
Hari ini matahari tidak bersinar dengan hangat, sudah jam 11 tapi matahari masih bersenbunyi dibalik awan.
" Sepertinya akan hujan." gumam Ayu
Mereka masih sibuk membereskan koper-koper yang akan dibawa pulang nanti.
" Ketika kita datang kesini, sepertinya kita hanya membawa satu koper, kenapa berubah jadi tiga koper." Kata Boy
Ayu tersenyum dan merangkul Boy, dia tahu kata-kata Boy sebenarnya menyidir dia.Ayu membeli banyak oleh-oleh untuk orang-orang dirumah sampai satu koper penuh.
" Maafkan aku sayang...habis disini bagus-bagus." Kata Ayu sambil mengecup pipi Boy
" Cepat mandi, penerbangan jam dua jangan sampai terlambat." Kata Boy
Ayu melepas pelukannya dia bergegas kekamar mandi karena tidak ingin terlamat seperti keberangkatannya kesini kemarin.
Ayu sudah siap, Boy juga sudah siap.Koper sudah dibawa oleh pegawai hotel ke dalam mobil.Mereka bersiap meninggalkan hotel ini.Setelah membayar tagihan akhirnya mereka berangkat kebandara.
Ayu melihat keluar jendela dari dalam mobil.Dia merasa tidak ingin meninggalkan kota ini.Dia berjanji suatu saat nanti dia akan kembali lagi kesini entah itu kapan.
Ayu bersandar dibahu Boy, Boy tahu kalau Ayu merasa tidak rela pergi meninggalkan kota ini.
" Nanti kalau ada waktu luang kita akan kembali berlibur kesini lagi." kata Boy
Ayu mengangguk, tangan Boy mengelus kepala Ayu dan menciumnya.Supir yang melihat mereka pun ikut tersenyum.Sejak berada disini selalu pak sopir ini yang mengantar mereka kemanapun tujuannya dan dia tidak pernah mengeluh sedikitpun.
Mereka sudah sampai dibandara, pak supir mengeluarkan koper dan mengantar mereka.
"Sini pak biar aku saja yang membawanya, terima kasih untuk semuanya ." Kata Boy sambil memberikan amplop kepada pak supir itu.
"Sudah menjadi tugas saya tuan, apa ini tuan? tidak perlu repot-repot saya senang mengatar kemana saja tuan dan nona pergi." kata pak supir sambil mengembalikan amplop itu kepada Boy
"Terima saja pak, hanya sedikit itu adalah rasa terima kasih kami kepada bapak." kata Boy
"Kalau begitu terima kasih tuan nona, hati-hati dijalan." kata pak supir itu
Mereka berjalan menuju kedalam melihat jadwal keberangkatan, sebentar lagi pesawat mereka akan berangkat jadi mereka bersiap masuk kedalam pesawat.
Boy dan Ayu kini sudah duduk didalam pesawat, tidak lama pesawat itu pun berangkat membawa mereka kembali kenegaranya melanjutkan rutinitas sehari-hari mereka.
Ayu melihat awan dibalik jendela berwarna oren, bulan sabit pun sudah terlihat.
"Sudah senja." kata Ayu
" Kamu sudah bangu, apa kamu membutuhkan sesuatu." kata Boy
" Tidak..sudah berapa lama aku tertidur, kenapa tidak membagunkanku." kata Ayu
" kamu terlihat sangat capek, tidur lah aku akan membangunkanmu kalau sudah dekat, oh mungkin sebentar lagi kita samapi." kata Boy sambil melihat jam ditangannya.
Tidak lama seorang pramugari mengumumkan agar semua penumpang mengenakan sabuk pengamannya karena sebentar lagi pesawat akan mendarat.
Pesawat sudah mendarat, mereka kaluar sudah ada mama Ayu yang sedang menunggu.
Ayu melambaikan tangannya melihat sang mama sudah berdiri menunggu kedatangannya.Dia berlari menuju tempat mamanya.
" Sayang...bagaimana bulan madumu apa menyenangkan?" tanya mama Ayu
"hemmm...sangat menyenangkan" jawab Ayu
" Hallo ma...apa kabar." Sapa Boy sambil memberi salam
" Boy, kenapa kamu membawa koper itu sendiri."
"Pak sini bawa koper mereka kedalam mobil."kata mama Ayu kepada supirnya.
Mereka kembali kerumah bersama.Didalam mobil Ayu bercerita kepada mamanya tentang bulan madunya.Melihat wajah Ayu yang sangat bahagia mama Ayu tersenyum dan mengusap kepala sang anak, tiba- tiba air matanya menetes.
Boy yang duduk didepan juga kaget dan menenggok kebelakang.
" Mama tidak apa-apa, mama hanya bahagia melihat kamu sekarang sudah tumbuh dewasa dan sudah menjadi istri orang lain. Kamu harus berbakti kepada suami kamu." kata mama Ayu
" Boy jaga Ayu baik-baik, itu pesan mama."
Boy hanya diam dan mengangguk, dia juga merasa terharu dengan kata-kata mama mertuanya.Dia mengerti mengapa mama Ayu berbicara seperti itu karena selama ini Ayu adalah anak kesayangannya.
Ayu memeluk dan bersandar dipundak mamanya, dia juga terhanyut dengan kesedihan yang dibuat oleh mamanya.
" Ma Ayu lapar." kata Ayu
"kita makan dulu yuk ma."
"Kita langsung pulang ya, papa sudah menunggu dirumah, bi sorti juga sudah masak banyak makanan menyambut kepulangan kalian"kata mama Ayu
Tidak lama akhirnya mereka sampai dirumah, seorang pembantu datang menghampiri mobil dan membawa barang-barang Ayu masuk.
" Ma ada orang lain ya dirumah.?" tanya Ayu karena dia melihat mobil orang lain didepan rumahnya
"Oh...mungkin paman Fadly." kata mama Ayu
Mereka pun masuk, benar saja ada paman Fadly dan Maya istrinya sedang berbincang-bincang dengan papa Ayu.
" Nah...ini yang kita tunggu-tunggu akhirnya pulang juga." kata tante Maya sambil berdiri menghampiri Ayu dan memeluknya.
"Bagaimana bulan madumu, apakah sudah membuahkan hasil." tanya Maya
" Maksud tante membuahkan hasil gimana." kata Ayu sambil tersenyum.
Maya memperagakan tangan yang meninjukan perut besar seperti orang hamil, bahkan juga mengayun-ngayunkan tangannya seperti mengendong bayi.
Semua yang melihatnya tertawa, wajah Boy juga memerah karena malu begitu pula dengan Ayu.
"Ah tante, Ayu baru saja menikah masa langsung hamil"
" Aku mau mandi dulu ya Om. tante." kata Ayu
"Aku juga permisi dulu." kata Boy
Boy mengikuti Ayu yang berjalan dengan cepat menuju kamarnya.
Sampai dikamar Ayu membanting tubuhnya diatas tempat tidur, dia menutup wajahnya dengan satu lengannya dan memejamkan matanya.
" Kenapa.?" tanya Boy yang duduk disamping Ayu
" Sebenarnya aku tidak tahu harus bagaimana, aku tidak ingin cepat-cepat hamil dulu.Aku ingin kita menikmati masa-masa menjadi pengantin baru." Kata Ayu sambil bangun dan duduk disamping Boy
Boy menggengam tangan Ayu.
"Sayang...kalau kamu hamil, aku pasti akan sangat bahagia, karena itu adalah hasil buah cinta kita. Kapan pun tuhan menitipkannya aku akan menerimanya." kata Boy sambil memeluk dan mengelus perut Ayu.
Ayu tersenyum bersandar dipundak Boy, dia tidak lagi merasa cemas atau pun binggung lagi.Benar yang dikatakan Boy yang diharapkan oleh pasangan suami istri adalah hadirnya seorang anak ditengah-tengah keluarga kecil mereka, karena itu adalah bukti buah cinta mereka.
Ayu tiba-tiba berdiri, tapi tangan Boy menahan Ayu untuk pergi.
" Mau kemana.?" kata Boy
" Mau mandi," kata Ayu
Meski Ayu sudah menjawab pertanyaan Boy, dia masih saja menahan tangan Ayu. Ayu berbalik dan berdiri dihadapan Boy menatapnya dengan penuh tanda tanya.
" Kenapa.?" tanya Ayu
"Mau ikut mandi bersamaku.?" Ayu semakin mendekati Boy
Tiba-tiba Ayu mendorong tubuh Boy hingga dia berbaring ditempat tidur.Dengan senyuman manisnya Ayu pergi meninggalkan Boy yang masih berbaring dengan raut wajahnya yang kaget tapi berubah menjadi senyuman ketika tahu Ayu mempermainkannya dan meninggalkannya.
BERSAMBUNG