AYU

AYU
Hari terakhir



Ayu membuka matanya, dia melihat Boy masih tertidur disampingnya, Ayu mendekat dan membelai wajah Boy, perlahan tangan Ayu menelusuri wajah Boy dari mata sampai bibirnya.


Tiba-tiba tangan Boy menahan tangan Ayu dan membuka matanya, Ayu menjadi salah tingkah dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Boy.


" Apa kamu ingin sarapan pagi." Kata Boy sambil mengubah posisinya dan sekarang tubuhnya sedikit menindih tubuh Ayu.


Ayu menutup matanya dan menghindari Boy.


" Maafkan aku suamiku." kata Ayu.


" Sayang sekali maafmu tidak aku terima." kata Boy


Boy melepaskan tangan Ayu, tapi kakinya menahan tubuh Ayu dan menutupi tubuh mereka dengan selimut.


Setelah pertempuran mereka diranjang, Ayu kekamar mandi untuk bersiap-siap.


Ayu bercermin dia melihat bekas merah pada lehernya.Dia tahu ini bukan pertama kali tapi mengapa Boy melakukannya ketika dia akan pergi.


Boy sudah bangun, dia duduk ditempat tidur menunggu Ayu keluar dari kamar mandi.


Tidak lama Ayu membuka pintu kamar mandi dia melihat Boy tengah duduk dan menatap kearahnya.


" Aku sudah selesai sekarang pergilah mandi." Kata Ayu


Boy hanya diam tidak menjawab kata-kata Ayu dia berdiri dan berjalan menuju kearah Ayu dan menjatuhkan diri kepada Ayu.


" Ada apa, apa kamu sakit." kata Ayu


" Aku tidak kamu pergi, aku ingin kamu disini bersamaku selamanya." kata Boy


Ayu tersenyum, dia mengangkat wajah Boy yang terbenam dipundaknya.


" Aku akan segera kembali." kata Ayu


Boy mengerakkan kelapanya dan mengarahkan bibirnya menuju leher Ayu.Sepontan Ayu mundur dan menghindari Boy.


" Apa yang kamu lakukan?" kata Ayu


" Aku ingin memberikan stempel kepemilikanku padamu." Kata Boy


Ayu membuka sedikit handuknya dan menunjukan tanda yang ditinggalnya Boy tadi pagi


" Seperti ini?" kata Ayu


Boy memasang wajah melas sambil menganggukkan kepalanya.Dia terlihat begitu sedih.


" Cukup ini, sayang kamu kan tahu hari ini aku harus berangkat kekota x, aku tidak ingin membuat kesan buruk disana, kamu mengerti kan?" kata Ayu


Boy menghembuskan nafas panjang dan berjalan meninggalkan Ayu menuju kamar mandi.


Ayu tersenyum melihat tingkah Boy yang seperti anak kecil hari ini.


Ayu sudah berganti baju dan memasukkan beberapa pakaiannya kedalam koper.Boy keluar dari kamar mandi, dia segera bergegas dan segera mengatan Ayu kebandara.


" Ini, disana sangat dingin kamu butuh lebih banyak baju tebal." kata Boy sambil membantu Ayu memasukkan pakaian kedalam koper.


Ayu tertegun melihat Boy terus memasukkan baju kedalam kopernya.


"Cukup..."kata Ayu sambil menahan tangan Boy memasukkan lebih banyak lagi baju kedalam koper Ayu.


Boy tersadar dari lamunannya, ketika Ayu akan pergi meninggalkannya dia baru sadar kalau Ayu berarti dalam hidupnya.


Setelah selesai Boy mengantar Ayu pergi kebandara, dalam perjalanan Ayu menelpon Papa dan mamanya berpamitan untuk pergi kekota x untuk KKNnya.Dia langsung berangkat karena waktu begitu mepet. Kedua orang tua Ayu pun menyadarinya, mereka mendoakan yang terbaik untuk Ayu disana.


Tidak lama mereka sampai dibandara, Boy membawakan koper Ayu.


" Kenapa ringan sekali.?" kata Boy


" Aku hanya membawa beberapa potong baju saja." kata Ayu


Sebelum Ayu masuk Boy memeluk Ayu dengan erat. Dia mengeluarkan syal dan memakaikannya dileher Ayu.


" Jaga dirimu baik-baik disana, jangan lupa pakai baju hangat." kata Boy


" Hemmm."


Kata Ayu sambil melambaikan tangannya dan masuk kedalam.



Sebentar lagi pesawat akan mendarat dibandara kota X, Ayu melihat awan yang ada dibawahnya begitu indah dengan cahaya senja yang menawan.


Sebenarnya Ayu sangat senang ditugaskan kedaerah ini karena dia sangat menyukai suasana alam yang masih terjaga.Selain dia akan ada 2 orang lagi bersamanya yaitu Dwi dan Adam.


Mereka berjanji akan bertemu dibandara dan berangkat ke desa bersama-sama.


"Ayu..." panggil Dwi



Ayu berjalan mendekati Dwi dan Adam yang sudah menunggu disebrang, sepertinya sudah lama mereka menunggu Ayu terlihat wajah Adam yang begitu lelah.


" Maafkan aku...kalian sudah lama menunggu." kata Ayu


" Tidak apa-apa, bukan salah kamu." kata Dwi


" Maksud kamu ini salah pesawatnya.?" kata Adam


Mereka pun tertawa bersama-sama.Ayu memeluk Dwi karena sudah lama juga mereka tidak bertemu meskipun mereka tidak begitu dekat tapi mereka tetap menjalin hubungan baik.


Begitu pula dengan Adam


" Apa kamu lapar.?" tanya Ayu


" Kami menunggu kamu untuk makan bersama." kata Dwi


" Baiklah...Ayo kita cari makan." kata Adam


Mereka memanggil taksi dan mencari sebuah restoran yang enak tidak jauh dari bandara karena mereka sudah sangat lapar.


Adam bertanya kepada pak supir taksi tentang rumah sakit yang menjadi tujuan mereka.Pak supir memberitahu kalau rumah sakit itu sangat jauh mungkin malam hari mereka akan sampai disana.


Rumah sakit itu terletak jauh diatas bukit, pak supir taksi juga berkata baru-baru ini datang seorang dokter muda dari kota yang sangat pandai dan cekatan dalam menangani pasien.


Pak supir bercerita kalau dia sering mengantar pasien datang kerumah sakit itu meski jauh, tidak hanya berobat ada juga yang datang kesana hanya untuk melihat dokter dari kota yang sangat tampan itu.


Mereka bertiga tersenyum dan penasaran seperti apa dokter yang dibicarakan oleh pak supir yang terdengar begitu hebat dan tampan.


" Rumah sakit itu akan lebih ramai kalau aku ada disana." kata Adam dengan bangga


Ayu dan Dwi sepontan melihat kearah Adam yang merapikan bajunya.


" Jadi adik-adik ini juga dokter yang akan bekerja disana." tanya pak supir


" Iya pak." kata mereka serentak


" Rumah sakit itu akan maju jika dokter yang bekerja seperti adik-adik ini." kata pak supir


Tidak lama mereka sudah sampai disebuah restoran.Mereka turun.Adam memberitahu pak supir untuk menunggu mereka agar nanti bisa sekalian mengantar mereka kerumah sakit itu.


Dengan senang hati pak supir akan menunggu mereka.karena rumah pak supir juga tidak jauh dari rumah sakit itu.


Mereka mulai memesan makanan, dengan cepat mereka memakan makanannya agar bisa segera melanjutkan perjalanan kerumah sakit tujuan mereka.


Tidak lama mereka kembali ketaksi, Adam mengetuk kaca mobil kemudian pak supir membukakan pintunya.Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit.


Butuh waktu lama menuju rumah sakit itu, jalanannya juga sangat sepi ketika malam hari, hanya lampu jalan yang mulai redup yang menerangi jalanan.Tidak ada perumahan atau pun bangunan-bangunan.


Ayu dan Dwi tidak berani melihat keluar, sedangkan Adam terus berbicara dengan pak supir.


" Jadi bapak tinggal di daerah sini juga." kata Adam


" Iya den, tidak jauh lagi ada sebuah perkampungan disana bapak dan keluarga tinggal." kata supir itu


" Nama bapak siapa.?" tanya Ayu


"Nama saya Udin non." kata pak Udin supir taksi itu.


Tidak lama mereka melihat lampu-lampu diperbukitan, Ayu menghela nafas panjang setelah melihat banyak lampu kelap-kelip didepannya.


" Panjang sekali nafasmu Yu." kata Adam


Ayu hanya tersenyum, sedangkan Dwi terus mendekap lengan Ayu dan tidak berani melihat keluar.


Akhirnya mereka sampai diasrama milik rumah sakit, Ayu mengoyang-goyangkan tubuh Dwi yang dingin bagaikan es karena ketakutan.


Ketika turun Dwi lebih takut lagi melihat kondisi asrama yang sangat seram.Dia terus mendekap lengan Ayu dan menyembunyikan wajahnya


Pak Udin mengeluarkan koper mereka dan mengantarkannya masuk kedalam asrama.Mungkin karena malam hari asrama tampak begitu sepi dan seram atau karena memang tidak ada manusia yang menghuninya dan dihuni oleh makluk lain.


Adam memberi salam dan mencari petugas yang menjaga dikoridor, tapi dia tidak melihat seorang pun yang menjawab.


Dari belakang tiba- tiba ada seorang suster yang berusia cukup tua mengagetkan mereka.Sontak mereka pun menjerit karena kaget.Setelah melihat dengan seksama, mereka lega yang dilihatnya adalah manusia bukan hantu.


Suster itu bernama Yeni, mereka tahu dari tag nama yang ada didadanya.Dia mengantarkan mereka menuju kamar mereka, disini hanya tinggal satu kamar yang tersisa jadi untuk malam ini mereka tidur disana terlebih dahulu besok akan dicarikan lagi.


BESAMBUNG