
Raisa yang memilih kembali ke rumah Angga, terjebak macet di perjalanan saat menaiki taksi.
"Maaf, Mba. Jalannya macet. Saya cuma bisa lewat sini sambil ikuti map karena baru pertama kali ke wilayah ini," ucap sopir taksi
"Tidak apa-apa, Pak. Saya juga baru beberapa kali lewat sini, jadi tidak tahu jalan alternatif lain. Nanti juga macetnya terurai," kata Raisa
Raisa yang memang baru tahu rumah Angga saat ditugaskan untuk menjadi perawat rumahan hanya bisa menunggu macet terurai karena baru beberapa kali ke sana.
Di rumahnya, Angga sedang bersiap untuk berenang. Lelaki itu terlebih dulu melakukan peregangan dan pemanasan sebelum akhirnya melompat ke dalam kolam renang.
Hatinya masih saja terasa perih dan kacau saat tahu Damia sudah memiliki kekasih. Dalam keadaan seperti itu, Angga memang suka sekali berenang untuk menenangkan diri dan hatinya.
Usai melakukan peregangan dan pemanasan, Angga pun menceburkan diri dan melompat masuk ke dalam kolam renang. Tidak langsung bergerak berenang, Angga lebih dulu melakukan gerakan kecil untuk membiasakan diri dengan suhu air di dalam kolam renang. Bersentuhan langsung dengan air membuat Angga menjadi lebih tenang secara perlahan. Tak cukup dengan itu, Angga menenggelamkan diri dan menyelamkan seluruh tubuhnya ke dalam air.
Dengan melakukan pernafasan yang baik di dalam air, Angga mencoba untuk merasakan ketenangan dan menyatukan diri dengan seisi air kolam renang agar bisa membuatnya semakin relax. Saat itu, Angga memejamkan kedua matanya dan tiba-tiba saja ada potongan-potongan memori yang kembali teringat secara acak dengan cepat.
Kepala Angga kembali berdenyut nyeri. Dalam keadaan itu, memori yang kembali membuatnya semakin tenggelam masuk ke dasar air kolam renang. Angga mencoba mengendalikan diri. Namun, rasa sakit di kepalanya membuat lelaki itu kesulitan.
..."Apa-apaan ini? Apa yang hilang dan apa yang teringat kembali? Aku tidak bisa melihat dengan jelas ke dalam potondan memori yang muncul terlalu mendadak ini. Kepalaku rasanya sakit lagi. Padahal aku ingin menenangkan diri, tapi apa aku akan mati?" batin Angga yang menyadari dirinya sulit untuk kembali ke permukaan kolam....
Potongan-potongan memori yang muncul kembali pada ingatannya bercampur dengan suara bising dari memori tersebut yang mengiang-ngiang di telinganya menambah rasa sakit pada kepalanya. Namun, ada suatu suara yang terdengar lebih jelas dari semua suara bising itu. Suara itu terus memanggil namanya.
"Angga ... kamu di mana?"
Suara itu seolah memberinya tenaga dan kekuatan hingga membuat Angga tersadar dan mampu kembali bergerak ke permukaan kolam.
"Angga!"
Phuah~
Angga kembali muncul dan mengeluarkan kepalanya dari dalam air ke permukaan kolam renang. Saat membuka kedua matanya, Angga melihat sosok Damia yang telah berjongkok di tepi kolam renang.
"Damia ...."
"Angga, aku panggil dari tadi tidak menyahut sama sekali, ternyata sedang berenang di sini," ujarnya, suster cantik itu.
"Maaf, tadi aku tidak dengar," sahut Angga
"Tentu saja, kamu tidak dengar. Kamu sangat asik berenang. Untung saja kamu tidak mengunci pintu masuk di depan, jadi aku bisa langsung masuk ke dalam. Tapi, apa tidak masalah pintu tidak dikunci seperti itu? Bagaimana kalau yang masuk bukan aku, tapi orang jahat?" tanya Damia
"Ya, lain kali jika aku benar-benar sedang sendiri, aku akan mengunci pintu masuk rumah," jawab Angga
"Ya, lebih baik seperti itu. Tapi, memangnya tidak apa kalau kamu berenang seperti ini? Memangnya kamu sudah merasa fit? Maksud aku, kamu sudah tidak sakit kepala lagi seperti tadi?" tanya Damia lagi.
"Aku suka berenang untuk menenangkan diri," ungkap Angga
..."Barusan tadi aku memang sempat merasa sakit kepala, tapi karena kamu datang sambil memanggil namaku, aku jadi kuat dan bisa menangani rasa sakit itu seperti saat di rumah sakit tadi," batin Angga...
"Ya sudah, terserah kamu saja. Namun, berenangnya jangan terlalu lama dan jangan pakai teknik renang yang sulit," kata Damia
Angga pun hanya mengangguk kecil.
"Tidak, deh. Aku tidak terlalu mahir berenang," jawab Damia
"Oh ... " Angga ber-oh ria.
"Kamu berenang begitu saja tanpa menyiapkan camilan? Apa kau ingin aku siapkan sesuatu untuk camilan?" tanya Damia menawarkan.
"Boleh, deh. Camilan apa saja yang ada di dapur dan sirup jeruk," jawab Angga meminta.
"Baiklah, aku akan menyiapkannya dulu. Tunggulah dan hati-hati berenangnya," kata Damia
Damia pun bangkit berdiri dan beralih dari sana dan langsung menuju ke dapur.
Angga mengusap wajahnya dengan kasar.
"Apa-apaan tadi itu? Kenapa aku malah menawari Damia untuk berenang bersama? Damia tidak mengira aku sedang berusaha menggodanya, kan?" gumam Angga bertanya-tanya sambil merutuki dirinya sendiri.
..."Dipikir-pikir lagi sepertinya aku sudah sangat familiar dengan suara Damia. Suaranya juga seperti yang teringang-ngiang di telingaku saat memori ingatanku sempat kembali secara mendadak dengan tidak jelas tadi. Katanya Damia itu teman aku, kan? Kenapa aku malah melupakannya, ya? Apa dia adalah penyebab dari hilangnya ingatan aku? Tapi, masa, sih?" batin Angga...
"Sudahlah. Semakin berusaha mengingat malah semakin aku tidak bisa ingat. Pusing jadinya. Lebih baik lanjut berenang saja," gumam Angga yang akhirnya memilih untuk melanjutkan aktivitas renangnya.
Di dapur, Damia termenumg sejenak setelah mengambil gelas untuk membuat minuman sirup jeruk.
Tiba-tiba saja, wajah Damia bersemu merah. Suster cantik itu mengibas-ngibaskan kedua tangan di depan wajahnya.
"Kok tiba-tiba aku merasa panas, ya?" gumam Damia
Pikirannya pun kembali melayang saat melihat Angga yang muncul dari dalam air ke permukaan kolam tadi. Teringat jelas postur tubuh Angga yang sedang bertelanjang dada saat berenang. Terlihat mempesona dan memanjakan mata. Sungguh memukau.
Dari tadi, Damia berusaha untuk mengontrol diri agar wajahnya tidak merona di depan Angga dan membuatnya malu.
..."Aku memang tahu kalau Angga memiliki wajah yang tampan, tapi ternyata tubuhnya juga terbentuk dengan bagus," batin Damia...
"Apa yang sedang kau pikirkan, Damia? Sadarlah kalau kau sudah punya Raffa sebagai tunanganmu. Jangan berpikiran mesum. Fokus saja merawat Angga supaya ingatannya bisa pulih kembali," gumam Damia
Damia pun lanjut membuat sirup jeruk dan mengambilkan camilan yang ada dan menaruhnya di as piring. Setelsh itu, Damia kembali menuju ke kolam renang untuk mengantar camilan dan minuman itu pada Angga.
Di kolam renang, Angga mulai fokus untuk bergerak berenang. Namun, baru beberapa kali menggerakkan tunuhnya untuk berenang, potongan-potongan memori kembali terlintas pada ingatannya. Kali ini lebih absurd dan berputar dengan sangat cepat. Rangkaian suara dari masa lalu juga ikut muncul kembali hingga terasa memekakkan telinga padahal suasana kolam renang sangat tenang.
Rasa nyeri kembali menyerang kepalanya secara tiba-tiba. Dalam kondisi seperti itu, tubuh Angga jadi menegang karena berusaha menahan rasa sakit di kepalanya. Bahkan kaki Angga juga ikut merasakan dampaknya dan jadi terasa kram. Angga yang tak kuasa untuk bergerak, perlahan mulai tenggelam. Namun, sebelum benar-benar tenggelam, Angga sempat memekik kesakitan.
ARGHH!!
Damja yang mendengar suara teriakan langsung terkejut.
"Suara apa itu barusan? Bukan dari Angga, kan? Dia baik-baik saja, kan?" tanya Damia bergumam.
Damia pun mempercepat langkahnya dan menemukan Angga yang sedang tenggelam di dalam kolam renang.
.
Bersambung.