
Kematian.. adalah perpisahan yang abadi. Semua makhluk akan mengalaminya, tinggal bagaimana dan kapan saat itu tiba tak ada yang tahu. Bahkan peramal legend macam Lorenz atau mbak You pun tak bisa menebak kapan ajalnya tiba.
Satu minggu berada di rumah sakit, Neta memutuskan untuk membawa pulang mamanya. Bukan karena dia tak punya biaya untuk melanjutkan pengobatan tapi, kondisi fisik mamanya telah pulih sepenuhnya. Hanya saja, beliau masih berpikir jika suaminya masih hidup, Hal itu yang membuat Neta kewalahan menjawab banyaknya pertanyaan yang mamanya ajukan jika ingatan tentang suaminya muncul.
Bergeser sedikit ke sebelah kanan, entah kanan yang mana.. Kita tinggalkan dulu kisah Neta dan mamanya yang masih dalam suasana berkabung.
"Serius kamu mau lamar bu dokter?" Jo menaruh kembali ponsel yang mau dia mainkan.
"Iya." Jawab Fajar singkat.
"An_jir lah.. Terus aku gimana?? Kamu mau lamaran, Gendis bentar lagi nikah.. Aku kok merasa dipermainkan sama yang bikin cerita ya Jar? Kapan Lintang mau sama aku? Dia udah lulus lho! Masa nunggu dia ngelarin kuliah.. Siapa sih dalang di balik mengsadnya kisah cintaku ini? Aku berasa dijadiin piguran aja!!" Jo minta dimutilasi karena udah kurang ajar sama othor!
"Silahkan ketik protes kirim ke 212. Jangan lupa kata protes nya pakai huruf kapital, siapa tahu keluhan mu didengar nantinya." Fajar menyunggingkan senyum.
"Sem_vak! Mentang-mentang udah punya pacar, ngece banget sumpah!! Lintaaaang apa kurangnya mamas Jo di matamu?? Akan mamas tambal kekurangan ku itu Liiin!" Jo Berteriak membuat Fajar melempar segenggam kulit kacang ke arahnya.
"Berisik tahu enggak! Kalau deketin Lintang kurang membuahkan hasil yang nyata coba deketin orang tuanya." Saran Fajar.
"Kurang deket gimana aku sama calon mertua Jar? Bahkan kalau dibolehin nih ya, aku rela bikin tenda depan rumah mereka biar makin deket sama Lintang."
Fajar tertawa. Penatnya selalu hilang saat ngobrol santai kayak gini bareng Jo atau Bagas. Kali ini hanya Jo yang mau ngumpul sama dia karena Bagas sedang sibuk-sibuknya dengan bisnis yang setahun belakangan ini dia rintis.
Bagas bukan bekerja di kantor, memakai jas, dasi, kemeja rapi atau seperti di nopel lain waktu bilang 'bisnis' selalu tertuju pada CEO, GM, direktur atau pangkat tinggi lainnya. Dia hanya seorang yang gigih dan ulet. Mendirikan usaha budidaya ikan nila dan gurami di tambak serta beberapa empang. Hah? Kuliah jauh-jauh, keluar dari desanya hanya main di empang seperti itu? Ya. Tapi, jika boleh nyombong dikit, setiap panen dari empang dan juga tambak yang dihasilkan Bagas akan dia kirimkan untuk kebutuhan ekspor ke luar negeri. Cukup wow?
"Mau ngapain kamu nyampe bikin tenda di depan rumah Lintang?"
"Ngegembel! Puas?!" Sekali lagi Fajar ngakak.
"Oiya, kapan Ndis nikah?"
"Tiga bulan lagi. Kenapa? Yang di situ krek?" Jo menunjuk dada Fajar.
"Ngawur! Ya enggak lah. Aku mau ngajak Meica ke sini, ketemu Ndis langsung." Terang Fajar.
"Ati-ati nemuin bini tua sama bini muda, bisa perang kumucuk mereka ntar hahaha."
"Tuh mulut minta diamplas hah? Kamu kira mereka lagi cosplay jadi Jarjit sama Upin?"
"Neta udah punya Rama buat jinakin dia. Lagian Meica bukan tipe bar-bar yang suka der-deran." Imbuh Fajar.
"Kamu kok mikirnya Neta? Padahal dari tadi aku enggak nyebut nama dia sama sekali. Kamu kangen dia hah?" Bingo. Fajar gelagapan. Bisa-bisanya Fajar nyebut nama itu, padahal jelas-jelas tadi mereka bahas kapan pernikahan Ndis diadakan.
"Jo, enggak usah mikir aneh-aneh. Kamu tahu aku lah. Fokus ku sekarang buat jadiin Meica satu-satunya buat aku. Untuk Neta.. Aku hanya prihatin sama nasibnya. Enggak lebih." Jelas Fajar seakan memberi klarifikasi.
Fajar memutuskan menghubungi Meica. Jo makin kesal. Dia iri!
"Assalamu'alaikum Ca," Meica tersenyum manis di seberang sana melihat mas pacar memberi salam untuknya.
"Wa'alaikumsalam. Baru dipikirin udah telpon aja." Senyum tak hilang dari wajah ayu Meica.
"Jar.. Aku pulang dulu ya. Kalau Bagas ke sini kabari aku lewat telepati." Jo menyela obrolan pasangan bucin itu. Seketika Fajar ngakak. Dia tahu Jo gabut karena Lintang.
"Jo kenapa Jar?" Meica mengenal Jo dan Ndis dari cerita Fajar. Beberapa kali Meica juga pernah mengobrol dengan Jo, meski tidak secara langsung.
"Biasa, gabut karena Lintang. Hmm Ca, minggu depan aku ke sana ya?" Membuka obrolan.
"Iya. Ke sini tinggal ke sini, tumben ijin segala. Biasanya juga tahu-tahu nongol di depan rumah."
"Ca.. Aku ke sana ngajak orang tuaku. Beberapa keluarga, Jo sama Bagas juga kemungkinan ikut.. Aku mau semua keluarga dan sahabatku tahu kalau kamulah calon istriku." Pernyataan Fajar membuat Meica menutup mulutnya, dia speechless!
"Jar.. Artinya?"
"Iya, aku mau lamar kamu. Secara resmi. Disaksikan seluruh kerabat dan orang terdekat kita. Kamu mau?" Tanya Fajar tersenyum smirk.
"Bodoh kalau aku bilang enggak mau."
Meica senang. Pastinya. Dia sudah dewasa, enggak mungkin terus menerus menjalani hubungan yang enggak jelas. Meski pacaran juga status yang jelas tapi dia menginginkan lebih dari itu. Apa salahnya? Toh mereka juga udah lama pacaran. Udah mengenal satu sama lain. Meski Meica belum pernah sekalipun bertemu langsung dengan orang tua Fajar tapi, dari beberapa kali komunikasi lewat video call, Meica sudah merasa nyaman dengan orang tua Fajar. Begitupun sebaliknya.
Papa Fajar yang awalnya kurang setuju dengan pilihan Fajar sekarang jadi yakin saat beberapa kali bercakap dengan Meica. Menurut papanya Fajar, Meica gadis periang yang baik serta sopan. Keinginan beliau untuk menjadikan Gendis menantunya juga pupus saat beliau tahu jika Gendis akan segera menikah dengan pilihan Gendis sendiri.
"Tunggu aku ke sana, seminggu lagi aku akan masangin cincin di jari manismu. Eh.. Ca, jangan senyum terus gitu, bisa-bisa belum nyampe seminggu aku udah ada di sana karena senyummu seperti magnet yang menarik ku untuk selalu deket sama kamu." Gombal! Tim haters Fajar silahkan mun_tah pelangi!
"Apa sih Jar.." Kebahagiaan tak bisa ditutupi. Meica senang!
"Ca.."
"Hmm,"
"Abdi bogoh ka anjeun." (Aku cinta kamu.)
Seketika Meica ngeblush. Fajar enggak pernah ngomong bahasa daerah tempat tinggal Meica. Karena apa? Ya karena dia enggak ngerti. Tapi, sekarang sekalinya ngomong, dia memilih mengungkapkan perasaannya lewat bahasa daerah itu.
Aiiish mamas hati adek kek ada selusin dinosaurus lagi jingkrak-jingkrak.. Keder a
mas.. keder! (Gemeter)