AYU

AYU
Menjadi dokter yang hebat



Dalam dunia kedokteran kadang-kadang kenyataan tidak selalu sama dengan apa yang kita harapkan.


Seorang dokter bertugas mengobati pasien masalah hidup dan mati hanya allah yang menentukan.


Semua dokter menginginkan pasien yang ditanganinya selamat dan berhasil dalam pengobatannya.Tapi akan selalu ada pasien yang tidak dapat bertahan dan akhirnya meninggal.


Selama berada disini Ayu sudah banyak belajar, dia menjadi lebih kuat.Dia bertekat akan menjadi dokter yang hebat suatu saat nanti.


Ayu keluar dari ruang istirahat, dia mengusap kedua matanya dan mengikat rambutnya.Dia buru-buru merapikan baju dan menuju ruang UGD.Ayu sudah menjadi salah satu dokter yang hebat dan sudah banyak mengikuti banyak operasi bersama dokter lain.


" Bagaimana ini, aku tidak percaya aku bisa terlambat." gumam Ayu


" kamu pernah mengoperasi pasien dengan sindrom WPW?" tanya Juna


Ayu terdiam, dia berbalik dan melihat kearah Juna.


" ya, pernah sekali. kami mengoperasi pasien dengan diperiksa ahli kordiologi menjalani pemeriksaan EP dan prosedur ablasi. kenapa kamu menanyakan itu" Ayu menatap Juna


"Ada pasien diruang VIP yang mengalami sindrom WPW." kata Juna


Ayu terdiam, dia mengingat-ingat kembali sepertinya dia pernah bertemu dengan pasien tersebut.Tiba-tiba ponsel Ayu berbunyi dia melihat pesan dan segera pergi meninggalkan Juna.


" Maaf aku harus pergi." kata Ayu


"Tunggu." kata Juna


"Kenapa,? Ayu berhenti dan melihat Juna yang hanya diam


"Apa aku terlihat kacau?" Ayu merapikan kembali bajunya.


" semoga harimu menyenangkan." kata Juna


Ayu kembali melanjutkan langkahnya, wajahnya terlihat merah karena malu.Ayu berhenti dan berbalik menoleh Juna.


" Semoga harimu juga menyenangkan dokter Juna." kata Ayu


Ayu segera berlari keruangan UGD, disana ada banyak dokter dan suster, Ayu bertanya kepada salah seorang suster apa yang terjadi.


Seorang lelaki mengalami kecelakaan dalam pabrik sekarang ambulan sedang membawanya kesini.


Tidak lama setelah itu ambulan datang dengan luka yang cukup parah.


"Bagaimana tanda-tanda vitalnya?" tanya dokter Edo


" 100 per 70. 140 bpm." jawab petugas ambulan.


"Mari kita pindahkan pasien" kata Edo sambil mengangkat pasien keranjang.


Semua orang terlihat bekerja dengan cekatan.Pasien itu terluka cukup parah, tangannya terpotong oleh alat pabrik.Seseorang menghentikan pendarahan dengan mengunakan ikat pingang jadi tidak mengeluarkan banyak darah.


" siapakan impus dan uji laboraturium, dan minta dua kantong darah merah." kata Ayu


Dokter Edo mengunting baju dan melepaskan ikat pinggang yang menahan pendarahannya.Sedangkan pasien terus saja berteriak kesakitan.Semua orang bekerja sesuai bagianya masing-masing.


" apa yang harus kita lakuakan dengan potongan tangan ini?" tanya Ino


" Dinginkan margin reaksinya, lalu tutupi dengan kasa yang dicekupkan ke air garam agar tidak mengering" kata Edo


Dokter Juna mendengar ada pasien dengan luka potong ditangannya dia segera datang keruangan UGD melihat kondisi pasien.


" Bagaimana keadaan pasien?" tanya Juna


" Ini imputasi lengan." kata Edo


" baik...siapkan ruang operasi.Kita akan melakuakan pembentukan tulang, lakukan rongsen." kata Juna


Pasien diberi obat pereda rasa sakit, dia sedikit tenang.Saat ini beberapa dokter sedang berdiskusi menggenai operasi yang akan dijalankan.


" Dok...pasien menolak untuk dioperasi." kata Ino


"Kenapa?" Juna kaget


" Mungkin karena biaya." jawab Ino


Ayu keluar dan melihat keadaan pasien, Dia mendengar seorang wanita menangis dengan sangat kencang sambil memeluk anaknya yang masih kecil.Ayu mendengar keluhan pasien, tidak ada seseorang yang datang dari pabrik untuk menangguk biaya pengobatan.Ayu menitikan air matanya, dia berjalan mendekat.


"Tenanglah aku akan menanggung semua biaya operasi." kata Ayu sambil memeluk wanita itu


" Benarkah?" tanya wanita itu


Ayu mengangguk, wanita itu memeluk Ayu dengan erat.Dia sangat berterima kasih kepada Ayu sambil air menahan air matanya yang terus saja menetes.


" Jangan menangis, ayahmu akan baik-baik saja." kata Ayu sambil duduk jongkok didepan sang anak


" Terima kasih dokter." kata Wanita, pasien dan sang anak serentak


Ayu keluar untuk menyelesaikan administrasi.Setelah membayar Ayu memberitahu kepada para dokter kalau operasi sudah bisa dilakukan.


Semua orang disana kaget, mendengar Ayu sudah melunasi biaya operasi,Juna menghela nafas dan bersiap melakukan operasi.


Beberap dokter dan para suster membicarakan kebaikan Ayu yang mau membiayai operasi tanpa melihat dan mencari tahu latar belakang keluarga pasien.Ayu terlihat sangat luar biasa dia telah menjadi dokter yang hebat dan berhati mulia.


Juna sudah siap dengan c.arm, dia melihat monitor.Terlihat tulangnya terpotong dengan sejajar dia tidak menemukan kesulitan dalam operasi ini.Juna mengunakan plat 3 lubang untuk menyatukan tulang lalu mengebornya dengan pin.



Setelah dua jam operasi akhirnya selesai dan berjalan dengan sukses.Ayu keluar menemui keluarga dan memberitahu kalau operasi telah berhasil pasien akan dipindahkan keruangan IGD.


Mendengar kata-kata Ayu istri dan anak pasien sangat bahagia, Ayu juga merasa bahagia melihat keduanya.Dia tersenyum tapi air matanya menetes diujung matanya karena terharu.


Setelah itu Ayu pergi keruang istirahat, dia menyandarkan dirinya disofa dan menurup matanya.Dia menghela nafas panjang dia bangga kepada dirinya sendiri karena telah melakukan hal yang baik.


Tiba-tiba ponsel Ayu berbunyi, itu pangilan dari dokter Fahri yang menyuruhnya keruang operasi 1 untuk membantunya.


Ayu bergegas menuju kesana.


" Apa yang terjadi?" tanya Ayu


" Diafragma robek, pasien mengalami benturan benda tumpul di bagian perut dengan luka diusus besarnya, tapi aku menemukan robekan didiafragmanya." kata Fahri


" tapi." Ayu sedikit ragu


" Bukankah kamu ingin menjadi dokter bedah yang hebat, dimana rasa percaya diri kamu?" kata Fahri


Mendengar kata-kata Fahri, Ayu menghela nafas panjang dan mendekati pasien.


Ayu mengamati luka pasien dia berusaha menemukan asal pendarahan itu, setelah menemukan asal pendarahan Ayu mengambil benang bedah dan mulai menjahitnya.



Pendarahan telah dihentiakan, Ayu mulai menjahit luka pasien, Ayu tersenyum dia melihat para asisten doktek tersenyum dan mengacungkan dua jempolnya.


Juna melihat Ayu keluar dari ruang operasi dari kejauhan, dia tersenyum melihat Ayu yang sudah menjadi dokter yang hebat.


Bukan cuma dokter yang hebat tapi juga dokter yang berhati hebat.


Hari sudah malam, Ayu melihat kondisi pasien dengan lengan yang terpotong tadi, namanya pak Tono.


istri dan anaknya sedang duduk disamping sang ayah menunggu sang ayah membuka matanya.


" dokter...kenapa ayah saya belum bangun?" tanya sang anak


Ayu tersenyum, dia duduk jongkok didepan sang anak memberitahu kalau ayahnya sedang tidur dengan pulas, nanti ketika dia bangun dia akan kembali sehat.Anak itu melihat sang ayah yang tertidur dan tidak berteriak kesakitan lagi dia tersenyum dan mencium pipi Ayu


" Terima kasih dokter." kata Sang anak


" Nama kamu siapa? tanya Ayu


" Nama saya intan, intan permata." kata sang anak


" Nama yang sangat bagus, kamu akan menjadi permata untuk ayah dan ibu kamu." kata Ayu


Ayu kembali keruangannya, dia membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang.Juna masuk dia juga bersiap untuk pulang.


" Mau makan malam bersama?" tanya Juna


" boleh, mau makan apa?" tanya Ayu


" kita lihat nanti" kata Juna


Ayu dan Juna pergi meninggalkan rumah sakit, mereka terlihat dekat kembali seperti dulu.Berteman baik lagi seperti dulu.Mereka tidak lagi memperdulikan omongan orang-orang yang tidak mengerti hubungan mereka.


BERSAMBUNG