
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang, hari ini adalah acara aqiqahan anak Ayu dan Boy Zayn Permana.
Ayu tampak sudah bersiap, dia melihat putranya di dalam dekapannya, wajahnya yang putih bersih dan juga sangat tampan membuat Ayu tersenyum sendiri.
" Kenapa kamu terlihat sangat bahagia?" Boy tiba-tiba datang bersandar dipundak Ayu
" Lihatlah kenapa anak kita begitu tampan?" kata Ayu
" Aku tahu." Boy tersenyum sambil melihat Ayu
Ayu melihat Boy dengan tatapan heran, dan tersenyum
" Anak kita begitu tampan karena dia memiliki ibu yang begitu cantik." kata Boy sambil kemudian mencium kening Ayu
"Terima kasih." kata Boy pelan
Mama Ayu masuk kedalam kamar melihat apakah Ayu sudah siap.Dia terdiam disamping pintu melihat Ayu tersenyum manis dan sepertinya Boy tulus, mungkin dia sadar kalau yang dilakukan kemarin adalah kesalahan dan dia lega melihat Boy dan Ayu bahagia.
Mungkin benar kehadiran seorang anak ditengah-tengah sebuah keluarga adalah sebuah anugrah.Semoga kehadiran Zayn menjadi anugrah buat keluarga kecil Ayu.
" Apa yang kalian lakukan?, semua orang sudah menunggu dibawah.Sini biarkan aku yang mengendong Zayn." kata mama Ayu
Ayu menyerahkan Zayn kepada omanya.Sedangkan Boy mengandeng keluar Ayu lantas diikuti mama Ayu yang mengendong Zayn.
Tidak banyak tamu, hanya beberapa keluarga dan teman-teman dekat saja.Orang tua mereka sebenarnya ingin membuat sebuah pesta yang sangat meriah, tapi setelah dirundingkan pesta yang mewah tidak cocok dengan keadaan Zayn yang masih kecil.
Mereka berniat setelah Zayn tumbuh besar mereka akan mengadakan pesta yang sangat meriah.
Semua tamu memuji ketampanan anak Ayu dan Boy yang tengah tidur terlelap digendongan sang Oma.
" Tante...lihatlah betapa tampannya cucu tante, aku juga ingin satu yang seperti itu nanti." kata Heni
" Heni, apa kamu belum isi?" tanya mama Ayu
"Belum tante, kami masih berusaha, semoga allah segera menitipkan kepada kita anak-anak yang tampan dan cantik." kata Heni sambil melihat kearah suaminya yang tengah berdiri disampingnya.
" Semoga allah mendengar doa-doa kalian." Mama Ayu tersenyum
Setelah melihat Zayn digendongan sang oma,Heni menghampiri Ayu yang sedang berbincang dengan tamu-tamu.
" Selamat yaaa." kata Heni mengagetkan Ayu
" Heni....kamu datang." kata Ayu sambil memeluk temannya itu dengan erat.
" Kamu tahu betapa bahagianya aku."
" Iya aku tahu kamu sangat bahagia, apa lagi anakmu sangat tampan, aku ingin sekali membawanya pulang." kata Heni
Ayu tersenyum, dia tahu perasaan Heni yang sudah sangat ingin memiliki seorang anak.
" Allah akan segera memberimu nanti." kata Ayu sambil mengenggam tangan Heni
Mendengar kata-kata Ayu, air mata Heni mengalir.Jelas sekali kalau dia sangat ingin memiliki seorang anak.Namun ada masalah lain, Heni belum bisa mengandung seorang anak dalam rahimnya.Bukannya tidak bisa namun belum bisa.Kandungan Heni sangat lemah akan sangat sulit untuk terjadi pembuahan.
" Semoga allah mendengar kata-katamu." kata Heni sambil memeluk Ayu dengan erat.
Ayu medengar Heni kembali menangis, dia sempat berfikir mungkin ada sebuah masalah, Heni terlihat sangat sedih hari ini.Tapi kalau terjadi masalah tidak mungkin dia bersama Yusuf saat ini.
Hari sudah makin larut, Ayu ingin segera membawa Zayn kembali kekamarnya untuk menidurkannya.
" Bolehkan aku yang membawanya?" kata Heni
Sebuah tempat tidur cantik telah dipasang disamping tempat tidur.Heni perlahan meletakkan Zayn diatas tempat tidur, terlihat Zayn sedikit bergerak kemudian dengan cekatan Heni menepuk-nepuk paha Zayn dengan lembut.
" Heni....cerita padaku apa yang sebenarnya terjadi." kata Ayu sambil menatap Heni dengan tajam
" Cerita apa?" Heni berbalik mematap Ayu
Ayu hanya diam dan terus memandang Heni, dia masih menunggu Heni membuka mulutnya untuk bercerita.
"Tidak ada yang harus aku ceritakan, karena memang tidak ada apa-apa." kata Heni sambil menghindari pandangan Ayu
Ayu terus mendatap Heni, dia tahu Heni sedang ada masalah,
" Memangnya sejak kapan kita kenal, apa kau tidak bisa mengenali teman ku sendiri." kata Ayu
Heni menunduk, tiba-tiba matanya berkaca-kaca dan akhirnya air mata pun mengalir.
Ayu mendekat dan memeluk erat sahabatnya itu.
" Ceritakan semua padaku." kata Ayu perlahan
Heni masih diam, dia tidak bisa berhenti menangis, dia hanya membalas pelukan Ayu dengan erat sambil terus menangis.
" Menangislah sepuasmu." kata Ayu
Setelah beberapa saat, Heni menghaous semua air matanya.Dia menunduk sambil memceritakan keadaannya yang belum bisa hamil.Padahal dia sudah sangat menginginkan seorang anak di keluarga kecilnya.Tidak hanya Heni dan suami tetapi mertuanya terus saja menekan dia agar cepat hamil dan memberikan keturunan kepada keluarganya.
" Yang sabar ya, serahkan semua kepada allah, dia tahu yang terbaik untukmu." kata Ayu
" Mama Yusuf sudah tidak sabar memiliki seorang cucu." kata Heni
" Setiap hari setelah pulang kerja kamu bisa datang kesini melihat Zayn." kata Ayu
" Baiklah aku mengerti." kata Heni sambil kembali memeluk Ayu
Heni kembali tersenyum, Ayu pun juga merasa lega.Tiba-tiba Yusuf datang mencari Heni saat mereka sedang tertawa sambil bercerita.
" apa yang kalian ceritakan, kok sepertinya asik sekali." kata Yusuf sambil berjalan mengahampiri Heni dan Ayu yang tengah duduk tidak jauh dari tempat Zayn di tidurkan.
" Kak Yusuf, sini duduk, Heni sedang iri sama aku karena anakku begitu tampan." kata Ayu
" Sayang, Ayu memberi tahu tips agar bisa mendapatkan seorang bayi yang sangat tampan seperti ini." kata Heni sambil tersenyum
" Kita harus mencobanya agar kita punya satu yang seperti ini.
Yusuf hanya diam, dia kaget Heni bicara soal anak apalagi dia terlihat bahagia tidak sedih seperti kemarin-kemarin.Dia akhirnya sadar kekuatan persahabatan memang sangat kuat hingga kesedihan yang menutupi Heni kini hilang.Heni kembali tersenyum
Yusuf mendekat dan memeluk Heni dengan erat.Heni diam dia tahu kenapa suaminya memeluknya saat ini.Ayu yang berada disampingnya pun hanya tersenyum melihat mereka bersama.
" Kita masih bisa berusaha lagi kan, aku yakin aku akan bisa hamil." kata Heni pelan
Yusuf tidak menjawab dia hanya mengangguk sambil menahan air matanya.
" Apa yang kalian bicarakan, kenapa kamu berubah seperti ini, tapi bagaimana pun aku sangat senang melihatmu tersenyum kembali." kata Yusuf
" Tidak ada, aku hanya memberinya ruang untuk bercerita.Dan semoga kalian segera diberikan keturunan yang tampan dan cantik." kata Ayu
Heni tersenyum, dia yakin kalau dia masih bisa hamil, hanya saja dia harus berusaha lebih keras dan lebih berhati-hati lagi.
BERSAMBUNG