AYU

AYU
Dedek Alifa



Ayu dan Boy berangkat kerumah Difa dan Fahri.Ayu tidak dapat menyenbunyikan rasa gembiranya terlihat jelas sekali sepanjang perjalanan senyuman selalu terlihat diwajah Ayu.


" Kamu terlihat senang sekali." kata Boy


" Aku akan bertemu dengan anak kak Difa, aku sudah tidak sabar ingin sekali segera bertemu dengannya." Kata Ayu sambil terus saja tersenyum


Boy juga merasa senang, awalnya dia sangat khawatir karena pihak bandara sempat tidak memperbolehkan Ayu naik pesawat karena kondisi sendang hamil muda.Untung saja Boy bisa meyakinkan para pegawai disana kalau tidak Ayu akan murung berhari-hari bahkan entah sampai kapan.


Ayu melihat keluar jendela, mengingat-ingat tempat yang pernah dia lewati selama berada disini.Ayu mengenang kembali masa-masa itu dengan senyuman yang terus saja terpancar dari wajahnya yang manis.


Ayu sudah memberitahu Difa kalau dia akan datang bersama Boy, jadi mereka langsung menuju rumah Fahri.


Setelah sampai Ayu turun dari mobil dan melihat kehalaman depan, disana dia biasa belajar dan bercengkrama bersama teman-temannya.


Ayu sempat melihat kearah rumah Boy yang masih tertutup rapat.


dia pasti masih bekerja kan, aku tidak sanggup bertemu dengannya.


Ayu menghela nafas dan masuk kehalaman rumah Fahri sedangkan Boy mengeluarkan kado yang sudah dibungkus Ayu kemarin.


tok...tok...tok


" Kak Difa...aku datang." kata Ayu


Tidak ada suara yang menjawab dari dalam rumah kemudian Ayu mengetuk pintu kembali sambil berteriak lebih kencang.


"Kak Difa buka pintunya aku datang." teriak Ayu


Cekreeeek


suara pintu terbuka


" Jangan keras-keras dia baru saja tertidur." kata Difa pelan


" Oh....maafkan aku." suara Ayu terdengar sangat lirih tidak ingin dedek bayi yang berada digendongan Difa terbangun karenanya.


Difa menyuruh Ayu dan Boy masuk kedalam rumah.


"Maaf ya rumahnya berantakan, kalian pasti lelah istirahat dulu."


" Bi Ina buatkan minuman untuk mereka." kata Difa


" Kakak memperkerjakan seorang pembantu." Kata Ayu


" Bagaimana lagi Yu, aku tidak akan bisa mengurus semua ini sendirian, dulu saat kamu dan Dwi disini kalian yang merapikan rumah." Difa terlihat sangat lelah.


Ayu melihat gadis kecil yang ada dipangkuan Difa, dia sudah tidak sabar ingin sekali mengendongnya.


" Kalian akan menginap kan?" tanya Difa


Ayu tidak langsung menjawab dia melihat kearah Boy penuh harap.Boy mengangguk perlahan Ayu pun tersenyum dan mengangguk kepada Difa.


" Kak Fahri masih dirumah sakit?" Ayu melihat kesekeliling tapi tidak menemukan keberadaan Fahri.


" Sebentar lagi dia akan pulang, aku sudah memberitahu dia kalau kalian akan datang pasti dia sudah mengosongkan jadwalnya." kata Difa.


" Kak, apa boleh aku mengendong si kecil?" tanya Ayu


" Tentu saja." Difa beranjak dari duduknya dan memberikan anaknya kepada Ayu.


Ayu berdiri sambil mengayun-ayunkan gadis kecil yang ada digendongannya.Terlihat wajah manis sedang terlelap dengan nyamannya.


" Siapa namamu...malaikat kecilnya mama Difa tidur terus ya." kata Ayu dengan suara mengemaskan


" Namanya Alifa"


" Aku akan menyuruh bi Ina membereskan kamar untuk kalian." kata Difa sambil pergi meninggalkan Ayu dan Boy.


"Alifa nama yang cantik sekali, halo Alifa ini tante Ayu yang mengendong." kata Ayu


Difa menenggok kebelakang, dia melihat Ayu yang sangat senang, begitu juga Boy yang ikut berdiri karena ingin melihat malaikat kecil digendongan Ayu.


" Aku pulang...!!" kata Fahri yang tiba-tiba masuk


Oe....Oe....


" Ou sayang...jangan nangis...jangan nangis ini papa sudah pulang." kata Fahri dan mendekati dan mengendong Alifa.


Ayu tersenyum, dia belum pernah melihat Fahri bersikap begitu manja kepada orang lain, apa mungkin karena Alifa anaknya jadi Fahri berubah bersikap mengemaskan seperti tadi.


" kamu sudah pulang, mandi dan ganti baju dulu, aku sudah menyiapakan makan." kata Difa


Fahri memberikan Alifa kepada Ayu kembali sedangkan dia bergegas masuk kamar dan mandi.


Setelah kepulangan papanya Alifa merengek mungkin karena ingin ikut dengan papanya.


Ketika Fahri sudah keluar, Difa masih terlihat sibuk menyiapkan makan untuk tamu dan suaminya.


" kamu sudah selesai, siapkan bak mandi dan kamu mandikan Alifa ya, tolong...aku belum selesai." kata Difa


Fahri tidak menjawab tapi dia melakukan apa yang Difa perintahkan, dia pergi kekamar dan menyiapkan bak mandi untuk Alifa serta menyiapkan baju ganti dan perlengkapan mandi Alifa.


" Kak kamu bisa?" tanya Ayu yang terlihat ragu


" Kamu tidak percaya kepadaku, aku sudah melakukan semua ini selama 1 bulan lebih." kata Fahri


" Jangan dengarkan dia Yu, dia bohong." teriak Difa


" Dengarkan aku baik-baik, aku tidak percaya kepada pembantu jadi aku harus bisa melakukan semua ini." Bisik Fahri.


Setelah menyiapkan semuanya Fahri bersiap memandilan Alifa dengan tangannya sendiri.Ayu melihat semua perlengkapan yang disiapkan Fahri berada diranjang.



Dengan penuh kasih sayang Fahri memandikan Alifa, tidak ada tangisan hanya ada suara tertawa Alifa yang menikmati sentuhan Ayahnya.


Setelah selesai dimandikan kini Alifa terlihat sangat cantik dan wangi, Ayu mengendong kembali Alifa dan menciumi pipi Alifa yang sangat montok.


" Makanan sudah siap, kalian makan dulu." kata Difa


" Sini biar aku yang menggendong Alifa kamu makan dulu." Difa mengambil Alifa dari gendongan Ayu.


Difa berdiri sambil mengayun-ayukan Alifa dalam gendongannya.Mereka bercerita banyak hal tentang kabar masing-masing.Difa terus saja menatap tubub Ayu yang sepertinya banyak berubah.Agak gemukan mungkin karena Ayu bersama suaminya jadi dia merasa bahagia dan tenang, begitulah yang dipikirkan Difa tentang Ayu.


" Ayu, kamu hamil ya." kata Difa


Ayu melihat kearah Difa, sebenarnya dia tidak bilang kepada Difa tentang kehamilannya takut dia tidak diperbolehkan datang karena takut akan kesehatan Ayu.


" E....iya kak." jawab Ayu malu-malu


" Apa, kamu hamil tapi memaksakan diri datang kesini?" Fahri kaget mendengar jawaban Ayu


" Sebenarnya aku sudah bilang kita akan pergi kapan-kapan, tapi Ayu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kalian dan melihat Alifa.Jangan marah lagi aku akan menjadi dokter pribadinya." kata Boy sambil mengenggam tangan Ayu.


Ayi tersenyum dan melihat kearah Difa dan Fahri meyakinkan mereka kalau dirinya dalam keadaan baik-baik saja.


" Aku sudah tidak sabar ingin melihat Alifa, aku takut tidak akan bisa datang kesini kalau perutku semakin besar nanti, lagi pula aku dalam keadaan baik-baik saja." kata Ayu


" Berapa bulan usia kehamilan kamu?" tanya Difa


" Kira-kira 3 bulanan." kata Ayu sambil tersenyum


" Kami harus jaga kesehatan, kamu tahu ini itu kan?" kata Difa


Setelah makan Boy dan Fahri berada diruang keluarga, sedangkan Ayu dan Difa berada dikamar Alifa.Ayu sangat ingin bertanya tentang Juna tapi dia tidak berani, dia beberapa kali melirik kerumah Juna.Hingga akhirnya Difa bercerita kalau Juna kembali kerumah keluarga dan menjalankan rumah sakit keluarga.


Terlihat wajah menyesal Ayu, dalam hati Ayu dia sangat ingin melihat Juna meskipun hanya sebentar tapi dia harus mengubur dalam-dalam keinginannya karena Juna sudah tidak ada disana.


" Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kamu dengan Juna, tapi aku tahu ada yang berbeda antara kalian." kata Difa


Ayu tidak dapat menyembunyikan apa pun dari Difa.Ayu memeluk Difa air matanya menetes.Tanpa berkata apa pun Difa sudah memahami perasaan Ayu yang sebenarnya.


" Lupakan Juna, ingatlah semua ini demi keluarga kecilmu dan si kecil yang ada diperutmu." kata Difa


Perlahan Ayu mengangguk dan mengusap air mata yang membasahi pipinya.Benar yang dikatakan Difa demi keluarga kecilnya dia harus menghapus Juna dari jalan hidupnya


BERSAMBUNG