
Ayu berkerja seperti biasanya, tapi dia tidak berbicara dengan Juna seperti biasanya.Sebenarnya dia tidak mengiginkan semua ini, tapi dia harus menjauh dari Juna untuk menjaga nama baik dirinya dan keluarganya sebagai istri dari orang lain.
Ayu duduk dibangku taman yang ada dihalaman rumah sakit.Hari ini dia merasa sangat sepi, Dwi dan Adam sedang keliling desa untuk mengecek kesehan warga.Dia tidak bisa mengganggu Difa dan Fahri karena mereka sangat sibuk, apa lagi Juna, mereka harus menjaga jarak untuk sementara waktu.
Ayu menatap langit yang begitu luas, dia merasa sepi duduk disini seorang diri.Sambil melihat keawan Ayu sedikit merasa sedih
Juna melihat Ayu dari balik jendela, sebenarnya dia juga merasa sedih harus menjauh dari Ayu.Tapi ini semua sudah menjadi kesepekatan antara Ayu dan Juna.Juna tidak ingin membuat nama baik Ayu menjadi buruk karena dirinya.
Juna hanya ingin yang terbaik untuk Ayu dan masa depan Ayu selanjutnya.Semoga semua ini cepat berlalu.
" Ada apa?" tanya Fahri.
Fahri mendekati Juna dan melihat apa yang dilihat Juna dari balik jendela itu.Fahri melihat Ayu kemudian melihat kembali kearah Juna, dia membandingkan wajah Juna dan Ayu.
" Apa sih yang kalian pikirkan, menurut kalian ini jalan terbaik?" tanya Fahri
Juna tidak menjawab dia hanya diam, diwajahnya terlihat sekali kalau dia masih ragu dengan sikapnya.Menurutnya ini adalah jalan terbaik untuk Ayu tapi entah apa yang terjadi nanti.
Ayu melihat ponselnya dia mencoba menghubungi Heni, hari ini dia ingin ada teman cerita untuk mengeluarkan semua yang menganjal dihatinya.Tapi setelah dicoba beberapa kali tapi tidak ada jawaban dari Heni.
Ayu mendapat pesan dari Heni
"Aku sedang sibuk, nanti aku telepon balik."
Ayu kembali meletakkan ponselnya, dan menatap langit yang biru.
Hari ini begitu cerah, tapi tidak dengan hatinya.Ayu tidak berani menelpon Boy.Dia berfikir mungkin Boy juga sedang sibuk hari ini.
" Apa yanh sedang kamu pikirkan?" tanya Difa yang tiba-tiba duduk disamping Ayu
" Kak Difa, tidak...hanya saja, kenapa hari ini tidak ada pasien.Aku jadi binggung harus ngapain." kata Ayu
" Kamu tahu tidak, dulu aku sering ada gosip dengan dokter lain, tapi aku tidak pernah memperdulikannya aku hanya fokus kepada pekerjaanku saja." kata Difa
Ayu dan Difa bercerita banyak hal, mereka memang terlihat cocok, saling mengerti dan memahami satu sama lain.Ayu sangat ingin mempunyai seorang kakak dan sekarang dia mendapatkannya.
Selelah beberapa saat Ayu sudah merasa tenang.Dia kembali ceria seperti biasanya.
Ponselnya berbunyi, ketika dia melihat dilayar ternyata telepon dari Boy.
Ayu meminta izin untuk mengangkatnya.Dia berjalan sedikit meninggalkan Difa.
Ayu sangat senang bisa berbicara dengan Boy.Dia sangat merindukan suaminya itu.
Tapi terdengar dari suaranya, sepertinya Boy dia sedang disebuah acara karena kedengarannya sangat ramai.
Ayu bertanya kepada Boy, dia sedang ada dimana Boy menjawab kalau dia sedang ada diseminar.
Tapi pada kenyataannya Boy sedang bersama dengan Novi makan disebuah cafe.
Ayu merasa sepertinya Boy mulai menjauhi Ayu, dia tidak seperhatian dulu lagi.Ayu tidak berfikir hal yang aneh dia hanya berfikir mungkin Boy sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Boy menelpon Ayu hanya untuk memastikan Ayu tidak berfikir hal yang buruk tentang dirinya, dan yang lebih penting Ayu tidak tahu kalau dia memiliki wanita lain saat ini.
Setelah beberapa saat Ayu menutup telepon Boy, dia kembali kedalam dan memeriksa beberapa pasien.
" Dokter Ayu, biar aku saja." kata seorang suster
" Dok...kapan saya boleh pulang?" tanya pasien
" Kita lihat dulu kondisi kamu ya" kata Ayu lembut
Ayu memeriksa kondisi pasien, pasien mengalami radang usus dan beberapa hari lalu Ayu ikut dalam operasi itu.
" tanda-tanda vital sangat baik, luka juga sudah mengering, kamu bisa segera pulang.Tapi sebelum pulang kita lakukan pengecekan USG sekali lagi.Kita tunggu kabar dari dokter Fahri ya." kata Ayu
Pasien tersenyum, dia senang bisa ditangani oleh dokter yang sangat cantik dan ramah seperti Ayu.
Ayu jalan-jalan dilorong, dia melihat pasien-pasien dari kaca pintu, dia melihat ada pasien yang sedang tidur dan ada pula yang sedang berbincang dengan keluarganya.
Ayu sedikit melupakan masalahnya dengan melihat pasien-pasien disini telah menjadi hiburan tersendiri bagi Ayu.
Ayu melihat sosok anak kecil yang sedang bernyanyi untuk ibunya yang sedang berbaring ditempat tidur.Keluarga yang lain tersenyum dan bertepuk tangan mengiringi sang anak bernyanyi.Sang ibu yang berbaring terlihat tersenyum begitu bahagia.
Hal-hal kecil seperti ini membuat Ayu merasa rindu dengan keluarganya, meskipun disini dia memiliki teman yang menganggapnya seperti saudara sendiri tapi mereka tidak bisa menggantikan sosok keluarga dalam hati Ayu.
Ayu masuk kedalam ruangan, semua orang terdiam karena melihat kehadiran Ayu.
" Kenapa berhenti, aku hanya senang dan ingin ikut mendengarkan." kata Ayu
Dengan malu-malu sang anak bersembunyi dipunggung sang Ayah.
Ayu tersenyum, dia mencoba meraih tangan sang anak yang berusia sekitar 6 tahuanan itu.
" Sayang, jangan takut dokter hanya ingin mendengar kamu bernyanyi." kata Ayu
Sang ayah mencoba menjelaskan kepada sang anak, perlahan sang anak keluar dari balik punggung ayahnya.
" Apakah ibuku baik-baik saja, kenapa dokter kesini." kata sang anak perlahan
" Tidak sayang, ibu kamu akan sembuh, apalagi kamu sudah memberikan obat yang sangat mujarab untuk ibu kamu." kata Ayu duduk jongkok didepan sang anak
" Tapi aku tidak memberikan ibu obat apa pun, kata ibu obatnya sangat pahit, apalagi ayah harus bekerja keras mendapatkan uang untuk membeli obat ibu." kata sang anak
Ayu melihat pasien yang berbaring sedang memalingkan wajah menyembunyikan air mata yang keluar dari matanya.
Ayu berdiri menghampiri pasien dia mulai mengecek dan melihat kondisi pasien.
" Sayang, ibu kamu akan segera sembuh, karena dia mendapat obat yang sangat mujarap dari senyuman kamu." kata Ayu
" Dokter apa itu benar, jangan memberikan harapan kosong kepada anak saya." kata pasien sambil memegang tangan Ayu
" Kamu akan sembuh, disini ada dokter penyakit dalam yang sangat hebat, aku yakin dia akan menyembuhkanmu." kata Ayu sambil menepuk-nepuk tangan pasien
" Baiklah...dokter keluar dulu, kamu harus menemani ibu kamu, jaga dia baik-baik ya." Ayu melambaikkan tangan dan keluar dari ruangan itu
" Terima kasih dokter." kata suami dan anak pasien
Ayu keruangan dokter Fahri, dia mencari tahu penyakit apa yang diderita oleh pasien ruangan 6 yang baru saja dia kunjungi tadi.
Dokter Fahri menjelaskan kondisi pasien yang sangat tidak memungkinkan untuk sembuh, dia menderita kangker hati stadium akhir.Dia sudah sangat terlambar saat dibawa kerumah sakit.Dokter Fahri bisa saja melakukan operasi tapi kemungkinan berhasil hanya 40% karena kangker sudah menyebar ke organ lain.
Ayu keluar dari ruangan dokter Fahri dengan wajah datar.Dia tidak tahu harus bagaimana.Ayu berjalan dan melewati ruangan 6, terlihat wajah sang anak tampak bahagia dia memeluk sang ibu dan ayahnya.
Air mata Ayu menetes, dia tidak tahan melihat keluarga itu.Apalagi melihat sang anak yang tubuh tanpa seorang ibu disampingnya.
BERSAMBUNG