
Malam makin larut, Ndis ada di dalam kamarnya. Melihat ke luar jendela. Rasa rindu untuk Dewa kian menjadi, helaan nafas panjang. Tetesan air hujan membuat Ndis makin dihujam kerinduan.
"Mas.." Tak sadar dia memanggil Dewa saat memejamkan mata. Hargai dia saat masih ada, jangan menyesal dan menangisi saat dia telah pergi.
Neng angin tak titipne
Roso kangen marang sliramu
Nadyan batin pengen ketemu
Amung biso nyawang fotomu
Abote mendem kangen
Kangen seng neng njero dodoku
Gedene roso tresno iki
Amung tak simpen neng njero ati
(Lewat angin ku titipkan
Rasa rindu untuk dirimu
Walau batin ingin bertemu
hanya bisa menatap fotomu
Beratnya rasa rindu
Rindu yang ada di dalam dadaku
Besarnya rasa cinta ini
Matanya semakin berat untuk tetap terjaga, Ndis menuju peraduan untuk melepas sejenak kerinduan yang makin menyiksa jiwanya.
Sedang di tempat lain, ada Fajar yang sedang menghubungi Meica via video call.
"Jadi, kita udahan?" Tanya Meica dengan raut kesedihan yang nyata tak bisa dia tutupi.
"Enggak. Kenapa kamu mikir gitu. Aku cuma berusaha jujur sama kamu Ca. Untuk saat ini sebelum Dewa beneran pulih dari kondisinya, dia nitipin Ndis sama aku." Meica mengalihkan pandangan mata Fajar yang intens menatapnya.
Wait.. Wait.. Dewa pulih? Dewa masih hidup? Lha yang bilang meninggal siapa?
Jadi.. readers kena prank? Lalu makam siapa yang dikunjungi Ndis di chapter sebelumya? Itu makam orang tua Dewa! Saat Dewa kritis kondisi makin melemah, dokter Ardiaz menyarankan agar Dewa di bawa ke rumah sakit di pusat kota yang memiliki banyak tim dokter ahli serta peralatan medis yang pastinya lebih lengkap tentunya. Oleh karena itu, mbah kung dan bulek Aminah menyetujui saat dokter Ardiaz meminta persetujuan mereka.
"Apa kamu pengasuhnya? Jar.. Aku rasa ada yang enggak beres dengan hubungan kita. Aku tahu kamu sahabatnya tapi bukan gitu caranya. Kamu enggak mikirin perasaanku? Kita aja udah LDR dan sekarang hubungan kita enggak tahu kemana ujungnya karena kamu terus dan terus mentingin dia. Kalau kamu masih suka sama dia, sayang sama dia, kejar dia. Jangan hanya jadi bayangannya. Jangan jadi pengecut Jar."
"Ca kamu ngomong apa? Jangan bertingkah seperti Neta bisa? Ca.. Aku kenal kamu dulu orang yang sangat pengertian dan dewasa. Ini enggak akan lama, sampai Dewa sembuh dan kembali kepada Ndis, secepatnya kita tunangan!" Ujar Fajar.
"Ya kalau Dewa sembuh, kalau enggak? Apa kamu akan terus menikmati tugasmu menjaganya? Jangan munafik Jar, kemungkinan untuk Dewa sembuh tipis. Kita juga tahu itu. Enggak usah menggunakan Dewa sebagai alasanmu untuk terus bersama dengan Gendis. Aku cemburu? Realistis aja, siapa yang enggak cemburu jika cowoknya lebih mementingkan cewek lain! Jar bukan Gendis yang butuh kamu tapi, kamu yang butuh dia. Dan itu kenyataannya!" Dengan berapi-api Meica mengemukakan argumennya.
"Ca.. Aku enggak mau debat terus. Aku sudah bilang, aku hanya ingin jujur sama kamu. Kalau kejujuran ku menyakitimu, aku minta maaf. Minggu depan aku ke sana, kita bahas ini secara langsung."
"Enggak usah repot-reoot ke sini Jar. Enggak ada yang perlu kita bahas, semua selesai aja sampai sini. Kamu bebas Jar." Sambungan telepon terputus.
Fajar kaget, apa ini? Bukan ini yang dia inginkan. Meica jelas punya ruang di hatinya, dan untuk Ndis.. Rasa sayang itu sudah berubah menjadi rasa kasihan dan ingin melindungi. Hanya itu. Ya, hanya itu yang Fajar rasakan untuk Ndis.
Beberapa kali Fajar mencoba kembali menghubungi Meica tapi, nomer gadis itu telah dinonaktifkan.
"Astaghfirullah, kenapa jadi kayak gini!" Fajar mengacak rambutnya frustasi. 'Buruan sembuh Dew, aku enggak akan maafin kamu kalau kamu pergi dengan segudang masalah yang kamu tinggalin buat aku.'
Sebenarnya masalah itu bukan Dewa yang ngasih ke Fajar tapi, Fajar sendirilah yang mencari-cari masalah dengan selalu membahas Gendis saat bersama dengan Meica. Benar kata Meica, cewek mana yang tahan jika pacarnya selalu mementingkan cewek lain daripada pacarnya sendiri? Kalaupun ada, mungkin belum ketahuan aja.