AYU

AYU
Keluarga dokter Fahri



Akhirnya mereka sampai dirumah dokter Fahri. Merekapun permisi memberi salam untuk masuk dan seorang wanita paruh baya menjawab salam mereka.Mungkin itu istri dokter Fahri, ternyata benar wanita itu adalah istri dari dokter Fahri.


" Kamu sudah pulang?" tanya Difa


" Hemmm." jawab Fahri singkat sambil melepas sepatunya


" Apa mereka mahasiswa itu, hallo selamat datang dirumahku, maaf hanya rumah kecil tapi ada dua tempat tidur dilantai dua.Untuk sementara kalian bisa tinggal disana." kata Difa


" Terima kasih Nyonya." kata Dwi


" Jangan memanggilku Nyonya, panggil aku kak Difa.Bukankah aku masih terlihat muda." kata Difa sambil tersenyum


" Hahaha...benar, kak Difa masih sangat cantik." kata Adam


Ayu dan Dwi hanya melihat Adam tertawa tanpa espresi apapun.



Nadifa Rahayu


Dia juga berkerja sebagai seorang dokter dan dirumah sakit yang sama dengan sang suami Fahri.


Mereka sudah menikah selama 6 tahun tapi belum memiliki seorang anak.


Meskipun belum ada suara tawa bayi dirumah mereka, kehidupan rumah tangga mereka sangat harmonis.Fahri sangat menyayangi dan mencintai Difa, begitu pula sebaliknya.


Dulu mereka tinggal dikota besar, tapi mereka memutuskan pindah kekota ini karena udara dan lingkungannya juga baik.Lagi pula ini juga kamoung halaman sang suami.Mereka berharap semoga disini mereka akan segera menimang seorang bayi yang lengkap keluarga mereka.


" Kami hanya tinggal berdua, ketika aku mendengar cerita suamiku tentang kalian aku menyuruhnya untuk mengajak kalian tinggal disini, itu akan membuat rumah ini ramai." Kata Difa


" Terima kasih kak." kata Ayu


" Kalian pasti tidak terbiasa tinggal diasrama yang seperti itu kan." kata Difa


Sejenak mereka diam dan saling melihat, karena memang benar yang dikatakan Difa mereka merasa takut tinggal diasrama menginggat kondisinya yang seperti itu.


"Hahahaha...kak Difa tahu saja." kata Adam sambil tertawa


Ayu dan Dwi merasa tidak enak, meski benar yang dikatakan kak Difa.Perlahan mereka ikut tersenyum.


" Sudahlah...aku juga yang bertanggung jawab selama kalian KKN disini jadi aku punya kewajiban menyediakan tempat tingga untuk kalian, selama kalian disini tetaplah tinggal bersama kami." kata Fahri.


" Terima kasih dokter." kata mereka serentak.


" Hari sudah malam, aku sudah menyiapkan kamar untuk kalian, yang kiri untuk Adam dan yang kanan untuk Ayu dan Dwi, kalian boleh kekamar dan beristirahatlah, bukankah besok kalian sudah bekerja dirumah sakit." kata Difa


Setelah itu mereka naik kelantai dua menuju kamar mereka,Difa tersenyum sambil terus melihat mereka sampai tidak terlihat lagi.Dia teringat masa lalu ketika sulitnya mencari tempat tinggal ketika dia KKN.


Selama Difa mampu, dia akan membantu anak-anak itu sampai selesai KKN karena dia tidak ingin yang terjadi padanya dulu terjadi kepada mereka.


" Kenapa?" tanya Fahri sambil merangkul Difa


"Tidak." kata Difa sambil bersandar dibahu sang suami


Fahri tersenyum, dia tahu kalau istrinya teringat masa lalu, masa-masa yang sulit sudah dilaluinya dengan susah payah, sekarang saatnya menjalani hidup dengan baik.


Hari sudah malam kini saatnya mereka beristirahat, besok pagi mereka harus bangun pagi-pagi untuk pergi ke rumah sakit. Difa dan suami berjalan menuju kamarnya mereka bersiap untuk tidur.


Difa duduk bersandar ditempat tidur dia melihat suaminya melepaskan mantel dan berbaring disampingnya.


" Apa yang sedang kamu pikirkan.?" kata Fahri


" Kita tidak salah kan menyurùh mereka tinggal dirumah kita." kata Difa


" Tenanglah, sepertinya mereka anak-anak yang baik, sepertinya kamus mereka sama dengan kampus Juna, besok kita akan menanyakan ini kepada Juna.Sekarang tidurlah dulu." kata Fahri sambil memeluk istrinya.


Difa menghela nafas panjang dan memejamkan matanya,sebelum benar-benar tertidur dia berharap semua akan baik-baik saja dan keputusannya berbuah baik.



Dilihatnya bukit yang hijau dan bunga-bunga yang bermekaran.Dia menghirup udara yang begitu segar.


" Anak-anak cepat bangun, kita sarapan bersama." kata Difa yang berteriak dari bawah.


Ayu segera membangunkan Dwi, setelah Dwi bangun dia segera bergegas kekamar mandi.Tidak lama Ayu keluar dan bergantian Dwi yang mandi.


Adam sudah siap dan duduk dimeja makan bersama Fahri.


Tidak lama Ayu dan Dwi pun turun kebawah, sepertinya ada sosok lain yang berada dimeja makan.Sosok pria yang kemarin dilihatnya diperpuatakan.


Ayu dan Dwi duduk dimeja makan, Ayu menatap pria itu mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin.


" Kalian pasti ingin tahu siapa dia kan?" kata Difa sambil menepuk pundak Juna


" Dia adalah Arjuna, biasa dipangil Juna.Dia juga salah satu dokter dirumah sakit kita bekerja."


Semua memperkenalkan diri satu persatu sambil berjabat tangan.Tangan Juna begitu dingin mungkin karena dia gugup bertemu dengan Ayu disini.


" Juna tinggal dirumah sebelah, umurnya tidak jauh beda dengan kalian jadi kalian bisa berteman baik." Kata Fahri.


Juna hanya tersenyum dan mulai makan pelan-pelan sambil sesekali melihat kearah Ayu.Ayu belum menyadari pandangan Juna.


" Baiklah hari sudah semakin siang, kita harus segera berangkat." Kata Difa


" Tapi aku hanya bisa membawa dua diantara kalian, salah satu ikut Juna ya." Kata Fahri


Adam berbisik kepada Dwi kalau dia tidak ingin satu mobil dengan Juna, Adam merasa Juna begitu dingin.Begitu pula dengan Dwi dia juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan Adam.


Mereka sepakat meninggalkan Ayu agar dia ikut mobil Juna.Ketika mereka berjalan keluar Ayu lupa membawa jubah dokternya lalu mengambilnya keatas.Ini adalah kesempatan Adam dan Dwi untuk meninggalkan Ayu bersama Juna.


" Kak...biarkan Ayu yang ikut kak Juna, kita ikut mobil kak Difa ya." kata Adam


Difa melihat jam ditangannya, hari sudah semakin siang jadi dia meninggalkan Juna untuk menunggu Ayu, sedangkan semua pergi kerumah sakit terlebih dahulu.


Saat Ayu keluar, dia tidak melihat yang lainya. Dia hanya melihat Juna sedang berdiri disamping mobil menunggunya.


" Kemana yang lain?" tanya Ayu.


" Sudah berangkat, kak Difa menyuruhku menunggumu." kata Juna


Ayu hanya tersenyum, Juna membukakan pintu mobil dan menyuruh Ayu masuk kedalam agar mereka bisa segera betangkat.


" Kak Juna alumi kampusku juga ya." kata Ayu mulai pembicaraan.


" Iya..." jawab Juna


" Tapi rasa-rasanya aku tidak pernah melihat kak Juna deh." kata Ayu


" Karena mata kamu selalu tertuju kepada Boy." kata Juna


" Jadi kak Juna benar-benar alumi kampusku." kata Ayu


Ayu mulai menikmati pemandangan yang indah disepanjang jalan menuju rumah sakit.


" Mau aku bukakan jendelanya.?" tanya Juna


"Bolehkah..?" kata Ayu sambil mengangguk


Juna membuka kaca jendelanya, Ayu memejamkan matanya sambil menikmati udara yang menerpa wajahnya.Juna tersenyum melihat Ayu, dia tahu Ayu begitu menyukai pegunungan yang masih segar seperti ini.


Entah apa yang ada didalam hati Juna saat ini, bahagia yang tidak terkira bisa sedekat ini dengan gadis yang disukainya selama ini.


BERSAMBUNG