AYU

AYU
Sebuah gosip



Ayu dan Juna sudah sampai dirumah sakit, Juna buru-buru keluar dan membukakan pintu untuk Ayu.


" Aku bisa membukanya sendiri." kata Ayu


Juna menyuruh Ayu duduk kembali, dia duduk jongkok didepan Ayu dan melepas sepatu Ayu.


" Apa yang kamu lakukan?" tanya Ayu sambil menarik kakinya dan melihat sekeliling


" Diamlah." kata Juna


Ayu menunduk, dia malu dilihat banyak dokter, suster dan beberapa pasien yang lewat.


Juna melihat pergelangan Ayu sedikit bengkak.Dia memikit perlahan.Ayu menutup mulutnya tidak ingin mengeluarkan suara karena malu.


Yang Ayu rasakan saat ini adalah sakit yang luar biasa.Dia memejamkan matanya dan mengigit bibit bawahnya untuk menahan rasa sakit itu.


" Jangan ditahan, bicaralah kalau sakit." kata Juna


Ayu tidak menjawab, dia hanya mengangguk sambil terus memejamkan matanya.Juna memijat sambil tersenyum karena melihat espresi Ayu yang mengemaskan.


" Selesai, sepertinya tidak ada yang serius, hanya saja otot pergelangan kaki kamu sedikit bergeser dari posisi yang seharusnya.Aku akan mengambilkan obat untukmu." kata Juna sambil berdiri


Ayu mencoba berdiri dan keluar dari dalam mobil tapi ketika kakinya digerakkan Ayu terjatuh.Juna menahan tubuh Ayu yang jatuh kepadanya.


Beberapa suster yang melihatnya mulai bergosip, sambil berbisik kepada yang lain dan tersenyum melihat Ayu dan Juna yang begitu dekat.


" Apa yang kalian lihat." tanya Dwi


Dwi mengeser beberapa suster yang sedang bergerombol, melihat apa yang sedang mereka lihat.Dwi kaget melihat Juna dan Ayu yang begitu dekat.Dia tersenyum dan malah gembira melihat mereka dekat.


" Menurut kalian mereka cocok tidak?" tanya Dwi kepada para suster yang berkumpul


" Cocok hahaha." kata seorang suster sambil tersenyum garing


Para suster yang lain juga tersenyum, tapi mereka heran mengapa Dwi sebagai temannya malah mendukung Ayu, padahal yang mereka dengar Ayu sudah bersuami dan pernah kesini menemui Ayu.Kalau sekarang dia bersama Juna mereka menjalin hubungan yang terlarang.


Setelah Dwi pergi mendekati Juna dan Ayu, semua suster disana membicarakan hubungan Ayu dan Juna.Dari satu mulut kemulut lain hingga menyebar keseluruh rumah sakit.



Hari berganti, berita itu semakin panas ketika Ayu mendapat sebuah bunga dari seseorang, tidak ada nama pengirim hanya sebuah ucapan agar Ayu belajar dengan giat agar menjadi dokter yang hebat.


Semua orang yang melihatnya mengira itu pemberian dokter Juna karena dia adalah orang yang sangat ingin melihat Ayu sukses karena dialah yang mengajari Ayu selama ini.


Ayu dan Juna belum mendengar kabar yang menghebohkan seisi rumah sakit, mereka hanya bekerja dan mengerjakan study mereka dan tidak memperhatikan gosip yang sudah tersebar luas.


Kabar itu sampai kepada Difa dan Fahri.Difa sangat kaget mendengar kabar itu.Mereka adalah orang terdekat Difa dan rumah Juna tidak jauh dari rumahnya, sedangkan Ayu tinggal dirumahnya.Bukan cuma rumah bahkan Ayu dan Juna memang sangat dekat, mereka sering pergi keluar bersama.Difa khawatir kabar ini akan mempengaruhi pekerjaan mereka dan nama baik mereka.


" Apa kabar itu benar?" tanya Difa yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan Fahri


" Entahlah." kata Fahri cemas


" aku akan bicara dengan mereka." Fahri berdiri dari tempat duduknya pergi menuju ruangan Juna


Fahri membuka pintu, dia melihat Ayu juga berada diruangan Juna sedang mengerjakan tugas dari kampusnya.


Difa berjalan dibelakang Fahri, Dwi dan Adam melihat mereka dengan wajah cemas.


" Apa yang terjadi?" tanya Adam


" Mungkin mereka ingin berbicara mengenai gosip yang tersebar." kata Dwi


Dwi menjelaskan yang menjadi pembicaraan hangat dirumah sakit ini, Adam sangat khawatir dia tahu Ayu bukan wanita yang seperti itu.Sedangkan Dwi malah tersenyum melihat mereka.


Didalam ruangan Juna tampak terlihat kaget melihat Difa dan Fahri keruangannya.


" Ada apa?" tanya Juna


" Aku ingin bicara dengan kamu, dan kamu juga Ayu." kata Dokter Fahri sambil duduk disofa


" Aku, ada apa kak." tanya Ayu sambil melihat kearah Difa


Difa mengandeng Ayu dan menyuruhnya duduk bersama Juna dan Fahri.Difa duduk disamping Ayu sambil mengenggam tangan Ayu.


Juna dan Ayu saling menatap wajah keduanya terlihat sangat binggung.


" Aku bertanya disini bukan sebagai dokter, tapi sebagai kakak kalian, anggap saja aku kakak kalian. Mengerti?" kata Fahri


Juna hanya diam, sedangkan Ayu mengangguk perlahan tangannya mengenggam erat tangan Difa, dia sedikit takut melihat Fahri yang terlihat sangat marah.


" Apa kalian menjalin hibungan?" tanya Fahri


Juna menatap Ayu, begitu pula Ayu menatap Juna.Mereka heran bagaimana kabar itu bisa tersebar.Juna menjelaskan kepada Fahri kalau tidak ada hubungan apa-apa dengan Ayu selain berteman.


" Kak benar yang dikatakan kak Juna, tidak ada hubungan apa pun diantara kita selain pertemanan.Aku sudah menganggap kak Juna sama seperti kak Difa dan kak Fahri." Kata Ayu sambil mengenggam tangan Difa dengan erat berharap dia akan mempercayai perkataannya.


" Aku mengerti." kata Difa sambil tersenyum


Difa dan Fahri keluar dari ruangan Juna meninggalkan Ayu bersama Juna.Mereka tidak lagi memperdulikan perkataan orang-orang, mereka sudah puas mendengar penjelasan dari Ayu dan Juna.


Sebenarnya semua orang berfikir begitu karena melihat Juna dan Ayu sangat cocok, Juna yang baik dan kalem bersama Ayu yang cantik dan pintar.Banyak pasien yang berharap mereka bersama.


Tapi semua hanya harapan tidak menjadi kenyataan karena Ayu sudah memiliki seorang suami yang sangat dia cintai.


Beberapa hari setelah itu, Juna dan Ayu tampak saling menghindar.Sejak saat itu Ayu selalu berangkat dan pulang bersama Adam dan Dwi.Meskipun kadang Ayu tidak merasa enek hati karena selalu menganggu mereka bersama setelah pulang kerja.


Hari ini Ayu duduk di kursi belakang, Adam dan Dwi terlihat sedang bercengkrama membicarakan tentang rencana mereka hari ini.


" Bagaimana kalau kita makan direstoran dekat air terjun itu." kata Adam


" Aku setuju, bagaimana menurutmu Yu, kita pergi makan dulu sebelum pulang." Kata Dwi


Ayu tidak menjawab, Dwi melihat kebelakang, ternyata Ayu sedang tidur.Wajahnya terlihat sangat lelah.


Adam melihat dari kaca spion.Adam menghela nafas panjang setelah melihat Ayu yang tertidur dengan pulasnya.


" Kamu kenapa." tanya Dwi


" Aku kasihan dengan Ayu, dia harus menjauhi Juna.Aku tahu Ayu orang yang tidak ingin kehilangan seorang teman.Apalagi teman sebaik Juna." Kata Adam


" Kamu benar, aku lebih suka Ayu bersama Juna dari pada dengan Boy." Kata Dwi sedikit kesal


" Kenapa dengan Boy, bukankah dia pria yang tampan dan baik." kata Adam


" Baik menurutmu, tidak menurutku." kata Dwi


Adam hendak bertanya kembali, tapi tangan Dwi menutup mulut Adam menghentikan kata yang akan keluar dari mulut sang pacar.Dia takut dirinya tidak dapat menahan diri untuk berkata yang tidak-tidak dan nanti Ayu bisa mendengarnya.


Dwi dan Adam hanya bisa berharap semoga Ayu melalui masalah ini dengan cepat tanpa mengorbankan persahabatan antara Juna dan Ayu.


BERSAMBUNG