
Untuk menghilangkan jejak, Boy membawa mobilnya kesebuah bengkel. Dia menyuruh montir untuk memperbaiki mobil itu secepat mungkin. Boy meninggalkan mobil itu dan pergi ke sebuah hotel bersama Novi.
Dengan senang Boy memesan kamar yang sangat mewah, tidak lupa dia juga memesan sebuah anggur yang sangat enak dan mahal. Didalam kamar mereka merayakan keberhasilannya dengan minum-minum dan bermesraan. Ditangan Novi ada segelas anggur yang di minumnya dan kemudia mencium Boy untuk membagi anggur itu.
Mereka semakin panas, hingga akhirnya mereka menghabiskan waktu bersama dengan bercinta. Setelah selesai, Boy berbaring di atas ranjang melihat ke arah langit-langit. Dia masih mengingat kejadian tadi ketika mobil itu terguling dengan kencangnya. Novi mendekat dan memeluk Boy.
" Setelah menghabisi mertua kamu, apa langkah kamu selanjutnya ?" tanya Novi
" Pelan-pelan aku akan mengalihkan semua aset Ayu atas nama ku, ini waktu yang tepat karna Ayu akan sangat berduka dengan kepergian mamanya, papa nya juga akan lenggah." kata Boy sambil membayangkan langkah-langkahnya.
Novi tersenyum, dia mencium Boy dengan mesra dan mendekap Boy dengan erat, akhirnya setelah Boy mencapai tujuannya dia akan segera memiliki Boy seutuhnya.
Dilain tempat, Ayu masih tidak menyadari apa yang terjadi kepada mamanya. Dia masih bermain dengan Zayn dengan gembira. Sampai suatu ketika saat dia melihat TV yang menyiarkan sebuah kecelakaan tunggal yang terjadi disebuah perbukitan.
Ayu menyadari sesuatu, dia melihat lebih jelas mobil dan plat nomer mobil itu. Betapa kagetnya Ayu ketika melihat dan mengingat nomer mobil itu adalah nomer mobil mamanya. Ayu terjatuh dan tidak sadarkan diri, Mendengar ada keributan bi inah mendekat dan melihat Ayu sudah terbaring tidak sadarkan diri.
Bi inah tidak tahu kenapa Ayu jatuh pingsan, dia hanya bisa mengendong Zayn dan pergi ke luar untuk meminta bantuan.
Ada beberapa orang yang mendengar teriakan bi inah dan segera menghampirinya.
Pak Eko dan bu Narmi datang mencari tahu apa yang terjadi, setelah masuk dia melihat Ayu tidak sadarkan diri, mereka lantas membawa Ayu meletakannya di sofa dan berusaha menyadarkan Ayu, karna tidak berhasil pak eko dan bu Narmi berinisiatif membawa Ayu ke rumah sakit.
Bi Inah segera mengabari Boy, memberitahu keadaan Ayu, Boy tidak terkejut, tapi dia pura-pura terkejut dan panik. Sedangkan Ayu yang sudah dibawa kerumah sakit terlihat sudah sadarkan diri. Tapi baru saja sadar, Ayu langsung menangis sejadi-jadinya.
Bu Narmi memeluk Ayu mencoba mencari tahu apa yang terjadi padanya. Dengan terisak-isak Ayu menceritakan kalau dia melihat mobil mamanya mengalami kecelakaan. Baru saja berhenti bercerita terdengar kegaduhan diluar.
Ternyata datang sebuah ambulan yang membawa jenazah korban kecelakan tadi.
Ayu dengan cepat pergi ke luar, sambil terisak-isak dia berlari menghampiri rombongan yang membawa jenazah itu.
" bu... Maaf anda tidak diperbolehkan masuk." kata seorang suster.
" mbak.... Yang ada disana itu mungkin adalah mama saya, ijinkan saya masuk untuk memastikannya." kata Ayu sambil menahan tangisnya
Hati Ayu tidak karu-karuan, tangannya gemetar ketika menarik kain yang menutup tubuh si mayit. Perlahan Ayu membuka penutup itu, dia melihat wajah sang mama. Meskipun terluka parah dan hampir tidak dikenali Ayu masih bisa mengenali kalau itu adalah mamanya.
Sepontan Ayu memelul tubuh mamanya yang sudah berbarik tidak bernyawa. Terdengan tangisan dan teriakan dari Ayu. Pak eko dan Bu Narmi yang menemani Ayu pun mendekat takut kalau terjadi sesuatu kepada Ayu.
Pak Eko menelpon ke rumah Ayu, memberitahu kalau Ayu baik-baik saja namun dia dalam keadaan berduka karena mama Ayu mengalami sebuah kecelakaan dan meninggal dunia. Pak Eko meminta bi Inah memberitahu keluarga Ayu tentang kejadian ini.
Bi inah segera memberitahu Boy, menyuruhnya untuk segera menyusul Ayu kerumah sakit. Setelah itu bi inah menelpon papa Ayu, meskipun sedikit tidak enak dan takut bi inah harus memberanikan diri.
Dengan suara yang terbata-bata bi inah menelpon papa Ayu memberitahu beliau kalau sang istri telah tiada. Mendengar kabar itu, papa Ayu tidak merespon, tidak terdengar suara dari balik telpon. Sepertinya papa Ayu sangat syok dan akhirnya panggilan pun diakhiri.
Tidak lama, Boy sudah tiba dirumah sakit. Dia berekting dengan sangat bagus menemui pak Eko dan Bu Narmi dengan suara yang sangat sedih. Setelah diberitahu Ayu berada dikamar jenazah Boy segera menghampirinya. Dari belakang Boy memeluk Ayu dan menguatkannya dengan kata-kata manis.
Ayu melihat ke arah Boy, dia tidak dapat membendung tangisannya langsung pecah dipelukan sang suami. Boy melirik ke arah jenazah, dia tersenyum dengan puas satu langkah tujuannya tercapai.
Berepa jam kemudian Ayu sudah sedikit tenang. Boy terus memeluk dan menguatakan sang istri. Dari ujung lorong terihat seorang pria berjalan dengan tergesa-gesa kearah mereka.
Itu adalah papa Ayu, tangis kembali pecah di wajah Ayu ketika dia melihat papanya datang.
Ayu langsung memeluk papanya.
" apa yang terjadi ? Bagaimana semua ini terjadi ?" tanya papa Ayu.
Ayu tidak menjawab, dia hanya menggelang dan terus menangis dalam pelukan sang papa. Terlihat wajah yang sangat berantakan pada wajah papa Ayu, juga terlihat bekas tangis di matanya namun dia berusaha tetap tegar.
Perlahan papa Ayu membuka pintu kamar, dia melihat sang istri yang berbaring sudah tidak berdaya. Dia juga melihat banyak luka pada tubuh sang istri. Tangisnya pecah ketika tangannya menyentuh wajah sang istri. Perahan dia mengusap wajah sang istri berbicara dengan wanita yang telah menemaninya selama ini.
Tidak lama datang beberapa petugas untuk membersihkan dan memandikan mama Ayu agar bisa segera disemayamkan. Tadi sudah diadakan pemeriksaan jadi polisi sudah memperbolehkan keluarga membawa pulang jenazah.
Papa Ayu terus berada disisi istrinya sampai proses pemandian dan pengkafanan selesai. Meskipun hatinya hancur dia menguatkan dirinya karna ini terakhir kalinya dia bisa melihat sang istri yang telah menemaninya selama ini.