
Hari berganti hari, kini sudah beberapa bulan berlalu. Ayu fokus menggurus Zayn dan rumah seperti biasa, begitu juga dengan Boy bekerja seperti biasa. Setidaknya begitulah yang dilihat dan dirasakan oleh Ayu. Ayu selalu bahagia, senyuman dan tawanya selalu menghiasi hari-harinya. Apalagi ditambah sekarang Zayn sudah tumbuh besar dan bisa bermain dengan Ayu.
" Bi ina, tolong belanja dulu perlengkapan rumah ya. Ini daftar belanjanya." kata Ayu sambil menyerahkan daftar belanjaan yang harus dibeli oleh bi ina.
" Iya nyonya." bi ina mengambil kertas ditangan Ayu kemudian mengambil kartu kredit yang diberikan Ayu selanjutnya.
Bi Ina kebelakang mengambil tas dan langsung keluar bergegas menuju pasar dan mini market untuk membeli perlengkapan Zayn juga. Ketika sampai dipintu bi Ina mendengar telepon berdering. Dia berhenti dan melihat kearah telepon dan melihat Ayu tidak memperhatikan telepon yang terus berbunyi. Bi ina kembali dan mengangkat telepon itu.
Betapa terkejutnya bi Ina mendapat pangilan itu, Itu adalah pangilan dari rumahnya yang berada dikampung. Dia mendapat kabar kalau ibunya meninggal dan sekarang masih berada dirumah sakit. Bi ina langsung menjatuhkan tas ditangannya dan terjatuh lemah.
" bi Ina... ada apa?" Ayu berjalan lebih cepat menghampiri bi ina yang duduk lemas disamping telepon yang masih berada ditangannya.
Ayu penasaran mengapa bi Ina seperti itu. Dia mengambil telepon yang masih tersambung itu. Disana ada adik bi ina yang berbicara kalau dia tidak bisa membawa pulang jasad ibunya karena tidak memiliki biaya.
Ayu menghela nafas panjang, duduk disamping bi ina.
" Bi.... jangan sedih, sebaiknya bi ina segera pulang dan mengurus semuanya."
Bi ina masih terlihat syok air matanya terus keluar dari matanya yang sipit. Ayu juga merasa sedih kalau saja itu terjadi kepadanya bagaimana dia akan menghadapainya. Bi ina berdiri dia menuju kamarnya dan segera bergegas membereskan barang-barangnya untuk segera kembali ke rumahnya dikampung.
" Bi ina... ambil ini." kata Ayu sambil memberikan sebuah amplop yang berisi uang cukup tebal.
" Tapi nyonya, belum lama aku gajian." Bi ina tetap diam tidak mengambil amplop ditangan Ayu.
" Ini bukan gaji, hanya sedikit tapi aku berharap bisa membantu keluarga bi ina disana."
" Tapi nyonya...
Ayu maju dan memberikan amplop itu ketangan bi ina. Dia memeluk bi ina dengan lembut, baginya bi ina sudah menjadi keluarga baginya. Bi ina meneteskan air mata dan membalas depakan Ayu. Dia sangat bersyukur memiliki Ayu sebagai majikannya.
" Aku akan mengantar bi ina sampai stasiun."
" Tidak usah nyonya. Aky bisa pergi sendiri." kata bi ina tidak ingin merepotkan Ayu.
" Tidak merepotkan, sekalian aku akan pergi kemini market untuk membeli kebutuhan Zayn dan rumah." kata Ayu sambil jalan keluar.
Ayu segera mengantar bi ina kestasiun. Disana Ayu melihat betapa sedihnya bi Ina, dia harus kehilangan ibunya tetapi dia tidak berada disampingnya ketika disaat-saat terakhir ibunya.
Setelah melihat bi ina masuk kestasiun Ayu langsung pergi kesupermarket untuk membeli kebutuhan rumahnya.
Ayu masuk sambil mengendong Zayn dan memilih-milih apa saja yang harus dibeli. Sudah lama sekali Ayu tidak belanja dia terlihat masih binggung dimana tempat-tempat barang yang dia butuhkan. Cukup lama dia berada di supermarket itu dan cukup banyak barang yang dibelinya. Mungkin karena naluri seorang ibu lah membuatnya berubah seperti ini.
" Aduh dedek bayinya lucu sekali." kata salah seorang yang berada disampingnya sedang mengantri.
" Terima kasih..." Ayu tersenyum
" ini belanjaan banyak sekali apa bisa membawanya?" kata orang itu.
Ayu tersenyum dia melihat barang belanjaannya memang sangat banyak, kemudian dia tertawa sambil menutup mulutnya.
" Ada suami?
Ayu mengeleng, dan seseorang itu pun tersenyum dia maju dan membawakan barang-barang Ayu sampai dimana Ayu memarkirkan mobilnya.
" Terima kasih....Nama saya Ayu." kata Ayu sambil menyodorkan tangannya
" Saya Tomas." kata Tomas sambil menjabat tangan Ayu.
Sesaat setelah itu, Tomas mendapat panggilan dan berpamitan kepada Ayu dan pergi meninggalkan Ayu dan melambaikan tangannya.
Ayu mendudukkan Zayn dijok depan yang sedang dipasang penambah pengaman untuk bayi. Dan dia memasukkan semua barang belanjaannya kedalam mobil dan bergegas kembali kerumah.
Ayu melihat Zayn yang terlelap, dia tersenyum manis tapi sesaat setelah itu senyumanya berubah dan hilang ketika melihat mobil Boy terparkin didepan sebuah cafe. Ayu berhenti sejenak melihat dan meyakinkan benar atau tidak mobil yang dia lihat itu adalah mobil suaminya.
Ketika Ayu masih memastikan plat nomer, Boy keluar dengan seorang wanita yang mengandeng tangannya dengan begitu mesra. Terlihat juga senyuman dan kebahagian dari wajah keduanya. Wanita itu terlihat begitu dekat dengan Boy. Ayu hanya diam dia tidak pernah menyangka kalau Boy akan berbuat demikian kepadanya.
Air mata Ayu menetes membasahi pipinya. Dia masih belum percaya yang dilihatnya adalah suami yang dia cintai segenap jiwa dan diberikannya kepercayaan sepenuhnya namun demikian yang dia dapatkan. Mobil Boy melaju meninggalkan cafe, Ayu terus mengikuti kemana mobil itu akan pergi.
Air matanya kini berubah menjadi amarah ketika melihat mobil Boy berhenti disebuah apartemen dimana gadis itu tinggal. Gadis itu adalah Novi yang selama ini menjadi pacar Boy selama ini atau bisa dibilang selingkuhan Boy selama ini. Air mata Ayu kembali menetes ketika melihat mereka mesra cipika cipiki didepan mata Ayu.
Ayu melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu tidak ingin melihat lebih lanjut apa saja yang akan dilakukan suaminya disana. Hati Ayu begitu hancur, dia memukul gagang stir yang ada didepannya dan menimbulkan bunyi klakson yang begitu kencang membuat Zayn terbangun dari tidurnya.
Sekertika Zayn menangis. Ayu melepaskan sabuk pengamannya dan juga Zayn agar dia bisa memeluk Zayn dan menenangkannya. Air matanya kembali memetes sambil memeluk Zayn yang mengayun-ayunkannya. Dia tidak habis pikir mengapa Boy tega kepadanya dan juga anaknya. Setelah kembali tenang mereka melanjutkan perjalanan kembali kerumah.
Sampai dirumah Ayu langsung masuk kedalam rumah, dia memeriksa barang-barang Boy yang ada di ruang kerja dan juga kamarnya. Begitu rapi dan pintarnya Boy sampai tidak meninggalkan satu jejak pun dari perselingkuhannya. Ayu menghela nafas dengan rasa kecewa karena tidak menemukan bukti apapun. Dan bodohnya dia tidak mengambil gambar dari kejadian yang dilihatnya tadi.
Ayu mencoba menenangkan dirinya. Apalagi ada Zayn disampingnya. Ayu kembali memeluk Zayn dan menitikan air mata, dia melihat dirinya di kaca rias. Memang ada yang berubah. Sekarang Ayu tidak merawat dirinya. Ayu tidak terlihat seperti Ayu yang dulu. Mungkin ini lah yang membuat Boy melihat wanita lain. karena perubahan Ayu.
...BERSAMBUNG...