AYU

AYU
Ujian terakhir



Ayu sudah berharap akhir pekan segera datang agar dia bisa pergi menemui Boy secepatnya.Tapi sebelum akhir pekan datang ada satu hari yang harus dilewati Ayu yaitu ujian hari terakhir.


Banyak kabar simpang siur yang didengar Ayu dikalangan mahasiswa.Ujian akhir akan sangat sulit dari ujian-ujian yang lainnya.


Ayu mengirung diri dari pagi, dia hanya turun saat makan.Setelah makan dia kembali kekamar lagi. Bi Sorti merasa cemas melihat Ayu yang seperti itu.


Tok...tok...tok


" Non ini bi Sorti, apa boleh saya masuk.?" tanya bi Sorti


" Masuk bi, ada apa.?" Kata Ayu


Bi Sorti berjalan mendekati Ayu yang tengah belajar dimeja ditangannya ada sepiring roti dan segelas susu hangat yang sengaja dibawa bi Sorti.


" Saya membawakan segelas susu dan roti untuk nona." kata bi Sorti


" Letakkan dkmeja bi.!" Kata Ayu


Bi Sorti mendekati Ayu yang tidak mengalihkan pandangannya dari meja didepannya.Karena bi Sorti sangat penasaran dia mendekati Ayu dan melihat apa yang sedang dikerjakan Ayu.


" Ya ampun nooon...!" Apa itu,?" kata bi Sorti yang terlihat sangat kaget dan berjalan mundur.


" Bi Sorti ngagetin saja sih, ada apa, kenapa mukanya jadi pucat gitu.?" kata Ayu


" Itu non...itu apa, bibik takut.?" kata bi Sorti yang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Ayu melihat ke atas meja dan tertawa melihat reaksi bi Sorti yang sangat takut.


" Bi Sorti, ini adalah jantung manusia yang ayu ambil dari mayat dirumah sakit, aku bedah dan ambil untuk belajar." bisik Ayu kepada bi Sorti yang makin takut


Melihat reaksi bi Sorti, Ayu tidak bisa lagi menahan tawanya, Ayu tertawa begitu keras sampai perutnya merasa sakit.


"Bi Sorti..bi Sorti..Ini hanyalah jantung tiruan untuk Ayu belajar, besok Ayu ada ujian tentang organ-organ manusia." kata Ayu sambil mengusap air matanya karena banyak tertawa.


"Nona Ayu ini membuat bi Sorti kaget saja." kata Bi Sorti


Bi Sorti akhirnya keluar dari kamar Ayu dan membiarkan Ayu belajar dengan tenang, bi Sorti pun juga tenang setelah melihat Ayu baik-baik saja.


Tidak lama setelah bi Sorti meninggalkan kamar Ayu, Ayu melanjutkan belajarnya, tapi ponselnya tiba-tiba berbunyi.Ayu melihat Boy yang sedang menelpon, Ayu sangat senang dia buru-buru mengangkat telpon dari Boy dengan senyuman yang mengembang dibibirnya.


Mereka berbincang-bincang cukup lama, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam tapi Ayu dan Boy masih saja berbicara ditelpon. Ayu menguap dia bilang pada Boy dia harus segera tidur untuk ujiannya besok.


Boy mengucapkan selamat malam dan sebuah kecupan dari balik telpon, Ayu pun membalasnya wajahnya mulai memerah karena malu.


Setelah menutup telponnya Ayu membereskan meja belajarnya dan menuju tempat tidur dan segera beristirahat.Karena besok adalah hari yang sangat penting bagi Ayu.


Ayu bangun pagi-pagi dia sudah menyiapkan semua bahan untuk ujian hari ini, Ayu turun dengan tergesa-gesa dia menuju meja makan. Papa dan mamanya sudah menunggu dimeja makan, tapi Ayu hanya mengambil roti yang langsung dimasukkan kemulutnya dan pergi meninggalkan meja makan.


" Ayu...makan dulu." teriak mama Ayu


" Sudahlah ma...dia pasti sibuk dengan ujiannya." kata papa Ayu


" Anak ini kalau punya keinginan pasti begitu, sebenarnya apa sih yang papa janjikan?." kata mama Ayu


Papa Ayu hanya diam, dia tidak begitu memperhatikan dan menangapi kata-kata istrinya itu, sedangkan mama Ayu terus melihat suaminya dengan penuh tanda tanya. Terlihat senyuman jahat diwajah papa Ayu.


Ayu segera mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju ke kampusnya,tapi dia mampir dulu kerumah Heni untuk menjemputnya.Ketika Ayu sampai dirumah Heni, ternyata Heni sudah berangkat kekampus dari tadi.


Ayu berjalan masuk mencari keberadaan Heni.Setelah berkeliling sebentar akhirnya dia melihat Heni sedang duduk dan membaca buku di bangku taman.


" Hey...!" sapa Ayu sambil menepuk pundak Heni


"Kamu sudah datang." kata Heni sambil menenggok kebelakang.


Ayu menghela nafas panjang dan duduk disamping Heni, dia menyandarkan dirinya dibahu Heni sambil memejamkan matanya.


" Kenapa,? apa kamu tidak tidur tadi malam?" tanya Heni


"Tidak aku hanya gugup," kata Ayu


" Kenapa, bukankah kamu tergolong mahasiswi yang pintar dan rajin." Kata Heni


"Jika aku lulus dengan nilai terbaik, aku akan mengunjungi kak Boy, kalau tidak aku tidak tahu kapan lagi aku bisa kesana." kata Ayu


Heni menatap Ayu yang terpenjam, dia melihat kalau temannya itu sangat menyukai dan mencintai Boy.Heni tersenyum, dia hanya berharap semoga yang menjadi impian Ayu saat ini akan terwujud.


Dosen dan para membimbing sudah datang dan bersiap keruangan.Para mahasiswa pun juga bersiap dan masuk keruagan yang sudah disiapkan.


Semua mahasiswa bersiap dan memakai perlengkapan seperti seorang dokter.



Disana hanya ada beberapa wanita yang mahir yang sampai kepada tahap ini, setelah lulus ditahap ini mahasiswa akan terjun langsung sebagai asisten dokter yang berpencar diberbagai kota.


Ayu berharap dia bisa lolos dan bisa segera menjadi seorang dokter dan berkumpul bersama suaminya. Itulah yang membuat Ayu sangat rajin dan bersemangat mengikuti semua kegiatan kampus dan dia selalu berusaha mendapatkan nilai terbaik disetiap aspek.


Hari sudah sore Ayu dan Heni sangat lelah setelah mengikuti ujian yang sangat panjang.Mereka berdiam dan bersandar disebuah kursi yang ada ditaman.


"Sepertinya kamu kurang gula?" kata Heni


" Bagaimana kalau kita beli kopi dicafe Senja." Heni berdiri dan menarik tangan Ayu.


Ayu mulai melangkah mengikuti Heni, mereka sampai dicafe Senja yang tidak jauh dari kampia mereka.Ayu duduk terlebih dahulu sedangkan Heni


memesan dua potong roti dan secangkir kopi.


Heni berjalan menuju meja dimana Ayu duduk dengan membawa sebuah nampan yang berisi dua potong roti isi dan dua cangkir kecir kopi yang dipesannya.


" Jangan terlalu dipikirkan, aku yakin kamu akan lulus." kata Heni sambil meletakan namapan dimeja


Ayu tersenyum, dia mengambil roti isi yang ada didepannya dan segera memakannya.Terlihat Ayu seperti seseorang yang tidak makan selama berhari-hari, dengan sekejap roti yang ada ditangannya sudah tidak tersisa.


" Kamu lapar."tanya Heni yang heran melihat Ayu


" Sejak pagi aku belum makan, tadi sarapan hanya makan sepotong roti, sedangkan siangnya kamu tahu sendiri kita tidak sempat makan." jawab Ayu sambil menikmati kopi ditangannya.


" Apa mau aku pesankan lagi?" kata Heni


Ayu hanya menatap Heni yang tersenyum, dia tahu kalau Heni mengodanya dia melotot kepada Heni, sedangkan Heni terus saja menahan tawanya, menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


BERSAMBUNG