnya.
Setelah itu, suster itu tampak menahan cemburu saat melihat siapa yang dipandangi oleh sang kekasih.
"Itu, kan, Damia. Lagi-lagi Damia! Kamu sudah putus sama Damia, tapi saat melihatnya saja kamu bisa langsung tidak peduli pagi sama aku. Apa sebenarnya kamu masih cinta sama Damia? Lalu, apa perasaan kamu untuk aku, Raffa? Apa kamu tidak cinta sama aku?" batinnya
Suster tersebut tampak lsngsung menunduk dengan perasaan kesal.
.
Bersambung.