AYU

AYU
Menata hati



Ayu berbaring sambil mendekap Zayn yang ada dipelukannya. Sambil melihat luruh kearah foto pernikahan yang tepat berada dihadapannya. Matanya kosong sambil sesekali mengeluarkan air matanya.


Sambil sesekali melihat kearah Zayn sambil mencium keningnya beberapa kali. Ayu masih belum bisa melupakan apa yang dilihatnya tadi begitu teganya Boy pria yang selama ini dia percaya ternyata telah membagi hatinya dengan wanita lain.


Dalam hati Ayu terus bertanya apa yang salah dengannya. Mengapa dengan teganya Boy berbuat demikian. Tapi kalau dia meminta cerai bagaimana nasib anak semata wayangnya, tumbuh tanpa kasih sayang ayahnya.


" Aku pulang...kenapa sepi sekali?" kata Boy sambil masuk kedalam rumah dan melihat sekeliling terlihat sepi.


Ayu buru-buru menghapus air matanya. Dia berkaca merapikan dirinya dan turun menyambut Boy.


" Sudah pulang... kenapa baru pulang, apa banyak sekali pasien hari ini?" tanya Ayu sambil mengambil jas beseta tas ditangan Boy.


" Iya....aku tidak tahu kenapa hari ini begitu banyak orang yang pergi kerumah sakit, kenpa sepi sekali, apa Zayn sudah tertidur?" kata Boy


" Iya....dia baru saja terlelap. hari ini bi Ina pulang kampung, ibunya meninggal dunia."


Mereka menuju kamar mereka, Boy mendekati Zayn yang terlelap kemudian maju hendak mencium Zayn, tapi tangan Ayu mencegahnya.


" Kenapa?" tanya Boy sambil melihat kearah Ayu


" Mandi dulu, kamu baru dari luar." kata Ayu yang tersenyum manis.


Tersenyum sangat manis, hingga membuat Boy luluh dan beranjak pergi menuju kamar mandi. Melihat Boy sudah memasuki kamar mandi Ayu memeriksa saku jas Boy berharap menemukan sesuatu untuk dijadikan bukti. Namun tidak berjalan sesuai harapan, Ayu tidak menemukan sesuatu sama sekali.


Ayu mengehela nafas panjang dan menjatuhkan tubuhnya keatas kasur, dia melihat kelangit-langit membayangkan kembali bagaimana suaminya bermesraan dengan wanita lain diluar sana. Tangannya mengepal dan memukul kasur dan meleparkan jas suaminya kekeranjang pakaian kotor.


" Sayang...besok aku akan pergi dinas keluar kota selama 3 hari." kata Boy sambil mengeringkan rambutnya yang basah.


Ayu diam sambil menatap Boy yang masih berdiri dengan rambutnya yang berantakan dan basah.


" Kenapa, apa ada yang salah." kata Boy sambil duduk disamping istrinya yang terlihat cemberut


Boy mendekat dan menyodorkan wajahnya hendak mencium kening Ayu, namun Ayu menghindar dengan cepat.


" Kenapa..." tanya Boy sambil terus menatap Ayu yang terlihat berbeda.


" Tidak apa-apa." Ayu berusaha tersenyum lebar menyembunyikan segalanya.


" Kemana kamu akan dinas, dan ada acara apa?"


Ayu berusaha mengalihkan pembicaraan.


" Aku tidak sendiri, aku pergi bersama dokter Firman juga perwakilan dari rumah sakit dimana kamu bekerja dulu." kata Boy


"hemmm.... sebaiknya kamu telepon mama agar kesini menemani kamu." kata Boy


Mungkin benar yang dikatakan Boy, sebaiknya Ayu menyuruh mamanya untuk menemaninya. Lagipula bi ina sedang pulang kampung, tidak ada yang membantunya.


" Baik.... aku akan menyiruh mama datang besok." kata Ayu.


Boy tertidur pulas namun Ayu belum bisa memejamkan matanya. Dia masih kepikiran mengapa dan bagaimana bisa suaminya yang selama ini dia cintai bisa menghianati dirinya seperti ini. Dia memandangi wajah Boy yang tidur disampingnya sambil sesekali air matanya mengalir. Hatinya sangat sakit saat ini, tapi dia harus menahan semua sakit ini demi masa depan anaknya.


Ayu bangun, dia melihat ponsel suaminya yang ternyata tidak dikunci, dia mengecek semua panggilan dan chat yang masuk. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan dari ponselnya. Ayu keluar kamar menuju balkon kamarnya memandangi sang ratu malam yang bersinar dengan sempurna malam ini.


" Apa yang harus aku lakukan." gumam Ayu.


Dia memejamkan matanya mengingat-ingat kembali masa yang pernah dia lewati bersama suaminya. Dia berbalik dan melihat dikaca cendela kamarnya, dia terlihat lusuh dengan daster yang menempel pada tubuhnya. Rambutnya juga terlihat berantakan.


" Mungkin karena ini kak Boy mencari wanita lain." gumam Ayu sambil merapikan pakaian dan rambutnya yang kini sudah tumbuh lebih panjang tanpa Ayu sadari.


Ayu kembali menghela nafas panjang, membalikan tubuhnya dan kembali melihat bulan dan bintang yang bersinar jauh dilangit, tangannya diangkat hendak menggapai bulan dan gengamannya.


" Aku telah memiliki segalanya, namun aku tak pernah sekecewa ini." gumam Ayu


Ayu kembali tersadar ketika mendengar suara Zayn yang menangis dengan keras. ketika Ayu kembali masuk kedalam kamar dilihatnya disana Boy sudah berusaha menengkan Zayn dalam dekapannya.


" Mungkin dia lapar." kata Boy sambil memberikan Zayn kepada Ayu


" Sayang....sayang lapar kah, sini ***** yang banyak ya." kata Ayu sambil mengendong Zayn menuju tempat tidur dan menyusuinya.


" Apa yang kamu pikirkan?" tanya Boy


Ayu kaget mendengar perkataan Boy, mungkinkah Boy mengetahui sesuatu, atau jangan-jangan dia tahu kalau Ayu tadi siang melihat dia bermesraan bersama dengan wanita lain.


" Kenapa?" tanya Ayu singkat.


" Aku tahu, ada suatu yang sedang menganggu pikiranmu." Boy menatap Ayu


" Jangankan pikirkan apa-apa lagi, aku akan segera kembali kalau pekerjaan disana selesai. atau kalau kamu tidak percaya padaku, kamu bisa bertanya kepada Firman." kata Boy


Ayu hanya diam, apa yang dikatakan Boy berbeda dengan apa yang dipikirkan Ayu saat ini, namun Ayu tidak berani bertanya atau mengintrogasi suaminya itu saat ini. Dia harus kuat dan menata hatinya untuk masa depan Zayn yang kini masih butuh kasih sayang dari kedua orang tuanya.


BERSAMBUNG