Angel!!

Angel!!
Bab 88. Cerita Rama



Terjadi obrolan serius di rumah Dewa. Kakek dan tantenya ada di sana, menanyakan kelanjutan hubungan Dewa dengan Ndis. Menurut kakek, Dewa tidak boleh mengulur waktu lebih lama untuk menghalalkan Ndis. Hal senada disampaikan tantenya.


Menimbang lagi ucapan kedua orang tuanya itu, Dewa berpikir ada benarnya juga apa yang dikatakan mereka. Untuk apa lagi dia menunda sesuatu yang baik?


"Kamu sudah dewasa Wa, mbah dan bulek juga makin tua.. Mau nunggu apa lagi? Rumah sudah punya, pekerjaan juga sudah ada, kalau untuk masa depanmu dan Gendis, bulek yakin kelian tidak akan kekurangan karena kamu enggak cuma ngandelin gajimu sebagai guru saja. Jadi kapan kita nembusi (membicarakan kembali) acara lamaran mu? Atau mau langsung menikah aja? Soal biaya serahkan semua sama bulek." Kakek yang akrab dipanggil mbah kung oleh Dewa menyetujui ucapan anak bungsunya.


"Benar kata bulek mu.. Sudah hampir satu tahun setelah acara tukar cincin dulu lho Wa.. Kamu enggak nembusi lagi ke orang tua Gendis pasti mereka berpikir kamu hanya menggantung status anaknya saja. Bagaimana kalau sore ini kita ajak kerabat dekat kita untuk membicarakan kelanjutan hubungan mu dengan Gendis."


"Aku juga maunya cepet-cepet halalin dia mbah tapi, dia bilang belum siap menikah.." Dewa sedikit cemberut.


"Lho kenapa begitu? Kalau mau pacaran kan masih bisa setelah menikah, malah lebih berkah karena kejelasan status. Apapun yang kelian lakukan pasti mendapat pahala dari Allah karena dia sudah sah jadi istrimu. Aku kok endak paham pikiran anak muda jaman sekarang, jodoh sudah ada di depan mata kok ya masih nunda-nunda untuk lanjut menjemput pahala." Kakek geleng-geleng kepala.


"Atau aku aja yang ngomong sama Gendis? Wa.. Jujur saja bulek lebih ayem kalau kamu sudah punya istri. Kamu kerja siang malam jungkir balik itu ya buat siapa? Kalau kamu enggak berani ngomong sama kedua orang tua Gendis, biar aku saja. Piye?"


"Huuuftt.. Nanti sore aku tak ke rumah Ndis dulu bulek. Bukannya aku enggak berani tapi, waktu Ndis bilang belum siap dulu aku juga enggak bisa maksa dia. Menikah itu bukan hanya mementingkan kebahagiaan ku atau kebahagiaannya, melainkan kami berdua. Menyambung dan mengeratkan tali silaturahmi antar kedua belah keluarga.. Makanya aku enggak bisa maksa kalau dia belum siap. Setidaknya aku tahu, hatinya selalu untukku." Dewa memijat pelipisnya yang mulai nyut-nyutan.


Pembicaraan berakhir. Kakek dan bulek pulang meninggalkan Dewa di rumah sendirian dengan berbagai macam pikiran yang berkecamuk di otaknya.


'Nanti aku ke rumahmu ya Manis.' Sebuah pesan terkirim. Langsung centang dua. Dibalas singkat, padat, jelas, oleh yang bersangkutan. 'Iya mas.'


Dewa melihat foto Ndis yang dia jadikan wallpaper hapenya. Gadisnya itu selalu terlihat sempurna.



Dering telpon mengganggu kekhusyukan Dewa saat mengagumi kecantikan sang pacar. Matanya memutar malas. Nama Rama ada di sana. Mau apa lagi manusia satu ini?


"Hmmm" Jawab Dewa menerima telpon Rama.


"Kok jawabnya gitu? Dew aku mau cerita." Rama terdengar antusias.


"Jangan sekarang Ram, aku sibuk."


"Sibuk? Sibuk apa? Ini hari Minggu, apa kamu juga masih ngajar di hari libur?" Rama terdengar kepo akut.


Tak menunggu waktu lama, Rama sudah pecicilan di rumah Dewa. Dewa datar-datar aja melihat Rama yang sumringah.


"Brother.. Nih makan! Aku tahu kamu pasti belum makan kan?" Rama menaruh dua porsi ayam geprek dan kawan-kawannya di atas meja. Hanya melirik, Dewa tak bersemangat sama sekali.


"Ono opo?" Tidak langsung menjawab, Rama malah sibuk menyantap ayam geprek yang tadi dia bawa.


"Kamu ke sini cuma mau numpang makan?" Dewa mendengus kesal.


"Enggak juga. Tumben kamu sensitif banget, apa kamu lagi dapet? Udah beli pembalut belum? Mau aku beliin? Minta yang model apa? Yang panjang bersayap atau yang tipis? Atau mau model celana?" Dewa tepuk jidat. Bisa-bisanya temannya ini hafal semua model dan bentuk pembalut bulanan cewek. Sedangkan Rama malah cekikikan.


"Biasanya kamu yang selalu ngasih aku sugesti positif, kok sekarang malah uring-uringan gini. Ada apa Dew?"


"Enggak ada apa-apa." Bohong! Dia lagi kepikiran gimana caranya bujuk Ndis agar mau ndang nikah sama dia.


"Oowh oke. Kalau gitu aku mau cerita sama kamu. Aku jadian sama Neta! Keren kan?? Hahaha.. Akhirnya dia jinak juga sama aku!" Dewa tertarik dengan cerita Rama.


"Bukannya Neta terlalu memuja Fajar? Gimana bisa dia jadian sama kamu? Kamu ancam pakai apaan kok bisa tunduk gitu?" Moodnya membaik karena ghibah Neta. Ampuni dosa mereka ya Allah karena udah mengghibah gadis sepolos Neta!


"No no no.. Kamu salah kisanak! Aku enggak ngancam dia, bukan dengan kekerasan kok.. Cuma dengan sedikit slebeeew dia mau sama aku hahaha." Rama bangga banget bisa berslebew ria dengan Neta.


"Slebew?"


"You know lah Dew.." Tersenyum sumringah.


"Apa sih enggak jelas banget lah kamu ini. Bahasamu alay tahu enggak."


"Intinya ya gitu deh.. Tapi dia enggak mau orang lain tahu kalau aku sama dia jadian, aku sih iyain aja.. Toh enggak perlu diumbar juga. Yang penting dia udah jadi pacarku."


"Udah gitu doang? Aku mengorbankan tiga puluh menit ku yang sangat berharga untuk cerita slebew mu itu? Aaah tahu gitu sebelum kamu datang ku gembok itu pager depan rumah!"


Rama bukannya marah malah tertawa mendengar ocehan Dewa. Saat ini enggak ada yang perlu dia pusingkan karena apa yang dia inginkan udah terwujud. Menjadi pacar Neta adalah keinginannya sejak lama. Entah apa yang Rama suka dari seorang Neta sampai dia bisa seheboh itu ingin memiliki gadis yang sering dapet slebew darinya itu.