
"Huuuft capek banget..." Meica menggerakan lehernya ke samping kanan dan kiri. Memijat pundaknya karena terasa pegal dan penat dengan segala tugas yang telah dia selesaikan hari ini.
"Udah makan belum?" Fajar memperhatikan Meica yang memang terlihat lelah, letih, lesu. Tapi bukan karena anemia ya gaess.. Dia kecapean.
"Tentu aja belum. Sarapan tadi pagi hanya teh anget sama roti bakar sisa semalam," Jawabnya jujur.
"Kamu ini ngirit apa nyiksa badan? Ayo cari makan dulu! Kita di sini nolong orang sakit bukan malah nambah penyakit!" Gemas dengan penuturan Meica tadi Fajar langsung saja menarik tangan Meica untuk mengikutinya.
Mendadak hening, hanya ada suara langkah kaki. Meica memperhatikan tangannya yang masih terus dipegang Fajar.
"Kamu perhatian banget sama aku.. Nanti kalau aku jatuh cinta sama kamu gimana?" Pertanyaan itu membuat Fajar melepas tangannya dari perbuatan yang sejak tadi tidak dia sadari.
"Maaf.. Aku reflek narik tanganmu tadi." Agak sungkan saat meminta maaf, tapi di hati Fajar sampai saat ini hanya terpatri satu nama, Gendis!
Bukan sehari dua hari Fajar mengenal Gendis, hampir seluruh usianya. Dan itu bukan suatu yang singkat. Kebersamaannya dengan cewek jutek itu selama ini memupuk rasa yang awalnya dia anggap hanya perhatian pada sahabatnya. Tapi, semakin lama Fajar baru sadar.. Jika itu merupakan perasaan sayang yang spesial. Kisahnya dengan Ndis belum dimulai, dan dia tidak ingin membuat cewek lain baper karena sikapnya di sini.
"Aku hanya bercanda kok. Segitunya langsung lepasin tangan, aku bukan tipe baperan! Tenang aja." Meica merasa lucu dengan sikap Fajar.
Berada di warung makan sederhana, Fajar langsung memesan dua porsi makanan, minuman, dan beberapa semua hal yang dianggap perlu untuk mengganjal perut mereka.
"Kamu belum cerita apapun tentang masa lalumu sebelum di sini.. Padahal aku udah blak-blakan sama kamu. Itu enggak adil," Meica memandang fokus ke arah Fajar. Tak lantas menjawab, Fajar berpikir sejenak.
"Apa perlu? Aku orangnya biasa aja, kek gini-gini aja. Enggak ada yang spesial." Ucapnya kemudian.
"Oya..? Tapi, aku selalu merasa kamu punya daya tarik. Kamu punya sesuatu yang membuat orang lain terutama para cewek penasaran sama kamu. Apa kamu enggak sadar kalau sering jadi bahan obrolan dokter-dokter magang di sini?"
Obrolan selesai saat makanan datang. Keduanya menyantap hidangan dengan penuh khidmat. Enggak ada pembicaraan lagi, selama makan mereka hanya diam.
"Punyaku biar aku sendiri yang bayar." Meica menahan tangan Fajar yang akan mengeluarkan uang untuk membayar makanan mereka. Fajar tersenyum kecil sambil menggeleng, mengisyaratkan kepada Meica jika dia aja yang bayar semuanya.
"Kita ke taman yuk. Di belakang rumah sakit ini ada taman ternyata. Aku baru tahu," Fajar mengajak Meica pergi dari lokasi tempat mereka mengisi perut. Meica nurut aja, setelah berkali-kali mengucapkan terimakasih karena udah ditraktir, Meica merasa Fajar perhatian padanya. Apa itu hanya perasaannya saja?
"Kamu kenapa perhatian banget sama aku? Diantara teman kamu yang lain, aku merasa kamu terlalu menspesialkan aku.. Hmm bukan kepedean tapi itu yang aku rasain." Meica terus terang bertanya maksud dari semua perhatian Fajar untuknya.
"Aku enggak mau baper karena kamu.." Imbuhnya lirih.
"Tadi katanya kamu enggak baperan.. Piye lho?" Fajar malah tertawa menanggapi omongan Meica.
"Sekarang emang belum, tapi kalau kamu grojok sama perhatian juga lama-lama aku mikir.. kamu ini suka atau gimana sama aku?" Clemang-clemong merupakan gaya bahasa Meica. Dia akan mengutarakan apa yang dia pikirkan, enggak sungkan atau malu, ada sebagian cewek suka ngasih kode agar orang yang dimaksud peka. Tapi, tidak untuk Meica. Dia lebih suka berterus terang.
"Kamu ngingetin aku sama seseorang, kamu baik." Fajar menatap langit yang terlihat cerah, warna biru dengan gumpalan awan putih mendampingi angkasa. Pemandangan yang sangat cantik.
"Jadi kamu anggap aku pelampiasan? Pelarian atau sejenisnya? Aku kok kesal ya." Pura-pura memanyunkan bibirnya, menunjukkan sisi imut seorang Meica.
"Bukan gitu, enggak pernah jadikan siapapun pelampiasan atau pelarian. Aku tadi bilang kamu ngingetin aku sama seseorang. Dia sahabatku, tapi entah sejak kapan aku mulai sayang sama dia. Pernah aku ungkapin perasaanku sama dia tapi, dia enggak respon apapun." Fajar mulai curhat.
"Terus.."
Fajar tersenyum. "Kepo banget sih kamu. Apanya yang terus?"
"Ceritanya lah, terusannya gimana?"
"Enggak ada. Udah itu aja." Fajar melihat ke arah Meica.
"Aku panggil kamu Ca aja boleh? Nama Queen mu bikin aku berasa jadi ajudan mu tiap kali aku manggil kamu."
Keduanya tertawa. Siang itu di bawah langit yang cerah, ada dua hati yang sama-sama saling mengagumi. Hanya sebatas kagum untuk saat ini, belum merembet ke perasaan lain. Entah nanti..