
Ayu tiba dibandara bersama Dwi dan Adam, mereka tampak lelah.Terlihat wajah mereka yang lemas, tapi tidak dengan Ayu.Dia malah terlihat senang ketika dia sampai disini.
"Kenapa kalian tidak bersemangat seperti itu.?" tanya Ayu
" Aku capek sekali, kemarin aku makan malam dengan keluarga bahkan keluarga jauhku juga datang.Kita ngobrol sampai malam, aku hanya tidur sebentar." Kata Adam sambil menutupi kulutnya yang menguap.
Ayu dan Dwi hanya memandangi Adam.
" Apa kalian butuh tumpanga.?" kata pak Udin yang tiba-tiba berada didepan mereka.
" Pak Udin...Terima kasih, bisa antar kami ke rumah sakit." Kata Ayu
" Baiklah." kata pak Udin sambil memasukkan koper mereka ke bagasi mobilnya.
" Tunggu...Rumah sakit,? maksud kamu kita langsung kerumah sakit dan bekerja.Oh tidak...kenpa kita tidak pulang kerumah dokter Fahri saja sih." kata Adam
Ayu dan Dwi tidak memperdulikan Adam yang terus saja mengeluh, mereka langsung masuk kedalam mobil.Pak Udin pun juga ikut masuk, Adam yang terlihat kecewa akhirnya masuk kedalam mobil juga.
"Jadi kita pergi kemana non.?" tanya pak udin
" Bapak tahu rumah dokter Fahri.?" tanya Ayu
" iya non." jawab pak Udin
" Kita pergi kerumah dokter Fahri saja pak." kata Ayu sambil melihat Adam
" Baik non."
Pak Udin mulai mengemudikan mobilnya menuju rumah Dokter Fahri.
Sedangkan Adam yang duduk didepan melihat kebelakang dan terus saja tersenyum.Dwi dan Ayu tersenyum melihat tingkah Adam.
Karena jarak bandara dengan rumah dokter Fahri lumayan jauh, Adam tertidur begitu pula dengan Dwi.Ayu melihat keluar jendela dia melihat pemandangan perjalanan yang berupa bukit-bukit yang masih hijau.
Jarak antara satu rumah dengan rumah lain lumayan jauh, banyak bunga yang ditanam diantara rumah-rumah disini yang membuat Ayu begitu menikmati pemandangan ini.
Ayu ingat ketika dia baru sampai disini, awalnya dia tidak begitu menyukai tempat ini.Tapi setelah lama tinggal disini, Ayu malah merindukan tempat ini ketika dia kembali kekotanya.
" Nona Ayu tidak tidur.?" kata Pak Udin
Ayu kaget dan tersenyun dia sadar dari lamunannya.
" Pak Udin, lihatlah pemandangan disini begitu indah, Ayu sangat menyukai tempat ini." Kata Ayu
Pak Udin tersenyum sambil melihat kesekeliling, baginya tempat ini biasa saja. Mungkin karena dia sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini setiap hari jadi dia tidak memperhatikan lingkungan disekitarnya.
" Nona bisa saja, bukankan lebih enek hidup dikota besar.?" kata pak Udin
" Dikota tidak enak pak, banyak polusi, macet dimana mana.Tapi disini jalanan tampak sepi, sepanjang mata memandang yang terlihat hanya warna hijau tumbuh-tumbuhan yang ada dimana-mana." kata Ayu
" Kalau begitu, kenapa nona Ayu tidak tinggal disini saja." kata Pak Udin
Ayu kaget mendengar kata-kata pak Udin, dia terdiam cukup lama.Didalam lubuk hatinya yang paling dalam ada keinginan dia untuk tinggal ditempat ini.
" Ayu tidak bisa pak Udin, suami Ayu bekerja dikota, Ayu tidak bisa tinggal disini."
Pak Udin terdiam, dia tahu bagaimana perasaan Ayu yang tinggal terpisah dengan suami dan keluarganya.Meskipun dia sangat ingin tinggal disini tapi jelas dia tidak ingin terpisah dengan keluarganya.
Tidak terasa mereka sudah tiba dirumah dokter Fahri, tahu deh melihat Ayu tertidur.Dia mencoba membangunkan ketiga calon dokter itu.
" Tuan bangun, kita sudah sampai, nona ayo bangun kita sudah sampai." Kata pak Udin sambil menepuk pundak Adam perlahan.
Adam membuka matanya, dia melihat rumah dokter Fahri sudah ada didepannya.Kemudian dia membangunkan Ayu dan Dwi yang ada dibelakang.
Ayu turun dari mobil mengambil kopernya yang sudah dikeluarkan oleh pak Udin dari bagasi mobilnya.Ayu sudah tidak sabar bertemu dengan dokter Difa, meskipun dia tahu dokter Difa masih berada dirumah sakit tapi dengan penuh harap dokter Difa akan berada dirumah.
Ayu berjalan menuju pintu dia mengetuk pintu dan memberi salam, lama sekali tidak ada jawaban.Ayu menghela nafas panjang dan berhenti memanggil-manggil Dokter Difa.
"Tidak ada yang menjawab pasti dokter Difa dan dokter Fahri masih berada dirumah sakit." Kata Dwi
"ya." jawab Ayu singkat
Adam menuju halaman depan dan duduk disebuah bangku ayunan, dia berbaring disana.Adam menutup matanya dia menikmati udara pegunungan yang sangat segar angin sepoi-sepoi dan matahari yang bersinar hangat membuatnya nyaman dan kembali tertidur.
Ayu tersenyum melihat Adam yang sudah tertidur dengan pulas, Ayu menggeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi dokter Difa.Memberitahu kalau Ayu dan yang lain sudah berada dirumahnya.
Tidak ada jawaban dari dokter Difa, hanya mesin penjawab yang menjawab pangilannya.Ayu berfikir mungkin Dokter Difa masih sibuk dengan pekerjaannya atau mungkin ada pasien yang harus dia tangani.
Ayu duduk sambil memainkan ponselnya.Memberitahu Boy kalau dia sudah kembali kekota X untuk bekerja lagi.
Tidak lama kemudian pintu terbuka.Ayu yang berada disamping pintu kaget dan langsung berdiri.
Ayu melihat siapa yang ada dibalik pintu, bukankah dokter Fahri dan Difa masij sibuk dirumah sakit, dia bingung siapa yang berada dirumah saat ini.
Ayu kaget melihat dibalik pintu adalah dokter Difa, dia semakin kaget melihat dokter Difa yang tampak begitu pucat.
" Kak Difa,!" kata Ayu
" Ayu...kapan kalian kembali, kenapa tidak memanggilku.?" kata Difa sambil melihat Adam dan Dwi yang berada ditaman.
" Kami sudah memanggil kak Difa beberapa kali tapi tidak ada jawaban.Tapi aku juga menelpon kak Difa tapi tidak ada jawaban juga, aku pikir kak Difa dan kak Fahri sedang sibuk dirumah sakit." kata Ayu
" Maaf aku tadi sedang tidur, aku merasa tidak enak badan." Kata Difa
Ayu mengamati Difa memang terlihat tidak sehat.Sedangkan Difa tampak tidak stabil dia memegang kepalanya dan tiba-tiba dia terjatuh.
" Kak...kak Difa kakak kenapa.?" tanya Ayu panik
Dwi melihat Difa jatuh pingsan dia segera membangunkan Adam dan berlari mendekati Ayu dan Difa.
" Kak Difa kenapa Yu." tanya Dwi
" Aku tidak tahu, setelah membuka pintu dan ngobrol sebentar tiba-tiba dia jatuh pingsan." kata Ayu
" Sudahlah kita bawa masuk dulu kak Difa, aku akan segera memeriksanya dan mencari tahu apa yang terjadi." kata Adam
Mereka membawa masuk Difa dan membaringkannya diatas tempat tidurnya.Adam mengambil beberapa perlengkapan dan mulai memeriksa keadaan Difa.
Sedangkan Ayu dan Dwi hanya bisa melihat dan menunggu Adam selesai memeriksa Difa.
Adam tampak tenang, malah terlihat senyuman diwajahnya.
" Kenapa kamu tersenyum, cepat beritahu apa yang terjadi kepada kak Difa." Kata Dwi
Dengan penuh penasaran Ayu dan Dwi menatap wajah Adam, menunggu penjelasan Adam tentang apa yang terjadi kepada Difa.
" jangan melihatku seperti itu, sebaiknya kamu telpon kak Fahri agar segera kembali kerumah, setelah itu akan aku jelaskan kepada kalian semua apa yang terjadi kepada Difa." Kata Adam.
Ayu menelpon Fahri menyuruhnya untuk segera kembali kerumah.Ayu tidak menjelaskan apapun kepada Fahri karena dia tidak tahu apa yang dialami Difa.
Fahri segera pulang, dia takut terjadi sesuatu kepada istrinya, tadi pagi ketika dia meninggalkan rumah Difa memang mengeluh kalau dia merasa tidak enak badan dan ijin tidak pergi kerumah sakit.
BERSAMBUNG