
Beberapa hari berlalu, bahkan minggu dan bulan Ayu sudah terbiasa dengan lingkunan dan kehidupannya.Setiap hari Boy denga sabar mengantar dan menjemput Ayu.
Ayu sudah mulai terbiasa menjalani hidupnya sebagai seorang istri dan seorang dokter.
Meskipun keahliannya sebagai dokter bedah jarang dipergunakan dirumah sakit dia bekerja, dengan senang hari Ayu mau membantu dokter lain untuk menyelesaika tugas-tugas mereka.
Ayu dikenal dengan dokter yang baik dan ramah dirumah sakit.Tidak hanya dirumah sakit Ayu juga ramah kepada para tetanga dilingkungan rumahnya.Mereka sering berkumpul ditaman dekat rumah hanya sekedar ngobrol dan menyapa.
" Aku sudah terlambat." kata Ayu yang buru-buru turun kebawah.
" Kita berangkat sekarang..." Ayu mengambil sepotong roti dan berjalan keluar.
Dia berhenti dan melihat Boy yang masih duduk menghabiskan makanannya dimeja makan.
" Sayang, ayo kita berangkat aku sudah terlambat." kata Ayu
" Kenapa terburu-buru makan sarapanmu dulu, baru kita pergi." kata Boy
" Aku akan memakannya dimobil." kata Ayu sambil menunjukkan sepotong roti isi ditangannya.
" ayo aku tidak punya waktu banyak."
Boy menuruti perkataan Ayu ,mereka berangkat menuju rumah sakit dimana Ayu bekerja.
" Sebenarnya apa yang terjadi." tanya Boy sambil mengemudi
" Hari ini ada seorang pasien yang harus aku operasi, sudah lama sekali pasien meninggu sang pendonor.Aku tidak ingin membuang-buang waktu." kata Ayu sambil sesekali menelan makanannya
" Memangnya kenapa," kata Boy
" Pasien adalah ibu pendonor, sang ibu tidak ingin menerima ginjal sang anak kerena tidak ingin masa depan anaknya hancur.Sedangkan sang anak sendiri juga tidak mau mendonorkan gijalnya karena akan mempengaruhi masa depannya.Setelah kami memberikan masukan dan penjelasan akhirnya pasien dan pendonor mau dioperasi.Aku tidak ingin mengundur waktu lagi, kasien ginjal pasien sudah sangat parah harus segera diambil." kata Ayu
Boy hanya diam dan memahami cerita Ayu, dia mulai menyadari sifat Ayu setelah beberapa hari ini dia melihat Ayu begitu serius dengan pekerjaannya bahkan dia juga melakukan pekerjaannya sebagai seorang istri yang baik untuknya.
Mereka sudah sampai, Ayu segera membuka pintu dan turun.
Boy memahan tangan Ayu.
" Ada apa.?" kata Ayu
" Berikan aku satu ciuman." kata Boy
Ayu mendekat dan mencium bibir Boy dengan lembut.Boy tersenyum dan kembali mencium Ayu.
" Sudah...aku sudah terlambat." Ayu mendorong tubuh Boy dan pergi keluar mobil
" Aku akan menjemputmu nanti." kata Boy sambil melambaikan tangannya.
Dia melihat Ayu masuk kedalam rumah sakit, Tiba-tiba ponselnya berbunyi sebuah pangilan dari Novi.Sudah lama mereka tidak bertemu, setelah Ayu datang kekota ini Boy sangat berhati-hati dia tidak ingin hubungannya dengan Novi diketahui oleh Ayu.
Boy tidak bisa memilih antara Ayu dan Novi, dia menyukai kedua wanita itu dan rasa cintanya sama besar kepada mereka berdua.
Boy menghentikan mobilnya dipinggir jalan, Novi berada disana sedang menunggu kedatangan dirinya.
" Ada kamu memanggilku." kata Boy kepada Novi yang masuk kedalam mobil
" Kamu sudah lama tidak datang ketempatku, aku sangat merindukan kamu." kata Novi
" Ayu sedang ada dirumah, aku tidak bisa sering-sering menemui kamu." kata Boy
" Kamu akan datang malam ini kan, kamu sudah janji." Novi berbicara sangat manja kepada Boy
" Baiklah...baiklah... aku akan datang ketempatmu malam ini." kata Boy
Novi tersenyum dan bersandar dibahu Boy, mereka pergi Boy mengantarkan Novi ke tempat pemotretan.Setelah mengantar Novi dia langsung pergi kerumah sakit.
Ayu keluar dari ruang operasi, operasi berjalan sangat sukses.
" Kerja bagus." kata Ana sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Datang seorang pemuda yang mencari seseorang.
seorang suster memberitahu kepada pemuda itu kalau orang yang dia cari baru saja selesai menjalankan operasi.
Dia berlari kedepan ruang operasi.Ayu berjalan mendekati sang pemuda.
" Tuan mencari siapa.?" tanya Ayu
" Melani, dia baru saja mendonorkan ginjalnya kepada ibunya." kata Sang pemuda
" Oh...Dia pasienku, operasi berjalan dengan lancar keduanya akan segera dipindahkan dari ruang operasi.Kalau boleh tahu siapa anda?" tanya Ayu
" Nama saya Nino, saya tunangan Melani.Saya sangat khawatir kepadanya karena awalnya dia tidak ingin mendonorkan ginjalnya kepada ibunya.Walaupun sebenarnya Melani sangat ingin tapi ibu saya menahannya karena kalau hanya memiliki satu gijal dia akan menjadi wanita yang cacat." kata Nino
" Itu semua tidak benar, memang Melani akan berbeda dengan wanita pada umumnya.Tapi tidak akan berdampak buruk kepada kesehatan Melani." kata Ayu
Setelah mendengar penjelasan Ayu, Nino terlihat sedikit tenang, dia selalu berada disamping Melani dan ibu Melani sampai keduanya sadar.
Tidak ada banyak ruangan dirumah sakit ini jadi ruangan Melani dan ibunya menjadi satu.
" Dokter...Melani dan ibunya sudah siuman." kata Nino
Ayu segera melihat dan memeriksa kondisi keduanya.Terlihat Melani melihat sang ibu yang masih diperiksa Ayu sedang menitikan air matanya.
" Jangan menangis ibumu akan baik-baik saja." kata Nino
" Mas...kamu disini juga." kata Melani sambil mengengam tangan Nino
" Aku akan selalu ada disampingmu apa pun yang terjadi." kata Nino sambil mengusap air mata yang membasahi pipi Melani.
Ayu tersenyum melihat pasangan ini berbaikan.Ibu Melani juga menitikan air mata karena melihat Nino bisa menerima anaknya.
" Bu maafkan Nino dan ibu Nino yang berbicara kasar kepada Melani dan ibu." kata Nino sambil mengenggam tangan ibu Melani
" Tidak apa-apa nak." kata ibu Melani
Tiba-tiba pintu kamar terbuka.Ternyata ibu Nino yang datang, Ayu tidak ingin menganggu pembicaraan keluarga jadi dia memutuskan untuk keluar meninggalkan mereka.
Ketika Ayu keluar dia memberitahu seorang suster kalau tersengar suara gaduh atau semacamnya untuk segera memberitahunya.
Ayu khawatir ibu Nino akan berbuat yang tidak-tidak.
" Besan, aku datang kesini hanya untuk minta maaf, aku mengerti kondisi kamu dan Melani.Sebenarnya aku tidak ingin memiliki menantu yang cacat dan sakit-sakitan," kata ibu Nino
" Hentikan bu." kata Nino
Melani menahan tangan Nino dan mengelangkan kepalanya memberitahu Nino agar tidak melawan ibunya.Ketika dia bersedia diopesi dia sudah mempersiapkan semua ini akan terjadi.
" Diam kamu, jangan menyela ketika ibu berbicara."
Tatapan mata ibu Nino sangat menakutkan
" Aku berusaha memahami situasi ini.Aku akan tetap menerima Melani menjadi menantuku asalkan dia tetap bisa memberikan keturunan kepadaku." kata ibu Nino
" Apa bu...ibu tidak bercanda kan." Nino terlihat kaget dia mendekat memastikan apa yang dikatakan ibunya itu adalah kebenaran.
" Aku tahu memiliki satu gijal tidak akan mempengaruhi kalian untuk memiliki anak, aku hanya menguji Melani memilih kamu atau ibunya.Tapi kelak kamu harus baik-baik menjaga Melani jangan membiarkan dia lelah." kata ibu Nino
Ibu Nino duduk disamping Melani dan mencium kening Melani.
Semua terlihat tersenyum dan bahagia.
Karena khawatir Ayu mengintip dari balik kaca pintu, dia tersenyum akhirnya keluarga itu berakhir dengan bahagia.
BERSAMBUNG