
Ayu dan Boy tinggal dirumah Fahri selama 2 hari, Ayu sangat ingin tinggal bersama Alifa tapi mereka harus kembali ke kota X untuk pekerjaannya dan pekerjaan Boy juga.
" aku kembali dulu kak." kata Ayu
Difa dan Fahri mengantar mereka sampai depan rumah, Ayu mencium kembali Alifa yang berada digendongan Difa.
" hati-hati dijalan ya." kata Difa sambil melambaikan tangannya.
Akhirnya dengan berat hati Ayu pergi meninggalkan rumah Difa dan Fahri, dia sempat melihat kebelakang entah kapan lagi dia akan datang kerumah ini.Tiba-tiba air matanya menetes.
" Kamu kenapa?" tanya Boy
" Entahlah, aku hanya sedih entah kapan lagi aku akan datang kerumah ini melihat Alifa lagi." kata Ayu sambil mengusap air matanya.
Ayu menghela nafas dan melihat keponselnya, setidaknya dia punya sederetan foto yang bisa dilihatnya nanti ketika dia rindu.
***
Akhirnya mereka sudah sampai dirumah, Boy sedikit khawatir melihat Ayu yang hanya diam saja dari tadi.
" Kamu kenapa, apa ada yang sakit?" tanya Boy
" Tidak, mungkin aku hanya lelah, aku ingin istirahat terlebih dahulu, kamu tidak apa-apa kan?" kata Ayu
" Kamu istirahatlah, aku akan keluar sebentar cari makanan buat kamu." kata Boy sambil mengelus rambut Ayu.
Ayu mengangguk dan berbaring ditempat tidur setelah Boy pergi meninggalkan Ayu, dia merasa ada yang aneh dengan dirinya.Tubuhnya tidak sakit tapi kenapa lemas apa mungkin bawaan sang janin yang ada diperutnya.Tapi dia tidak merasakan ada yang aneh dengan perutnya, tapi hatinya yang masih menganjal.Mungkin karena dia tidak bertemu dengan Juna.
Hentikan Ayu, kamu sudah berjanji akan melupakan dia, lihatlah masa depan kamu dengan Boy yang mencintaimu dan bayi yang ada diperutmu.
Ayu berbicara kepada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan dirinya kalau Juna adalah masa lalu yang harus dia tinggalkan.Bukannya dia tidak ingin merelakan Juna tapi perpisahan yang masih mengantunglah yang membuat Ayu kepikiran.
Ayu menghela nafas dan pergi kekamar mandi, dia berfikir mungkin setelah mandi dia akan merasa lebih segar.
Disisi lain Boy menemui Novi diapertemennya.Dia ingin membicarakan hal yang penting dengan Novi.
" Kenapa lama sekali bukanya?" tanya Boy yang langsung saja masuk kedalam.
" kenapa kamu datang, biasanya kamu selalu disisi istri tercinta kamu itu." kata Novis judes
Tiba-tiba langkah Boy terhenti, dia berbalik dan menatap Novi.Dia mulai mendekat menatap Novi dengan sayu.
" Jangan menatapku seperti itu, aku sudah tahu apa yang akan kamu katakan.Aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan menunggumu." kata Novi sambil mengacuhkan Boy dan berjalan mendekati jendela.
" Novi... dengarkan aku baik-baik, hubungan kita ini tidak benar, aku tidak mungkin meninggalkan Ayu karena dia sedang mengandung anakku." kata Boy
" jadi ini semua gara-gara dia mengandung, aku juga bisa mengandung anak kamu." Novi terlihat marah dan tidak terima
"Dia itu istriku, dan ada anakku didalam tubuhnya, masa depanku bersama mereka." suara Boy sedikit lebih tinggi.
" Jadi kalau dia tidak mengandung anak kamu, dia bukan masa depan kamu, aku masa depan kamu." Novi semakin marah
" Maksud kamu apa, jangan macam-macam pada Ayu, kalau terjadi apa-apa padanya aku tidak akan memaafkanmu." kata Boy sambil memegang bahu Novi dengan erat.
" Boy sakit, lepaskan." kata Novi
Dengan wajah marah Boy meninggalkan Novi yang masih tidak percaya kalau Boy berbuat seperti itu kepadanya.Tapi Boy tidak punya pilihan lain dia harus memilih antara Ayu dan Novi, saat ini Boy belum mendapat posisi yang tinggi dirumah sakit dia masih memburuhkan bantuan dari Ayu dan keluarganya.Lagi pula Boy belum memiliki cukup uang untuk pergi meninggalkan Ayu dan memilih bersama Novi yang hanya seorang model.
Boy menghela nafas panjang, dia berusaha menenangkan perasaan dan amarahnya sebelum sampai dirumah.Dia sudah membeli bubur dan buah-buahan yang dirasanya cukup untuk membantu stamina Ayu pulih kembali.
" Aku pulang." kata Boy
" Kamu belanja banyak sekali." kata Ayu sambil mengambil kantong belanja ditangan Boy.
" Aku membelikanmu bubur dan buah." kata Boy
" Terima kasih." kata Ayu sambil mencium pipi Boy
Boy tersenyum dan membelai rambut Ayu yang terurai panjang.
" kamu makan, aku mau mandi dulu." kata Boy sambil pergi meninggalkan Ayu dan pergi menuju kamarnya.
Ayu merasa ada yang aneh dengan Boy, dia terlihat sedih dan kecewa.Ayu mengingat-ingat kembali apa yang terjadi tapi dia tidak menemukan penyebab Boy menjadi muram seperti itu.
Ayu mulai memakan Bubur yang dibelikan oleh Boy tadi, dia melihat bubur itu cukup nikmat dan langsung memakannya.Tiba-tiba perutnya menjadi mual.
Ayu menutup mulutnya dan langsung pergi kekamar mandi.
Hoek....hoek....hoek....!!!
Tidak tahu kenapa Ayu merasa mual ketika memakan bubur itu padahal tadi baik-baik saja.
Hoek....hoek...hoek....!!
Lagi-lagi Ayu kuntah, sekarang semua yang dia makan keluar tidak tersisa.
" Kamu kenapa?" kata Boy yang tiba-tiba berada dibelakang Ayu
" Aku mu-alll sekalii." kata Ayu
Tadi Boy baru saja selesai mandi, belum mengenakan pakaian dan hanya mengenakan handuk mandi langsung berlari turun ketika mendengar Ayu muntah-muntah.
Boy mendekat dan memerikasa kondisi Ayu, tiba-tiba Ayu jatuh pingsan.Boy langsung mengangkat Ayu dan membawanya kekamar.
Boy terlihat sangat khawatir karena tiba-tiba kondisi
turun drastis seperti ini, detak jantungnya lemah wajahnya juga terlihat sangat puncat.
Boy masih binggung dengan apa yang harus dia lakukan dia bergegas memanggil dokter kerumahnya.
" Dokter bagaimana keadaannya?" tanya Boy yang terlihat sangat cemas dan selalu berada disamping Ayu.
" Dia hanya kelelahan, apa mungkin ada yang menganjal dipikirannya?" tanya dokter Heru
" Kami baru saja pulang dari rumah teman kami yang berada diluar kota perjalanannya memang cukup jauh, tapi Ayu cukup istirahat kok," kata Boy tapi dia juga merasa tidak yakin kalau Ayu baik-baik saja waktu itu, karena dia bilang dia harus menemui Alifa karena tidak tahu kapan dia akan memiliki waktu lagi.
" Aku akan memberikan resep vitamin dan penguat kandungan untuk berjaga-jaga." kata dokter Heru
Perlahan Ayu membuka matanya, dia melihat Boy yang masih berada disampingnya dan sedang menggenggam erat tangannya.
" Kamu sudah bangun, kamu harus banyak beristirahat." kata Boy yang terlihat sangat cemas.
" Kamu beruntung memiliki suami seperti dokter Boy, tidak perlu memikirkan apa pun lagi dan jaga kesehatan kamu.Aku permisi dulu." kata Dokter Heru
Boy melepas genggamannya dan menepuk perlahan tangan Ayu dan pergi mengantar dokter Heru keluar.Ayu menatap Boy dari belakang
Harusnya aku bersyukur memiliki dia disisiku
Tidak terasa air mata Ayu menetes dari matanya.
BERSAMBUNG