
Dewa memperhatikan Ndis yang beberapa kali terlihat mengecek ponselnya. Tengkurap di atas tempat tidur, tangan Dewa menopang dagu. Senyum simpul bertengger di wajah tampan lelaki yang sekarang resmi menjadi suami Ndis.
"Kamu makin manis kalau gugup gitu." Masih dengan kedua tangan menopang dagu.
"Eh.. Apa lho mas. Ini aku lagi ngecek pesan yang aku kirim ke Lintang tadi. Kok diread aja ya, enggak dibales." Sekali lagi tangan itu mengambil ponsel di atas meja rias. Terlihat gemetar. Sangat jelas, Ndis gugup saat ini.
Kali ini Dewa mendekati istrinya. Memeluk Ndis dari belakang, menaruh dagunya di antara pundak dan leher jenjang milik istrinya. Mengendus wangi parfum melon kesukaan Ndis. Yang sekarang juga menjadi favorit Dewa.
"Manis.." Ucap Dewa mengecup pundak kanan Ndis yang terekspos karena rambutnya yang tergerai diarahkan Dewa ke depan.
"Mass.. Euuh" Lenguhan pertama. Suara kamvreto perusak citra othor yang lugu dan polos ini lolos dari bibir Ndis.
Dewa mengulum senyum. Kenapa dia bisa segila ini saat bersama Ndis. Ndis udah seperti candu untuknya. Untung saja mereka sudah resmi menikah, jadi dia bisa bebas menjelajahi sisi terpendam dan terdalam seorang Gendis.
"Enggak usah lihat hp terus dek. Aku udah wa semua temen plus adikmu untuk enggak ganggu kita malam ini." Tangan Dewa merayap memeluk Ndis dari belakang. Perasaan geli bercampur gugup mendominasi Ndis sekarang. Dia harus apa? Harus bagaimana?
Dewa memutar tubuh Ndis agar menghadap ke arahnya. "Lihat aku.." Perintah Dewa lembut.
Ndis hanya bisa menurut dengan alur yang Dewa ciptakan. Tak ada penolakan, Ndis juga tahu apa yang diinginkan suaminya. Hanya saja dia terlalu nerpes! (nervous).
Pandangan mata mereka bertemu, masih dengan posisi berdiri, Dewa perlahan mendekatkan bibirnya ke arah lawan mainnya. Bibir itu terasa lembut, manis, kenyal kek permen yupi! Seakan terhipnotis, Ndis berusaha mengimbangi permainan Dewa di bibirnya. Meski bukan seorang yang pro dalam hal itu, Ndis justru memberi balasan untuk setiap sesapan yang Dewa lakukan, dia tak ingin mengalah dari Dewa tentunya.
"Aaah.. Kok main gigit sih dek..." Dewa melepas pautan yang dia ciptakan. Tanpa mengikis jarak diantara mereka. Nafas mereka yang saling memburu bercampur jadi satu di udara.
"Ma- Maaf mas.."
Gelagapan karena berpikir telah melakukan kesalahan, Ndis ingin melepaskan diri dari dekapan Dewa. Hanya ingin melihat keadaan bibir Dewa yang tak sengaja digigitnya. Tapi, tangan kekar Dewa menahan punggung Ndis dan melanjutkan temu bibir mereka.
Ndis memejamkan mata, emang semua yang nikmat itu akan lebih terasa wah saat mata tertutup ya kan? Asal jangan tertutup selamanya aja. Hehehe ini bukan nopel horor gaess tenang aja.
Dewa justru sebaliknya, dengan bibir yang terus mengunci, matanya terbuka untuk melihat ekspresi istrinya saat merasakan servis dari bibirnya. Tangan Dewa bergerak meloloskan satu persatu kancing piyama yang dipakai Ndis. Makin berdebar saja keduanya. Dan di kancing terakhir, baju itu dilepaskan Dewa. Meluncur jatuh ke lantai.
Bahu mulus itu terlihat seperti pualam, Dewa makin mengeratkan pelukannya. Membawa pinggang Ndis makin merapat padanya.
Tangan Dewa semakin berani. Bergerak dari pundak menuju punggung, tujuannya jelas.. Melepaskan pelindung kedua bukit sakral yang belum pernah ada pendaki menjelajahi bagian sana sebelumnya. Ndis meraih tangan Dewa, dia menggigit bibirnya, dengan pandangan sayu dia melihat Dewanya. Ndis sangat malu, meski belum polos sepenuhnya tapi, tetap saja dia belum pernah berpolos ria seperti ini di depan siapapun.
"It's okey Manis.." Ucap Dewa menenangkan Ndis. Dengan gerakan cepat, Dewa membawa Ndis ke tempat tidur king size miliknya. Enggak mau mengulur waktu, Dewa melepas sendiri kaos yang dia kenakan.
Tak dipungkiri, Ndis terkesima dengan tubuh kekar mas bojonya. Dada bidang kokoh, perut rata kotak-kotak, turun ke bawah.. hmm opo yo? Hahaha udah lah, pikir dewe ada apa dengan isi celananya. Dompet! Pandai! Kok antara pandai dan bodoh ya waktu ngetik ini hahaha.
"Mas.. Matiin aja lampunya ya," Usul Ndis saat onderdil bagian atas tubuhnya udah dipreteli Dewa.
"Kenapa dek? Kamu malu? Aku enggak pake baju gini aja enggak malu di depan kamu kok." Tersenyum bersemangat. Ya lah semangat, lha wong mau unboxing.
"Mas.. jangan ngeliatin aku kayak gitu.." Selimut ditarik dengan niat menutupi bagian bukit tandus mulus tanpa bunga atau bulu eh.
Wajah Dewa mendekat, dia menempelkan keningnya pada kening Ndis. Bergerak ke samping, bisikan lembut terdengar langsung di telinga kanan Ndis. "Kita mulai sekarang ya.."
Mulai? Mulai apa? Mau ngapain? Maaf othor mogok menjabarkan.
Pukul 04.15, Ndis baru akan memejamkan matanya terganggu oleh dekapan Dewa. Mas bojonya itu memeluknya dari belakang. Dapat dia rasakan kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit Dewa.
"Mandi yuk.. Udah mau subuh dek." Ajak Dewa.
"Eeuhh ya udah mas dulu aja.. Tanganmu ojo gratilan sih iso ora mas?" (Intinya Ndis ngomong, kalau tangan Dewa enggak boleh sembarangan megang dia)
Dewa justru gemas dengan ucapan Ndis. Dengan mudah lelaki yang juga belum memakai apapun untuk menutupi tubuhnya itu mengangkat Ndis dan memposisikan istrinya duduk tepat di atasnya.
"Maaass.. Yang bener aja." Selimut berhambur entah kemana.
"Apa lho apa? Aku kan pengen lihat wajah istriku di pagi hari, masa enggak boleh.." Tangan Dewa mengunci pinggang Ndis agar tak bergerak dari posisinya.
"Enggak gini juga mas.. Katanya tadi mau mandi, hhhssss.." Desis Ndis merasakan pergerakan di bawah sana. Padahal nyeri akibat peperangan yang mereka lakukan semalam masih terasa tapi, sepertinya pagi ini Dewa tak akan membiarkan Ndis lolos begitu saja.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨
"Ebuset Ndis.. Kamu dihubungi kok ya baru nyambung. Kebanyakan salto, jungkir balik, sama kuda-kudaan ya semalem?" Suara Jo bikin pusing kepala Ndis aja.
"Kamu bosan hidup ya Jo?" Ndis memijat pundaknya yang pegal. Lebih pegal di bagian lain sebenarnya.
"Hahaha.. Woles mbak manten,"
"Ada apa?" Tanya Ndis yang sekarang enggak fokus karena Dewa baru saja menghampirinya dengan mengecup bibirnya. Itu Dewa lakukan saat Ndis melakukan pidio kol (video call) dengan Jo.
"Anjiiir.. Mataku aaaiish, mendadak aku hilang ingatan! Udah lah nanti aku kirim aja apa yang mau aku sampein lebat wa. Kuampreet!"
Salahe dewe, reti manten anyar kok diganggu! Lah yo rasakno efeknye gawe mbun-mbunan umub! (Salahnya sendiri, tahu pengantin baru kok diganggu! Lah ya rasain efeknya bikin mbun-mbunan mendidih!)
"Mas iseng banget.." Ndis tersenyum membalas pelukan Dewa padanya.
"Kok males keluar ya dek. Kamu juga pasti capek kan? Ngamar lagi aja yuk." Tak tahan dengan sikap manis Ndis, Dewa jadi mager semager-magernya. Pengennya di kamar mulu.
"Ngamar lagi? Mas bukan ngajak istirahat malah bikin aku makin remuk. Moh mas.." Ndis meminum teh yang dibawakan Dewa untuknya.
"Dosa kamu dek nolak ajakan suami." Dewa tersenyum penuh arti.
"Suami juga dosa gempur istri enggak kira-kira kayak semalem. Untung masih bisa jalan ini." Dewa tertawa. Ndis selalu bisa membuat dirinya sebahagia itu.
"Ke rumah bapak yuk mas.." Ndis berdiri dari duduknya tapi mendadak keseimbangannya oleng. Dia hampir jatuh, untung Dewa segera menangkapnya.
Dalam pelukan.. Mata Ndis menyusuri setiap inci kesempurnaan yang Tuhan berikan pada wajah suaminya. Tampan. Itu yang pertama kali terlintas setiap memandang wajah Dewa.
Dewa berpikir Ndis akan menciumnya karena saking dekat jarak diantara mereka. Bahkan dia bisa merasakan hembusan nafas Ndis dari jarak sedekat itu. Tapi, saat dia memejamkan matanya yang terjadi adalah.. Ndis berhasil lepas dari pelukannya dan tertawa melihat Dewa yang ternyata di php doang!