AYU

AYU
Yang tak terduga



Hari ini sesuai permintaan mama Ayu, Heni pergi mencari keberadaan Boy.


" Apa aku harus melakukan semua ini ya." gumam Heni


Sudah tiga bulan lebih Heni berada dikota yang sama dengan Boy, tapi dia tidak pernah penasaran dengan kehidupan orang lain, apa lagi Boy.Kalau bukan karena permintaan mama Ayu dia tidak pernah berfikir aneh-aneh tentang Boy, meskipun dari awal Heni tidak menyukai Boy tapi dia berharap yang terbaik untuk sahabatnya dan tidak mau berfikiran negatif.


Heni naik bus menuju rumah sakit dimana Boy bekerja.Tidak sulit menemukan rumah sakit dimana Boy bekerja karena disana adalah rumah sakit terbesar dikota X.


Heni masuk kedalam rumah sakit yang begitu besar dan memperhatikan sekeliling kalau dia melihat Boy.


" Rumah sakit ini sungguh sangat besar." gumam Heni


Heni berjalan menyusuri lorong, karena sulit menemukan keberadaan Boy dia bertanya kepada seorang suster penjaga.


" Mbak...maaf mau tanya ruangan dokter Boy ada dimana ya.?" tanya Heni


" Dari sini terus saja mbak, sampai diujung tiga pintu dari kanan itu adalah ruangan dokter Boy." kata seorang suster


" Baik mbak, terima kasih." kata Heni sambil memberi salam dan pergi meninggalkan suster itu.


Heni menuju ruangan yang ditunjukan oleh suster tadi, dia mengintip dari balik kaca yang ada dipintu ruangan Boy.


Disana dia melihat Boy tengah memeriksa seorang pasien wanita.


Tidak ada yang salah dengan tingkah Boy, dia terlihat wajar seperti seorang dokter yang sedang memeriksa pasiennya.


Heni menghela nafas panjang dan dia pergi meninggalkan ruangan Boy tanpa menemui Boy terlebih dulu.


Sampai diluar Heni menelpon mama Ayu memberikan kabar kalau tidak ada yang mencurigakan dari perilaku Boy.


Setelah menelpon mama Ayu, Heni duduk sebentar dibangku taman rumah sakit untuk menenangkan hatinya.


Heni duduk sambil melihat ke atas membayangkan kalau saja dia menemukan hal yang aneh pada Boy, Heni tersenyum diujung bibirnya dia berfikir kalau semua itu terjadi maka habislah Boy.


Heni kembali menghela nafas dia berdiri dan beranjak dari tempat.Dia menghentikan langkahnya tertegun melihat apa yang ada didepannya.


Heni melihat Boy keluar dari rumah sakit bersama dengan seorang wanita yang mengandeng tangannya dengan mesra.


" Boy...apa aku tidak salah lihat." gumam Heni


Heni menghentikan taksi dan bergegas masuk kedalamnya menyuruh pak supir mengikuti mobil Boy yang ada didepannya.


Heni terus mengikuti mobil Boy dan berhenti disebuah cafe kecil yang ada dipingiran kota.


Dengan mesra Boy membukakan pintu mobilnya dan mengulurkan tangannya.


Heni masih tidak percaya dan terus menatapnya.


Boy turun dan masuk kedalam cefe itu, Heni ikut masuk dia duduk jauh dari Boy tapi masih bisa melihat Boy dan wanita itu.


" Siapa wanita itu." gumam Heni


Heni mengambil ponselnya dia memotret Boy dengan wanita itu dari kejauhan.Tatapan wanita itu kepada Boy terlihat seperti seorang wanita kepada kekasihnya senyuman dimatanya mengambarkan kebahagian diantara mereka.


Tangan mungilnya mulai memegang tangan Boy dengan lembuh, terlihat Boy tidak menolaknya berarti memang ada hubungan yang spesial diantara mereka, setidaknya begitulah yang difikirkan Heni saat ini.


Heni melihat foto dalam galerinya, dia bermaksud mengirim foto itu kepada Ayu tapi entah kenapa tangannya terhenti dia merasa tidak tega kepada Ayu sedangkan saat ini dia sedang fokus kepada pekerjaan dan studynya.


Heni mengurungkan niatnya, dia kembali meletakkan ponselnya dan menikmati makanan yang sudah dipesannya sambil terus melihat tingkah Boy dengan wanita itu.Heni semakin geram melihat tingakah Boy yang semakin berani.


Mereka kaluar dari dari cafe Heni terus saja mengikuti mereka.Mereka menuju komplek perumahan dimana rumah Boy dan Ayu berada Heni berhenti membiarkan Mobil Boy pergi jauh.Kemarin dia mendapatkan alamat rumah Ayu dan Boy dari mama Ayu.Heni berfikir mungkinkan Boy dan wanita itu tinggal dalam satu rumah.


" Mungkin mereka tinggal dikomplek yang sama." gumam Heni


Tidak jauh Heni menemukan mobil yang dikendarai Boy tadi terparkir didepan sebuah rumah yang cukup mewah, Heni melihat alamat yang diberikan mama Ayu sama persis dengan alamat rumah didepannya.


Hari sudah hampir gelap Heni mengendap-gendak masuk kedalam halaman rumah Boy.


Entah apa yang dipikirkan Heni sampai dia mau mengendap-ngendap seperti seorang maling.


" Semua ini demi Ayu, kalau bukan demi dia aku tidak akan melakukan semua ini." gumam Heni sambil melihat kesekeliling.


Heni melihat dari kaca jendela rumah Boy, dia melihat Boy sedang berduaan dengan wanita itu disebuah ruangan.


Heni segera mengambil ponsel dan mengambil gambar mereka sebagai bukti suatu saat nanti.



Heni berjalan perlahan-lahan meninggalkan rumah Boy.Sambil berjalan dia terus melihat galeri dalam ponselnya dia terlihat samgat marah sambil sesekali mengumpat Boy.


Heni tidak sabar untuk memberitahu Ayu tentang kelakuan suaminya itu, tapi Heni kembali berfikir kalau dia memberitahu Ayu pikiran Ayu akan terganggu, dia tidak akan fokus kepada pekerjaan dan studynya.


" Tidak...tidak aku tidak ingin masa depan Ayu hancur.! tapi aku tidak tahan menyimpan semua ini sendiri." gumam Heni sambil sesekali berhenti dan menghentakkan kakinya.


Heni binggung harus bagaimana.Demi masa depan Ayu dia berjanji akan menyembunyikan kelakuan Boy selama 3 bulan kedepan setelah Ayu lulus dan menjadi sarjana kedokteran yang sangat hebat dia akan memberitahu Ayu tentang kelakuan Boy yang sebenarnya.


Heni melihat kesekeliling sangat sepi, jarang sekali ada mobil lewat bahkan taksi yang lewat pun tidak ada sama sekali.


" Ya tuhan bagaimana aku pulang." gumam Heni sambil melihat kekeliling tidak ada seorang pun


" Kenapa komplek ini begitu sepi, pantas saja Boy bisa membawa pulang wanita dengan mudah."


Tidak ada cara lain, Heni harus mencari bantuan dari temannya untuk menjemput dia sekarang.


Heni terdiam, dia sadar kalau dia tidak ada teman selama berada dikota ini.


Heni mengambil ponselnya dia menelpon Yusuf dan meminta dia untuk menjemputnya.


Yusuf bersedia menjemput Heni, karena dia pun juga khawatir kalau pacarnya berada ditempat yang sepi seorang diri.


Heni duduk ditepi jalan menunggu sang pacar datang untuk menjemputnya.


Tidak lama kemudian Yusuf datang untuk menjemput Heni.


" Maafkan aku merepotkanmu." kata Heni


" Kenapa kamu berada disini, apa yang kamu lakukan bahkan kamu tidak memakai pakaian hangat." kata Yusuf sambil memberikan jaketnya kepada Heni dan mengajaknya masuk kedalam mobil.


" Aku tidak tahu akan sampai malam seperti ini." kata Heni terlihat menyesal.


" Jadi...beritahu aku apa yang kamu lakukan disini malam-malam seperti ini.?" tanya Yusuf


Heni tersenyum, Yusuf mendekat dan menatap Heni.Perlahan Heni menceritakan segalanya kepada Yusuf.Dia tidak ingin menutupi apa pun dari pacarnya itu


" Lain kali, kalau kamu ingin menyelidiki suami teman kamu itu, beritahu aku...aku akan mengantarmu." kata Yusuf sambil mengelua kepala Heni


Heni tersipu malu wajahnya merah dan perlahan mengangguk.


Mereka pun meninggalkan tempat itu.


BERSAMBUNG