
Boy terlihat biasa saja, sedangkan Firman terus melihat kearah Boy. Senyuman dan gelak tawa masih terlihat jelas diwajah Boy. Namun berbeda dengan Firman, tidak tahu kenapa hatinya begitu marah melihat Boy yang terlihat bahagia seperti itu.
Ketika makan siang selesai, Firman dan Boy berjalan bersama menuju ruang dikusi yang ada dilantai 2.
" Dokter Boy kesini sendirian saja." Firman mencoba memulai pembicaraan
" Iya dok...."
" Sayang sekali, tempat ini sangat bagus untuk berlibur bersama orang-orang terdekat." Firman melihat kearah Boy
" iya sih... dokter Firman benar, tapi Zayn masih kecil." Kata Boy
" Kan bisa diajak sekalian. tempatnya juga enak untuk anak-anak dan bayi."
" Lain kali lah dok... aku aja Ayu dan Zayn datang kesini. Ayu juga sangat menyukai area pegunungan seperti ini." Kata Boy sambil melihat keluar jendela yang dilewatinya.
" Bukankah sebelum lulus, Ayu pernah bekerja ditempat seperti ini. dan aku dengar disana Ayu sukses menjadi dokter terhebat."
" Benar dok... "
" Tapi aku heran dengan Ayu kenapa dia lebih memilih Hiatus dari pekerjaannya. apa dia tidak sayang dengan karirnya?"
" Ayu lebih menyayangi kami, suami dan anaknya." celetus Boy
" Tapi anda juga menyayanginya kan?" sindir Firman
" Tentu saja dia kan istri aku..." kata Boy sambil tersenyum
Hari ini selesai sudah rutinitas padat Boy dan yang lain-lain. Berbeda dengan Boy disana Ayu sedang bermain dengan Zayn dan juga mamanya.
" Ayu.... cerita sama mama...ada apa?"
" Ada apa sih ma...memangnya ada apa dengan Ayu?"
" Mama tahu kamu sedang ada sesuatu yang dipikirkan. kamu tidak bisa membohongi hati seorang ibu. bukankah kamu sekarang juga sudah jadi seorang ibu." bujuk mama Ayu
" Tapi Ayu benar-benar tidak ada masalah apa pun ma..."
" Mama tidak percaya... mama akan tunggu sampai kamu siap cerita sama mama. tapi pesan mama jangan sampai masalahmu itu berpengaruh kepada perkembangan Zayn."
" Iya ma... Ayu ngerti."
Meskipun Ayu terus saja mengelak, namun mama Ayu masih tetap yakin kalau ada masalah dengan Ayu. Apa mungkin dia mengetahui kelakuan Boy. atau ada masalah lain. Semua pikiran itu terus saja membayangi pikiran mama Ayu.
Tapi perasaan mama Ayu sedikit lebih tenang melihat Ayu tersenyum bersama Zayn. Mungkin kehadiran Zayn membuat Ayu bertambah dewasa dan bijak mengambil keputusan. Dan kehadiran Zayn telah menghilangkan kesedihan diwajah Ayu.
" Sini cucu Oma yang paling cakep... jaga mama baik-baik ya sayang, kalau Oma tidak ada disini Zayn harus jadi penjaga mama."
" Kenapa kamu menangis? tanya mama Ayu
" Tidak... aku sudah tidak sabar melihat Zayn tumbuh dewasa dan menjagaku ma." kata Ayu sambil tersenyum manis
" Zayn akan tumbuh menjadi sangat hebat... dia akan melindungi mamanya. dia akan tumbuh menjadi anak yang pintar yang akan menjunjung nama baik keluarganya."
Mendengar kata-kata Mamanya. air mata Ayu semakin deras mengalir. Dia memeluk mamanya dengan erat.
" Ma doakan aku agar menjadi seorang mama yang hebat sepertimu." bisik Ayu.
" Bukankah kamu sudah menjadi seorang mama yang hebat. Jika kamu lebih memikirkan masa depan Zayn dari pada ego mu. kamu telah menjadi seorang mama yang hebat." kata mama Ayu sambil mengelus pucuk kepala anaknya.
"Sayang aku tanya satu kali lagi sama kamu"
" Apa ma...?" Ayu menatap mata mamanya dengan penuh keraguan.
" jujur sama mama... kamu tidak ada masalah kan? sama Boy?" mama Ayu memegang tangan Ayu berharap kali ini Ayu akan bercerita kepadanya.
Namun berbeda dengan apa yang diharapkan mamanya. Perlahan Ayu mengelengkan kepalanya kemudian tersenyum dengan manis mencoba meyakinkan mamanya kalau dia baik-baik saja. mama Ayu membalas senyuman Ayu dengan helaan nafas panjang. Dia merasa kecewa karena Ayu masih saja belum mau jujur kepadanya.
" Mengapa mama menghela nafas seperti itu?" tanya Ayu
"mama merasa sekarang mama jauh sekali denganmu."
" Maa... Ayu benar-benar tidak ada masalah apapun...apalagi dengan Boy. rumah tangga kami baik-baik saja. mama tidak lihat aku begitu bahagia sekarang."
" Ya udah... mama hanya bisa berdoa semoga kamu akan terus bahagia. tidak akan ada air mata yang keluar dari mata indahmu."
Ayu tersenyum dan memeluk mamanya. Meskipun dia tersenyum, hatinya kini sedang menangis. Dia tidak memberi tahu mama nya karena dia tidak ingin sang mama merasa cemas. apalagi dulu ketika dia belum menikah dengan Boy. sang mama tidak pernah menyetujui hubungan mereka.
Setidaknya hanya ini yang bisa Ayu lakukan. berpura-pura tersenyum meski hatinya kini sedang sakit.
Berbeda dengan Ayu yang berusaha menyembunyikan sakit hatinya dengan kebohongan kecilnya. Boy sedang asik berduan dengan Novi menikmati pemandangan pegunungan yang masih alami itu.
Ayu melihat ponselnya berharap Boy akan menelpon dan memberi tahu keadaannya sekarang. kalau bukan mencari kabar bagaimana Ayu melewati hari nya setidaknya bertanya bagaimana Zayn melewati hari, hari ini.
Tidak ada telepon atau pesan dari Boy. Ayu sendiri juga merasa ragu untuk menghubungi Boy. dia takut kalau saat ini Boy sedang sibuk dengan pekerjaannya. ketika Ayu menatap ponselnya.Ada pesan dari Firman.
" Ayu... apa Boy sudah memberi kabar kepadamu?"
Ayu hanya menatap pesan itu. Dia tidak membalas karena binggung apa yang harus dia jawab. Sedangkan sampai saat ini Boy belum mengabarinya. tapi kenapa Dokter Firman dapat dengan mudah mengirimnya pesan.
Sebenarnya sedang apa Boy disana.
...BERSAMBUNG...