
Adam kembali memeriksa keadaan Difa, Ayu dan Dwi menyiapkan makanan untuk Difa.Sembari menunggu Fahri kembali kerumah mereka merawat Difa sambil bercengkrama didalam kamar Difa dan Fahri.
" Dam sebenarnya apa yang terjadi dengan kak Difa.?" Tanya Ayu
" Kalau aku katakan sekarang nanti bukan lagi kejuatan." kata Adam
Ayu sedikit kesal dengan Adam karena membuatnya penasaran dan menunggu kembalinya Fahri.Ayu melihat keluar jendela menunggu Fahri.
Ketika dia melihat mobil Fahri berjalan mendekat Ayu buru-buru turun dan membukakan pintu.
" Ayu...kapan kalian kembali.?" tanya Fahri ketika Ayu membuka pintu.
" baru saja kak." jawab Ayu
" Dimana Difa, bagaimana keadaannya.?" Fahri terlihat begitu gelisah
" dia sedang tidur, kak Fahri jangan khawatir kak Difa baik-baik saja." kata Ayu sambil menenangkan Fahri
Fahri langsung menuju kamar mereka, dia melihat Difa yang tidur dengan wajah yang masih pucat.Adam mendekati Fahri dan menepuk pundaknya.
" Apa yang terjadi dam.?" tanya Fahri
Ayu dan Dwi mendekati mereka, dengan tenang mereka duduk sambil mendengarkan penjelasan dari Adam.Mereka pun sangat penasaran dengan apa yang terjadi kepada Difa.
Difa membuka matanya karena mendengar suara Fahri.
" kenapa bangun, tidurlah istirahat yang cukup." kata Fahri.
" Aku kenapa.?" tanya Difa
Fahri dan Difa melihat Adam, menunggu penjelasan dari Adam.
Adam tersenyum, semua orang didalam kamar geram melihat tingkah Adam yang berbelit-belit.
Kemudia Dokter Fahri memutusan memeriksa istrinya sendiri.Dia mulai memeriksa denyut nadi ditangan sang istri.
Dia merasakan ada dua denyut nadi didalam tubuh istrinya.Fahri menatap Difa dengan tajam.
" Jangan menetapku seperti itu, katakan padaku apa yang terjadi.?" kata Difa
" Mulai saat ini kamu tidak diperbolehkan bekerja." kata Fahri
" Kenapa.?" tanya Difa
" Kamu tidak punya banyak waktu." kata Fahri
Difa hanya menunduk, air matanya menetes.Dia tidak tahu harus berbuat apa.Yang dia pikirkan dia menderita penyakit yang sangat mematikan sehingga dia tidak punya banyak waktu lagi.
Dwi dan Ayu mendekat, mereka memeluk Difa sambil meneteskan air mata.
" Kenapa kalian sedih, kalia harus bahagia, karena mulau sekarang cintaku akan terbagi." kata Fahri
" Kamu tega ya." kata Difa
" Kak Fahri jangan seperti itu, katamu tidak ada wanita lain yang akan mengantikan posisi kak Difa dihati kak Fahri selamanya." kata Ayu
" Kali ini aku harus tega." kata Fahri
Difa hany diam, tapi air matanya terua saja menetes membasahi pipinya.sedangkan Adam hanya tersenyum.
" Sudahlah jangan menangis lagi.Kamu harus rela karena cintaku akan terbagi kepada calon anak kita." kata Fahri sambil memeluk istrinya.
Semua kaget mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Fahri.Difa melihat kearah Adam memastikan kalau yang dikatakan Fahri itu kenyataan.
Adam mengangguk perlahan membenarkan apa yang dikatakan oleh Fahri.
Difa memeluk sang suami, tangisannya semakin keras air matanya terus saja mengalir.Dia merasa bahagia mendengar kata-kata itu pasalnya mereka sudah sangat lama menantikan kehadiran seorang bayi ditengah-tengah keluarga mereka.
" Aku mencintaimu." kata Fahri sambil mengusap air mata dipipi Difa
Difa hanya menggangguk sambil berusaha menahan air matanya yang terus keluar.Ayu, Dwi dan Adam keluar dari kamar mereka memberi waktu mereka untuk bersama.
" Kenapa kamu tidak bilang yang sebenarnya." kata Ayu
" Kalau aku bilang, bukan kejutan lagi.Kamu lihat betapa bahagianya mereka." kata Adam
begitu pula dengan Ayu dan Dwi merapikan barang-barang mereka kedalam kamar.
Ayu menatap keluar jendela, dia merasakan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya.Sambil memejamkan matanya dia membayangkan sebuah keluarga yang bahagia dengan kehadiran seorang anak.
" Kenapa melamun.?" tanya Dwi
" Tidak, aku hanya membayangkan betapa bahagianya mereka memiliki seorang bayi ditengah-tengah keluarga kecil mereka." kata Ayu
" Jangan bilang kamu juga ingin punya anak juga." kata Dwi sambil melihat wajah Ayu dengan serius
Ayu hanya diam, Dwi sudah tahu jawaban dari pertanyaannya dengan melihat espresi wajah Ayu.
" Ayu, kamu masih muda, masa depan kamu masih sangat panjang.Kamu sangat pandai dan cekatan kamu akan menjadi dokter yang sangat hebat nanti." kata Dwi
" Memangnya kalau aku punya anak aku tidak akan sukses nanti.?" kata Ayu
" Bukan begitu maksudku, kamu harus mengejar karirmu terlebih dahulu." kata Dwi
" Sudahlah aku akan mandi dulu." Dwi menuju kamar mandi meninggalkan Ayu yang masih saja melamun
Ayu terdiam, dia memikirkan kata-kata Dwi.Meskipun dia juga ingin menjadi salah satu dokter yang hebat.Tapi baginya keluarga yang paling penting.Dia berfikir kalau dia sukses dalam karirnya nanti dia akan sangat sibuk dan akan sulit punya waktu dengan keluarganya.
Ayu menghela nafas panjang, dia berfikir cukup jauh dan dia memutuskan biarlah waktu yang menentukan langkahnya.
Ayu melihat Juna baru pulang dengan mobilnya, dia terlihat sangat panik dan langsung menuju kerumah Fahri.Ayu tersenyum dan langsung menuju kebawah.Ayu berhenti dilorong tidak tahu kenapa Ayu begitu bahagia melihat Juna hari ini.
" Apa yang aku lakukan." gumam Ayu
Dia kembali lagi kekamarnya.Kembali merapikan barang-barangnya.Dwi keluar dari kamar mandi dia melihat Ayu bertingkah aneh.
" Yu, kenapa kamu memasukkan lagi barang-barangmu kedalam koper, kamu mau kemana.?" kata Dwi
Ayu terdiam, dia tidak sadar dengan apa yang dilakukan.Sambil tersenyum dan tertaw garing Ayu mengeluarkan kembali barang-barangnya.
" Kamu sangat aneh, sana cepat mandi biar otak kamu jernih lagi." Kata Dwi
Ayu tersenyum dan menuju kamar mandi, dia berfikir benar yang dikatakan Dwi hari ini dia memang merasa dirinya aneh.
Kemarin dia tidak lagi merindukan Boy, bahkan sampai saat ini dia belum menelpon Boy.
Dia merasa nyaman tinggal disini meskipun jauh dengan Boy, padahal awalnya dia merasa sedih harus berpisah dengan Boy.
Anehnya lagi, dia tersenyum dan bahagia melihat Juna.
" Tidak-tidak...sadar Ayu." kata Ayu sambil memukup-mukul kepalanya
***
Juna masuk kedalam rumah dia langsung menuju kamar Fahri dan melihat keadaan Difa.
" Apa yang terjadi.?" tanya Juna
" Kenapa kalian terlihat bahagia bukankah kamu bilang kak Difa sedang sakit." Juna mendekati mereka yang terlihat sangat bahagia
" Kemarilah, aku akan memberikan kamu kabar bahagia." kata Fahri
" Jangan bilang kak Difa sedang hamil." kata Juna
" Kamu memang sangat pintar." kata Fahri sambil tertawa
" Benar, kamu sedang hamil.?" tanya Juna
Difa perlahan mengangguk
" Alhamdulillah, selamat untuk kalian, akhirnya kalian memiliki seorang anak." kata Juna yang terlihat sangat bahagia.
" Tadi dia pingsan, untung saja anak-anak sudah kembali dari kota." kata Fahri
" Mereka sudah kembali." kata Juna pelan
Wajah Juna terlihat sangat bahagia, entah bahagia karena kehamilan Difa atau kembalinya Ayu dari kota.Yang jelas hari ini banyak kebahagia yang hadir diantara mereka.
BERSAMBUNG