
Setelah beberapa hari Boy sudah kembali bekerja sedangkan Ayu sedang mencari rumah sakit yang cocok untuknya.Rumah sakit tempat Boy bekerja sebenarnya sudah mengirimkan tawaran kepada Ayu tapi dengan halus dia menolak.
Entah apa yang membuat Ayu merasa tidak nyaman bekerja satu rumah sakit dengan suaminya.Padahal dulu ketika dia bercita-cita menjadi dokter dia ingin selalu bersama Boy, tapi setelah dia menjadi salah satu lulusan kedokteran yang hebat dia malah tidak ingin bekerja satu rumah sakit dengan sang suami.
Ayu bertemu dengan Heni, dia juga tinggal disini karena disinilah sang pacar tinggal dan bekerja.Heni ingin hubungannya masuk ketahap yang lebih serius lagi.Dia ingin segera mengakhiri masa lajangnya.
" Jadi bagaimana kalau kamu bekerja di rumah sakit dimana aku bekerja, memang sih disana gaji tidak setinggi rumah sakit kak Boy.Tapi lumayan lah." kata Heni
Ayu masih berfikir, dia tidak langsung menjawab iya hanya karna Heni bekerja disana.Dia harus melihat sendiri bangaimana rumah sakit itu dan bagaimana kinerja para dokter disana.
" Aku akan memikirkan lagi nanti." kata Ayu
" Baiklah, aku akan kembali bekerja.Jaga kesehatan baik-baik." kata Heni sambil meninggalkan Ayu yang masih duduk dicafe dengan secangkir kopi yang belum diminumnya.
Ayu menatap kopi yang ada didepannya.Dia belum pernah minum kopi tapi dia memesan kopi itu mengingatkannya kepada Juna yang menyukai kopi.
Ayu memejamkan mata dan mengusap rambutnya.
Tolong, pergi dari pikiranku.
Ayu tidak meminum kopi itu dia pergi kecasir dan memesan kopi yang paling manis dicafe ini.Setelah mendapatkan apa yang diinginkan dia langsung keluar.Dia jalan-jalan dikota yang sangat besar dan ramai.
Angin meniup kearah Ayu, membuat rambut Ayu yang terusai panjang berterbangan.Ayu sudah tumbuh menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab dengan apa yang dia lakukan.
Setelah melihat-lihat kota yang bergitu besar dia tahu dirinya bukan apa-apa dikota ini.Dia ingin memulai karirnya dari nol.Dia juga sudah melihat beberapa rumah sakit dan ada satu rumah sakit yang menurutnya bagus untuknya memulai karir.
Ayu berhenti disebuah halte dan menunggu bis disana ada beorang nenek tua yang terlihat tidak sehat, nafas nenek itu tidak beraturan dan wajahnya berubah menjadi pucat.
" Nenek apa kamu baik-baik saja?" tanya Ayu
" Iya...aku han ya le lah..." kata nenek itu terbata-bata sambil mengatur nafasnya
" Nenek mau kemana?" Ayu duduk jongkok didepan sang nenek sambil memegang tangan nenek itu.
" Aku ingin ketoko kui, hari ini cucuku ulang tahun." kata nenek
Ayu yang memengang tangan sang nenek merasakan denyut dani yang tidak beraturan keringatnya juga sangat banyak.
Tidak lama setelah itu bis datang.semua penumpang masuk kedalam bis.Ayu memapah sang nenek dan mencarikan tempat duduk.
Nenek itu duduk disudut belakang bis sedangkan Ayu yang tidak mendapat tempat duduk harus berdiri sedikit lebih jauh dari nenek itu.Bis mulai berjalan semua menumpak duduk layaknya penumpang biasanya ada yang tertidur ada yang memandangi jalan ada juga yang sedang sibuk bermain ponsel.Dari jauh Ayu terus saja memandangi sang nenek dia berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu nanti.
Didepan jalanan sangat macet, bis berhenti ada sebuah kebuah pohon yang timbang didepan, petugas sedang membersihkan jalan jadi terjadi kemacetan yang cukup panjang.Bunyi klakson dimana-mana, Ayu melihat nenek itu mulai gelisah dia memegang kepalanya dan berteriak-teriak.Semua penumpang yang ada didalam terkejut dan menjauh Ayu mendekat dan menutupi wajah sang nenek dengan jaketnya dan menutup telinga sang nenek.
" Tidak apa-apa nek, nenek baik-baik saja." kata Ayu
Nenek itu mulai tenang, teriakannya mulai mereda.Semua penumpang berbisik dan tidak nyaman dengan kehadiran sang nenek yang membuat mereka merasa risih duduk disampingnya.Banyak cemoohan yang keluar dari mulut orang-orang yang berkata kalau nenek itu gila.Ayu mengajak nenek itu turun dan duduk dibawah pohon membuka jaket yang menurupi wajah nenek itu.
" Nenek baik-baik saja?" tanya Ayu
Nenek itu tidak menjawab, dia belum sepenuhnya pulih dari situasi yang tadi.
" Nenek duduk disini, aku akan membelikan minuman disana." kata Ayu sambil menunjuk sebuah kedai pingir jalan.
" Apa nenek mengerti?" Ayu menatap nenek menyakinkan kalau dia akan baik-baik saja ketika dia membeli minuman nanti.
Perlahan nenek itu mengangguk, Ayu segera berlari menuju kedai dan membeli sebuah minuman hangat untuk nenek itu.Ayu kembali sambil berlari, dia khawatir kalau nenek itu kenapa-kenapa.
Mereka beristirahat sejenak, menunggu sampai nenek itu merasa lebih baik.
" Aku harus pergi membeli kue ulang tahun untuk cucuku, sebentar lagi cucuku pulang kerja." kata nenek itu
" Aku akan mengantar nenek." kata Ayu sambil berdiri bersiap merangkul sang nenek.
" apa kamu tidak sibuk nak?" tanya nenek
Ayu mengeleng, nenek itu tersenyum dan mulai berjalan mencari toko kue.Sambil jalan nenek itu bercerita kalau dia hanya tinggal dan hidup bersama cucunya saja, cucunya bekerja siang dan malam untuk menopang kehidupan mereka.Dia menyisihkan uang sedikit demi sedikit untuk membelikan kue ulang tahun untuk sang cucu karena mereka selalu melewatkan ulang tahun sang cucu karena tidak punya uang, uang mereka selalu dibuat berobat untuk sang nenek.
Ayu menitikan air mata mendengar cerita nenek itu, dia melihat seorang nenek tua yang sangat menyayangi cucunya.
Tidak lama mereka telah sampai disebuah toko kue.Ayu mengajak masuk nenek itu kedalam tapi nenek itu menolak.
" Tidak, uang nenek tidak akan cukup untuk membeli kue disini." kata nenek
" Pasti cukup, disini murah-murah kok." kata Ayu
Padahal Ayu tidak tahu bagaimana rasa dan harga kue disini, sejak tadi dia mencari toko kue dan hanya toko ini yang dia lihat.Dia merasa kasihan kepada sang nenek yang sudah berjalan jauh dari tadi, Ayu mengajak nenek itu naik taksi tapi nenek itu menolak karena takut dia akan kembali histeris lagi nanti.
" Nenek mau kue yang seperti apa?" tanya Ayu
" Apa saja yang penting kue ulang tahun." kata nenek itu
Ayu dan nenek melihat-lihat dari ujung sampai ujung akhirnya dia menemukan satu kue yang cocok untuk cucu nenek itu, kue yang kecil tapi sangat cantik.
" nenek mau yang ini." kata Ayu
" Tapi uang nenek tidak cukup." nenek melihat uang yang ada dikantongnya dan mencocokkan harga yang tertera di depan kue itu
" Nenek simpan uang itu aku akan membelikannya untuk nenek." kata Ayu sambil memanggil pengawai untuk membungkusnya.
Setelah mendapatkan kue yang diinginkan Ayu berniat mengantar nenek itu pulang dan melihat cucu yang sangat nenek sayangi itu.
" Sepertinya ini dekat dengan tempat cucu nenek bekerja, bisa antarkan nenek kesana?" kata nenek
Ayu mengangguk dan muali berjalan sambil melihat kesekeliling hanya ada bangunan-bangunan yang tinggi-tinggi tapi belum selesai dibangun. Ayu berfikir apakah mungkin cucu nenek itu bekerja disekitar sini.
" Tommy..." teriak nenek
Ayu kaget mendegar nenek itu memanggil seseorang, setelah berteriak berlari seorang pemuda yang terlihat masih muda berlari menghampiri mereka.Ayu kaget yang ada dibayangan Ayu cucuk nenek itu adalah perempuan tapi yang dia lihat seorang pemuda yang tampan dan masin sangat muda berdiri didepannya.
" Nona ini membantu nenek membelikan kue untuk kamu." kata nenek
" Nenek seharusnya nenek tinggal dirumah dan menunggu Tommy pulang aku akan membelikan untuk kita.Maaf jadi merepotkan nona." kata Tommy
" Tidak apa-apa, ini kuenya." kata Ayu
Ayu melihat jam ditangannya hari sudah sangat sore dia harus segera kembali kerumah sebelum Boy pulang.Ayu berpamitan kepada sang nenek dan berpesan untuk menjaga kesehatannya.
" Oh ya, namaku Ayu nek, dan selamat ulang tahun untukmu Tommy." kata Ayu sambil pergi dan melambaikan tangannya.
" Nama yang indah, secantik wajahnya." kata nenek
Tommy terdiam sambil melihat Ayu pergi meninggalkan mereka, selama ini belum ada seorang pun yang perduli kepada mereka apalagi gadis cantik seperti Ayu.
BERSAMBUNG