
Dalam perjalanan pulang Heni termenung, dia masih tidak percaya kalau Boy memang orang yang demikian.
Meskipun dia selalu berfikir Boy bukan pria baik-baik tapi dia tetap berharap semua yang ada dipikirannya itu tidak akan pernah terjadi.
" Kenapa kamu diam saja.?" kata Yusuf
" Hah....maaf." kata Heni yang terlihat linglung
" Kamu kenapa sih.?" tanya Yusuf
" Entahlah aku tidak percaya saja benar firasatku kalau Boy itu bukan laki-laki yang baik." kata Heni
" Apa rencanamu selanjutnya." Yusuf menatap Heni penasaran
Heni terdiam sejenak dia terlihat binggung bagaimana mengatasi masalah ini.Disatu sisi Heni tidak ingin melihat Ayu kecewa dan hancur disisi lain dia tidak ingin Ayu terus dibohongi oleh Boy.
" Entahlah aku juga binggung." jawab Heni
" Kalau menurutku biarkan dia lulus kuliah terlebih dahulu dan menata karir dan hidupnya dengan baik baru kamu beritahu dia, selagi menunggu kamu bisa mencari bukti untuk membantu Ayu." kata Yusuf
" Terlihat jelas kalau kamu adalah seorang pengacara, rencana kamu benar-benar bagus." kata Heni
" Aku akan membantu kamu mengumpulkan bukti perselingkuhan Boy, nanti bisa dibuat alat untuk menggugat." kata Yusuf
Heni mengangguk, dia berfikir memang ini adalah jalan terbaik untuk Ayu, agar hidupnya tidak akan hancur karena ulah laki-laki yang bernama Boy itu.
Wajah Heni merah menahan amarah mengingat kembali kejadian yang dilihatnya dirumah Boy tadi.
Heni tidak habis pikir kenapa Boy berani membawa wanita itu kedalam rumahnya padahal rumah itu adalah rumah pemberian orang tua Ayu.
Bukan hanya rumah, mobil yang dibawanya juga pemberian orang tua Ayu, dan saat ini dia gunakan untuk jalan bersama wanita lain.
Heni tidak akan membiarkan Boy begitu saja nanti saat Ayu sudah sarjana dan dirinya sudah mendapatkan bukti yang kuat dia akan memberitahu Ayu yang sebenarnya, bagaimana suaminya itu menikmati pemberian orang tua Ayu.
" kita mampir makan dulu ya, kamu pasti lapar." kata Yusuf
" Baik." jawab Heni singkat
" kamu mau makan apa.?" kata Yusuf
" Terserah kamu saja, apa pun aku mau, aku bukan tipe wanita yang pilih-pilih." kata Heni sambil tersenyum
Mobil mereka berhenti disebuah cafe yang ada ditengah kota, cafe itu sangat ramai banyak sekali remaja yang sedang menghabiskan waktunya disini ada yang bersama pacar atau sahabatnya.
Heni menyukai cafe ini, suasana yang merakyat dan makanannya juga tidak semahal makanan di cafe-cafe lain,selain itu ada band jalanan yang sedang main disini dengan suaranya yang sangat indah.
" Kamu suka." kata Yusuf
" Suasananya sangat bagus, aku suka." kata Heni sambil menikmati musik yang terdengar merdu
Setelah makan Yusuf mengantar Heni kembali kekos-kosannya.
Heni berbaring dan melihat kelangit-langit dikamarnya.Dia khawatir bagaimana nasib Ayu selanjutnya.Dia begitu percaya kepada Boy tapi dia malah menghianatinya.
Tiba-tiba ponsel Heni berbunyi, Heni mendapat pesan begambar dari Ayu
Ayu memberitahu kalau dia bertemu dengan teman lamanya yang tiba-tiba berada disana.
Pesan Ayu memberikan sebuah ide kapada Heni.Ayu sangat cantik sejak dulu banyak sekali yang menyukainya bahkan sudah sejak duduk dibangku smp banyak pria yang mengejarnya.
Heni berencana membuat Ayu perlahan melupakan Boy ketika mereka berjauhan, dengan begitu ketika Heni memberi tahu Ayu yang sebenarnya dia tidak akan terluka terlalu dalam karena cintanya akan berkurang.
Tidak ada seorang yang dikenal Heni yang saat ini berada didekat Ayu.
Bahkan dia tidak begitu dekat dengan Dwi dan Adam yang berada disana bersama Ayu.
" Oh ya...Ayu pernah cerita tentang laki-laki bernama Juna.Aku harus cari tahu siapa dia." gumam Heni
Heni mencari sosok laki-laki itu diinternet buaknkan dia alumi kampur yang sama dengan dirinya dan Ayu jadi dia mencari informasi diforum mahasiswa.Tapi tidak ada info tentang Juna sama sekali.
Heni mencari tahu kontak Dwi, dia ingin bertanya kepada Dwi saja, menurutnya itu adalah jalan terbaik agar Ayu tidak tahu rencananya.
Akhirnya Heni mendapat kontak Dwi, dengan hati-hati Heni menghubungi Dwi berharap dia tidak bersama Ayu saat ini.
" Hallo dengan siapa.?" kata Dwi dari balik telpon
" ini aku Heni, teman Ayu tapi jangan beritahu Ayu kalau aku menelponmu." kata Heni
" Ayu sedang keluar dengan kak Difa, dokter senior disini.Ada yang bisa aku bantu." kata Dwi
" apa aku bisa percaya kepadamu." tanya Heni
" jika itu bukan sebuah kejahatan aku akan membatumu." jawab Dwi
Heni menceritakan apa yang terjadi hari ini kepada Dwi.Heni bergarap Dwi bisa memahami apa yang dirasakannya saat ini dia juga seorang wanita mungkin dia bisa merasakan apa yang sedang diceritakan Heni kepadanya.
Dwi terdiam dia hanya mendengarkan Heni berbicara panjang lebar kepadanya.Dia ingin sekali membatu Ayu memberi pelajaran kepada suami yang tidak setia.
Dwi mengingat-ingat kembali sosok laki-laki yang menjadi suami Ayu ketika dia datang kesini menemui Ayu waktu itu.Wajahnya memang tampan, tutur katanya juga sopan.Tapi pandangannya memang tidak terlihat tulus.
" baiklah apa rencana kamu selanjutnya." tanya Dwi
" Aku ingin perlahan Ayu melupakan laki-laki yang bernama Boy itu."Kata Heni
" lalu.?" Dwi terdengar sangat penasaran
" Bantu dia dekat dengan seorang laki-laki yang bernama Juna." kata Heni
" kamu mengenal doktet Juna." kata Dwi tambah penasaran
" Dulu Ayu pernah cerita kalau mentornya bernama Juna dia sangat baik dan tampan. Mungkin saja dia ada rasa kepada Ayu." kata Heni
Mereka berbicara ditelpon sangat lama, perlahan Dwi mengerti apa yang dirasakan Heni.Dia juga tidak ingin melihat Ayu menderita.Tapi benar apa yang dikatakan Heni, dia tidak bisa memberitahu Ayu saat ini, itu akan membuat Ayu drop dan tidak bisa melanjutkan studynya.
Sebentar lagi Ayu akan lulus dan menjadi dokter yang hebat, mengapa tidak menahan sebentar untuk hasil yang lebih baik.
Disini Ayu jauh dengan Boy dia tidak akan terlalu memikirkan Boy karena banyak teman dan orang-orang yang menyayanginya.
Dan lagi ada Juna yang begitu baik kepadanya, dan mungkin dia bisa mengisi kekosongan hati Ayu.
Dwi setuju dengan rencana Heni untuk membuat Ayu perlahan melupakan keberadaan Boy dengan mendekatkan Ayu dengan orang lain dan orang yang tepat untuk itu adalah Juna.
Setelah sepakat Heni menutup telponnya, dia sedikit merasa lega karena ada Dwi yang memihak dia saat ini.Disana Dwi bisa mengawasi Ayu dan disini Heni bisa mengawasi Boy.Jika waktunya tiba Heni akan membongkar semua kelakuan Boy kepada Ayu.
Disisi lain Dwi terus menatap Ayu yang sudah berbaring diranjang.Dia heran mengapa wanita secantik dan sebaik Ayu bisa bertemu dengan pria seperti Boy.
Boy memang terlihat galak tapi kata-katanya manis mungkin itu yang membuat Ayu jatuh hati kepadanya.
Dwi menghela nafas, dia berharap kedepannya Ayu bisa bertemu dengan orang yang lebih baik dari Boy.Dwi bertekat akan membantu Juna dan Ayu bersama menurutnya Juna lebih baik dari pada Boy.
BERSAMBUNG