
Beberapa hari berlalu setelah Dwi dan Heni berbicara, Dwi melihat tingkah Ayu selama beberapa hari ini.Dia melihat Ayu sangat serius dalam pekerjaannya.Dia juga tidak sempat melihat ponselnya, apalagi mencari tahu kabar Boy yang ada disana.
" Kamu terlihat sangat serius, makan siang dulu sana." kata Dwi
" Jam berapa sekarang,? aku belum lapar." kata Ayu
tapi tiba-tiba perut Ayu berbunyi.
Dwi tersenyum, wajah Ayu merah karena malu lalu tersenyum mencoba menyembunyikan rasa malunya.
" Eh dokter Juna tunggu...mau kemana,? makan siang kah,? Ayu juga belum makan siang, kalian makan siang bersama saja." kata Dwi sambil mendorong tubuh Ayu mendekati Juna
" Tapi wi..." Ayu mencoba menahan Dwi yang terus mendorongnya.
" kalau begitu ayo kita makan siang bersama." kata Juna
Ayu melangkah menghampiri Juna, dia melihat ke arah Dwi yang tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Setelah Ayu dan Juna pergi dan tidak terlihat Dwi tersenyum dan mengepalkan tangannya.
" Yes..." kata Dwi
Dwi mengirim pesan kepada Heni, memberitahu dia kalau saat ini dia telah berhasil membuat Ayu dan Juna jalan berdua.
Tapak wajah gembira di wajah Dwi, tidak tahu kenapa sejak awal dia melihat Ayu dan Juna bersama dia selalu merasa kalau Ayu lebih cocok bersama Juna daripada Boy.
Juna dan Ayu makan dirumah makan yang tidak jauh dari rumah sakit.Mereka hanya berjalan menyusuri jalanan yang ramai.
Hanya rumah makan kecil yang menyajikan makanan sederhana.
" maaf kita hanya bisa makan disini." kata Juna
" Tidak apa-apa, lagi pula kamu pasti sedang sibuk, maaf membuatmu keluar menemaniku makan siang." kata Ayu
" Tidak apa-apa, lagi pula aku juga belum makan siang." kata Juna
Ayu tersenyum dia melihat sekeliling, dia pernah makan disini beberapa kali tapi sepertinya ada yang berbeda hari ini.
" Sepertinya hari ini berbeda." kata Ayu
" Apanya." tanya Juna sambil melihat sekeliling
"Oh...hari ini adalah hari terakhir pemilik rumah makan ini berjualan," kata Juna
" kenapa...padahal makanan bibi enek sekali lo." kata Ayu kaget dan sedikit kecewa.
" Bibi akan pergi kekota x, anaknya akan segera menikah.Untuk selanjutnya dia akan tinggal bersama mereka dikota x nanti." kata Juna
" Oh baguslah, kalau begitu ini adalah kabar baik, aku akan memesan banyak makanan hari ini." kata Ayu bersemangat
" Tapi...." Juna mencoba menghentikan Ayu tapi Ayu terlanjur memesan banyak makanan.
Ayu duduk sambil menunggu pesanannya sampai.Juna menatap Ayu yang tersenyum begitu manis.Sejak Ayu kembali mereka tidak ada waktu untuk bersama.Hanya bertemu sesekali dalam urusan pekerjaan.
Akhirnya yang mereka tunggu-tunggu telah datang, makanan tersaji dimeja dan hampir memenuhi meja.
" Lihatlah begitu banyak makanan yang kamu pesan." kata Juna
Ayu hanya tersenyum, wajahnya terlihat sudah tidak sabar untuk segera menyantapnya, hari ini Ayu bekerja sangat sibuk sampai dia lupa untuk makan.
Ayu mencampur bumbu pada mie dingin yang menjadi makanan faforitnya disini.
" Tunggu...tolong potret q." kata Ayu sambil memberikan ponselnya.
Juna tersenyum sambil mengambil ponsel Ayu dan bersiap untuk mengambil foto.
" Apakah bagus.?" tanya Ayu sambil melihat gambar yang diambil Juna
" Sekali lagi." kata Ayu sambil berganti pose.
Juna hanya menuruti kata Ayu sambil terus saja tersenyum.
" Jangan melihatku seperti itu." kata Ayu tersipu malu
" Cepat makan, ada banyak pasien hari ini aku harus segera kembali." kata Juna
" Benarkah." kata Ayu mulai makan dengan lahapnya.
Lagi-lagi Juna tersenyum melihat tingkah Ayu yang terlihat sangat kelaparan.Ada noda kecap di ujung bibirnya.Juna mengambil tisu dan mengelap bibir Ayu dengan lembut.
Ayu tertegun, dia tidak menyangka akan ada momen seperti ini dengan Juna.Wajah Ayu memerah karena malu.
" ya tuhan, kenapa jantungku berdebar." kata Ayu dalam hati
Ayu tidak berani melihat Juna, dia hanya menunduk dan mencoba menghabiskan makanannya.
Ada perasaan yang berbeda dalam hati Ayu, entah itu malu atau apa Ayu tidak bisa mengartikannya.
" sudah selesai belum, aku akan membayarnya." kata-kata Juna menyadarkan Ayu
Ayu menghabiskan minumannya dan bergegas mengejar Juna yang menuju meja kasir.Juna mengeluarkan kartunya begitu pula dengan Ayu.
" Aku yang akan membayar makananmu." kata Juna
" Baiklah...bayar punyaku juga." kata Juna sambil mengambil kartu dari tangan penjaga kasir.
" Hah...." Ayu kaget kemudian dia memberikan kartunya kepada penjaga kasir.
" Tunggu aku." kata Ayu sambil mengejar Juna yang berjalan keluar.
" Lain kali aku yang akan meneraktir kamu." kata Juna
" Baiklah...tapi aku ingin makan ditempat yang bangus nanti." kata Ayu sambil berjalan sedikit lebih cepat meninggalkan Juna
Juna tersenyum melihat Ayu yang berjalan didepannya.
Hanya berjalan sebentar saja mereka sudah sampai dirumah sakit.Dwi melihat dan memperhatikan Ayu dan Juna datang tidak bersama yang membuatnya penasaran dengan apa yang terjadi.
" Eh...Tunggu, kenapa kalian tidak kembali bersama-sama, apa yang terjadi kalian bertengkar." kata Dwi menghentikan langkah Ayu
" Tidak, kami baik-baik saja, aku sangat kenyang biarkan aku beristirahat sebentar." kata Ayu sambil menarik tangannya dari gengangam Dwi
Dwi melihat kearah Juna yang berjalan santai menuju ruangannya.Terlihat dari wajahnya telihat Juna sangar bahagia sesekali di memperlihatkan senyuman kepada para kariyawan yang dijumpainya.
" Dokter Juna kembali dengan wajah yang bahagia,mereka tidak bertengkar.Terus apa yang terjadi sebenarnya." kata Dwi dalam hati
Dwi terus saja berdiri sambil melihat Juna yang menuju keruangannya sampai dia tidak tahu Adam telah berdiri disampingnya.
" Kamu sedang lihat apa.?" tanya Adam
" Kamu mengagetkan aku saja." kata Dwi sambil mengelus dadanya.
" apa sih yang kamu lihat sampai-sampai tidak tahu aku datang.?" kata Adam sambil melihat arah yang dilihat oleh Dwi
" Bukan urusan kamu." kata Dwi sambil berjalan pergi meninggalkan Adam
Adam mengejar Dwi sambil terus bertanya apa yang terjadi, Dwi sangat geram melihat tingkah Adam yang terus mengejarnya.
Dwi sampai diruangan Difa dan segera menutup pintunya.Dwi menjulurkan lidahnya kepada Adam yang terlihat dibalik kaca pintu
" Awas kamu." gumam Adam
Adam pergi meninggalkan ruangan Difa, dia berjalan sambil terus berfikir tentang kejadian tadi.Seakan-akan Adam mulai merasakan hal yang tidak wajar pada dirinya.
Adam mulai merasa perhatian kepada Dwi, kadang ingin sekali melihat wajah Dwi.
Adam berfikir apakah dia mulai menyukai Dwi.
" Itu tidak mungkin." kata Adam menyadarkan lamunannya.
Adam menyetuh dadanya dia mulai merasakan detak jantungnya yang semakin kencang ketika dia memikirkan tentang Dwi.
Wajahnya memerah ketika dia mengingat seyuman Dwi.
" Apa aku jatuh cinta." gumam Adam
" Jatuh cinta kepada siapa.?" kata Juna sambil menepuk pundak Adam
" Mengagetkan saja." kata Adam sambil melihat kebelakang
" Eh dokter Juna." Adam senyum-senyum dan berusaha meninggalkan Juna
" Tunggu..." kata Juna sambil menarik kerah baju Adam dari belakang
" Siapa gadis yang kamu suka." bisik Juna
Adam tidak bisa lagi menghindar, dia mulai mendekat kepada Juna dan berbisik perlahan ditelinga Juna
" Dwi..." kata Adam perlahan
Juna tersenyum mendengar kata-kata Adam, dia lega tahu wanita yang disukai Adam bukan Ayu melainkan Dwi.
" Kenapa Dokter Juna terlihat senang." tanya Adam
" Eh...tidak, kalian kan sama-sama masih sendiri jadi aku memdukung kalian untuk bersama." kata Juna sambil tertawa garing
Adam hanya diam dan mengerutkan kedua alisnya.Dia merasa bukan itu yang dimaksud oleh Juna.Adam masih saja berfikir apa maksud kata-kata Juna sampai akhirnya Juna meninggalkan Adam yang masih berdiri melihatnya.
Dia tahu kalau Adam berfikir yang tidak-tidak tentangnya.
Sebelum Adam mulai bertanya Juna berinisiatif pergi meninggalkannya.
" Tunggu dok." kata Adam
Juna kaget, dia langsung terdiam berdiri mematung ditempatnya.
Perlahan Juna berbalik dan menatap Adam yang bersiap membuka mulutnya.Juna menelan ludah dan bersiap dengan pertanyaan Adam.
" Dokter jangan bilang-bilang kepada siappun tentang pembicaraan kita tadi ya." kata Adam sambil tersenyum
Juna menghela nafas, dia berfikir sangat jauh tentang Adam.Perlahan Juna menganggukkan kepalanya dan menepuk pundak Adam.
" Semoga kamu berhasil." kata Juna sambil meninggalkan Adam
Juna sangat iri kepada Adam yang berani mengakui perasaannya.Tidak seperti dirinya yang hanya bisa memendam perasaannya hingga akhirnya wanita yang di cintainya telah bersama orang lain
BERSAMBUNG