
Sudah dua hari Ayah dokter Fahri dirawat dirumah sakit, beliau masih belum membuka matanya.Banyak yang cemas akan kesehatan beliau.Semua orang yang mengenal pak Yudi sangat simpati kepadanya mungkin karena kebaikan beliau dan dirikasi beliau kepada rumah sakit ini.
Dengan jerih payahnya beliau mendirikan rumah sakit ini agar orang-orang disini bisa mendapatkan pengibatan lebih dekat tidak harus pergi kekota besar.Sejak tempat ini menjadi pariwisata rumah sakit perlahan juga dikenal banyak orang apa lagi ada pak Yudi adalah seorang dokter bedah yang cukuo terkenal dimasanya.
Dokter Fahri masuk kedalam ruangan pak Yudi.Dia melihat sang ayah masih tidak sadarkan diri.Kepala dokter Fahri menunduk tidak terasa air mata menetes membasahi tangan pak Yudi yang digenggam erat Fahri.
Tangannya sedikit bergerak, Fahri yang merasakan getaran tangan sang Ayah berdiri dan memeriksa keadaan sang ayah.Mata pak Yudi masih terpejam tapi tangannya bergerak menggenggam tangan Fahri.
" Ayah, apa kamu sudah sadar, ayah bisa mendengar kata-kataku?" tanya Fahri
Perlahan pak Yudi membuka matanya.Fahri mendekat dan memastikan kalau ayahnya sudah terbangun.
Pak Yudi tersenyum perlahan menatap Fahri, Fahri menghela nafas panjang dia sedikit merasa lega karena sang ayah sudah sadarkan diri.
" Apa ini?" kata pak Yudi pelan sambil melihat sekelilingnya.
" Ini TPN, dopamin, dobutamin, mukolitik, dan antibiotik." kata Fahri
" Kamu memberiku banyak obat." kata Pak Yudi pelan
sambil menghela nafas dan kembali memejamkan matanya.
" Ayah, " pangil Fahri
"Hemm."
Fahri lega ayahnya masih merespon pangilannya, dia duduk disamping pak Yudi sambil mengenggam tangannya.
"Sudah saatnya kamu melepaskanku dari semua ini." kata pak Yudi
" Tapi yah," kata Fahri
" Aku sudah sangat rindu dengan ibu kamu, aku lihat kamu sudah sangat berhasil membangun rumah sakit ini.aku merasa semua keinginanku sudah terkabul, kini saatnya aku menemui ibumu." kata pak Yudi perlahan
Fahri hanya diam sambil menunduk, tiba-tiba Difa datang.Mendengar sang mertua sudah sadarkan diri Difa buru-buru meletakkan pekerjaannya dan langsung menuju ruangan ayahnya.
" Ayah, apa kamu baik-baik saja?" tanya Difa sambil mendekat keayah mertuanya
" Aku baik-baik saja, maafkan ayah, ayah tidak bisa bertahan melihat cucu ayah." kata pak Yudi
Fahri memalingkan wajahnya, dia berdiri dan pergi meninggalkan Ayahnya dan Difa, dia tidak tahan menahan air matanya yang sudah membendung.
Difa melihat sang suami keluar dia duduk dan menggenggam tangan ayah mertuanya.
" Ayah apa yang kamu bicarakan, ayah akan hidup lama, ayah akan melihat cucu-cucu ayah yang bermain dipangkuan ayah." kata Difa
" Difa dengarkan ayah, ayah sudah sangat rindu dengan ibu mertuamu.Ayah ingin pergi dengan tenang." kata pak Yudi
Difa tidak lagi berbicara dia hanya diam sambil mengusap air mata yang terus saja menetes dipipinya.
Difa keluar dia terlihat berjalan sempoyongan dan hampir saja terjatuh.
Dokter Edo menahan tubuh Difa yang sudah lemas.
Difa tidak bisa mengendalikan diri dia jatuh pingsan.Dokter Edo dan beberapa suster membawanya keruangan untuk diperiksa.
Fahri berlari menemui Difa yang masih terbaring tapi sudah sadarkan diri.
" Ayah, ayah." Difa tidak bisa menahan air matanya dia terus saja menangis sambil memeluk sang suami yang ada disampingnya.
Fahri tahu maksud perkataan Difa, dia juga tidak bisa berkata apa pun, semua yang dikatakan sang ayah adalah permintaan tulus sang ayah.Meskipun mereka tidak rela, mereka harus menghormati keputusan sang ayah.
Difa terlihat sudah tenang dan bisa mengontrol dirinya.Fahri keluar dia mengumpulkan para dokter dan suster yang sudah bekerja disana ketika sang ayah masih menjadi dokter disini.
Wajahnya terlihat tidak bersemangat dia masih belum rela tapi dia harus menghormati keputusan sang ayah.
" Jika ada yang ingin menyampaikan salam perpisahan kepada dokter Yudi, kalian boleh melakukannya." kata Fahri
Semua dokter dan suster yang mendengar perkataan dokter Fahri merasa terkejut, suster Ana yang sudah lama bekerja disana menemani dokter Yudi waktu itu pun juga sangat terkejut, tapi dia mencoba memahami situasi ini mungkin ini yang terbaik untuk dokter Yudi.
Dwi, Adam dan Ayu juga berdiri disana bersama yang lain.Meskipun mereka adalah orang-orang baru disana tapi mereka bisa merasakan kesedihan yang mendalam yang dialami para dokter dan suster disana.
Semua orang bergiliran masuk melihat keadaan pak Yudi.Pak Yudi terlihat tersenyum melihat para pegawainya dulu berkumpul masuk kedalam melihat dirinya.Dia tahu mereka ingin mengucapkan salam perpisahan kepadanya.
Meskipun merasa sedih, semua yang ada didalam berusaha menyembunyikan perasaan mereka dengan tetap tersenyum didepak pak Yudi.
" Dokter Yudi, kalau aku lulus nanti bolehkah aku bekerja disini?" kata Dwi
Pak Yudi hanya mengangguk dan tersenyum
" Bahkan kalau aku tidak lulus bolehkah aku tetap disini." kata Dwi lagi berusaha membuat suasana menjadi ringan.
Semua orang yang mendengar bersorak kalau Dwi harus lulus untuk menjadi dokter disini.
Pak Yudi menghela nafas panjang.Semua yang ada disana terlihat mulai khawatir, suster Ina tidak mampu menahan air matanya.Dia menangis tersedu-sedu.Dokter Edo menepuk bahu Ina dan mencoba menghentikan tangisannya.
" Aku menyesal harus berpisah seperti ini, tapi aku senang bisa mengenal kalian semua.Terima kasih untuk semuanya." kata pak Yudi
Ana keluar dan mencari dokter Fahri dan Difa yang berada diruangannya.Terlihat Fahri dan Difa berusaha untuk tenang dan mengikhlaskan permintaan ayahnya.
" Dokter Fahri, pak Yudi sudah menunggu anda." kata Suster Ana
Fahri menghela nafas panjang dan berdiri dari tempatnya.
" Baiklah...ayo kita lakukan." kata Fahri sambil mengandeng tangan Difa berjalan menuju ruangan ayahnya.
Dokter Fahri sampai diruangan ayahnya bersama Difa yang ada disampingnya.Difa duduk dan menggenggam tangan sang ayah sambil menahan air matanya.
" Kamu harus melahirkan cucu yang manis untukku dan ibu mertuamu, kami akan melihatnya disana." kata Pak Yudi sambil melihat Difa
Pak Yudi melihat kearah Fahri yang mengisyaratkan kalua dia siap alat-alat yang dipasang ditubuhnya untuk dilepaskan.
Satu persatu alat yang dipasang ditubuhnya mulai dilepas, Fahri menunduk menahan air matanya.Dia merasa tidak sanggup melepas alat terakhir yang ada ditubuhnya.
Belum sempat melepasnya dokter Yudi sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Difa memeluk sang ayah sambil menangis tersedu-sedu,Fahri hanya berdiri didepan sang ayah sambil menitikan air matanya.Begitu pula semua orang disana mereka menangis melihat kepergian pak Yudi.
Jenasah pak Yudi segera dibawa pulang dan di semayamkan dirumah duka.Jenasah dibawa kekediaman keluarga pak Yudi.banyak orang yang datang untuk berbela sungkawa atas meninggalnya pak Yudi.Banyak orang yang datang karena pak Yudi terkenal baik kepada semua orang jadi banyak orang yang datang memberikan penghormatan terakhir kepadanya.
Fahri dan Difa sudah terlihat tegar, mereka sudah mengikhlaskan kepergian sang ayah.Mungkin ini yang terbaik untuk ayahnya.
BERSAMBUNG