AYU

AYU
Berlalu Tanpamu



Hari-hari berlalu setelah kepergian mama Ayu, masih banyak orang dirumah, tapi rumah terasa masih saja sepi. Ayu tersenyum melihat foto mamanya yang terpanjang di dinding ruang keluarga. Terpampang jelas wajah mama Ayu yang sangat cantik. Wajah itu kini tidak bisa lagi disentuh dan dibelai, hanya dapat dilihat dan dikenang.


" aku harus kembali... Kamu mau tetap disini atau kembali kerumah bersama ku ? " kata Boy yang tiba-tiba mengagetkan Ayu


" apa boleh aku disini lebih lama ? " kata Ayu


" Tentu saja, kembalilah ketika kamu sudah ingin kembali." kata Boy


Ayu tersenyum dan mendekap tubuh suaminya itu, dia sangat bersyukur memiliki suami yang pengertian seperti Boy. Boy merapikan baju-baju ke dalam koper, disana ada Ayu dan Zayn yang duduk tepat didepan koper, Zayn memaikan pakaian yang membuatnya rusak kembali.


" sayang.... jaga mama baik-baik ya, jangan biarkan mama sedih ! " kata Boy sambil mengendong anaknya itu


Ayu tersenyum, Boy terlihat sangat dekat dengan Zayn hari ini, padahal sebelumnya tidak begitu. Setelah selesai merapikan koper, Ayu mengantar Boy kedepan. Dia dan Zayn melambaikan tangan melepas kepergian suaminya itu. Dalam pelukan Ayu, Zayn juga melambai pelan.


Belum juga sampai, Novi sudah menghubungi Boy. Diperjalanan Boy sempat mengangkat panggilan dari Novi tapi karna sinyal tidak begitu bagus suara Novi tidak terdengar dengan jelas. Boy mengabaikan panggilan itu dan kembali melanjutkan perjalanan. Pikir Boy, Novi sudah tidak sabar bertemu dengannya.


Setelah lama sekali akhirnya Boy sampai dirumah. Novi sudah menunggu didepan rumah. melihat mobil Boy terparkir Novi langsung bergegas mendekati Boy.


" Ada apa sih, kenapa tidak sabar sekali ? " kata Boy merayu Novi


" Ayo cepat masuk, aku sedang tidak bercanda. Ada hal penting yang harus kamu tahu." kata Novi sambil menarik tangan Boy masuk kedalam rumah.


" Hentikan ada apa, kamu tidak sabar ya ? "kata Boy kembali merayu Novi.


Boy duduk tidak berdaya, dia memikirkan cara bagaimana dia menjawab semua pertanyaan polisi besok, untung saja Ayu belum kembali ke rumah kalau Ayu kembali hari itu dia akan terkena masalah. Masalahnya Ayu tidak tahu kalau Boy memiliki Vila di perbukitan itu.


Keesokan harinya Boy pergi ke kantor polisi memenuhi panggilan, Boy berkata kalau dia memang memiliki vila disana. Tapi dia tidak berada disana saat kejadian dia masih berada di rumah sakit melakukan sebuah operasi. Setelah selesai melakukan operasi dia pergi ke hotel X untuk beristirahat sebelum kembali ke rumah.


Setelah mendengar penjelasan Boy, polisi mengecek ke rumah sakit dimana Boy bekerja. Disana terdapat dafta Boy melakukan operasi jam-jam kejadian kecelakaan. Lalu polisi juga mengecek hotel X, disana juga ada nama Boy. Setelah semua selesai Boy dinyatakan bersih dan diperbolehkan keluar.


Entah apa yang terjadi sebenarnya mengapa nama Boy bisa terdaftar sebagai dokter yang melakukan operasi saat itu. Ternyata Boy memang dijadwalkan melakukan operasi tapi dia tidak bisa hadir dan digantikan oleh dokter lain. Boy beruntung sekali.


Novi sudah menunggu Boy di luar dengan perasaan yang cemas. Tapi rasa cemas itu hilang ketika melihat Boy keluar, Novi berlari menghampiri Boy, dia bersyukur Boy dapat lolos dalam tuduhan itu.


Disini lain, papa Ayu sedang duduk termenung. Di matanya selalu terbayang sosok istri yang selama ini menemaninya. Ketika pagi sarapan bersama, minum teh ditaman bersama, saat bercanda bersama bahkan saat tidur bersama. Papa Ayu memang merasa sangat kehilangan atas kepergian istri tercintanya itu.


Demi Ayu dia harus kuat, bukan hanya dia yang sedih dan merasa kehilangan tapi juga semua orang disana merasakan hal yang sama. Seisi rumah serasa sangat berduka, tidak ada lagi senyuman. Bahkan para pekerja dirumah itu pun merasakan hal yang sama. Rumah itu sekarang menjadi kosong, tidak ada lagi kebahagian disana.


Kesunyian pecah ketika mendengar suara tawa dari Zayn yang sedang bermain dengan bi Inah. Suara Zayn terdengar oleh seisi rumah yang membuat kesunyian berubah. Papa Ayu menghampiri Zayn yang bermain di ruang tengah. Dia tersenyum melihat cucunya yang tengah asik bermain.


Meskipun dengan berat, hari-hari akan berlalu. Meski tanpa sosok pendamping disisi sang tuan rumah. Hari-hari tetap harus berlalu. Tanpa sebuah dorongan dia harus bisa bertahan, pikir papa Ayu.


Hari-hari berlalu, meski masih tersisa kesedihan yang mendalam. Papa Ayu mencoba kembali beraktifitas, dia berdiri didepan rumah melihat Zayn sedang digendong oleh bi inah. Dari jauh terlihat Ayu yang berjalan mendekat sambil membawa semangkok bubur untuk Zayn. Senyuman kembali terlihat diwajah Ayu. Zayn adalah kekuatan untuk Ayu, dan Ayu adalah kekuatan untuk papanya.