
Ayu bekerja seperti biasanya, tapi hari ini dia banyak melamun tidak seperti biasanya.
" Kamu kenapa.?" tanya Dwi
" Tidak apa-apa." jawab Ayu
Ayu berjalan meninggalkan Dwi dan pergi keluar rumah sakit duduk dibangku taman rumah sakit.Wajahnya tertekuk muram.Dia beberapa kali melihat ponselnya.
" Kamu kenapa sih.?" tanya Adam yang tiba-tiba ada disampingnya.
" Kalian.!" Ayu juga melihat Dwi bersama dengan Adam
" kalian kemana-mana selalu bersama, berdua terus kenapa tidak jadian saja sih." kata Ayu
" Tidak..." jawab mereka serentak
" kamu sedang menunggu pangilan dari kak Boy ya." tanya Dwi
Ayu mengangguk perlahan, sejak mendengar kata-kata Dwi tadi Ayu mulai penasaran dengan apa yang dilakukan Boy disana.
" Pasti Boy sedang sibuk." kata Adam
" Sibuk boleh tapi jangan sampai sibuk dengan wanita lain." kata Dwi sinis
Tidak lama setelah mereka berdepat, ponsel Ayu berbunyi.Orang yang dia nanti-nantikan akhirnya muncul juga.
Ya ini pangilan dari sang suami Boy Permana.
Ayu berdiri karena kaget dan sedikit tidak percaya.Bahkan Dwi dan Adam pun juga tidak percaya.
***
Hari ini Boy tidak masuk kerja makanya bisa menelpon Ayu, biasanya dia selalu sibuk pulang pada malam hari dan langsung tidur.Biasanya mereka hanya saling mengirim pesan
Sekarang Boy ingin mendengar suara sang istri yang tengah dia rindukan.Suara merdu Ayu membuat Boy semakin merindukan dia.
Setelah cukup lama menelpon Ayu, Boy terlihat sangat sedih.Sedih karena jarak yang memisahkan mereka dan pekerjaan yang sangat padat sedang membebani Boy.
Baru sekitar 10 hari mereka berpisah namun sudah ada rindu diantara keduanya.
Boy tinggal sendiri dirumah yang begitu besar.Boy berjalan menyusuri sudut-sudut mengenang Ayu.
Boy memutuskan untuk mengambil cuti satu hari lagi untuk melihat Ayu disana.
***
Ayu meletakkan kepalanya bersandar dikursi dan menghadap keangkasa dia melihat awan dan langit biru yang ada dihadapannya.Matanya berkedip sambil memikirkan suaminya yang jauh disana.
Kalau saja mereka bersama saat ini mereka bisa melewati hari yang indah ini besama-sama.
Juna datang dan duduk disamping Ayu.
" Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Juna tiba-tiba
" Dokter Juna..." Ayu kaget melihat Juna
"Tidak...bukan apa-apa." kata Ayu
" Kamu pasti merindukan suamimu kan?" kata Juna
Ayu tidak menjawab dia hanya tersenyum dan menunduk yang menandakan kalau perkataan Juna benar adanya.
" Kalian baru saja menikah, pasti sulit hidup terpisah seperti ini." kata Juna
"Hemmm...begitulah dok.mungkin aku harus segera lulus agar bisa menjadi dokter yang hebat untuk bisa bersanding dengan suamiku disana." kata Ayu
" Kamu akan menjadi dokter yang hebat." Juna sambil tersenyum dan berdiri meminggalkan Ayu.
" Kamu tidak pergi...ayo kita ada banyak pasien yang harus kita periksa." kata Juna
Ayu tersenyum dan menyusul langkah Juna yang mulai meninggalkannya.Ayu bertekat akan menjadi dokter yang kompeten seperti Juna.Yang selalu bekerja keras untuk melakukan yang terbaik bagi pasien-pasiennya.
Hari sudah semakin sore, satu persatu pasien sudah ditangani.Ayu terlihat sangat lelah dia menghela nafas panjang dan merenggangkan semua ototnya.
" Kamu terlihat lelah, segera bereskan barang-barangmu kita akan segera pulang." kata Juna
Setelah membereskan semua barang-barangnya Ayu dan Juna keluar meninggalkan ruangan.Dia terlebih dulu pergi kekantor dokter Fahri meminta kunci rumah.Dia khawatir hal kemarin akan terjadi lagi.
" Kalian sudah akan pulang.?" tanya dokter Fahri
" Hemmm, Ayu sudah sangat capek jadi aku akan mengantarnya pulang." kata Juna
"hahaha bukan begitu dok...pasien dokter Juna telah habis jadi kita bisa pulang lebih awal." kata Ayu
sambil tertawa garing
"Kenapa dokter berkata begitu, dokter Fahri akan mengurangi nilaiku nanti." bisik Ayu kepada Juna yang berjalan bersama menyurusi lorong meninggalkan rumah sakit
Ayu dan Juna naik mobil dan kembali kerumah.Hari demi hari Ayu dan Boy semakin dekat sekarang mereka sudah berteman baik.
Adam dan Dwi melihat Ayu dan Juna naik mobil bersama meninggalkan rumah sakit, bahkan mereka melihat senyuman diantara keduanya.
" Bukankah mereka cocok." kata Dwi
"Sebenarnya Ayu akan lebih cocok bersamaku." kata Adam
Dwi melihat Adam dengan tatapan tajam yang seolah menusuk Adam
" Kenapa...bukankah itu kenyataan." kata Adam
" Hentikan...bahkan bayanganmu saja tidak cocok sejajar dengan bayangan Ayu." kata Dwi sambil pergi meninggalkan Adam yang masih tertegun.
" Apa yang kalian bicarakan." kata dokter Fahri yang tiba-tiba berada dibelakang mereka
" Dokter Fahri...maaf kami akan lanjutkan bekerja." kata Dwi sambil menunduk dan pergi
"Tunggu...!" Dokter Fahri menahan Dwi dengan tangannya
" Kenapa kalian bilang Ayu lebih cocok dengan Juna apa yang terjadi dengan suaminya." kata dokter Fahri
Sejenak Adam dan Dwi terdiam, dia tidak menyangka kalau Dokter Fahri sudah tahu kalau Ayu sudah menikah.
" Dokter Fahri sudah tahu kalau Ayu sudah menikah." tanya Dwi
"Su..sudah." kata Dokter Fahri yang terlihat binggung
" Sebenarnya suami Ayu juga seorang dokter, tapi entah kenapa aku tidak begitu menyukainya.mungkin karena wajahnya terlihat judes sedangkan Ayu gadis yang kalem dan baik hati.Lebih cocok kalau dia bersama dokter Juna." kata Dwi sambil tersipu
Setelah mendengar kata-kata Dwi, dokter Fahri penasaran seperti apa sosok suami Ayu.
Setaleh mendapat ijin, Boy bergegas kebandara untuk menuju kota X dimana ayu berada saat ini.Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya.
Sepanjang perjalanan Boy selalu memikirkan Ayu, entah kenapa perasaannya semakin kuat kepada Ayu mungkin dia mulai mencintai wanita yang belum lama menjadi istrinya itu.
Sebelumnya dia tidak pernah merasakan rindu yang begitu dalam seperti ini walau sebelumnya mereka juga pernah berpisah dalam waktu yang cukup lama.tapi berbeda dengan sekarang setelah menjadi suami Ayu, dimata Boy selalu terbayang wajah Ayu.
Setelah sekitar 1 jam Boy sudah tiba dikota X, perjalanan dipesawat tidak memakan waktu yang begitu lama.Yang butuh waktu lama adalah perjalanan antara bandara menuju rumah sakit dimana Ayu bekerja.
Boy naik sebuah taksi untuk menuju rumah sakit x.
" Apa anda juga seorang dokter?" tanya pak supir taksi itu.
" Benar saya adalah seorang dokter, ada apa.?" kata Boy
" Tidak lama ini juga datang beberapa dokter muda kerumah sakit itu, rumah sakit itu akan semakin populer kalau ditambah dengan dokter yang muda dan tanpan lagi, hahahah." kata pak supir sambil tertawa.
Boy tidak begitu mengerti dengan perkataan sang supir dia hanya tersenyum dan memalingkan wajahnya melihat jalan-jalan disekitar.
Jalan disekitar terlihat sangat sepi masih banyak pohon-pohon yang berdiri kokoh dipinggir jalan.
Meskipun Ayu sangat menyukai tempat yang alami seperti ini, tapi setelah melihat lingkungan ini Boy merasa khawatir akan keselamatan Ayu.
" Pak...apa disini aman.?" tanya Boy
" Disini belum pernah ada catatan kejahatan, warga disini sangat ramah.Termasuk saya, hahaha." kata pak supir.
Boy sangat lelah, karena perjalanan ini memakan waktu yang cukup lama Boy memejamkan matanya.
BERSAMBUNG