
Hari-hari berlalu, Adam mulai merasakan hal yang berbeda didalam hatinya.Ketika dia melihat Dwi jantungnya berdetak dengan kencang.Dia bertanya-tanya dalam hati tentang perasaannya saat ini.Mungkinkah dia mulai menyukai Dwi.
Mereka sudah saling mengenal cukup lama, saat ini dia dipertemukan dalam satu pekerjaan dan study yang sama membuat mereka semakin dekat karena sering menghabiskan waktu bersama rasa suka tiba-tiba hadir dalam hatinya.
Meskipun Adam tidak tahu bagaimana perasaan Dwi kepadanya, tapi dia berharap perasaannya akan terbalas.
" Kamu sedang lihat apa.?" kata Fahri
" Dokter....dokter mengagetkan aku saja." kata Adam sambil mengelus dadanya wajahnya masih terlihat kaget karena kehadiran dokter Fahri yang tiba-tiba
" Kamu lihat Dwi ya." kata Fahri sambil melihat Dwi yang ada tidak jauh dari tempat mereka berdiri
" eh...tidak dok." kata Adam mengelak tapi wajahnya terlihat memerah dan menjadi salah tingkah
" Kalau suka katakan saja.Jangan sampai kamu menyesal setelah dia diambil orang lain." kata Fahri
Juna yang baru saja lewat disamping mereka tiba-tiba berhenti, dia sedikit mendengar percakapan mereka.
Fahri juga kaget karena Juna menatapnya dengan tajam.
" Ini bukan soal kamu, kamu lanjut kerja saja." kata Fahri sambil mendorong Juna meninggalkan mereka.
" Memangnya dokter Juna juga pernah ditolak.?" tanya Adam
" Bukan ditolak, tapi dia tidak sempat bilang kalau dia menyukai gadis itu, sedangkan sekarang gadis itu sudah menikah dengan orang lain." kata Fahri sambil menghela nafas dan menatap Juna yang pergi menuju ruangannya.
Fahri menepuk pundak Adam, berharap yang sudah terjadi kepada Juna tidak akan terulang kembali kepada orang lain, apalagi Adam.
Adam melihat dokter Juna dari jauh, dia juga tidak ingin seperti Juna yang gagal mendapatkan cintanya.Adam terus saja berfikir orang sebaik Juna saja bisa gagal dalam mendapatkan cintanya apalagi dirinya yang pas-pasan.
Adam meyakinkan dirinya untuk terus berjuang mendapatkan cintanya.Apalagi saat ini orang yang dicintainya juga berada didekatnya dan sepertinya belum ada yang mengisi hatinya.
Adam kembali keruang staf.Disana dia mulai melihat dan mencari cara untuk mengungkapkan perasaannya.
" Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Ayu yang tiba-tiba ada dibelakang Adam
" Cara-cara menyatakan cinta." Ayu membaca sebuah kalimat dalam pencarian.
Adam menutupi layar komputer dengan kedua tangannya, wajahnya merah karena malu.
" Mau bilang cinta kepada siapa?" tanya Ayu sambil senyum-senyum dan mengoda Adam
" Beritahu siapa gadis itu aku akan membantumu." bisik Ayu
Adam melihat Ayu, dari wajah Ayu terlihat kalau dia sedang menahan tawa wajahnya merah dan bibirnya terlipat.
" Kamu yu...jangan mengodaku seperti itu." kata Adam sedikit kecewa.
" Aku serius, aku akan membantu kamu menyatakan cinta kepada gadis itu." kata Ayu sambil mengangkat tangannya.
Adam tersenyum dan menceritakan semuanya, isi hatinya dan pikirannya serta kekawatirannya, dia takut kalau perasaannya akan ditolak.Ini pertama kali dia menyatakan cintanya.Sebelumnya dia hanya memendam perasaannya dan akhirnya gadis yang disukainya menjadi milik orang lain.
Walau dulu dia tidak pernah serius dengan perasaannya, tapi kali ini dia sangat serius dari awal bersama, suka, kagum kemudian rasa itu bertambah menjadi cinta.
" Tunggu...jangan-jangan gadis itu Dwi?" kata Ayu
Adam menatap Ayu, perlahan dia menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
" Adam...jangan tunggu lama-lama, aku yakin Dwi juga menyukaimu." kata Ayu
" Dari mana kamu tahu?" tanya Adam
Ayu binggung menjawab apa, waktu itu Dwi pernah sekali bercerita kepadanya kalau dia mengagumi sosok Adam.Tapi dia sudah berjanji kepada Dwi dia tidak akan pernah membocorkan rahasia ini.
" Eh...hanya menduga-duga saja." kata Ayu sambil tersenyum.
" Baiklah langkah pertama beli bunga yang cantik untuknya." kata Ayu
Ayu dan Adam mulai menyusun rencana untuk menyatakan cinta.
Hari ini setelah pulang kerja mereka akan berencana membuat kejutan kepada Dwi.
Hari ini Dwi akan pulang terlambat dengan Difa, Ayu sudah memberitahu Difa dan Fahri mengenai rencananya bersama Adam hari ini.
Difa setuju dia akan berusaha menahan Dwi sampai semuanya siap.
Sudah jam 8 malam, Ayu pulang bersama Adam dan Fahri mereka mampir ke toko bunga untuk membeli bunga.
" Bukankah seharusnya bunga mawar dengan kertas warna pink." kata Fahri
" Tapi Dwi menyukai warna hijau," Adam terlihat galau
" Bukan bunga atau pun warnanya tapi maknanya." kata Ayu
" Bunga apa pun yang penting ketulusan hati kamu."
Setelah mendengar kata-kata Ayu, Adam membayar bunga yang ada ditangannya.Mereka pulang menuju kerumah Fahri mempersiapkan berbagai macam kejutan untuk Dwi.
Tangan Fahri sedang membawa seikat bunga yang berwarna kuning, katanya dia akan memberikan bunga iti kepada Difa.
" Ada apa sih kok rame begini." tanya Juna yang tiba-tiba berada disamping bagasi mobil membantu Ayu mengeluarkan barang-barang
Ayu kaget dan menjatuhkan satu kotak yang berisi balon kaca kecil yang baru dibelinya untuk hiasan jendela.
"Ayu...apa kamu tidak apa-apa." tanya Adam
" Maafkan aku sepertinya semua balon kaca ini pecah." kata Ayu menyesal
" Apa kakimu terluka." tanya Juna sambil duduk jongkok dan memeriksa kaki Ayu
" Tidak apa-apa, sebaiknya kita segera masuk dan mempersiapkan semuanya." kata Ayu sambil membawa masuk beberapa barang ditangannya.
Semua orang masuk kedalam rumah, Juna bertanya kepada Fahri tentang apa yang terjadi sebenarnya ada acara apa malam ini.Fahri menjelaskan semuanya kepada Juna, dan Juna pun mengerti dan mau membantu mempersiapkan semuanya.
Semua persiapan sudah selesai, Ayu mengirimkan pesan kepada Difa agar segera pulang bersama Dwi.
Difa pun bersiap untuk pulang kerumah, dia sudah tidak sabar melihat kejutan yang dibuat Ayu dan yang lain.
Dengan senyuman diwajah manisnya, Difa mulai menyetir mobilnya kembali kerumah.Dwi terus saja menatap Difa yang terlihat sangat bahagia malam ini.
" Kak apakah hari ini adalah hari spesial,kenapa kak Difa terlihat senang sekali?" tanya Dwi
" Apa terlihat jelas?" kata Difa sambil menyetuh pipinya.
Suara mobil berhenti didepan rumah dokter Fahri, semua orang sudah menunggu kepulangan Difa dan Dwi dengan hati yang deg-degan
Difa membuka pintu dia melihat sang suami Fahri sedang berdiri didepan pintu dengan membawa bunga ditangannya.
Fahri memejamkan matanya menanti Difa untuk menghapirinya.
"Apa ini?" tanya Difa terkejut melihat sang suami berdiri didepannya.
Difa berjalan mendekat mengambil bunga yang ada ditangan suaminya kemudian memeluk sang suami dengan penuh kehangatan, tidak lupa kecupan manis mendarat dipipi sang suami yang membuat wajahnya memerah.
Mereka berjalan masuk kedalam, didalam sudah ada Adam yang sedang memegang balon
Dwi hanya diam, dia tidak tahu apa pun, dia pikir semua ini kejutan untuk Dokter Difa karena dari mereka masuk sudah ada dokter Fahri yang menunggu didepan pintu.
Semua orang menatap Dwi.
" Kenapa kalian mentapku seperti itu?" kata Dwi binggung
Satu persatu balon yang sudah ditulisi diberikan kepada Dwi agar dia bisa membaca dan mengerti maksud dari semua ini.
Ketika Dwi membaca satu persatu tulisan yang ada dibalon Dwi menutup mulutnya kaget, dia melihat kesekeliling ada orang-orang terdekatnya sedang tersenyum dan menatap padanya.
Adam mendekat dan berdiri didepan Dwi.
" Aku tidak tahu kapan aku mulai menyukaimu, tapi yang jelas aku tulus menyukaimu, maukah kamu menerima perasaanku?" kata Adam sambil memberikan seikat bunga yang dibelinya tadi
Sejenak Dwi hanya diam dan mentap Adam yang berdiri didepannya.Baginya semua ini hanyalah mimpi, dia tidak percaya ini terjadi kepadanya.
Dwi mengangguk, air matanya menetes diujung matanya.
Adam mendekat dan mengusap air mata yang membasahi pipi Dwi kemudian memeluk tubuh Dwi yang terlihat gemetar.
BERSAMBUNG