Angel!!

Angel!!
Bab 99. Berakhir?



"Ngapain ke sini?" Jutek, Meica tak memberi sambutan hangat untuk Fajar meski tahu Fajar pasti lelah setelah perjalanan jauh dan cukup memakan waktu untuk menuju tempatnya.


"Saha eta bu dokter? Kabogohna? (Siapa itu bu dokter? pacarnya?)" Tanya suster yang kepo dengan kedatangan Fajar. Sekarang Meica sedang ada di rumah sakit tempat dia bekerja.


"Bukan." Jawaban singkat Meica membuat Fajar menghembuskan nafas berat.


"Ca.. Aku mau ngomong." Fajar menahan tangan Meica saat dia ingin pergi meninggalkan Fajar di parkiran dengan puluhan kendaraan di sana.


"Aku sibuk." Sebisa mungkin Meica tak ingin Fajar tahu jika dia ingin meneteskan air mata saat melihat Fajar tiba-tiba ada di dekatnya sekarang.


Meica tahu untuk menuju tempatnya saja Fajar harus mengorbankan waktu dan tenaganya, belum lagi Fajar pasti kebingungan mencari lokasi rumah sakit tempatnya bekerja saat ini. Karena sebelumnya dia tidak pernah memberi tahu Fajar di tempatkan di rumah sakit mana dia mengabdikan diri.


"Ca.. Aku sayang kamu." Setengah berteriak, Fajar membuat Meica dan beberapa orang di sana melihat ke arahnya.


Dia tak malu melakukan hal itu, masa bodoh dengan pandangan aneh orang lain untuknya. Meica berhenti, menoleh ke arah Fajar yang masih berdiri di tempat yang sama.


"Ca.. Aku tahu kamu denger aku ngomong apa tadi, maaf Ca.. Maaf kalau selama ini aku enggak peka sama kamu, sama perasaanmu dan aku terlalu egois.. Ca, aku enggak mau kita pisah." Fajar berjalan mendekati Meica.


"Anak kecil juga bisa bilang gitu Jar. Bilang 'aku sayang kamu' ratusan kali, bilang maaf sehari puluhan kali.. Semua orang bisa melakukan itu Jar." Meica menarik tangannya saat Fajar menggenggamnya.


"Apa sefatal itu kesalahan ku sampai kamu semarah ini sama aku Ca.. Ca, aku minta maaf.. Aku harus apa agar kamu mau maafin aku?" Fajar menunduk, kepalanya terasa pusing.


"Kamu aja enggak tahu harus berbuat apa Jar. Seperti kataku di telepon kemarin.. Kita udahan, kita masing-masing aja sekarang." Meica beneran ingin berlalu pergi tapi, pelukan Fajar menahannya.


"Jar, jaga tingkah laku mu. Ini tempat umum.. Apa kamu juga ingin membuat aku malu di sini?" Spontan Fajar melepas pelukannya.


Meica kembali masuk ke dalam area rumah sakit, membiarkan Fajar yang masih diam di tempatnya. Meica berpikir, nanti juga pasti Fajar balik ke asalnya kalau dia cuek kayak gitu.


Ngapain menyiksa diri? Dia kan dokter tahu apa konsekuensi dari tindakan sengaja membuat tubuh dehidrasi. Pengen Meica kesian sama dia ngono?


Jam 14.00, waktunya Meica pulang karena tugasnya di rumah sakit itu sudah selesai. Rasanya lelah sekali, berjalan sambil berbincang dengan dokter lain tak terasa Meica tiba juga di tempat parkir.


"Eh dok, lihat.. Itu kan cowok yang tadi pagi ngobrol sama dokter Ica?" Salah seorang kawan Meica menunjuk Fajar yang duduk di atas motornya. Kepalanya tertunduk dengan tangan yang dia pakai untuk sandaran pada motornya.


Ingin rasanya Meica mengacuhkan Fajar, tapi Meica teringat semua perhatian Fajar untuknya saat di kota J dulu, sewaktu tak ada siapapun yang bisa dia mintai tolong.. selalu ada Fajar yang menjadi dewa penolongnya.


"Jar.. Kenapa masih di sini?" Meica tak sampai hati meninggalkan Fajar begitu saja.


"Ca.. Aku minta maaf." Kalimat pertama yang Fajar ucapkan.


"Enggak ada yang harus aku maafkan karena kamu enggak salah Jar. Hidup itu pilihan, dan inilah pilihanku. Jar, mending kamu pulang aja. Perjalanan ke kotamu sangat jauh, bisa tengah malam kamu sampai sana kalau sekarang masih di sini." Fajar tak menjawab omongan Meica.


"Jar.. Meski kita enggak lagi sama-sama, kita masih bisa berteman. Kita masih bisa komunikasi, kita pisah bukan salahmu atau salahku tapi, demi kebaikan bersama. Tata dulu hatimu, jika kita memang berjodoh pasti akan ada jalan yang menghubungkan kita untuk kembali. Jar.. Sebelumnya makasih untuk semua waktu dan perhatian kamu ke aku selama ini. Aku tahu semua itu enggak bisa aku bales meski dengan materi berapapun besarnya.. Kamu jaga diri, jaga kesehatan, dan maaf.. aku harus pulang."


Keringat dingin mulai keluar dari tubuh Fajar. Fajar tahu ada yang enggak beres dengan dirinya. Rentetan kata Meica lebih terdengar seperti kalimat mengusirnya dari sana.


"Mau aku anterin?" Fajar mencoba menenangkan degup jantungnya. Rasanya sakit banget saat perjuangannya tidak dianggap sama sekali.


"Enggak Jar, aku bawa motor sendiri." Bahkan sekedar basa-basi untuk mengajak Fajar mampir ke rumahnya pun tidak Meica tawarkan.


'Apa harus seperti ini cara kita berpisah Ca.. Aku minta maaf jika bersamaku enggak memberi kebahagiaan untukmu. Aku minta maaf jika hadirku adalah kesalahan untukmu... Maafin aku dengan semua keterbatasanku.'